Kepercayaan Diri
![]() |
|
Seorang yang percaya dalam Yesus tetapi tidak memiliki kepercayaan diri bagaikan pesawat jet yang sudah siap di jalurnya tanpa bahan bakar. Semua fasilitas yang ada telah tersedia, namun pesawat itu tidak dapat pergi kemanapun juga. Jika ada yang orang-orang butuhkan saat ini, itu adalah kepercayan diri. Seseorang dengan kepercayaan diri akan lebih bersemangat dalam mencapai berbagai hal dalam kehidupan, meskipun ia belum mengetahui tentang Yesus. Orang Kristen tanpa kepercayaan diri pun akan kalah bila dibandingkan dengan mereka. Saya yakin bahwa ada banyak orang yang bersikap dan terlihat sepertinya mereka mempunyai segalanya, namun jauh di dalam dirinya mereka digerogoti oleh rasa tidak aman.
Kepercayaan diri yang sejati tidak akan datang dari bagaimana perasaan kita, atau apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan, tapi datang dari pewahyuan tentang siapa diri kita sebenarnya di dalam Kristus. Saat kita tahu betapa besar cinta-Nya pada kita, dan menerima penyembuhan-Nya dari luka-luka kita di masa lalu, maka kita tidak akan lagi menyandarkan kepercayaan diri kita pada hal-hal yang tidak abadi. Saya dapat mengingat beberapa tahun lalu saat saya bergumul dengan rasa kurang percaya diri karena saya tidak mempunyai gelar sarjana seperti yang dimiliki oleh banyak pengkotbah lainnya yang saya tahu. Ada juga saat-saat dalam hidup saya dimana saya sangat mengandalkan posisi saya sebagai asisten pastor untuk membangun rasa percaya diri saya. Namun saya bersyukur, karena saat saya mulai berfokus pada cinta Tuhan yang tak bersyarat kepada saya, saya belajar untuk menyandarkan kepercayaa diri saya pada Firman-Nya yang mengatakan tentang siapa diri saya yang sejati, seorang yang dibenarkan di dalam Kristus Yesus. 2 Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.Dengan anugrah-Nya Anda dan saya bisa membuat keputusan untuk menjalani hidup dengan menegakkan kepala dan sikap percaya diri. Menegakkan kepala tidak berarti bahwa kita berjalan ke sana kemari dengan rasa bangga yang berlebihan atau menyombongkan diri. Namun berarti bahwa kita tahu siapa diri kita di dalam Kristus, kita telah belajar melihat diri kita di dalam Dia dan tidak menaruh rasa percaya diri kita dalam daging. Filipi 3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Semoga artikel ini dapat membantu Anda bertumbuh dalam pengetahuan akan cinta Tuhan untuk Anda serta pewahyuan tentang diri Anda yang sejati di dalam Dia. Ini adalah bahan bakar yang Anda butuhkan untuk tinggal landas dan dengan kepercayaan diri yang utuh memenuhi rencana-Nya untuk kehidupan Anda. |
|
Waktunya Memulai Sesuatu Yang Baru!
|
Selalu ada hari yang baru, bulan yang baru dan tahun yang baru. Namun agar kita bisa memanfaatkan permulaan-permulaan yang baru itu dengan maksimal, kita perlu mengambil keputusan untuk mulai melakukannya. Kapan lagi saat yang paling baik untuk membuat keputusan selain di bulan pertama dari tahun yang baru ini?
