Saatku Dekat Bapa, Jiwa-Jiwa Dimenangkan Bagi Dia
![]() |
|
| - Jawaban.com -
Pengalaman yang ingin saya ceritakan ini adalah suatu kesaksian nyata yang saya alami dalam hidupku ini. Kejadian yang saya alami sekitar tahun 1997 sampai dengan tahun 1999. Nama saya Ivan Sudrajat Subiarto. Saya kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Latar belakang dan tipe kepribadianku adalah seorang yang pendiam dan tidak mudah bergaul dengan orang lain.
Kemudian Arman pindah dari kost Patimura 70 ke kost Wahid Hasyim 1. Hubunganku dengan Arman tetap baik dan kami tetap saling mengunjungi. Di kost Wahid Hasyim pun Arman bisa mewarnai kost Wahid Hasyim sehingga banyak mahasiswa yang datang kepada Tuhan. Setelah Arman meninggalkan kost patimura 70, kehidupan kost semakin kacau. Banyak penghuni kost baru yang terlibat dengan judi bola, narkoba, minuman keras dan sebagainya. Awal mulanya saya shock (kaget) karena lingkungan kost semakin semrawut, tidak terkendali. Saya takut dengan lingkungan yang kacau. Namun ketika saya berdoa, Tuhan katakan bahwa saya tetap tinggal di kost Patimura 70 dan Tuhan akan perbuat sesuatu melalui hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap kost di Patimura 70 Salatiga. Teman-teman komsel saya seperti Aan dan Budiono Linuwih berkata, “Van, kalau kamu tetap kost di Patimura, nanti kamu akan terbawa lingkungan. Ada kost yang dekat kampus dan kamu bisa bergabung dengan komunitas selmu”. Saya lalu bercerita kepada Budiono dan Aan, saya sudah berdoa dan Tuhan jawab bahwa saya akan dipakai Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang ada di kost, jadi saya mohon dukungan doa dan covering doa dari kalian. Budiono menjawab, “Kalau begitu saya dukung kamu Van.” Saya dalam aktifitas sehari-hari di kost menemui mereka yang pesta pora, tidak ada harapan. Kalau mereka pergi saya berdoa syafaat untuk mereka, saya mengurapi setiap kamar dengan minyak. Kalau malam, mereka menyetel musik dengan keras, saya berdoa dalam kamar dengan bahasa roh. Sekitar satu setengah tahun lamanya saya berdoa untuk mereka.
Melalui pengalaman ini saya bersyukur ketika saya belajar untuk dekat dengan Tuhan dan mentaati apa yang Tuhan perintahkan. Kemudian saya membina mereka dan saya bersyukur buat Kak Cornelius Wing yang menudungi saya dan memberikan support. Kisah ini semoga menjadi berkat. Pengalaman yang saya alami adalah ketika saya dekat dengan Tuhan, hidup saya dipulihkan dan hidup saya dapat menjadi berkat dan banyak jiwa yang dimenangkan. Semua untuk kemuliaan nama Yesus Kristus. Amin. |
|
Jatuh Bangun Dalam Pertobatanku
![]() |
|
|
Saya anak tunggal. Kelahiranku sebenarnya tidak diharapkan, karena dalam keluarga Chinese, cucu dalam diharapkan laki-laki. Bahkan kakek dari pihak papi berkata, “Kalau yang lahir laki-laki, akan diadakan pesta tujuh hari tujuh malam.” Ternyata keluarlah bayi perempuan. Keluarga saya masih belum dalam Tuhan, jadi saya pun walaupun bersekolah di sekolah Katolik, tidak pernah mendapat pendidikan agama dari orang tua. Papi sering pergi ke bilyar dan pulangnya sering mabuk. Ketika umur 4 tahun, saya melihat papi memukul mami dengan sapu lidi. Itulah awal kepahitanku terhadap papi. Karena seringnya melihat papi melakukan kekerasan (fisik dan verbal) pada mami, saya bahkan berani berkata kasar di belakang papi dan berkata, “Kalau saya menikah, saya bawa mami tinggal bersamaku.” Selain itu, papi tidak memberi uang pada mami. Mami mendapat gaji dengan bekerja pada orang tua papi di toko yang dirintis orang tua papi sejak 1946. Bahkan