Be an Example! Be a witness in everywhere

Kristen Tak Akan Terkubur di Talpiot

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008


sorotan Kebangkitan Yesus adalah nafas bagi kekristenan. jika nafas itu dihentikan, kekristenan akan binasa. James D. Tabor dan Kelompok Yesus sejarah tahu persis soal ini.
Kekristenan identik dengan Tuhan Yesus. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Iman akan kebangkitan Yesus menjadi dasar kokoh hidup Kristen. Karena itu pihak yang ingin meruntuhkan peradaban Kristen harus menyerang ketuhanan Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi puncak keselamatan bagi umat Kristen. Bila terbukti Yesus bukan Tuhan kekristenan akan rubuh!

Kekristenan identik dengan Tuhan Yesus. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Iman akan kebangkitan Yesus menjadi dasar kokoh hidup Kristen. Karena itu pihak yang ingin meruntuhkan peradaban Kristen harus menyerang ketuhaaan Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi puncak keselamatan bagi umat Kristen. Bila terbukti Yesus bukan Tuhan kekristenan akan rubuh!

MAKAM TALPIOT

Penemuan Makam Talpiot, di selatan kota lama Yerusalem, yang disebut-sebut sebagai makam Yesus, isteri dan anaknya menjadi bukti materil yang disodorkan James Tabor, penentang kebangkitan Yesus dan teolog Yesus Sejarah. Meski belum ada penelitian secara lebih rinci terhadap osuarium-osuarium yang ditemukan di Talpiot karena terkendala ijin dari otoritas kepurbakalaan Israel, kesimpulan telah ditarik. Menurut Tabor, Yesus tidak bangkit. Kebangkitan tubuh Yesus adalah rekayasa pengikut-Nya. Kesimpulan ini sarat motif buruk karena dimulai dengan praduga yang tidak sepantasnya.

Andai benar Yesus tidak bangkit, apa yang terjadi? Menurut dosen Kajian Perjanjian Baru dari STT Jakarta, Ioanes Rakhmat, kekristenan tidak akan mati. Kekristenan masih terus berjalan, namun pemahaman akan kebangkitan Yesus harus dirumuskan ulang. Bahwa Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh RohNya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Menurut Ioanes, kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Pandangan ini langsung memicu debat hangat di kalangan umat. Belakangan Ioanes membukukan pandangannya dengan judul Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga (Sirao Credentia Center:2007)

Namun bagi Adji Sutama, penulis buku Andai Yesus Tidak Bangkit? kesimpulan di atas terlampau spekulatif dan sangat dini diambil. “Apa yang dilakukan terlalu dini, sebab makam Talpiot tidak terbukti sebagai makam Yesus. Penafsiran Ioanes terhadap teks Alkitab juga tidak dapat diterima, sebab belum mengikuti proses penafsiran yang benar,” jelas Adji.Bukan hanya Makam Talpiot. Dokumen-dokumen ekstra-kanonik seperti Injil Filipus dan Injil Maria Magdalena juga dipakai Tabor untuk merekayasa sosok Yesus. Tabor merujuk dokumen-dokumen ini karena menulis tentang Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena. Mereka digambarkan memiliki keturunan dari hubungan itu.

Kebisuan Alkitab soal Yesus selibat atau tidak, dimanfaatkan Tabor untuk menguatkan pandangannya. Padahal tidak ada bukti atau kesaksian historis yang sangat kuat untuk membenarkan (peluang) Yesus menikah. Kebenaran (peluang) Yesus tidak menikah lebih besar untuk diterima. Tetapi beberapa peneliti suka memakai secara amat tidak kritis sumber-sumber sekunder semacam apokrifa. Sementara di sisi lain mereka menolak hampir seluruh sumber primer yang berasal dari abad pertama dan kesaksian orang-orang yang pernah dekat dengan Yesus. Dengan cara yang sama sekali tidak ilmiah itu mereka berusaha “membuktikan” apa yang sesungguhnya terlebih dahulu sudah menjadi pandangan mereka.

“TUBUH-KEBANGKITAN YESUS”

Istilah “tubuh-kebangkitan Yesus” juga menjadi pokok sengketa. Banyak tafsir atasnya. Namun umat Kristen sudah meyakini yang dimaksud “tubuh-kebangkitan Yesus” adalah tubuh Yesus yang bangkit secara jasmani dan rohani. Menurut Adji Sutama, tubuh-kebangkitan jasmani dapat ditangkap saat Yesus menyuruh Thomas untuk menaruh jarinya ke dalam bekas luka di tangan dan lambung Yesus. Sementara tubuh kebangkitan rohani tampak saat Yesus muncul atau menghilang tiba-tiba seperti yang dituliskan penginjil Lukas dan Yohanes (Luk.24:31,36; Yoh. 20: 19, 26).

Para teolog Yesus sejarah, kata Adji, cenderung menolak kebangkitan Yesus sebagai peristiwa historis yang terjadi pada diri Yesus. Kebangkitan Yesus hanya dianggap sebagai pengalaman religius saja. Sementara teolog mainstream percaya tubuh Yesus kebangkitan dipahami sebagai tubuh yang bangkit secara jasmani sekaligus rohani. Para teolog injili konservatif cenderung menekankan kebangkitan Yesus secara jasmani.

sorotan Karena itu, dengan berlandaskan pada 1 Korintus 15, Prof.Dr. Martin Harun, OFM, dosen Biblika dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta menegaskan bahwa, tubuh kebangkitan Yesus bukanlah tubuh jasmani, tetapi tubuh rohani atau mulia. “Jenazah jasmani seandainya tetap dalam kubur tidak menghalangi kebangkitan dengan tubuh yang mulia,” ujarnya. Terkait dengan “kubur kosong” yang menjadi alasan kaum Injili, Harun menambahkan, pesan istimewa itu bukanlah bukti kebangkitan. Kisah itu bermaksud menyatakan bahwa Yesus setelah wafat-Nya bukan cuma roh atau jiwa yang hidup kekal, tetapi Ia dibangkitkan dengan tubuh, yaitu tubuh yang mulia dan tidak dapat binasa.

Pdt. DR. Johnny Weol, rektor STT Pantekosta Jakarta mengingatkan bahwa pengandaian Yesus tidak bangkit atau kebangkitan Yesus sebagaimana diyakini Yesus Sejarah harus ditolak. Bagi Johnny Weol keyakinan tidak didasarkan pada sesuatu yang mengandai-andai. Keyakinan adalah sesuatu yang nyata, pasti dan tidak diragukan. “Artinya keyakinan Kristen harus didasarkan pada Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat,” katanya. Apa yang diungkap di luar sumber Alkitab, kata dia, tidak bisa diterima. Karena iman kristiani dibangun di atas keyakinan terhadap Alkitab yang adalah firman Tuhan.

sorotanIman bukan bersandar pada rasio manusia dan teologi. (Ibrani 11:3). Jadi iman itu adalah percaya kepada Alkitab termasuk kebangkitan-Nya. “Jadi kalau ada yang menemukan kubur serta tulang-tulang Tuhan Yesus, itu adalah upaya-upaya untuk menolak Kristus dan menghancurkan kekristenan,” tutur Pdt. DR. Lefrand Lapian, pengajar pada sejumlah STT.

DOCETISME

Pemahaman bercorak apologetis teologis, bukan historis ini mengagungkan Ketuhanan Yesus. Akibatnya sisi kemanusiaan Yesus terabaikan. Tidak jarang para peneliti kemanusiawian Yesus dituding sesat. Dalam hal ini pendekatan ilmiah yang dilakukan Yesus Sejarah bisa dipinjam dalam merekonstruksi sosok Yesus yang manusiawi. Tapi tidak keseluruhan. Karena keberadaan-Nya sebagai manusia justru menjadi kunci karya penyelamatan manusia. Bahwa manusia bisa diselamatkan dengan menjadi manusia. Tetapi pendekatan ini jangan sampai kebablasan. Sebab pendekatannya harus bersamaan dengan pendekatan keilahian Yesus. Manusia Yesus yang hidupnya dapat diteliti oleh ilmu sejarah, serentak juga diimani dan diakui sebagai Putra Allah yang menghadirkan Allah ke tengah manusia. Melepaskan salah satu dari kedua sisi inilah yang disebut anti-Kristus. Menurut Romo Martin, penelusuran terhadap Alkitab membuktikan bahwa ketimbang surat-surat Rasul Paulus, keempat Injil lebih menampilkan sisi manusiawi Yesus. Keberadaan keduanya di dalam PB saling melengkapi, tidak bertentangan.

Pemahaman akan kemanusiaan Yesus juga memberikan kesempatan melihat dan menyelami bahwa di dalam diri Yesus, Allah sungguh-sungguh solider dengan manusia. Kesetiakawanan Allah menjadi tampak dalam seluruh masa pelayanan Yesus sebagai manusia. Tidak berhenti ketika diancam dengan kematian sebagai manusia. Justru kesetiaan dan ketaatan Yesus di Golgota menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah yang menyerahkan nyawanya untuk manusia (Markus 15:39). Ketakutan bahwa perhatian dan penelitian terhadap kemanusiaan dan kerapuhan Yesus akan mengaburkan keTuhanan-Nya tidak beralasan. Sebaliknya, perhatian itu justru merupakan proses menemukan Sang Anak dalam arti yang sesungguhnya.Karena itu penelitian ilmiah seperti yang disyaratkan Romo Martin dan Adji dapat diterima dengan pikiran terbuka dan ditempatkan sebagaimana seharusnya. “Jadi, penelitian tentang kemanusiaan Yesus tidak perlu dicap sebagai upaya anti-Kristus,” jelas Adji.