Selama bertahun-tahun saya percaya pada janji-Nya akan hidup yang berkelimpahan, tapi saya tidak bersedia menukarkan beban “abu” dari masa lalu saya untuk mendapatkan janji-Nya itu. Beban “abu” saya berisi kebencian, kepahitan dan tidak mau mengampuni orang-orang yang menyakiti saya, juga sikap-sikap negatif, sering mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Apa yang ada dalam onggokan “abu” Anda? Apakah Anda bergumul dengan rasa bersalah dan penghakiman? Apakah Anda merasa tidak damai sejahtera dengan sesuatu yang pernah Anda lakukan bertahun-tahun yang lalu atau sesuatu yang terjadi di hari kemarin? Tidak peduli berapa lamanya waktu yang telah berjalan, masa lalu tetaplah masa lalu. Apa yang telah terjadi memang telah terjadi dan sudah berakhir, dan hanya Tuhan yang bisa berurusan dengan hal itu sekarang. Bagian Anda adalah mengakui kesalahan, bertobat, menerima pengampunan Tuhan dan melanjutkan hidup.
Apakah itu merupakan luka dari masa lalu, pergumulan dengan rasa bersalah dan penghakiman, atau area-area kehidupan lain yang ingin Anda ubah, percayalah bahwa Anda dapat berharap akan hal-hal baik yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan Anda. Tahun 2008 telah dimulai, pilihlah untuk mengharapkan yang terbaik dari-Nya. Yesaya 30:18 mengatakan, “Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!” Bukankah tahun ini dapat menjadi saat yang tepat bagi Anda untuk memutuskan keluar dari rasa sakit dan permasalahan masa lalu serta memfokuskan diri Anda pada masa depan cerah yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda? Sambutlah tahun baru ini dengan keputusan untuk membebaskan iman Anda akan kasih karunia dan anugrah-Nya atas permulaan yang baru, dan berfokus pada rencana-Nya yang terbaik bagi masa depan Anda! |
|
Segenap, Seluruh, Utuh, Totalitas
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 29; Kisah Para Rasul 1; Keluaran 7-8
Cinta membuat orang lupa segalanya. Cinta memenuhi hati, pikiran, tindakan bahkan nafsu makan. Segenap hati, jiwa dan pikiran kita tertuju pada orang yang kita cintai. Kata segenap menunjuk pada tidak ada yang lain. Kalau ada yang lain, berarti tidak lengkap dan belum utuh. Ketika kita mengungkapkan perasaan pada seseorang, “Aku mencintaimu sepenuh hati”, itu berarti tidak ada orang lain yang lebih penting di segala tempat, keadaan dan waktu.
Ketika pemazmur mengungkapkan cintanya pada Tuhan, dia mengatakan tidak ada yang lain yang dia ingini selain Allah. Tuhan Yesus, ketika ditanya mengenai hukum utama dan terutama, Ia menjawab dengan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Ia meminta kita untuk membalas kasih-Nya dengan segenap keberadaan kita. Segenap, utuh, seluruh, bukan 99,9999%. Apalagi kurang dari itu.
Dapatkah kita membedakan, “Tuhan, ini pemberian dari hati dan jiwaku, tapi bukan dari akal budiku? Atau, ini persembahan akal budiku, bukan dari hatiku?” Seandainya seluruh keberadaan dapat diletakkan di atas kedua telapak tangan kita, beranikah kita mengatakan, “Ini Tuhan, segenap jiwa dan akal budiku – ambillah sebagai bukti kasihku kepada-Mu?”
Buktikan cinta Anda kepada-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budi Anda.