pernah saya minta uang, papi berkata, “Jangan minta sama papi.” Sejak itu saya tidak pernah meminta uang sama papi. Bahkan saya dulu membeli komputer dari hasil beasiswa, bukan dibelikan papi. Ketiadaan kasih seorang bapak membuatku mencari kasih seorang pria. Saya katolik, tapi saya tidak kenal Tuhan. Ke gereja sih iya, tapi tidak penah ada sesuatu yang mengena setelah pulang dari gereja. Setelah agak berpisah dari orang tua karena kuliah di Jakarta, saya semakin liar dan jiwa pemberontak itu semakin nyata. Ketika pulang ke Bandung, saya berkenalan dengan pria yang mengajak pacaran (sebut saja : A). Saya menyukai tipe fisiknya. Saat itu saya tidak tahu kalau dia sudah beristri, sampai ayahnya A memberitahu bahkan mempertemukan saya dengan istrinya. Istrinya ini akhirnya menjadi teman saya. Tak lama, kakak A (sebut saja, B), yang sudah beristri juga mengajak saya pacaran dengan alasan ia akan menceraikan istrinya karena dulu mereka menikah bukan dengan cinta tetapi terpaksa. Karena yakin akan omongannya, saya pun termakan dan semakin rusaklah saya. Kami sering melakukan hubungan di kost yang kami sewa. Bahkan sempat saya pergi ke dukun agar B jadi dengan saya, bukan tetap tinggal dengan istrinya. waktu itu istri A menemani saya untuk pergi ke dukun. Sampai akhirnya B memutuskan untuk kembali pada istrinya setelah istrinya menuntut pertanggungjawaban saya. Kehidupan saya di Jakarta semakin kacau. Saya kembali mendapat pacar, sebut saja C, tetapi C tidak dewasa walaupun umurnya lebih tua 4 tahun dari saya. Setelah putus dari C yang beragama lain, saya jadian dengan D yang beragama lain juga. Saya kembali berhubungan badan dengan D. Putus dari D, karena saya merasa dia hanya memanfaatkan saya, saya menjalin kasih dengan E. Ini pun hanya bertahan sebentar saja, karena saya jadian dengan E berdasarkan kasihan saja. Saya sudah menolak cinta E tiga kali sebelum akhirnya saya putuskan menerima dia sebagai pacar saya. Jadian dengan F, kembali saya menjerumuskan diri dalam hubungan seksual. Putus dengan F karena F pindah ke kota asalnya dan kembali pada pacarnya. Putus dengan F, saya menjalin kasih dengan G. Saya hampir lulus S1 di Trisakti waktu itu dan tante saya menawarkan kuliah S2 di Australia. Setelah orang tua setuju, saya pun menetapkan hati untuk ambil S2 di sana. Saya memutuskan akan menikah dengan G, jadi kami tunangan tak resmi sebelum saya berangkat ke Australia. Karena yakin akan menikah dengan G, kembali saya berhubungan badan. Ternyata kehendak Tuhan lain. Sewaktu di Australia, saya ikut retreat Bethany (walaupun dengan alasan yang tidak tepat yaitu karena tidak ada makanan selama liburan Paskah kalau saya tinggal sendirian di rumah), tetapi Tuhan jamah saya. Waktu itu Franky Utana berkata mengenai posisi tubuh yang seperti orang mati, lalu di saat itu Tuhan menjamah saya. Sekujur badan saya terasa dingin, walaupun waktu itu sedang musim winter, tapi bukan karena cuaca winter seluruh tubuh saya dingin dan seperti di flash back semua dosa seksual saya. Tuhan juga teramat baik, saat ada tantangan untuk baptisan Roh KUdus, saya dapat berbahasa Roh. Semua teman saya yang menyarankan saya untuk ikut retreat bersukacita. Setelah retreat tersebut, iman saya semakin bertumbuh dan saya putus dari G, karena G mencari istri yang sama-sama Katolik, sedangkan saya memutuskan untuk pindah ke Kristen. Tapi hal ini tak berlangsung lama. Enam bulan kemudian, saya dekat dengan H yang baru masuk universitas Curtin. H selalu berkata tidak ada yang salah dalam mengungkapkan