REKAYASA MANIPULATIF

Upaya inilah yang diabaikan James Tabor, Simcha Jacobovichi dan peneliti Yesus Sejarah lainnya. Kesimpulan sudah terbayang dibenak sebelum apa yang diasumsikan terbukti nyata. Akibatnya kesan keterpaksaan sarat dalam berbagai alasan yang dikemukakan. Manipulasi sarat rekayasa itu menjadikan bukti yang disodorkan disharmonis satu sama lain.

Rekayasa manipulatif yang terlalu vulgar untuk dilakukan akademisi atau ilmuwan sejati akhirnya dipertontonkan. Terutama oleh James Tabor yang merevisi Dinasti Yesus untuk mendukung Simcha Jacobovici (2007). Namun tetaplah harus dipegang bahwa motif beberapa teolog Yesus Sejarah disebabkan paradigma atau cara berpikirnya yang mengacu pada “apa yang ajaib tidak mungkin historis”.Selain itu iman menjadi sesuatu hal yang membedakan. Manusia hidup, dididik, dan sibuk dalam suatu dunia yang sarat empiris dan materiil. Risikonya manusia tenggelam dalam suatu “kedangkalan” pandangan hidup. Bila manusia tidak dapat melampaui yang serba nyata ini dan dengan sikap yang lebih kontemplatif, menumbuhkan kepekaan untuk realitas mendalam, akan sulit percaya akan semua hal yang melampaui dunia manusia, termasuk kebangkitan Yesus.

IMAN PEREKONSTRUKSI

Yesus Sejarah memang dapat diartikan sebuah “model” atau upaya rekonstruksi Yesus berdasarkan pendekatan dan metodologi historis (ilmu sejarah). Sebagai model berpikir, “Yesus Sejarah” dapat dibedakan dari “Yesus Iman”. Namun di sisi lain, “Yesus Sejarah” juga menyingkapkan “iman” (keyakinan) orang yang merekonstruksinya, sebab tidak ada objek tanpa subjek. Yesus Sejarah sendiri lebih merupakan ekspresi pergumulan iman pribadi peneliti. Mereka mengalami kesulitan untuk mengimani Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru. Dengan pemikirannya, pendekatan Yesus Sejarah akhirnya tidak dapat diterima. Karena itu perdebatannya harus bergerak di ranah ilmiah. Tidak pada tataran umum. Sehingga umat tidak diresahkan. “Jemaat yang tertarik, silakan mengikuti diskusi itu secara kritis melalui media teologi,” tutur Adji.

Sebab kontroversi perdebatan tidak banyak menyentuh kepentingan jemaat. Hanya segelintir saja yang mengikutinya, khususnya apabila menjadi sensasi. Lalu di situ pun akal sehat jemaat biasanya menang dari kejutan yang dibuat oleh pakar. Bila dicermati akan sampai pada kesimpulan begitu banyaknya sosok Yesus Sejarah yang berbeda-beda dan tak mungkin semuanya adalah Yesus Sejarah. “Disinilah peran iman dari individu sendiri. Tapi tidak lepas dari pimpinan-pimpinan rohani mereka. Para pemimpin umat harus mempunyai perhatian khusus untuk merawat jemaat yang digembalakan. Dan pemahaman Alkitab itu harus terus diberikan untuk melindungi dari ajaran-ajaran yang menyimpang,” jelas Weol.

Meskipun Alkitab memberikan ruang untuk mempertanyakan Yesus, Alkitab telah memberikan koridor untuk memahaminya. Kalau berada di luar koridor itu kesesatan yang akan ditemui. “Alur itu sendiri tentang iman Kristen karena bukan iman Kristen kalau tidak ada ruang yang bisa di perdebatkan,” ujar Lapian sambil mengutip. 1 Petrus 3:15. Itu juga yang menyebabkan sejumlah peneliti sosok Yesus alternatif kebingungan karena kebablasannya itu. Sehingga pendapat yang dikemukakan membingungkan. Meski telah berulang menunjuk makam Talpiot, bukan berarti akhir dari Kristen sudah wafat seperti yang dimaui.

Kekristenan masih akan bertahan lama hingga Tuhan datang. Karena hanya Ia yang bisa mengakhirinya. Bila demikian pembedahan akan apapun terhadap sosok Yesus berserta kebangkitan-Nya tidak perlu menguatirkan iman Kristen. (robby repi, Vidi)

www.bahana-magazine.com
Ditandai sebagai:

Mengungkit Yesus Bangkit

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008
Sorotan Sejak kekristenan awal, berita kebangkitan Yesus senantiasa mengundang beragam reaksi bahkan kontroversi. Benarkah Yesus bangkit? Kalau benar, dengan tubuh apa Ia bangkit? Apa kebangkitan itu secara fisik atau metafora?
Minggu pagi di Yerusalem. Fajar baru merekah, tiba-tiba sebuah kampung heboh dengan breaking news: Yesus Bangkit! Sementara di sekitar kubur, beberapa pengawal yang baru saja tersadar dari “pingsan” mendadak kelabakan. Ada apa?

Ada kejadian dahsyat yang membuat para pengawal gentar dan ketakutan hingga seperti orang mati. Gempa hebat dan malaikat dengan wajah seperti kilat duduk di atas batu penyegel. Kubur pun kosong. Padahal mereka adalah prajurit pilihan dengan tugas khusus mengamankan kubur Yesus. Apalagi sebelumnya tersebar desas-desus bahwa Yesus menyatakan diri-Nya akan bangkit pada hari ketiga (Mat. 27: 62-66).

Menyadari hal itu, mereka bergegas melaporkan kepada imam-imam kepala. Untuk mengatasi realitas itu, imam-imam kepala menyuap para pengawal agar merekayasa cerita palsu (Mat. 28:4, 11-15).Sementara, kendati kontrol media sangat ketat, breaking news tersebut segera menyebar di antara murid-murid Yesus. Awalnya pembicaraan itu berlangsung tertutup karena takut dengan penguasa dan petinggi agama. Namun, rasa takut tak bisa membendung sukacita yang meluap karena Yesus bangkit. Dia hidup!

MENCARI BUKTI

Sejak Sekolah Minggu kita sudah akrab dengan cerita kebangkitan Yesus dan telur Paskah. Kisah kubur kosong dan beberapa kali penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya sudah cukup untuk diimani. Tapi, pertanyaan seputar kebangkitan Yesus tetap menyeruak. Benarkah kebangkitan Yesus sebuah fakta atau hanya metafora?

Setidaknya Alkitab mencatat ada sebelas kali Yesus menampakkan diri dalam kurun 40 hari sejak kebangkitan-Nya. Pertama, Yesus menyapa Maria Magdalena, kemudian kepada murid-murid lainnya (Mrk. 16, Yoh. 20:14). Berikutnya kepada Petrus (Luk. 24:34), dua orang yang berjalan ke Emaus (Luk. 24:13), kepada 10 murid-Nya di Yerusalem dan kesebelas murid termasuk Thomas (Yoh. 20:19, 26,29). Yesus juga menampakkan diri kepada Petrus dan enam murid lainnya di pantai Tiberias (Yoh. 21:1). Pula kepada murid-murid di Galilea (Mat. 28:16) dan lebih dari 500 pengikut-Nya, lantas menjumpai Yakobus (1 Kor. 15:6-7). Terakhir, di Bukit Zaitun, dekat Batania. Yesus memberkati para murid kemudian Ia terangkat ke surga (Luk. 24:51). Bukankah semua itu cukup sebagai bukti?

Namun, bagi sejumlah ahli teologi, hal itu perlu dikritisi dengan teori yang mumpuni dari berbagai dimensi. Iman harus bisa dipahami secara akali. Menggali situs purbakala untuk mencari bukti arkeologi. Kebangkitan Yesus imani harus didukung bukti histori kalau ingin keyakinan ini abadi, begitu kata mereka. Tanpa mengecilkan arti upaya argumentasi para ahli dengan mencari dukungan ilmu dan teknologi, kadang kita dibikin geli. Menyandingkan iman dengan pengetahuan, apakah relevan? Memahami kebesaran Allah dengan keterbatasan akal manusiawi, apakah signifikan?

Sebenarnya sederhana saja. Kalau belum yakin dengan penampakan Yesus, ada fakta pendukung lain. Kalau Yesus tidak bangkit, para pengawal tidak perlu bersusah payah mencari solusi atas kegagalannya mengamankan jasad Yesus. Imam-imam juga tidak perlu repot bikin konspirasi dengan sekian dinar uang penutup mulut. Sedangkan bagi para murid, memberitakan kebangkitan Yesus juga bukan tanpa risiko. Imam-imam dan orang Saduki sangat marah ketika Petrus dan Yohanes mewartakan kebangkitan Yesus dan dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis. 4:1-2).

TUBUH JASMANI ATAU ROHANI?

Munculnya tulisan Dinasti Yesus oleh James Tabor dan film The Lost Tomb of Jesus oleh Discovery Channel tahun 2007, kembali mengundang polemik tentang kebangkitan Yesus dan tubuh kebangkitan-Nya. Kalau Yesus bangkit dengan raganya, bagaimana dengan tulang belulang di makam Talpiot yang konon milik Yesus. Benarkah Yesus bangkit? Bila benar, bagaimana wujud tubuh kebangkitan-Nya? Tubuh jas-mani/fisik atau rohani?