Iman Untuk Masa Depan
| - Jawaban.com -
Kala Anda melihat ke depan, apakah Anda melihat masa depan dengan perasaan ketakutan dan kecemasan – atau malah beriman? Sebagai orang percaya, kita seharusnya maju ke depan dengan keyakinan yang berdasarkan kebenaran yang kekal dari Firman yang Tuhan katakan sendiri. Ambillah contoh dari kehidupan Yosua. Setelah 40 tahun ada di padang belantara, orang Israel akhirnya dengan tenang memasuki tanah perjanjian ketika Musa telah mati. Tuhan mengatakan pada Yosua : “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:2,3,5) Tuhan telah menjanjikan umat-Nya suatu tanah yang dipenuhi susu dan madu, dipenuhi dengan kebun anggur yang tidak mereka tanam dan kota yang tidak mereka bangun. Itu yang akan mereka bawa. Namun yang pertama kali mereka harus lakukan adalah masuk ke dalam peperangan! Jadi Tuhan memperkuat Yosua untuk mengadakan pertempuran dengan menekankan padanya tiga kali : “Jadilah kuat dan berani (teguh)” (Yosua 1:6,7,9). Dalam iman, Yosua kemudian memimpin orang Israel menyeberangi sungai Yordan kepada kemenangan yang ajaib terhadap kota Yeriko… lalu pada kemenangan demi kemenangan sepanjang jalan yang mereka lalui. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.” (Yosua 1:6) “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.” (Yosua 1:7) “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (Yosua 1:9) Namun hal ini dapat menjadi mungkin terjadi karena Yosua dan tentaranya membawa Tuhan dan Firman-Nya – mengetahui bahwa Tuhan ada bersama mereka dan mereka tidak akan mungkin gagal. Saat ini Tuhan melanjutkan perkataan-Nya pada umat-Nya : “Aku akan bersama dengan engkau! Jadilah kuat dan berani!.” Sumber: Pat Robertson – The 700 Club |
|
Be focus !
Phrase “jika matamu baik” dalam King James Version :when thine eye is single, ini adalah suatu ekspresi tentang fokus, pikiran yang terpusat, tujuan yang terpusat. Dengan kata lain, waktu kita fokus, maka pikiran kita akan dibanjiri dengan ide-ide kreatif untuk menggenapi tujuan kita. Tetapi kreativitas tidak akan dilepaskan kalau pikiran kita tidak fokus. Ada kekuatan di saat kita fokus. Hal ini bisa kita pelajari dari terang. Terang yang difokuskan memiliki kekuatan yang luar biasa. Misalnya saja: terang matahari yang difokuskan lewat kaca pembesar bisa membakar kertas, sinar laser yang bisa mengoperasi tanpa menyayat tubuh, sinar laser yang bisa memotong baja dsb. Sinar yang terfokus dengan sinar yang tidak terfokus memiliki kekuatan yang berbeda dan prinsip yang sama juga berlaku untuk area-area dalam kehidupan kita.
Yesus pun adalah pribadi yang sangat fokus pada tujuan-Nya. Di hadapan Pilatus Dia dengan penuh keyakinan menyatakan alasan keberadaan-Nya di bumi ini (Yohanes 18:36-37 To this end was I born, and for this cause came I into the world). Dia menyadari bahwa untuk bisa mencapai tujuan-Nya ada sengsara (salib) yang harus Dia lewati. Tetapi Dia fokus terhadap sukacita yang ada di balik salib tersebut. Dalam Amsal 4:25-27 ditulis, “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Ayat ini berbicara tentang prinsip untuk tetap fokus pada tujuan kita. Setan akan “mengganggu” kita dari pencapaian kita akan tujuan kita. Dan dia akan menggunakan beberapa cara untuk “mengganggu” kita : a. Tipuan Hal ini terjadi waktu kita menerima kebohongan sebagai suatu kebenaran, hal yang invalid sebagai hal yang valid. Yesus pun pernah dicobai untuk menjadi raja tanpa melalui proses salib. b. Salah Tempat Setan akan berusaha mengeluarkan kita dari lokasi dimana kita mendapat support lingkungan dan hubungan agar kita bisa menggenapi tujuan kita. Ada banyak orang Kristen yang tidak mau komit dengan suatu gereja tertentu karena ada konflik dengan orang-orang di gereja tersebut yang sebenarnya justru Tuhan tempatkan untuk membantu mereka menggenapi tujuan mereka.