kasih kepada teman dengan berhubungan badan. Karena saya terlalu dekat dengan H, apalagi waktu itu akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari rumah teman-teman gereja saya dan pindah satu kos dengan H, jatuhlah saya dalam dosa seksual (lagi). Sampai satu waktu ada altar call di Riverview church. Saya maju dan Tuhan kembali menjamah saya dengan memberikan nubuatan kalau saya harus ambil S3. Tetapi saya bertobat hanya sebentar, tinggal satu rumah dengan H membuat saya tetap jatuh dalam dosa seksual. Sampai akhirnya, saya pulang ke Indonesia dan kembali untuk graduation di Australia. Tuhan bukakan jalan agar saya kembali ke tangan-Nya. Saya tinggal dengan teman-teman gereja lagi selama saya mengurus graduation. Di situ Tuhan pulihkan dan bukakan kalau saya harus kembali ke Indonesia karena pekerjaan besar menanti saya di sana. Tetapi ketika saya mengambil S3 di Bandung, saya pacaran dengan I, lalu putus karena saya tahu dia bukan jodoh saya. Kemudian saya jatuh dengan seorang hamba Tuhan, J karena saya sombong. Saya pikir hamba Tuhan tidak mungkin jatuh dalam dosa seks. Suatu hari di KKR Pantekosta, saya dipanggil pendetanya ketika altar call, dan pendeta itu bilang Tuhan minta ketaatan saya. Saya bilang, Tuhan saya sudah capek dengan keadaan ini, saya ingin pulang ke tangan Tuhan, biar kata putus itu keluar dari mulutnya, karena kalau dari saya, selalu dia minta sambung lagi. Tapi Tuhan luar biasa setia-Nya. Dua hari setelah saya berdoa seperti itu, saya putus dengan J. Dan pelayanan saya semakin diperbesar kapasitasnya. Dan Tuhan bukakan kalau jodoh saya sudah di depan mata, dan walaupun papi masih sering ke bilyar, tapi saya percaya Tuhan yang berjanji satu orang diselamatkan, seluruh isi keluarga diselamatkan. Dalam doa puasa 21 hari juga, Tuhan bukakan banyak hal bagi saya. Terpujilah Tuhan yang luar biasa. Kalau bukan Tuhan, saya pasti tak mampu mengambil S3 di usia yang masih terhitung muda. Dan juga karena latar pendidikan S1 dan S2 saya berbeda-beda semua, itu semua hanyalah kasih karunia Tuhan saja yang membuat saya bertahan di pendidikan S3. Kasih karunia Tuhan juga yang membuat saya dapat bertobat, dan Tuhan menerima saya apa adanya walaupun jatuh berkali-kali, tapi tangan Tuhan yang menopang. Tidak dibiarkan-Nya kita jatuh tergeletak, sumbu yang pudar tidak dipadamkan-Nya, buluh yang terkulai tidak dipatahkan-Nya. Semoga kesaksian ini bisa jadi berkat. Bagi kawula muda yang sudah jatuh dalam dosa seks, Tuhan selalu menerima kalian apa adanya asal kalian betul-betul punya kerinduan untuk kembali pada-Nya. Jangan merasa kalian sudah tidak berharga. Tuhan punya punya rencana masa depan yang penuh pengharapan bagi kalian. Jangan merasa kalian tidak layak untuk mendapat suami / istri yang terbaik. Jodoh yang dari Tuhan adalah yang terbaik dan tepat waktunya. Amin Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com |
|
| Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini : | |
| Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin! | |
| Saya sudah berdoa dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi | |
Sex In The “Kost”

Pertemuan singkat setahun silam itu terasa janggal. Tetapi rembang petang akhir Agustus lalu saya bertemu Tom (nama disamarkan) lagi di ujung koridor Malioboro Mall di pusat kota Yogyakarta. Sore itu dia bersandar di tembok menyilangkan kakinya sambil merokok. Nama Tom terekam dalam memori saya ketika tanpa sengaja kami bertemu di salah satu susteran di selatan Yogyakarta. Wajahnya teramat garing ketika itu.