Keraguan itu bukan hanya milik James Tabor, John Dominic Crossan, Ioanes Rakhmat, dan sealirannya, ahli teologi liberal. Beberapa murid Yesus juga ragu.Sesuai petunjuk Yesus, murid-murid berkumpul di sebuah bukit di Galilea. Namun, ketika Yesus hadir, bagaimana reaksi para murid? Ada yang percaya dan menyembah Dia, tapi sebagian ada yang ragu-ragu (Mat. 28:16-17), bahkan ada yang tidak percaya (Mrk. 16:13). Thomas, salah satunya.

Keraguan itu wajar, apalagi Yesus muncul tiba-tiba seperti hantu, padahal semua pintu terkunci rapat. Hal itu pula yang menyergap beberapa murid-Nya dalam keraguan. Yesus atau hantu? Untuk menjawab keraguan ini, dengan tegas Yesus mengatakan, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Lantas, Ia pun makan ikan goreng bersama dengan mereka (Luk. 24:38-43).

Bagi sebagian ahli yang menekankan materi, hal itu jelas sukar dimengerti akal ragawi. Kalau Yesus memiliki tubuh yang berdaging dan bertulang, bagaimana ia bisa menembus tembok? Padahal, dalam dunia metafisika, orang bisa menghilang atau berubah bentuk seperti leak, babi ngepet, dsb. Bahkan, dalam fisika kuantum materi bisa diubah berpindah melebihi kecepatan cahaya. Tidak mustahil bila manusia bisa ditransformasi dan kembali lagi seperti dalam film fiksi. Apalagi bagi Allah yang berinkarnasi dalam diri Yesus.

Dalam kubur Yesus yang tertinggal hanya kain kafan. Tubuh-Nya sudah terangkat. Seperti kupu-kupu menanggalkan kepompongnya. Tapi, bukan lagi tubuh badaniah yang lama karena Ia tidak lagi mengenakan pakaian dari dunia. Pula, jangan heran kalau Yesus makan ikan. Anda tentu ingat ketika Adam dan Hawa di Taman Eden. Mereka mengenakan tubuh kemuliaan. Mereka juga makan buah-buahan di taman itu. Itulah tubuh kebangkitan Yesus. Tubuh yang paradoks: “jasmaniah” sekaligus “rohaniah”.

PERGI DAN KATAKANLAH

Keraguan akan kebangkitan Yesus juga bisa dimengerti manakala mata kita masih terkungkung oleh selubung. Biasanya, akal pikiran kita menjadi penghalang utama untuk memahami karya Tuhan. Tak heran bila dua orang murid Yesus tidak mengenali Sang Guru ketika Yesus bercakap-cakap dengan mereka dalam perjalanan menuju ke Emaus. Bahkan Yesus dikira sebagai orang asing!

Mencari penalaran pengetahuan sah-sah saja. Namun, harus beranjak dari iman dan pikiran yang telah diperbaharui (1 Kor. 1:18-25). Prinsipnya adalah mengimani untuk dapat memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani (faith seeking understanding). Bila tidak, boleh saja orang merasa pandai, tapi apa kata Yesus? “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk. 24:25). “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Apakah Anda masih meragukan kebangkitan Yesus?Ingatlah perkataan malaikat, juga pesan Yesus pada perjumpaan dengan murid-murid di pagi Paskah. Jangan takut, pergi dan katakanlah bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati (Luk. 28:5-10). (sugiyanto)

www.bahana-magazine.com
Ditandai sebagai:

Kata Mereka tentang Kebangkitan Yesus

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008


Sorotan Lea Simanjuntak (28) Penyanyi-Jakarta Terserah saja orang lain mau mengklaim atau berpendapat seperti apa mengenai kebangkitan Tuhan. Untuk aku standarnya adalah Alkitab. Alkitab kan bilang Tuhan bangkit dan aku percaya itu. Yang paling akurat menurut aku adalah apa yang Alkitab katakan. Kalaupun ternyata Tuhan tidak pernah bangkit, aku tetap percaya Tuhan bangkit. Aku beriman Tuhan itu bangkit dan itulah yang aku percaya. Mau ada bukti dan penemuan apa pun yang mengatakan Tuhan tidak bangkit, itu semua nggak benar, Tuhan tetap bangkit dalam hidup aku, itu yang aku rasakan.

Sorotan Anjar AFI (25) Aktor-Jakarta Biarkan saja orang sibuk cari bukti lewat buku-buku atau penemuan yang mereka upayakan. Aku pribadi percaya banget Tuhan itu bangkit. Intinya semua itu tergantung bagaimana orang melihatnya. Aku tidak pernah menganggap penemuan-penemuan itu. Soal iman itu urusan pribadi masing-masing ke Tuhan. Terlalu dangkal kalau membandingkan Alkitab, yang nyata-nyata berisi Firman dengan buku yang membahas tentang ketidakbangkitan Tuhan Yesus. Pegangan aku ya Alkitab, apa yang dikatakan Alkitab itu pasti benar.

Sorotan Partogi Samosir (40) Profesional–Jakarta Dalam Alkitab jelas dinyatakan bahwa Tuhan Yesus bangkit secara jasmani. Oleh karena itu semua orang yang bilang Tuhan Yesus tidak bangkit secara jasmani adalah orang yang sebenarnya tidak mengakui Alkitab sebagai Firman Tuhan. Bahkan bisa dikatakan mereka sesat. Saya malah akan berpandangan lain apabila Tuhan tidak bangkit. Tapi saya percaya sekali Yesus bangkit secara jasmani dan benar Dia adalah Tuhan. Dasar yang membuat saya percaya, karena Alkitab sebagai firman yang 100% tidak pernah salahnya.

Sorotan Immanuel Ndoen (45) Pendeta GPR-Palembang Alkitab menjelaskan Yesus lahir, dibesarkan, melayani, mengalami penyiksaan, mati dan naik ke surga. Ia melambaikan tangan memberkati para murid-Nya. Ajaran diluar itu bertentangan dengan firman Tuhan. Tidak mungkin Yesus melenceng dari misi yang telah ditetapkan Allah. Inilah yang menjadi landasan iman kristiani bahwa Yesus naik ke Surga. Jika Yesus tidak bangkit maka seluruh keinginan yang tertuang dalam Alkitab Perjanjian Lama tentang janji kedatangan mesias menjadi omong kosong dan pekerjaan para rasul adalah kesia-siaan belaka.

Sorotan C.F. SHIANNY K. (35) Karyawan—Surakarta Mengakui Alkitab berarti mengakui pula kebangkitan Yesus secara jasmani. Yesus bangkit secara jasmani dari antara orang mati, membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Selain Alkitab, pengakuan iman rasuli juga telah memuat masalah kebangkitan itu. Nah, jika sekarang ada yang tidak percaya, kasihan sekali. Seorang sarjana sejati mestinya percaya juga pada Alkitab sebagai salah satu bahan penelitian dalam membuktikan kebenaran kebangkitan Yesus. Dan, itulah sumber utama penelitian yang benar. Apabila penelitian didasarkan pada data-data di luar Alkitab, pembuktian tersebut patut diragukan.

Sorotan Magdalena Krisinda (26) Penyiar—Yogyakarta Yesus tidak bangkit secara jasmani? Ada-ada saja para ahli itu. Saya yakin Yesus bangkit dengan jiwa, roh dan badan. Jika setelah itu banyak yang sulit dipahami, seperti menampakkan diri, karena Dia adalah Anak Allah. Dia dapat melakukan hal-hal yang menurut nalar manusia memang tidak mungkin. Pikiran kita akan sulit mencerna peristiwa-peristiwa tersebut. Memang akhir-akhir ini banyak media yang mengkampanyekan Yesus tidak bangkit dan tidak naik ke surga. Tetapi dalam diri saya tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Yesus tidak bangkit. Dia adalah Tuhan yang bangkit dan akan datang kembali pada saatnya.

.
Ditandai sebagai:

Sepanjang Jalan Persoalan – Gugatan Abadi Terhadap Keilahian Yesus

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008


Sorotan Beragam media dipakai untuk mematahkan iman terhadap kebangkitan Yesus. Terkait soal ini deras seruan untuk kembali ke jalan Injil, Back to the Bible. Kaum Injili berdiri paling depan.
Umat Kristen jengah dengan utak-atik beragam majalah, buku, novel, film dan media tentang keilahian Yesus. Alkitab adalah kebenaran historis yang diimani. Artinya, firman yang tertulis itu sejarah otentik tentang Yesus yang adalah Allah. Karena diimani, maka segala perbuatan manusia selama hidupnya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Alkitab menjadi landasannya.

Aliran Injili yang lahir di Amerika Serikat dalam abad ke-20 (masuk ke Indonesia tahun 1950-an) memang paling getol menyerukan hidup sesuai Alkitab. Bagi mereka Alkitab tak bercacat-cela sebab adalah firman Allah sendiri untuk manusia. Alkitab memuat kebenaran mutlak di dalamnya. “Kaum Injili membaca Alkitab secara harfiah sebagai sejarah yang akurat. Alkitab adalah satu-satunya ajaran mutlak bagi iman dan kelakuan,” kata Elisa Surbakti, pengamat aliran kekristenan. Tetapi abad pencerahan yang melanda dunia membuat orang ingin menafsir ulang semua tatanan yang selama berabad-abad diyakini benar. Tak terkecuali Alkitab. Pandangan inilah yang melatari komunitas Yesus Sejarah ingin merekonstruksi kebangkitan Yesus.