Kalau ini terjadi maka segalanya akan berantakan. Pada waktu itu Saudara akan bertanya-tanya, mengapa saya sampai di sini? Bagaimana saya sampai di sini? d. Iri Hati Iri hati adalah roh kompetisi. Waktu Saudara tidak melihat lagi tujuan Tuhan bagi Anda sedangkan Anda malah melihat tujuan Tuhan bagi orang lain, maka iri hati mulai muncul. Saudara mulai berkompetisi dengan orang tersebut dan kehilangan fokus. Setiap kita memiliki sebuah tujuan yang spesifik dari Tuhan (Yohanes 3:27), karena itu jangan sampai kita disibukkan dengan mengurusi tujuan Tuhan bagi orang lain. Petrus pernah melakukan ini. Yesus sementara bernubuat kepada dia, tetapi dia “lebih sibuk” mengurusi apa yang akan Tuhan kerjakan dalam kehidupan Yohanes! (Yohanes 21:15-23) Fokus juga bukan berarti kita tidak sadar dengan keadaan sekeliling kita, tetapi fokus adalah kita tetap sadar akan keadaan sekeliling namun kita konsensrasi pada apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan. Tuhan Yesus memberkati. Sumber: cityharverstchurch |
|
Bijak dalam menggunakan waktu
1. Manusia Sekarang
Sahabat, ada 2 jenis manusia yang merugikan. Pertama, manusia kemarin. Manusia jenis ini selalu hidup di masa lalu. Dia senang membanggakan prestasinya di masa lalu. “Dulu saya pacaran sama anak bupati yang sekarang malah jadi bupati menggantikan bapaknya. Coba kalau aku jadi dengan dia?” atau “Seandainya aku tidak pindah bersamamu ke kota, aku mungkin sudah hidup bahagia di kampung halamanku!” merupakan ucapakan khas manusia kemarin.
Kedua, manusia besok. “Tunggu saja, nanti kalau anak-anak sudah besar, aku pasti bisa melayani Tuhan”, “Tenang, Ma, nanti kalau aku diangkat menjadi direktur, aku pasti akan bisa mengajakmu jalan-jalan”, “Besok saja kalau kita punya rumah yang lebih besar, aku pasti akan membereskan semua bukuku” adalah jenis manusia besok.
Sahabat, sebenarnya yang sangat dibutuhkan adalah jenis yang ketiga, yaitu menjadi manusia sekarang. Kita boleh saja menengok ke belakang, tetapi bukan sekedar bernostalgia, tetapi menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik. Kita pun boleh saja mengantisipasi masa depan untuk persiapan yang lebih baik, tetapi bukan untuk mencari-cari alasan agar bisa menunda sesuatu. Saat yang tepat untuk berkarya adalah SEKARANG!
2. Apa Kata Alkitab tentang WAKTU ?
Waktu adalah sahabat terbaik manusia. Tak satu pun manusia yang tidak diberikan waktu. Semua orang dari berbagai kalangan, memiliki waktu yang sama setiap harinya. Namun karena ketidakmengertian kita akan pentingnya waktu, akibatnya kita menganggap waktu sebagai hal sia-sia. Sebenarnya, apa kata Alkitab tentang waktu ?
1. Tuhan bekerja sesuai waktu (Pengkhotbah 3:1)
Tuhan mengerti pentingnya waktu. Karena itu, segala sesuatu di dunia ini didesain dengan waktu yang tepat, termasuk di dalamnya hidup setiap orang. Tuhan tidak pernah bekerja di luar waktuNya. Untuk apa pun di bawah langit ini ada waktunya. Itulah yang firman katakan. Karena itu, jika kita tidak mengerti pola kerja Allah dan pandangan Allah akan waktu, kita akan bekerja secara sembarangan dan tidak bisa menghargai waktu-waktu yang Tuhan berikan.
2. Manusia tidak mengetahui waktunya (Pengkhotbah 9:12)
Sepandai-pandainya manusia, ajal adalah satu hal yang masih menjadi misteri. Kita tidak akan pernah tahu kapan kehidupan kita akan berakhir. Yang kita tahu adalah kita diberikan waktu untuk kita isi setiap hari. Waktu Tuhan selalu datang seperti pencuri. Tidak ada hal yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya. Bagian kita hanyalah siap dan berjaga-jaga.