Melakukan investigasi tempat penampungan mahasiswi yang hamil akibat “tabrakan” membawa saya ke sana. Tapi mana mau para biarawati itu diwawancarai? Bahkan saya diwanti-wanti supaya jangan diekspose. “Bukan mau menutup diri, tetapi takut banyak yang datang. Kami belum terlalu siap,” jelas seorang suster. Lalu Tom keluar. Saya mengejarnya sampai ia duduk di bawah rindang pohon-pohon cemara. Feeling saja akan dapat cerita dari dia! Barangkali kelewat kalutnya, sebentar saja ia telah bercerita tentang beragam hal. Sedikit-sedikit nyerempet juga perihal praktik ‘bapak-ibu’ yang sudah mereka lakukan. Terasa janggal karena kami baru ketemu. “Saya pikir Anda dulu romo,” ujarnya ketawa.
TidaK Ketat
Tom ini anak Jakarta. Rambutnya dibikin gimbal. Meski begitu badannya wangi. Ia mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, penggerak Persatuan Mahasiswa Kristen di kampusnya, dan anggota komunitas band di salah satu gereja. Sementara Maya (juga disamarkan) mahasiswi sebuah akademi perhotelan. Mereka bertemu dalam suatu pentas musik. Telepon, sms, janjian ketemu, makan bareng, dempel-dempelan di atas motor, demikianlah Tom dan Maya mengikuti tren anak muda di Yogyakarta. Apa yang mereka lakukan tidak istimewa. Pemandangan itu saban hari gampang kita temukan di jalan-jalan di kota budaya ini. Apalagi malam Minggu. “Dua bulan pacaran kami sudah begituan,” ujar Tom. “Begituan apa?” tanya saya ingin kejelasan. “Ya, ngeseks lah. Mau apa lagi,” Tom tersenyum masam.
Tetapi itu bukan yang pertama. Tom mengaku sudah berganti pasangan dua kali. Dan, semua berakhir dengan begituan. “Abis mo gimana ya Pak. Teman-teman satu kost pada masukin ceweknya semua ke kamar. Yang ngawasi ndak ada. Pokoknya sama-sama dewasalah,” ujarnya. Waktu itu Tom indekost di seputaran ring road utara Yogyakarta. Setelah dua tahun melakukan praktik ‘bapak-ibu’, suatu hari Maya mengaku telah berbadan dua. Takut malu ketahuan teman-teman dan orang tua, mereka datang ke susteran itu. Toh akhirnya mereka dinikahkan juga. “Gue jadi ayah sekarang, he-he-he,” cengengesan Tom pada saya sore itu.
Pelayanan Tapi Begituan
Rudi (25) lain lagi. Cowok keren yang sedang menyusun tesis S2-nya di salah satu PTN di Yogyakarta itu kini seperti berada di persimpangan jalan. Setia kepada kekasih atau terus mengumbar nafsu dengan Rina-sebut saja begitu-sang mantan pacar? Segala bentuk pelayanan Rudi pada sebuah gereja karismatik di Yogyakarta seperti tak berarti. Nafsu telah menguasainya. “Saya tahu itu dosa, tapi setiap kali dia datang kami terus melakukan perbuatan itu,” ujarnya kepada Bahana.