TEOLOG INJILI vs YESUS SEJARAH

“Bentrok” tak terelakkan. Para teolog Injili—yang mewakili pandangan umat Kristen pada umumnya—kukuh pada Alkitab dan kebangkitan Yesus secara tubuh, jiwa dan roh. Sementara komunitas Yesus Sejarah menganggap kebangkitan Yesus hanya metafora belaka. Mereka mengklaim kuburan Yesus telah ditemukan di Talpiot. Komunitas ini berupaya menampilkan sosok Yesus alternatif dengan memanfaatkan temuan-temuan arkeologis, naskah-naskah kuno dari Gulungan Laut Mati dan kebisuan Alkitab terhadap beberapa soal tertentu tentang Yesus. Dalam bukunya Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot (BPK Gunung Mulia: 2008), Adji Sutama membeberkan perbedaan yang meruncing antara teolog Injili dan komunitas Yesus Sejarah ini.

Dalam buku yang oleh Pdt.Andar Ismail, Ph.D disebut menjawab keresahan umat karena dapat menjadi pegangan iman, alumnus STT Duta Wacana Yogyakarta ini menjelaskan dengan ringkas dan sederhana akar soal perseteruan itu. Menurut Adji Sutama kaum Injili teguh pada pemahaman harfiah dari Alkitab. Sebaliknya komunitas Yesus Sejarah, James Tabor lewat buku The Yesus Dynasty misalnya, mengambil celah dengan melakukan tafsir bebas terhadap Alkitab. Penafsiran itu “diselaraskan” dengan bukti-bukti sejarah yang dipaksakan untuk membenarkan pandangannya. Terkesan, kesimpulan telah ditarik terlebih dahulu. Bukti-bukti sejarah diambil yang perlu saja untuk mendukung kesimpulan tersebut.

INKOSISTENSI TABOR

Yesus Sejarah menolak kebangkitan Yesus sebagai peristiwa sejarah. Menurut mereka kebangkitan Yesus hanya sebuah pengalaman religius pada diri jemaat awal. Pandangan ini menurut Adji Sutama dilatarbelakangi agenda terselubung James Tabor untuk mengembalikan kekristenan ke Yudaisme. Demi hal ini ia mempertentangkan Rasul Paulus dan Yesus. Paulus, kata Tabor, telah merekayasa kebangkitan Yesus.

Malangnya, Tabor mempertontonkan inkonsistensinya dalam buku tersebut. Contoh mula-mula Tabor menciptakan Dinasti Yesus yang nasionalis-religius. Agenda Dinasti Yesus adalah mendirikan Kerajaan Allah di Israel yang berpedoman pada Taurat. Dewan Dua Belas dibentuk. Termasuk dalam dewan ini empat saudara laki-laki Yesus dari hasil perkawinan levirat Maria dan Klopas/Alfeus. Salah satu diantara mereka Yoses yang punya nama lain Lewi, Yose, Yusuf atau Matius.

Yoses, tulis Adji, dipaksa menjadi “Matius” sekaligus “pemungut cukai” (Mat.9:9; 10:3). Padahal pekerjaan pemungut cukai bukanlah pekerjaan seorang nasionalis-religius. Pemungut cukai dibenci karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa yang mengabdi kepada penjajah, bangsa Romawi. Kaum ini segolongan dengan orang berdosa seperti ditulis penginjil Matius dan Lukas (Mat. 9:9-13; Luk.18:11).

Tabor menurut Adji menyadari batu sandungan itu. Dalam penjelasannya mengenai Dewan Dua Belas, tampaknya ia sengaja menyembunyikan identitas “pemungut cukai” dari Lewi (Mrk.2:14; Mat.9:9; 10:3). Tidak ada pembahasan mengenai Matius sebagai pemungut cukai, bahkan disebut sekilaspun tidak. Demikian juga dalam daftar nama dua belas murid versi Tabor. Semua keterangan yang berkaitan dengan nama-nama itu tampaknya sengaja dihapus, termasuk “pemungut cukai” pada Matius.

Makam Talpiot menjadi mainan utama Tabor dalam bukunya itu. Edisi Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Dinasti Yesus. Makam Talpiot dibuat sedemikian rupa seolah-olah di sanalah Yesus dan keluarganya dikubur. Kesimpulan diambil berdasarkan asumsi-asumsi yang spekulatif.

Menurut Adjie Sutama, komunitas Yesus Sejarah telah melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan oleh ilmuwan dan sejarawan manapun. Menggunakan sains untuk membuktikan dan menyimpulkan Yesus tidak bangkit secara historis adalah sangat keliru. “Kesimpulan itu melompat dari wilayah sains ke wilayah iman. Jadi sains hanya sebagai pembenaran,” tulis Adji. Kini Makam Talpiot menambah deret kontroversi, setelah keilahian dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus tidak diakui.

TIGA ARGUMEN

Marvin Pate dan Sheril Pate dalam buku Disalibkan oleh Media (Penerbit ANDI, 2007) menyebut tiga bukti kebangkitan jasad Yesus. Pertama, kubur kosong. Kedua, penampakan Yesus pasca kebangkitan dan, ketiga, data-data lain yang secara kolektif membuktikan kebangkitan Yesus.

Tiga argumentasi ini berdasarkan pemahaman dari keterangan kubur yang kosong dari Matius 28:1-8; Markus 16:1-8; Lukas 24:1-8; Yohanes 20:1-8 dan 1 Korintus 15:3-4. Ayat-ayat ini menjadi landasan iman kristiani tentang kebangkitan. Ayat-ayat ini juga menjadi bukti sahih yang saling menguatkan, ditulis oleh orang yang berbeda dari masa yang berbeda. Jadi kebangkitan Yesus dengan jiwa, roh dan badan tak terbantahkan lagi. “Bila orang mengaku sebagai orang Kristen berarti sudah masuk dalam kesepakatan dan komitmen untuk melandaskan iman kepada Alkitab,” kata Pdt. DR. Erastus Sabdono kepada Daniel Grollus dari Bahana.

Duo Pate lebih jauh menyebut kesaksian para wanita yang melihat kuburan Yesus kosong. Kubur yang kosong berarti tubuh jasmani Yesus tidak ada di sana. Dia telah bangkit. Keberadaan para pengawal kuburan, yang ditempatkan penguasa Romawi ketika itu, dipakai untuk membantah kebangkitan Yesus. Isu pencurian jenazah dikedepankan. Tetapi isu ini menguap tanpa bukti. Penginjil Matius (Mat.28:11-15) bahkan menulis tentang rekayasa kebangkitan yang dilakukan imam-imam kepala dengan memberi suap kepada para pengawal. “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur…,” kata para imam kepada pengawal. Sesuai keterangan kitab Perjanjian Baru, tulis Pete, Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan setelah melewatkan waktu untuk mengajar para pengikutnya, Dia naik ke surga.

SEBELAS PENAMPAKAN

Sebelas kali menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya, seperti ditulis kitab Perjanjian Baru, kian meneguhkan bahwa Yesus bangkit dari mati. Sebagai manusia Yesus telah merasakan betapa sakitnya dicambuk dan disalib. Dia juga merasakan gelapnya makam. Namun, pada hari ketiga Dia bangkit dari maut. Seorang manusia biasa tidak mungkin bangkit dari alam maut. Ketuhanan Yesus, menurut Sabdono, tidak lantas menepis sisi manusiawinya. “Yesus adalah manusia seutuhnya, dengan fisik yang sama seperti kita,” jelas Ketua Seminari Bethel ini.

Tubuh yang sama dengan tubuh manusia, juga merasakan sakit yang luar biasa.Tetapi begitu bangkit dari kubur, tubuh-Nya terbungkus kemuliaan. Tubuh kemuliaan yang tidak lagi binasa, tapi riil. Tubuh inilah yang didemonstrasikan-Nya lewat makan, minum, dan menembus tembok. Pada saatnya nanti, orang percaya akan mempunyai tubuh yang sama seperti yang dimiliki Yesus. “Itu fisik dengan partikel yang sempurna,” tegas Sabdono. Bukti lain berupa kokohnya kekristenan selama lebih dari 2000 tahun menjadi fakta mengagumkan.

“ORANG SAKIT”

Sabdono menganggap para penganut Yesus Sejarah adalah orang-orang yang sedang ´sakit’. Agar jemaat tidak “ketularan penyakit”, gembala sidang GBI Rehobot ini mensyaratkan perlunya pemahaman kebenaran dengan berfokus kepada Alkitab. Dengan keteguhan kepada dokumen ilahi, kata dia, ajaran-ajaran nyeleneh akan berlalu dengan sendirinya. “Saya selalu menekankan pada jemaat saya untuk kembali pada Alkitab,” tandas Sabdono. Tak pelak, sepanjang perjalanan yang dilewati kekristenan sepanjang itu pulalah persoalan yang datang. Jika dapat, mereka ingin mengubur kekristenan hingga tuntas. Kalau sampai hari ini tak satu pun yang berhasil melakukannya, itu berarti Tuhan beserta orang yang benar! (robby repi, lex)

Ditandai sebagai:

Kebungkaman Teks Bertaut Temuan Arkeologis

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008

Sorotan james D. Tabor ingin membuat pembedaan antara Yesus yang pernah hidup dalam sejarah dan Kristus yang diimani orang Kristen. Ia menautkan kebungkaman teks Alkitab dengan temuan-temuan arkeologis untuk sampai pada “kesimpulan”: Yesus tidak bangkit!PEMIMPIN MESIANIK YANG TIDAK BANGKIT

James D.Tabor seorang teolog. Ia ahli dalam perkamen-perkamen Kristen abad pertama, juga menulis buku The Jesus Dynasty. Dengan menggabungkan berbagai temuan arkeologis, tafsir tekstual terhadap Alkitab dan sumber sejarah kuno lainnya, Tabor sampai pada kesimpulan bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik seperti diimani orang Kristen selama ini, karena kuburannya sudah ditemukan di Talpiot, Yerusalem. Tentu saja kesimpulan ini sangat tendensius dan terlalu dini.