3. Mempergunakan waktu yang ada (Efesus 5:16)
Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan waktu. Dia akan terus berjalan, entah kita siap atau tidak siap. Banyak film menggambarkan bahwa kita bisa kembali ke masa lalu, tapi semua itu hanyalah khayalan belaka. Waktu tidak akan pernah bisa kita kembalikan. Tidak ada apa pun yang bisa kita lakukan selain mempergunakannya dengan baik. Alkitab pun menasihatkan hal yang sama. Tuhan tidak memberi tahu rahasia bagaimana kita bisa menghentikan atau memperlambat gerak waktu. Yang Tuhan katakan adalah kita belajar menggunakannya dengan baik karena hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat.
4. Selalu siap sedia dan berjaga-jaga (2 Timotius 4:2)
Sikap berjaga-jaga dan berwaspada sangat penting. Mengapa? Karena sedikit saja kita lengah dalam hal waktu, yang dicuri adalah kehidupan kita. Dan ini tidak bisa kita balikkan kembali. Banyak orang menyesal dengan apa yang ia lakukan di masa lalunya. Ini salah satu contoh betapa sikap berjaga-jaga sangatlah penting. Supaya kita punya hikmat bagaimana kita mampu mengisi waktu dengan benar, sesuai kehendak Tuhan.
5. Kita harus memberi pertanggung jawab (Ibrani 4:13)
Akan ada masanya kita berdiri di hadapan Allah dan mempertanggungjawabkan kehidupan kita, termasuk penggunaan waktu kita. Hidup hanyalah dirajut oleh waktu. Ini salah satu pertanggungan jawab yang penting di hadapan Allah. Ketika kita tidak mampu menghargai waktu, kita tidak akan mampu menghargai kehidupan.
Kelihatan memang sepele, tapi waktu tidak bisa kita biarkan berjalan begitu saja. Kita tidak diberi kuasa untuk menghentikannya. Kita juga tidak diberi tahu rahasia kapan waktu itu akan berhenti. Bagian setiap kita adalah mengisi dan menggunakan waktu sesuai kehendak Tuhan. Siapkah Anda ?
3. Keajaiban Waktu
Setiap kali seorang petani menaburkan benih di tanah, dia pasti sudah bisa membayangkan hasilnya seperti apa. Seiring perjalanan waktu, benih itu bertumbuh dan berbuah. Dari sebutir benih, dia mendapatkan hasil yang berlipat-lipat. Untuk itu, dia harus sabar dan tekun merawat tanamannya. Maka selanjutnya sang waktu yang akan melipatgandakan hasilnya.
Ada keajaiban tersembunyi di dalam waktu. Taburkanlah ragi ke dalam singkong rebus. Biarkanlah sang waktu bekerja, maka Anda akan mendapatkan tape singkong yang empuk dan manis. Jika Anda menyimpan uang di bank, sering perjalanan waktu, Anda akan mendapatkan kembali uang Anda lebih banyak.
Apa yang kita lakukan pada hari ini selalu disimpan oleh sang waktu. Suatu saat nanti dia akan mengembalikannya kepada kita, plus dengan tambahannya. Entah itu hal baik atau hal jahat. Jika kita rajin menumpuk kolesterol, maka suatu saat nanti kita akan mendapatkan berbagai penyakit. Seperti yang dikatakan dalam Hosea, “Umat-Ku menabur angin maka mereka akan menuai badai!” (Hosea 8:7).
Itu sebabnya, penting sekali untuk selalu memikirkan tindakan kita hari ini. Apapun yang kita lakukan (atau yang tidak kita lakukan) hari ini, memiliki pengaruh di masa depan, bahkan mungkin sampai kekekalan. Contohnya, pada masa muda anda tidak mengkonsumsi banyak kalsium. Akibatnya, di usia tua Anda akan menderita osteoporosis atau tulang keropos. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6)
John Maxwell membuat istilah unik :”Begin with the end” atau “mulailah dari akhir”. Maksudnya, sebelum mulai melakukan sesuatu, lebih dulu bayangkanlah seperti apa hasil dari perbuatan kita nanti. Ketika Anda disodori permainan Jigzaw (menyusun potongan-potongan gambar menjadi gambar utuh), maka Anda lebih dulu harus melihat seperti apa gambar hasil akhirnya. Biasanya gambar ini disertakan dalam bungkusnya. Dengan melihatnya, maka Anda lebih mudah menyusun gambar tersebut.