Rudi mestinya menunjukkan teladan bagi orang-orang muda yang dia bina dalam sebuah kelompok sel. Dia juga harus menunjukkan tanggung jawab kepada kekasihnya, teman satu gereja, yang telah serius ia pacari sejak tahun 2004. Bahkan hubungan mereka telah disetujui oleh orangtua masing-masing. Tinggal tesis diselesaikan dan mereka akan menikah. Tidak hanya sekali Rudi dan Rina berhubungan intim. Di kost, hotel, tempat wisata, pokoknya di mana saja mereka bisa melakukannya dengan aman. “Saya sekarang bingung milih yang mana. Saya sayang sama pacar saya. Saya gak mau putus. Saya tahu dia yang terbaik untuk saya. Tapi saya harus mempertang-gungjawabkan perbuatan saya ke Rina walaupun dia tidak hamil. Saya khilaf, Kak. Saya tidak suka Rina. Tapi saya tidak tahu, kalau dekat dia, saya pengennya begituan,” ujar Rudi terus-terang.
Kisah lain adalah Agustina (24), aktivis gereja dan mahasiswi Fakultas Psikologi sebuah PTS di Solo. Ia kini tengah hamil 3 bulan tetapi diting-galkan pacarnya. Mereka melakukan pertama kali di Kopeng saat Agustina ulang tahun. Setelah kejadian di Kopeng itu minimal seminggu sekali mereka begituan. Tidak peduli di kost, di WC umum, atau hotel. “Tetapi seringnya di kost,” kata Agustina. Mereka gampang melakukannya karena Agustina tanpa pengawasan orang tua. Aturan kostnya juga agak longgar walaupun ada tulisan “cowok dilarang masuk kamar”. Tapi siapa yang mengawasi? Menginapkan pacar di kost hanya ditiru Agustina dari teman-temannya. “Teman-temanku yang lain juga sering memasukkan pacar mereka, nginap di situ. Jadi kami seperti tahu sama tahu. Tidak apa-apalah pikirku. Toh bikin dosanya ramai-ramai,” ujarnya.
Bermula dari Kost Campur
Awal kuliah, sebut saja Ica (23), pacaran dengan Kirno, teman sekampus. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi Ica. Ia malah pindah ke tempat pacarnya yang memang kost campur. “Di situ ada saudaranya cowok dan cewek. Aku merasa lebih dekat sama keluarganya,” kata Ica mengawali kisahnya. Tinggal seatap dan pacar yang ‘baik’ menjadi iklim kondusif bagi terjadinya hubungan yang melanggar kebenaran. “Awalnya aku melakukan hal itu karena tempat tinggal seatap yang lebih membuatku dekat dan gampang ‘berbuat itu’. Kenapa aku mau aja saat diajak ‘begituan’, itu karena cowokku sangat baik. Sampai-sampai aku nggak bisa nolak,” lanjut alumni Manajemen Perhotelan di PTS Kristen terkemuka di Surabaya ini. Meski aktif dalam pelayanan, toh Ica menganggap hal itu sudah biasa. “Saat pacaran memang kami merasa sangat bebas melakukan ini dan itu. Ya…tahulah rata-rata anak zaman sekarang, kalau pacaran pasti seperti itu. Anak yang aktif di gereja sekalipun aku jamin pasti ada yang mempunyai gaya pacaran yang tidak benar. Aku punya beberapa teman gereja yang aktif melayani, tapi sering melakukan ‘pergaulan bebas’ seperti itu. Contohnya, aku aja salah satu aktivis gereja. Aku pelayanan sebagai singer dan main keyboard di gereja. Tapi toh aku melakukan hal-hal yang nggak pantas,” ungkapnya blak-blakan.