Dengan teknik “membayangkan dan menautkan” (imagine and connect) Tabor melakukan rekonstruksi terhadap Yesus, menautkan antara berbagai penemuan artefak di satu sisi, dengan ayat-ayat dalam Alkitab di sisi yang lain. Memakai “jurus” harmonisasi sembari mencomot sana-sini data dan fakta yang hanya mendukung pandangannya, sekilas tampak memang Tabor akan merontokkan kekristenan. Intinya, Tabor menyampaikan pesan bahwa Yesus yang diimani sebagai Kristus oleh umat Kristen hanya seorang manusia biasa saja yang menikah, punya anak, dan juga mati. Dia, kata Tabor, tidak bangkit seperti yang didoktrinkan gereja selama berabad-abad. Yesus bukan Tuhan!

Dalam buku The Jesus Dynasty, Tabor merekonstruksi Yesus sebagai seorang pemimpin mesianik-revolusioner yang ingin membebaskan bangsa Yahudi dari cengkeraman Romawi. Karena itu Yesus menyusun kekuatan dengan membangun dinasti yang akan memerintah Kerajaan Allah di bumi secara turun-temurun. Yesus membentuk Dewan 12 yang mewakili dua belas suku bangsa di Israel. Tetapi orang ini, menurut Tabor, buru-buru ketangkap lalu disalib dan dikuburkan dalam sebuah pemakaman keluarga. Tabor mengklaim tulang-belulang yang ditemukan di Talpiot adalah milik Yesus dan keluarganya. “Jadi Yesus manusia biasa saja!” tegas Tabor.

Gambaran Tabor ini tentu bertolak belakang dengan keyakinan orang Kristen tentang Yesus yang adalah Allah, banyak melakukan mukjizat selama hidupnya, mati disalib namun bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga dengan jiwa dan badan. Iman Kristiani meyakini Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.

DEMIRAKULISASI

Tetapi kita segera tahu bahwa Tabor, seperti juga pengikut Yesus Sejarah lainnya, dalam melakukan rekonstruksi sejak awal telah menyingkirkan kemungkinan adanya mukjizat (demirakulisasi) yang dilakukan Yesus. Manalah bisa seorang manusia normal dapat melakukan mukjizat? Itu bukan hakekat dia.

Kelompok Yesus Sejarah berpandangan bahwa segala hal dapat terjadi karena adanya hukum alam. Demikian pula mukjizat dan hal-hal ajaib yang terdapat dalam Alkitab, menurut Tabor, bisa ditemukan penyebab terjadinya. Kalau dapat dicarikan penyebab terjadinya, maka campur tangan Tuhan tidak ada di sana.

Sorotan Deshi Ramadhani SJ, dosen Tafsir Kitab Suci dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, saat menanggapi tulisan Ioanes Rakhmat di harian Kompas tentang Makam Keluarga Yesus (5 Mei 2007) mengatakan usaha untuk menjelaskan secara ilmiah hal-hal ajaib yang dikisahkan dalam Alkitab bukan-lah hal baru. Ramadhani menyimpulkan, usaha tersebut memperlihatkan sikap tertentu terhadap kisah ajaib dalam Alkitab yang terkait dimensi historis kejadian-kejadian itu. “Akibat logis dari asumsi semacam ini adalah terjadinya demirakulisasi. Mengingkari apa yang sebenarnya begitu jelas terlihat meskipun tidak bisa dijelaskan dengan akal budi,” bilang Ramadhani.

Yesus yang benar-benar ada secara historis dijelaskan dan direkonstruksi dengan menyingkirkan segala hal ajaib atau mukjizat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Alhasil, kata Ramadhani, pembuktian Yesus Sejarah dalam proses demirakulisasi mengharuskan sang peneliti memilih data yang masuk akal saja. “Dalam praktiknya, ini bisa membuat sang peneliti mengambil data yang diperlukan, melepasnya dari konteksnya begitu saja. Tabor adalah salah satu peneliti yang mengikuti cara kerja seperti ini,” tulis Ramadhani yang menjadi penyunting terjemahan Indonesia dari buku The Jesus Dynasty.

Ramadhani menyampaikan dua contoh kecil. Pertama, Tabor mencoba menjawab pertanyaan tentang profesi Yesus sebelum Ia tampil secara publik di Galilea. Perkataan Yunani dalam Injil adalah tektôn. Kamus besar yang disusun oleh Bauer, Arndt, Gingrich (1957) menjelaskan tektôn sebagai carpenter, wood-worker, builder. Tabor, menurut dia, begitu saja memilih arti tektôn sebagai builder (tukang bangunan; tukang batu). Untuk mendukung argumennya ia merujuk pada tulisan yang sekarang dikenal sebagai Protoevangelium Yakobus 9:3 yang mengatakan bahwa pekerjaan Yusuf adalah sebagai tukang bangunan. Tabor hanya memilih satu rujukan kecil ini untuk mendukung hipotesisnya bahwa Yesus pun bekerja sebagai tukang bangunan.

Tulisan Protoevangelium Yakobus menurut Ramadhani sudah beredar sekitar tahun 150 M. Argumen-argumen penting dalam tulisan ini justru bertujuan membuktikan kelahiran ajaib Yesus melalui Maria yang masih perawan dan tetap perawan sesudah kelahiran Yesus. Tabor siap menggunakan bahan di luar Alkitab untuk mendukung argumennya meskipun untuk itu ia harus mengambil rujukan kecil dari sebuah bahan yang justru berlawanan arah dengan cara kerja demirakulisasi yang dipilihnya. “Dengan kata lain, untuk mendukung argumennya, Tabor siap mengambil sebuah teks dan melepaskannya dari konteks begitu saja. Pemisahan teks dari konteks adalah sebuah kesalahan metodologis yang sungguh fatal,” ujar penulis buku Menguak Injil-injil Rahasia itu.

Kedua, Tabor coba membuat rekonstruksi kronologis tahap perjalanan Yesus dan para murid-Nya menuju Yerusalem dan hari-hari terakhir-Nya di sana. Dengan menggabungkan berbagai data dan loncatan-loncatan kreatif berdasarkan informasi dari Injil, sebuah kronologi diusulkan. Namun menurut Ramadhani ada satu bahan yang dalam konteks Injil memiliki arti penting tetapi justru dihindari oleh Tabor.

Dalam Injil Yohanes bab 11 dikisahkan bahwa di sebuah kampung yang bernama Betania, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kisah Yesus yang menyembuhkan dan kisah Yesus yang membangkitkan orang mati tentu saja berada di luar ranah pembuktian mukjizat berdasarkan gejala-gejala alam. Bila Tabor menggunakan kisah tentang kebangkitan Lazarus ini, menurut Ramadhani, ia tentu akan harus juga menerima kemungkinan adanya kebangkitan Yesus sendiri dari mati. Padahal, argumen penting yang justru sedang diperjuangkan adalah untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit. Tabor ingin membuktikan bahwa tubuh Yesus telah dipindahkan oleh para pengikut-Nya dari tempat semula Ia dimakamkan setelah penyaliban, ke tempat yang baru. Untuk maksud itu Tabor berani membuat pernyataan bahwa Ia telah menemukan makam Yesus dan keluarga-Nya.

HARMONISASI TEKS

Menanggapi Tabor, Adji A.Sutama secara khusus menulis buku Yesus Tidak Bangkit? (2007). Dalam buku setebal 294 halaman itu Adji Sutama mengemukakan berbagai ketidakjujuran argumentasi, inkonsistensi, dan harmonisasi teks yang dilakukan Tabor untuk mendukung argumentasinya. Harmonisasi Tabor menurut Adji Sutama biasanya memanfaatkan kebungkaman teks Injil. Misalnya pendapat Tabor soal Yesus adalah anak haram. Tabor menggunakan kebungkaman teks mengenai ayah Yesus (Mrk.6:3, Mat. 13:55). Dikatakan Yesus adalah “anak Maria”. Mengapa Yesus tidak disebut anak Yusuf? Menurut Tabor karena Yesus memang bukan anak Yusuf. Yesus adalah anak haram dari hubungan Maria dengan laki-laki lain, mungkin perwira Romawi asal Yahudi yang bernama Tiberius Julius Abdes Pantera. Skandal ini menurut Tabor sengaja disembunyikan oleh penulis Injil.