Setiap hari kita selalu dihadapkan pada persimpangan jalan. Kita harus menentukan pilihan. Kita diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup, tapi kita tidak bisa menolak konsekuensi dari pilihan tersebut. Ibarat main perosotan, begitu Anda sudah meluncur maka sulit sekali untuk menghentikannya.
Lalu bagaimana kita harus menentukan tindakan hari ini ? Seperti saran John Maxwell, lihatlah pada tujuan hidup Anda. Apakah jalan yang Anda pilih tersebut semakin mendekatkan Anda pada tujuan hidup Anda atau tidak ? Kalau ya, maka pilih jalan tersebut.
Persoalannya, apakah Anda sudah menentukan tujuan hidup Anda ? Kalau belum, maka hidup Anda hanya akan berputar-putar tanpa arah. Hal ini mirip cerita Alice in Wonderland. “Bisakah Anda menunjukkan jalan yang harus saya ambil?” tanya Alice pada sang Kucing, setibanya di persimpangan jalan.
“Itu tergantung kamu mau pergi ke mana”, jawab sang Kucing.
“Saya tidak tahu harus pergi kemana. Kemana saja boleh,” kata Alice.
“Ya kalau begitu, kamu boleh ambil jalan mana pun,” kata sang Kucing (Purnawan).
4. Waktu itu bukan uang
Time is money. Kebanyakan orang mengangguk-angguk setuju bila mendengar pernyataan tersebut. Bukankah memang demikian? Orang membayangkan bahwa waktu hidupnya adalah kesempatan untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Karena, bila mereka telah memiliki uang berlimpah, mereka akan bisa membeli apa saja yang mereka inginkan dan menikmati waktu hidup mereka dengan sepuas-puasnya.
Padahal, waktu tidak identik dengan uang. Kalaupun uang itu dimaksudkan sebagai simbol sesuatu yang berharga, simbol itu kurang mengena. Karena waktu jauh lebih berharga daripada uang. Kalau uang hilang, kita masih bisa mencarinya lagi. Namun, kalau waktu yang hilang, bagaimana kita akan mendapatkannya kembali ?
Dan, waktu kita juga bukan hanya untuk mencari dan kemudia membelanjakan uang. Ada hal-hal lain, yang tak bisa digantikan dengan uang, yang dapat kita lakukan dengan waktu yang dipercayakan kepada kita. Karenanya kita perlu mengelola waktu kita secara arif dan seimbang. Kalau tidak, sekalipun kita berkelimpahan uang, jangan-jangan kita mesti mengorbankan perkara lain yang jauh lebih berharga.
Waktu adalah salah satu karunia Tuhan yang perlu kita pertanggungjawabkan pemakaiannya. Secara garis besar paling tidak ada tiga macam penggunaan waktu. Prinsip penggunaan waktu ini bahkan tercantum sebagai salah satu dari Sepuluh Perintah Tuhan. Ini bukan sebuah prinsip yang usang, melainkan tetap berlaku sepanjang masa.
Pertama, waktu untuk bekerja. Tuhan menetapkan manusia untuk bekerja selama enam haru dalam seminggu untuk mencari penghasilan. Orang yang berfilosofi time is money akan menganggapnya sebagai pembatasan yang tidak perlu. Namun, orang yang harus bekerja lebih dari enam hari setiap minggu berarti dia harus meninjau kembali metode kerja atau tujuan hidupnya. Kita mesti memastikan bahwa kita bukan hidup untuk melayani uang, melainkan melayani Tuhan.