Bagaimana perasaan Ica saat habis melakukan itu? “Sebagai cewek, ya rasanya ada beban. Saat aku melakukan, ada suatu perasaan yang mengatakan itu salah, tidak boleh… Roh Kudus sering menegur. Tapi, nyatanya aku ulangi lagi. Aku melakukan free sex dengan pacarku sudah berkali-kali. Yang terakhir kami melakukan, baru aku hamil. Awalnya aku nggak tahu kalo hamil. Tahu-tahunya sudah 7 minggu,” ujarnya sambil menerawang. Akibat kebobolan ini, Ica harus menikah dini dan cuti kuliah. Apakah Ica bahagia? “Jujur aja dalam kehidupan pernikahanku sekarang ini banyak banget mengalami masalah. Kami sering bertengkar. Dulu semasa pacaran kami sering menekan ego masing-masing,” ujarnya getir.
Kepercayaan yang Disalahgunakan
Kota Salatiga nan tenang tak kalah geloranya bila bicara seks. Rini (22), mahasiswi sebuah perguruan tinggi Kristen yang terkenal dan aktivis gereja yang sudah lama pelayanan. Layaknya anak muda, ia cukup lama pacaran dengan Bagas (23). Kehidupan pacaran bukanlah penghalang bagi mereka untuk tetap aktif dalam pelayanan. Bahkan satu sama lain saling mendukung agar aktif di gereja masing-masing. Keluarga mereka pun memberikan kepercayaan penuh. Mereka dianggap sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Merasa bebas dan sudah dewasa, Rini dan Bagas pun mulai ‘kompromi’ dalam hidupnya.
“Awalnya cuma pegang tangan, ciuman di pipi”, tutur Rini. Ia merasa sudah jodoh dan nantinya juga akan menjadi pasangan. Jadi, tidak ada salahnya coba-coba. “Semua berawal dari coba-coba hal-hal kecil yang tidak terlalu berisiko,” ungkap Rini. Namun, jerat dosa kecil tersebut seakan-akan seperti candu dengan zat adiktif yang membuat mereka ketagihan, ingin lagi dan lagi, dengan dosis yang selalu meningkat. Rini dan Bagas menyadari hal itu, tapi tetap kompromi. Tambahan lagi, tidak ada orang-orang di sekitar me-reka yang menasihati atau mengarahkan mereka pada pola pacaran yang sehat dan sesuai firman Tuhan. Cerita berlanjut. Dari kissing, hugging, lalu mengumbar gairah sampai berujung pada seks yang seharusnya belum boleh mereka lakukan. Terbuai dengan kenikmatan yang mereka rasakan. Sekarang Rini harus menimang bayi mungil yang baru berusia 4 bulan. Pelayanannya kini terhenti. Meskipun sudah mengakui kesalahan dan minta ampun di hadapan Tuhan, namun sering kali bayangan masa lalu dan rasa tertuduh masih muncul dan menghantui hidup mereka.
Sumber: BAHANA MAG
Seks Sekarang?
| Wanita: “Aku cinta dia. Aku ingin dia jadi yang pertama. Dia sudah cukup sabar menunggu lama. Aku tidak mau kehilangan dia.”