SorotanNamun untuk mendukung pendapatnya bahwa Maria punya anak dari Klopas, padahal Klopas hanya disebut satu kali di seluruh Perjanjian Baru (Yoh.19:25). Tabor dengan mudah mengatakan bahwa Klopas mungkin sudah meninggal ketika Yesus dewasa. Argumen “sudah meninggal sehingga tidak disebutkan” menurut Adji Sutama sah-sah saja. Persoalan Tabor adalah, argumen itu diabaikan dalam kasus kebungkaman teks Injil mengenai Yusuf ayah Yesus, karena ia ingin memaksakan pendapatnya bahwa Yesus anak haram. “Padahal kebungkaman teks Injil mengenai Yusuf ayah Yesus seharusnya juga dapat dipahami bukan karena ingin menutupi skandal, tetapi mungkin Yusuf sudah meninggal ketika Yesus dewasa,” ujarnya.

Contoh lain dari harmonisasi Tabor adalah Klopas yang menurutnya adalah suami ibu Yesus karena perkawinan levirat setelah Yusuf meninggal. Di seluruh Perjanjian Baru Klopas hanya ada di Yohanes 19:25. Di sana Klopas bukan suami ibu Yesus, tetapi suami Maria yang bukan ibu Yesus. Bagaimana mungkin Klopas bisa menjadi suami ibu Yesus? Ternyata menurut Adji Sutama, Tabor memanfaatkan dan merekayasa informasi dari buku Sejarah Gereja karya Eusebius. Tetapi dalam buku III.11 yang dirujuk Tabor itu Klopas hanya disebut “saudara Yusuf”. Dalam hal ini pun Tabor memilih buku III.11 yang berisi penafsiran Eusebius terhadap informasi Hegesippus bahwa Klopas adalah “paman Yesus”. Padahal menurut Adji makna “paman Yesus” dalam informasi Hegesippus terbuka untuk ditafsir. Bisa saja Klopas saudara kandung Yusuf, bisa juga saudara kandung Maria, dstnya. Tetapi satu hal yang pasti, buku Sejarah Gereja yang dirujuk Tabor menuliskan Klopas bukan suami Maria ibu Yesus. Klopas adalah paman Yesus atau saudara Yusuf. Entah dipungut dari mana kesimpulan Klopas suami Maria ibu Yesus?

KISAH OSUARIUM YAKOBUS

Osuarium Yakobus menjadi salah satu contoh inkonsistensi Tabor. Berdasarkan bukti tidak langsung yang andal (reliable) menurut Tabor, Osuari Yakobus berasal dari Makam Kain Kafan di Hinom, Hakal-Dama Yerusalem Selatan. Makam itu dijarah dan osuari Yakobus dijual di pasar gelap (hal. 25 buku Tabor). Tetapi dalam buku yang sama di halaman 39-40 Tabor menyebutkan bahwa osuari Yakobus berasal dari Makam Talpiot. Osuari Yakobus adalah osuari ke-10 yang pernah ditemukan di Makam Talpiot dan disimpan oleh Otoritas Kepurbakalaan Israel dengan nomor katalog 80.509. Osuari ke-10 itu hilang. Itulah osuari Yakobus.

Pendapat osuari hilang itu tampak hanya rekayasa Tabor. Menurut informasi Amos Kloner dan Joe Zias, osuari ke-10 tidak hilang. Bahkan menurut mereka ukuran osuari ke-10 tidak sama dengan ukuran osuari Yakobus. Osuari ke-10 juga “polos” tanpa tulisan maupun hiasan, sementara osuari Yakobus jelas-jelas memiliki inskripsi. Bahkan ukuran kedua osuari itu berbeda 10 cm.Yang lebih aneh menurut Adji Sutama adalah konklusi Tabor pada bab akhir bukunya yang mengatakan bahwa “saat ini kita tidak punya bukti bahwa Osuari Yakobus, bahkan kalau otentik, berasal dari dua makam ini, meskipun lebih banyak bukti dapat diperoleh jika tes DNA dilakukan.” Setelah meyakinkan pembaca mengenai osuari Yakobus yang mungkin dari Makam Kain Kafan di lembah Hinom sekaligus mungkin dari Makam Talpiot, kedua kemungkinan itu sekaligus ditolak.

Menurut Adji Sutama, sejauh dapat mendukung pendapatnya, teks diperlakukan Tabor sebagai “laporan historis”. Sebagai “laporan historis”, teks dibaca secara harafiah dan kebungkaman teks dikembangkan menjadi berbagai kemungkinan, serta diharmonisasi supaya mendukung prasangkanya. Tetapi jika tidak mendukung, teks itu diabaikan atau dikomentari sebagai bersifat teologis, bias teologis, klaim teologis, tradisi teologis, dan sebagainya yang berarti: tidak historis.

Akhirnya, kita sampai pada kenyataan bahwa berbagai upaya menelikung ketuhanan Yesus akan sia-sia. Bukankah hingga hari ini mukjizat dan kejadian-kejadian yang di luar jangkauan akal budi manusia masih tetap saja terjadi? Maka benar yang dikatakan Craig E. Evans dalam buku Merekayasa Yesus (ANDI, 2007) bahwa satu kesalahan serius dari banyak kesalahan lain adalah “kegagalan untuk memperhitungkan perbuatan ajaib Yesus”. Tabor mengulangi kesalahan yang sama, seperti para koleganya berabad silam.

(Alex japalatu, dari berbagai sumber)

Ditandai sebagai:

James Tabor dan Pencarian Dinasti Yesus

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008
Sorotan James D. Tabor, ahli biblika dan literatur Kristen abad pertama membuat interpretasi yang mengejutkan tentang kehidupan Yesus dan asal-usul Kekristenan. Ia menggabungkan data-data arkeologis terbaru, tafsir tekstual atas Alkitab dan berbagai sumber sejarah kuno lainnya.

Makam keluarga Yesus telah ditemukan,¨ cetus Tabor usai menyaksikan konferensi pers yang digelar Hershel Shanks, editor jurnal Biblical Archaelogy Review di Washington DC, Amerika Serikat, 21 Oktober 2002. Shanks menggandeng Discovery Channel untuk menyiarkan acara itu. Esok harinya jumpa pers tersebut menjadi berita utama di seluruh dunia.

Pada kesempatan itu Shanks menyatakan Osuarium Yakobus yang lenyap usai digali dari makam Talpiot di sisi selatan Kota Tua Israel, pada tahun 1980 telah ditemukan kembali di Yerusalem. Ternyata seorang insinyur yang beralih berprofesi sebagai pedagang barang antik, Oded Golan, membelinya dari seseorang. Osuarium adalah kotak dari batu gamping yang biasa digunakan oleh kaum Yahudi di sekitar Yerusalem untuk menyimpan tulang-belulang orang mati pada rentang waktu antara 30 SM dan 70 M. Masa hidup Yesus Kristus (5 SM—30 M) termasuk dalam rentang waktu ini.

Yang menjadi pokok sorotan, dan belakangan menuai kontroversi adalah inskripsi yang tertoreh di sana, dalam bahasa Aramaik, berbunyi: Yakobus, anak dari Yusuf, saudara dari Yesus. Ini artinya spekulasi para ahli yang menyangsikan bahwa Yesus bangkit secara jiwa dan badan, mendekati kebenaran. Salah satu dari para ahli tersebut adalah James Tabor, Ketua Departemen Studi Agama-agama di Universitas North Carolina, Charlotte, Amerika Serikat.

Otoritas Kepurbakalaan Israel (Israel Antiquties Authority—IAA) setelah berita yang menghebohkan itu membentuk sebuah tim yang beranggotakan 15 orang ahli, yang dipimpin Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Tel Aviv, Prof. Yuvan Goren, untuk menguji keabsahan osuarium dan inskripsi Yakobus. Empat bulan kemudian hasilnya diumumkan: osoarium itu otentik dan sebagian inskripsi (“Yakobus anak dari Yusuf”) juga otentik. Namun frasa “saudara dari Yesus” ketahuan ditambahkan kemudian. Karena lapisan patina—selaput tipis yang terbentuk oleh proses alami dan membungkus artefak—terlihat lebih muda umurnya setelah diuji secara geokimiawi. Oded Golan langsung dicokok dengan tuduhan pemalsuan benda-benda bersejarah. Ia diadili dan kini masih mendekam di penjara di Tel Aviv.

SorotanOsuarium Yakobus ini mempunyai arti penting bagi Tabor. Temuannya di “Gua Yahya Pembaptis” di Lembah Hinom, Hakal—Dama, selatan kota Yerusalem Lama pada tahun 2000 semakin dikuatkan. Saat menggali bersama lima mahasiswanya, secara tidak sengaja mereka menemukan tulang-belulang dan potongan kain kafan. Dalam uji karbon di Laboratorium Akselerator Spektrometri Massa di Universitas Arizona untuk mendapatkan perkiraan usia kafan, diperoleh kesimpulan bahwa kain kafan Hakal—Dama berasal dari paruh pertama abad pertama Masehi, paralel dengan masa kehidupan Yesus.

Dari temuan Kain Kafan Hakal—Dama, fakta seputar Osuarium Yakobus dan sumber-sumber sejarah kuno lainnya, juga mitos, Tabor sampai pada kesimpulan tentang kehidupan Yesus dan asal-usul agama Kristen. Hal-hal inilah yang termuat dalam The Jesus Dynasty, buku terbaru Tabor yang dirilis tahun 2006. Dalam bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh Gramedia awal tahun 2007 dengan judul Dinasti Yesus. Bulan Juli 2007 edisi revisinya diterbitkan.