Kedua, waktu untuk beristirahat. Ya, prinsip hari Sabat tetap berlaku selama kita belum bermutasi menjadi superman. Tubuh kita bukan mesin, dan Sabat adalah kesempatan istimewa bagi kita untuk rileks, beristirahat dan memulihkan diri. Sabat diberikan untuk melepaskan kita dari beban rutinitas pekerjaan sehari-hari, agar kita dapat disegarkan kembali. Hari istimewa ini terutama juga kita dedikasikan sebagai waktu khusus untuk menyembah Tuhan dan merayakan kebaikanNya.
Ketiga, waktu untuk melayani. Tuhan Yesus mengingatkan, Sabat itu dikaruniakan bagi manusia, bukan manusia dijadikan untuk hari Sabat. Sabat semestinya bukan menjadi pembatasan yang membelengg, melainkan pembebasan yang menggairahkan. Yesus melanggar adat-istiadat yang melumpuhkan makna Sabat, dan menggunakan hari istimewa itu untuk melayani sesama. Ya, kita perlu meluangkan waktu untuk mengjangkau, membina hubungan dan melayani orang-orang di sekitar kita.
Begitulah. Waktu itu bukan uang. Waktu itu karunia Tuhan yang tak terkira nilainya, dan Tuhan mau kita memakainya untuk beribadah kepada Tuhan dan melayani sesama dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. (Arie Saptaji)
5. Bijak Menggunakan Waktu
Seorang reporter koran yang baru bekerja dimarahi atasannya. “Mengapa engkau menulis berita kemarin?” tanya atasannya dengan jengkel. “Lho, Pak, setahu saya, banyak orang yang suka nostalgia!”
Setiap kita mempunyai waktu yang sama : 24 jam sehari. Tidak kurang tidak lebih. Yang membedakan antara orang yang satu dengan yang lain adalah PENGGUNAANNYA. Ada orang yang bisa memakai waktu dengan bijak. Ada yang sembrono.
Di toko buku banyak buku yang mengajar kita mengenai manajemen waktu. Namun, sebenarnya, kita bisa belajar manajemen waktu dari Buku di atas segala buku dan Kitab di atas segala kitab, yaitu Alkitab. Firman Tuhan mengajarkan prinsip-prinsip manajemen waktu dengan baik.
Pertama, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk ada pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (Pengkhotbah 3:1-2). Firman ini menunjukkan bahwa waktu tidak bisa diperlambat maupun dipercepat. Meskipun zaman sekarang, banyak barang-barang instan mie, nasi instant, kopi instant, cetak foto ditunggui, bahkan bayi instan (he, he, he) namun alam punya aturan sendiri. Tuhan telah menetapkan waktu yang terbaik bagi setiap ciptaanNya. Bayi yang dilahirkan premature maupun yang terlalu lama di perut juga tidak baik. Oleh sebab itu, kita harus taat azas.
Kedua, waktu kita terbatas. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Kita diciptakan untuk satu tujuan, yaitu memuliakan Tuhan dengan seluruh keberadaan diri kita, termasuk waktu kita.
Ketiga, karena terbatas, kita harus memakai waktu kita seefektif dan seefisien mungkin. “Saya sungguh menyesal tidak bisa mendampingi anak-anak saya ketika masih kecil. Saat mereka sudah lulus dari college, terasa ada jarak yang memisahkan kami,” ujar seorang ibu di Jakarta yang anak-anaknya kuliah ke Amerika sejak SD. Dia kehilangan waktu membesarkan anak-anaknya. Jangan sampai orang-orang tak bertuhan yang membesarkan anak-anak kita. Seorang petinggi komunis pernah berkata, “Berikan sembilan tahun pertama usia anak Anda kepada kami, maka seumur hidupnya mereka akan menjadi komunis!” Ucapannya itu harus kita lawan dengan membekali mereka Firman Tuhan sejak usia dini. Ingat peringatan Firman Tuhan : “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5:15-16). “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada” (Kolose 4:5).
Sahabat, ada tiga tips sederhana untuk menggunakan waktu.