Pria: “Aku sayang dia. Kita sudah pacaran cukup lama. Aku kan pria dan punya kebutuhan biologis. Ini waktunya untuk meningkatkan level dalam hubungan ini“. Kalau begitu, mengapa menunggu? Banyak sekali alasan bagus yang bisa jadi tameng untuk berhubungan seks sekarang, biarpun belum menikah. Lagipula teman-teman yang lain juga banyak kok yang melakukannya. Kenapa saya tidak? Mari kita lihat “keuntungan” berhubungan seks sekarang pranikah: Anda akan terluka
Dua orang yang melakukan seks pranikah akan terluka dengan berbagai cara yang tidak terantisipasi. Jika sampai dua orang ini menikah pun, mereka sudah kehilangan rasa hormat terhadap satu sama lain. Bahkan pasangan ini bisa-bisa kepahitan satu sama lain dan masalah seksual akan menjadi masalah terbesar mereka sepanjang pernikahan. Masa depan akan berantakan Seks pranikah memiliki begitu banyak konsekuensi. Anda tentu sudah sangat sering mendengar atau menjadi saksi anak muda yang hamil diluar nikah, anak muda yang aborsi, terkena penyakit kelamin atau bahkan AIDS. Itu adalah beberapa contoh resiko yang dengan sekejap mata bisa merusak total masa depan. Efek jangka panjangnya akan lebih parah lagi. Tahukah anda bahwa sebagian besar pasangan yang bercerai ternyata pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah? Karena ternyata banyak dari mereka yang terpaksa menikah hanya karena telah melakukan hubungan seksual. Setelah menikah, mereka akan masuk ke dunia sebenarnya dimana iming-iming yang diberikan seks pranikah hanya menjadi seperti ‘janji palsu’ yang menyakitkan. Tuhan akan tersingkir
Di ujung jalan ada beberapa pilihan yang kadang melebur menjadi satu. Disana ada kesepian, depresi, kekosongan, putus asa, hidup tanpa tujuan dan arah, tak ada semangat hidup, kehilangan damai sejahtera, dan rasa tak puas dalam hidup. Sekarang mulai terlihat bahwa alasan apapun yang anda pakai untuk berhubungan seks sebelum menikah hanya akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidup anda nantinya. Menunggu hingga waktunya tiba dan melakukannya dengan suami atau istri yang sah adalah cara terindah untuk menikmati seks. Cinta yang benar justru menunggu, bukan terburu-buru. Simak beberapa hal berikut: JANGAN PERNAH bersandar pada perasaan untuk membuat keputusan dalam hidup ini, terutama mengenai hubungan dengan lawan jenis. Perasaan bisa berubah kapan saja, dan bergantung padanya bisa membawa kita dalam masalah. Hari ini bisa cinta, besok bisa benci. Perasaan tidak bisa dipercaya. Biarkan iman pada Tuhan dan hikmat yang membantu kita berpikir dan membuat keputusan.
INGAT bahwa seks bukan cinta dan bukan bukti cinta. Bukti cinta ialah ketika kita mengorbankan keinginan daging dan hawa nafsu kita untuk menghargai kesucian orang yang kita cintai. Dibutuhkan pria sejati untuk mengatakan “tidak” pada seks sebelum waktunya. INGAT bahwa seks bukan jawaban untuk mendapat perlindungan dan kasih sayang dari pasangan. Seks pranikah hanya akan membuat seseorang tidak bahagia dan terikat seumur hidupnya. Sudahkah anda menemukan “keuntungan” seks pranikah? Ini beberapa komentar dr temen2 di www.jawaban.com
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Lupa Berdoa
Yakobus 4:2Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 52; Kisah Para Rasul 24; Imamat 14-15
Sebagai seorang praktisi dalam dunia kerja tentunya kita juga tidak akan luput dari yang namanya masalah. Seringkali masalah itu muncul dengan tiba-tiba dan biasanya itu sangat mengejutkan dan membuat kita seperti seseorang yang kehilangan tempat untuk berpijak.
Dan dalam kebanyakan kasus, reaksi pertama dari seseorang (termasuk saya sendiri) saat menghadapi masalah yang muncul dengan tiba-tiba adalah berupaya untuk mencari jalan keluar secepat mungkin. Kita biasanya akan mencoba beberapa alternatif yang dapat kita pikirkan, bahkan tidak jarang kita juga akan sedikit melanggar etika dan kebenaran asalkan masalah tersebut dapat dengan segera diatasi.
Namun dalam banyak kasus tersebut saya belajar mengapa pertolongan atau jalan keluar jarang dapat kita temukan walaupun berbagai upaya telah kita lakukan. Apa yang firman Tuhan tunjukkan adalah, kita sering tidak mendahulukan dan melibatkan Tuhan. Sehingga kita ‘lupa’ untuk berdoa. Ya, kadang jawabannya adalah sesederhana itu.