GERAKAN MESIANIK—REvOLUSIONER

Menurut Tabor, Yesus ketika itu berada di tengah kemelut politik. Bangsa Israel sedang menanti gerakan mesianik-revolusioner yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan Kekaisaran Romawi. Tampil Yohanes Pembaptis dari keturunan imam Harun. Belum mekar perjuangannya, Yohanes buru-buru dituduh subversif dan dihukum mati. Yesus, melanjutkan gerakan Yohanes tetapi dengan cara yang berbeda. Dia mulai mengkhotbahkan hal baru di Galilea dan menantang kekuasaan Romawi. Dia juga mengangkat Dewan Dua Belas yang masing-masing memerintah 12 suku bangsa Israel. Dalam dewan ini terdapat empat orang saudara sekandung Yesus, yaitu Yakobus, Yoses (biasa juga dipanggil Yose, Yusuf, Matius, atau Lewi), Yudas, dan Simon.

TIGA SUAMI MARIA

Hipotesis Tabor tentang saudara-saudara Yesus ini memang sangat kontroversial. Ia menyebut Maria memiliki tujuh anak dari tiga orang laki-laki. Mula-mula Yesus yang lahir dari hasil skandal Maria dengan seseorang bernama Tiberius Julius Abdes Pantera, seorang tentara Romawi. Jadi Yesus tidak berbapak Allah maupun Yusuf seperti diyakini orang Kristen selama ini. Enam saudara Yesus yang lain berasal dari hasil perkawinan levirat atau yibbum antara Maria dengan Klopas yang biasa dipanggil Alfeus.

Dalam tradisi Yahudi, apabila kakaknya meninggal tanpa anak, adik laki-laki harus mengantikan kakaknya sebagai suami dari janda kakaknya tersebut. Yusuf menurut Tabor tidak mem-punyai anak hingga akhir hayat, maka Klopas mesti menggantikan kakaknya. Dari hubungan itu lahir Yakobus, Yoses Yudas, Simon, Maria dan Salome. Berarti selama hidupnya Maria kawin dengan tiga orang lelaki.

PERJAMUAN TERAKHIR

Perjamuan terakhir yang diadakan beberapa jam sebelum Yesus ditangkap di taman Getsemani menurut Tabor tidak berasal dari Yesus. Peristiwa yang sekarang dikenal dengan nama Perjamuan Kudus/Ekaristi itu berasal dari informasi Paulus dalam Surat 1 Korintus. Tradisi ini diperoleh Paulus dari ritus Yunani-Romawi yang mengagungkan Osiris, dewa Mesir, kepada Isis permaisurinya. “Paulus tumbuh di luar Tanah Israel. Ia tidak pernah bertemu atau berbicara dengan Yesus,” tulis Tabor.

Tabor memperkuat argumennya dari peristiwa saat para murid berkumpul untuk mencari pengganti Yudas Iskariot setelah kematian Yesus seperti tercantum dalam Kisah Rasul 1: 21—22, “…yang senantiasa berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga…” dalam pemilihan tersebut Matius terpilih menggantikan Yudas.

Dalam hal ini Tabor membuat pembelaan teologis bahwa hak menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia sebenarnya lebih pantas disandang saudara-saudara Yesus—dalam sebuah rantai kepemimpinan yang disebutnya Dinasti Yesus—ketimbang peran sentral yang dimainkan Paulus selama itu.

Mengikuti jejak Tabor, Februari 2007 Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino menerbitkan buku The Jesus Family Tomb: The Discovery, the Investigation, and the Evidence That Could Change History. Buku ini adalah analisa mendalam tentang film dokumenter The Lost Tomb of Jesus di mana Tabor duduk sebagai penasihatnya.

KONSPIRASI “THE FOUR JAMESES”

Penemuan James Ossuary (osuarium Yakobus) menginspirasi James Tabor menulis buku Jesus Dynasty. Dari buku ini lahir film The Lost Tomb of Jesus yang disutradarai James Cameron dan Simcha Jacobovici. Tak pelak konspirasi “the four jameses” ini telah membuat resah dunia kekristenan. (Alex japalatu, dari berbagai sumber)

Ditandai sebagai:

Learn About LOVE

Posted in Relationship by Be example on Maret 1, 2008

 
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya. Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai.
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai.

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan
dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya.

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali serta orang yang begitu perhatian pada saya.

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik.

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati.

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya.

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya dan untuk itu saya harus memaafkannya.

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain….,
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus.

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya.

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, t
api semua itu tergantung dari diri mereka sendiri.

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan.

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda.

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya.

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati.

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya.

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis.

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai.

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya.

Selamat belajar , semoga kamu sadar.. !!

Love doesn’t make the world go round. Love is what makes the ride worth while.

Ditandai sebagai:

Apakah Saya Menarik?

Posted in Teaching by Be example on Maret 1, 2008
 
 

Ini adalah pertanyaan yang sering muncul bagi kita. Sejak kecil kita menanyakan hal ini.

Apakah saya adalah orang yang disukai ?
Apakah saya selalu dikelilingi oleh orang yang berbeda di setiap waktu dan tempat dan mereka nyaman di dekat saya?
Apakah saya tetap memiliki teman yang sama dalam waktu yang lama?

Kalau pertanyaan di atas jawabannya TIDAK, maka Anda termasuk orang-orang yang sulit untuk bersosialisasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa karakteristik yang paling diperlukan untuk sukses di segala bidang adalah kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini diucapkan dan dibuktikan oleh para direktur utama perusahaan yang sukses, pedagang ulung, para guru dan orang tua karena mereka menyadari bahwa kehidupan bermula dari adanya interaksi dengan orang lain.

Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik merupakan faktor utama yang tidak ternilai harganya, dan itu akan menentukan sukses atau gagalnya seseorang. Dan hal ini terjadi juga dalam hal rohani. Seseorang yang tidak mampu menarik orang lain, mustahil untuk bisa menarik orang-orang kepada Tuhan. Bagaimana mungkin mereka akan suka sama Tuhan kita sementara mereka sendiri tidak menyukai kita?

Kebenarannya adalah seseorang yang telah menjadi pengikut Kristus akan mengalami perubahan dalam kehidupannya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang disukai orang lain.

Kisah Para Rasul 2:47
… Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Tuhan Yesus juga adalah contoh seorang pribadi yang disukai.

Lukas 2:52
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Rahasia agar Anda dapat diterima dalam pergaulan, baik di rumah, sekolah, kampus, kantor dan lingkungan adalah memiliki kepribadian yang menarik. Coba saja Anda perhatikan, hanya mereka yang berkepribadian menariklah yang memiliki banyak teman dan sahabat. Orang-orang dengan kepribadian yang baik selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya.

Memang kepribadian merupakan watak dasar atau karakter seseorang yang sudah terbentuk dalam dirinya. Karena itu kepribadian setiap orang jelas tidak sama. Namun bukan berarti kepribadian yang buruk tidak bisa dirubah. Jika selama ini kepribadian Anda dinilai kurang baik, tidak ada salahnya Anda mulai merubahnya dari sekarang. Toh memperbaiki kepribadian bukanlah sesuatu yang merugikan. Justru sebaliknya, merubah hal menjadi baik adalah suatu jalan menuju kebenaran. 

Nah, Anda tentu ingin menjadi pribadi yang disukai orang. Apalagi Anda juga rindu agar hidup Anda dapat menarik banyak orang datang kepada Tuhan Yesus. Amin!!! Karena itu ubahlah diri Anda dulu menjadi menjadi pribadi yang menarik.

BAGAIMANA MEMILIKI KEPRIBADIAN YANG MENARIK?

1.     Menjadi orang yang lebih positif.

Filipi 4:8
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Tuhan ingin kita menaruh sebanyak mungkin pikiran positif dalam pikiran kita. Seringkali pikiran positif bertentangan dengan keadaan. Tetapi tetaplah putuskan untuk berpikir dan memperkatakan hal-hal positif!

Setiap hari kita mendengar dan membaca berita yang negatif: pembunuhan, perampokan, penipuan, pelecehan dll. Itu semua membuat banyak orang semakin stress/depresi dan berpikir negatif dalam hidup. Hal ini mengakibatkan semua orang bagaikan tinggal di padang gurun yang tandus dan merindukan  kesegaran air. Berita positif adalah oase di tengah kekeringan dan kepanasan.

Amsal 25:25
Seperti air sejuk bagi jiwa yang dahaga, demikianlah kabar baik dari negeri yang jauh.

Injil  adalah kabar baik. Memiliki Injil dalam hidup artinya memiliki sumber positif dalam hidup. Semakin kita hidup sesuai Injil, semakin positif hidup kita, semakin menarik hidup kita.

2.     Memiliki SESUATU YANG PASTI menarik orang lain.

Matius 4:23-25
23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. 24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. 25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Tuhan Yesus didatangi oleh banyak orang. Pasti ada satu hal yang menarik mereka datang. Tuhan Yesus memiliki sesuatu yang mereka butuhkan! Demikianlah untuk membuat orang semakin tertarik kepada kita, maka kita harus memiliki sesuatu yang mereka butuhkan! Misalnya bakat, talenta, uang atau karakter.

Orang-orang yang punya bakat atau talenta yang spesial seringkali dikelilingi dan menarik banyak orang. Orang-orang yang punya banyak uang pun sama, mereka dikelilingi oleh banyak orang.