- Rencanakan waktu Anda dan kerjakan sesuai waktunya. Orang yang gagal membuat rencana sebenarnya sedang merencanakan kegagalannya sendiri.
- Kerjakan satu kali setiap saat. Sebuah weker yang merasa berat karena harus mengayunkan jarum detiknya bertahun-tahun sebenarnya hanya perlu berayun satu kali setiap detik. Pekerjaan yang dicicil akan jauh lebih ringan ketimbang ditumpuk.
- Ambil waktu setiap saat untuk mengucap syukur kepada sang pemberi waktu, yaitu Tuhan sendiri. Jika ketiga hal ini kita lakukan secara konsisten, kita akan bisa menjadi pengelola waktu yang baik.

Salah satu alasan yang paling sering diungkapkan sehubungan dengan pergumulan kita dengan rasa tidak aman adalah bahwa kita bergantung pada hal-hal yang salah untuk membuat diri kita merasa percaya diri. Sebagai manusia, kita punya kecenderungan alamiah untuk menyandarkan kepercayaan diri kita pada hal-hal kedagingan, seperti pendidikan, penampilan, posisi, bakat, atau pencapaian prestasi-prestasi. Namun hal-hal tersebut tidak dapat diandalkan. Terkadang kita bahkan menyandarkan kepercayaan diri kita pada bagaimana perasaan kita hari itu sambil berkata, “Oh aku merasa sangat percaya diri hari ini!” Tapi kemudian hari esok datang dan perasaan kita juga ikut berubah.
Yesus ingin mengembalikan kepercayaan diri dalam hidup Anda dengan menyembuhkan Anda dari hal-hal yang berasal dari masa lalu Anda, yang telah merusak perasaan dan persepsi Anda mengenai diri Anda sendiri. Seiring dengan perubahan fokus Anda untuk melihat apa yang benar bersama Tuhan dibanding melihat apa yang salah dengan diri Anda. Anda akan mulai berjalan dalam kepercayaan diri yang datang dari identitas Anda di dalam Dia.
Permulaan yang baru adalah berkat yang indah dari Tuhan, karena penuh dengan janji, kebebasan dari masalah, potensi serta kesempatan yang baru. Setiap hari adalah sebuah kesempatan untuk menutup pintu masa lalu dan mengalami awal yang benar-benar baru. Bahkan fakta bahwa Tuhan telah membagi satu hari ke dalam 24 jam sudah merupakan satu bukti kalau kita perlu untuk memulai dengan awal yang baru setiap hari.
Mungkin Anda telah sekian lama bergumul dengan depresi, kemarahan maupun kepahitan. Atau mungkin juga Anda seperti saya sebelumnya, ”terbakar hangus” oleh hubungan-hubungan dan peristiwa-peristiwa di masa lalu, dan saat ini Anda masih membawa ”abu”nya. Semua itu adalah rasa sakit yang mendalam dari luka-luka lama yang belum disembuhkan secara utuh.
Dalam Ratapan 3:22,23, Yeremia membangkitkan semangat kita dengan kebenaran bahwa kasih setia Tuhan baru setiap hari. Saya sangat takjub bahwa Tuhan memberikan kasih karunia dan pengampunan yang baru setiap harinya, sehingga kita dapat memutuskan untuk memulai sesuatu yang baru setiap hari!
“Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya. Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.”(Lukas 11:33-34)
Jadi fokus dan kekuatan yang ada pada fokus membuat segala informasi tentang ide-ide memusat pada satu titik dan menghasilkan suatu kekuatan. Paulus juga berbicara tentang mengarahkan seluruh kekuatan, memfokuskan pada sasaran dalam Filipi 3:13-14. Dia tidak mau terlibat dalam hal-hal yang tidak menguntungkan pencapaian tujuannya walaupun dia mungkin memiliki kebebasan untuk melakukan hal tersebut.
c. Kekacauan






















leave a comment