Allah sanggup mengatasi segala permasalahan kita, tetapi kita tidak datang dan berseru kepada-Nya. Para profesional, di dalam setiap masalah sudahkah kita berdoa? Atau kita masih berharap pada orang lain atau usaha-usaha kita sendiri? Datanglah pada-Nya hari ini, maka kita akan mendapatkan pertolongan tepat pada waktunya.
Biarlah hidup Anda dimulai dengan berdoa dan sempurnakan dengan banyak berdoa.

Saya kost di jalan Patimura 70 sejak tahun 1995. Di kos ini saya mempunyai seorang sahabat yang bernama Arman Harijanto, ia kuliah di Fakultas Ekonomi. Arman adalah seorang sahabat yang saya temukan di gereja. Selama sebelas bulan saya satu kost dengan dia. Kemudian ia mendadak pindah kos. Ia berkata : bahwa sudah saatnya saya ditinggal sendiri di kost agar saya mengalami pengalaman pribadi bersama Tuhan sendiri.
Akhirnya mereka satu demi satu mengalami masalah. Ada yang terjerat hutang rentenir, ada yang barangnya disita karena tidak bisa bayar judi bola. Tuhan buka jalan kepada saya, sehingga saya bisa masuk ke dalam mereka. Saya mulai berkomunikasi dengan mereka, saya mulai masuk dengan mengenalkan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka dan mereka bisa diberikan jalan keluar. Pada suatu kesempatan saya tantang mereka untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka pribadi. Akhirnya mereka mau menerima tantangan itu. Ada empat orang yang mau terima Tuhan Yesus, mereka dibina dalam komunitas sel yang saya pimpin. Saya bersyukur karena Tuhan memakai saya untuk menjadi saluran tangan-Nya menyelamatkan mereka. 
Dengan kacamata apapun anda melihatnya, dan dengan alasan terbagus apapun yang anda pakai untuk melakukannya, seks pranikah itu menyakitkan… sangat menyakitkan! Jka anda seorang pria, anda akan berpikir bahwa yang sakit hanyalah pihak wanita saja. Anda salah. Memang pihak wanita akan menderita. Dia akan merasa ‘terikat’ dengan pria yang kepadanya sudah dia berikan tubuhnya. Bahkan lebih parah lagi, dia bisa menjadi wanita yang akhirnya bisa menyerahkan tubuhnya pada siapa saja. Dan didalam harga diri yang hancur itu, jiwanya sebenarnya sangat terluka. Pria juga akan terluka secara psikologis dan akan berpengaruh pada rumah tangganya nanti. Ada rasa bersalah, yang akan terlampiaskan dengan begitu banyak cara, salah satunya dengan ketagihan seksual yang mengikat.
Tahukah anda bahwa anda tidak bisa lari dari yang disebut “dosa”? Seks pranikah itu dosa. Titik. Dan orang berdosa akan merasa ‘tidak enak’ pada Tuhan. Mereka mulai menjadi jauh sedikit demi sedikit dari Tuhan. Dan ketika dosa semakin menguasai, Tuhan pun mereka ‘singkirkan’. Lama kelamaan, Tuhan memang seolah tidak dibutuhkan karena hanya ada kesenangan sementara yang diciptakan oleh hawa nafsu. Tapi anda tahu ada apa di ujung jalan?
JANGAN PERNAH termakan janji gombal. Jika ada pria yang coba merayu wanita untuk ke tempat tidur dengan janji akan menikahinya suatu hari, sudah pasti itu gombal dengan atau tanpa kesadaran pria itu sendiri. Pria itu jelas tidak tertarik dengan hati melainkan dengan tubuh. Sebaliknya jika ada perempuan yang mendekati seorang pria dengan modal tubuh seksi dan kelakuan seksi pula, hati-hati dengan perangkap itu. Lari darinya!






















leave a comment