Tetapi bakat/talenta serta uang, bukanlah sesuatu ‘yang pasti’, semua bisa berubah. Seorang penyanyi bisa kehilangan suaranya dan ia tidak akan disukai lagi pada masa tuanya. Orang kaya bisa jatuh miskin dan orang-orang yang dahulu selalu bersamanya biasanya akan menghindar.

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang punya banyak talenta/bakat serta uang tetapi sombong, judes, egois serta licik? Mungkin awalnya orang suka dekat dengan dia tetapi kemudian akhirnya menjauh.

Jadi apa yang pasti? Karakter. Karakter yang baik pasti menarik orang untuk dekat kita. Karakter yang baik juga akan menarik Tuhan dekat dengan kita. Bukankah Tuhan adalah sumber bakat/talenta? IA pasti memberikan bakat/talenta itu kepada orang yang punya karakter.

Orang dengan karakter yang baik adalah orang yang rendah hati. Sikap rendah hati ini akan menarik Tuhan bekerja dalam hidupnya. Ia rendah tetapi Tuhan ditinggikan dalam hidupnya.

Yohanes 12:32
Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”

3.     Membuat orang lain SENANG

Hal terakhir yang membuat kita menjadi pribadi yang menarik adalah buatlah orang lain senang dengan tindakan kita.

Kisah 10:38
Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Tuhan Yesus berkeliling untuk berbuat baik. Belajarlah memberkati orang lain dengan hidup kita.

Ditandai sebagai:,

Menghormati Pemimpin

Posted in Daily devotional by Be example on Maret 1, 2008
1 Tesalonika 5:12
Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu.

Hampir semua orang senantiasa ingin menjadi pemimpin. Kita diajari banyak hal, melalui banyak buku dan seminar dan wacana untuk menjadi pemimpin yang baik. Tetapi, perhatikanlah hal ini baik-baik: kepemimpinan yang paling  baik berasal dari anugerah TUHAN, yang menjadikan diri seorang pemimpin dalam orang yang dipilih-Nya.

Tentu saja, kita dapat belajar jadi pemimpin, berharap menjadi pemimpin, tapi tidak bisa memaksa Tuhan untuk meletakkan kepemimpinan di atas pundak kita. Sebaliknya, semua orang diminta untuk menjadi pengikut, di mana semua orang ada dalam posisinya masing-masing. Sebelum seseorang dapat berpikir menjadi pemimpin yang baik, ia harus mengerti tentang menjadi pengikut yang baik.

Tuhan menetapkan semua pemimpin harus bekerja keras. Yang dituntut dari kita adalah menghormatinya. Renungkanlah: seberapa jauh kita menghargai orang yang memimpin kita dalam Tuhan? Apakah kita masih menghormati dalam segala keadaan dan perilaku mereka? Apakah kita masih menghormati mereka, ketika suatu hari pemimpin datang dan menegur kita? Dia mungkin merupakan figur di gereja. Tapi mungkin dia adalah figur di kantor, yang menjadi atasan kita. Jika kita menghormati pemimpin, itu bukanlah pilihan ataupun permintaan melainkan sebuah tuntutan. Sebagai anak-anak Allah, kita harus memenuhi tuntutan itu.

Sebelum berpikir menjadi pemimpin yang baik, pikirkan terlebih dulu bagaimana menjadi pengikut yang baik.

Ditandai sebagai:,

Sikap Positif (2)

Posted in Teaching by Be example on Maret 1, 2008
 
- Jawaban.com -

Bagian satu tulisan tentang sikap ini mengulas tentang perbedaan utama sikap negatif dan positif yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam hidup. Bagian kedua tulisan ini akan mengulas tentang sikap yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin ketika menghadapi berbagai keadaan serta masalah dalam pekerjaan dan pelayanannya.

Membangun Kepemimpinan Dimulai Dengan Menyesuaikan Sikap

Sumber : Matius 5:1-7:29

Pesan Yesus yang paling terkenal, Kotbah di Bukit memiliki fokus pada hati pendengar-Nya. Dia memiliki target murid-murid-Nya sebagai pendengar-Nya (Matius 5:1,2) dan terus berkotbah tentang apa yang kita sebut sekarang sebagai “Kata-kata Bahagia”. Dia memanggil orang-orang-Nya untuk menjadi berbeda, untuk melihat dunia dari perspektifnya Tuhan, untuk berhubungan dengan manusia melalui busana supranatural.

Yesus mendemonstrasikan bahwa mengembangkan kepemimpinan dimulai dengan membentuk perspektif pendengarnya. Yesus menantang perspektif manusia normal di atas :

  • kemiskinan spiritual dan juga sukses
  • kesedihan dan dukacita
  • kesabaran dan kelembutan
  • gairah dan rasa lapar
  • anugerah dan belas kasihan
  • kemurnian dan integritas
  • pembuat kedamaian dan pembalasan
  • penganiayaan dan malapetaka

Sikap : Pemimpin Harus Terfokus Pada Kemampuan Tuhan, Bukan Pada Kemampuan Diri Sendiri

Sumber : Matius 20:1-16

Pemimpin seharusnya sering membaca kisah ini. Ini menggambarkan anugerah Tuhan, diilustrasikan oleh seorang pemilik lahan dan pengerja kebun anggurnya. Pekerja menunjukkan pada kita bagaimana seorang pemimpin terlihat ketika mereka berpaling dari Tuhan dan memakai kemampuan mereka sendiri. Melalui perumpamaan ini Yesus berusaha mengkoreksi sikap yang salah. Dia mencoba untuk mengalamatkan dengan benar :

1. Penyerahan Diri
Kita mengomel dan membuat komplain tentang ketidakadilan. Kita berfokus lebih kepada pekerjaan kita dibanding Tuhan.

2. Membandingkan
Kita mengabaikan anugerah Tuhan, dan asyik memikirkan status orang lain.

3. Kecongkakan
Kita mengharap terlalu banyak ketika tiba waktunya menerima upah dan melupakan bahwa setiap berkat adalah pemberian.

4. Penyimpangan
Ketika kita menghakimi orang lain sebagai orang yang tidak pantas, kita tidak memahami tentang keseluruhan kerajaan Allah.

Sikap Positif : Tugas Pertama Yesus Adalah Untuk Mengubah Perspektif Mereka

Sumber : Lukas 6:20-23

Apa yang Yesus pertama lakukan ketika melatih pemimpin-pemimpinnya? Dia mengubah perspektif mereka dan juga perilaku mereka. Dia berbicara tentang memberkati orang miskin, lapar, yang dibenci, dikurung atau dianiaya. Bicara tentang perubahan sikap! Pelatihan yang efektif selalu dimulai dengan sikap dan perspektif, merubah individual dari dalam keluar.

Sikap Seorang Pemimpin

Sumber : Roma 1:1, 14-16

Paulus memulai kitab Roma dengan menampakkan dirinya sebagai pelayan Tuhan Yesus. Sebelum dia menjadi Rasul atau seorang pengkotbah dalam kitab Injil, dia adalah pelayan. Ini adalah gambaran paling komprehensif tentang kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Paulus memakai bahasa Yunani doulus yang lebih sering ditandai sebagai seorang pelayan yang telah bersedia dan secara hukum mengikat dirinya sendiri pada tuannya (Roma 1:1, Filipi 1:11, Titus 1:1).

Perjanjian Lama memberi latar belakang bagi konsep Ibrani ini (Ulangan 15:1-23). Ketika datang waktunya bagi tuan melepaskan seorang budak, budak itu punya pilihan untuk menerima kebebasannya, atau tinggal tetap dan melayani tuannya atas dasar pilihan :

1. “Saya adalah orang yang berhutang” (ayat 14)
Secara literal berarti dia memiliki hutang untuk dibayar. Catatlah bahwa ini bukanlah suatu hutang yang ia miliki pada Tuhan, namun pada orang-orang. Dia tujukan pada mereka yang belum pernah mendengar tentang Injil Tuhan.

2. “Saya siap” (ayat 15)
Secara literal kata ini memiliki arti dia merasa terbakar di dalam batinnya. Antusiasmenya datang dari responnya pada Tuhan.

3. “Saya tidak malu” (ayat 16)
Mengapa tidak? Karena meskipun dia adalah minoritas yang dilecehkan dari minoritas terkecil namun pesannya adalah membawa kuasa Tuhan untuk menyelamatkan setiap orang.

Sikap Positif : Sikap Paulus Mencerminkan Keluhuran Hidupnya

Sumber : Filipi 1:12-18

Kesadaran pribadi bekerja dengan dua cara. Pertama, kita bekerja terhadapnya. Kemudian, mereka yang bekerja pada kita. Sekali Paulus telah menjelaskan tentang misi hidupnya, bahwa tujuan harian telah mengembangkan sikapnya. Di penjara, kapal karam, kala dipukul, melalui pencobaan dan perdebatan, Paulus menjaga tetap tersenyum karena kesadaran kuatnya akan suatu tujuan. Dia mengerti bahwa pemimpin dapat menyerah pada keadaan yang mereka alami atau mereka dapat menyerah pada kehendak yang Maha Kuasa, sementara keadaan menjadi tidak masalah.

Ketika kita menyerah pada keadaan, kita punya hari baik dan hari buruk. Kita berada dalam kemurahan atas apa yang terjadi dalam diri kita. Ketika kita menyerah pada penyebab atau tujuan, kita memiliki hari yang baik sementara kita berjalan, tujuan kita tidak menjadi mati. Sikap Paulus menolong tujuan hidupnya terus melaju, kemudian tujuan hidupnya menolong sikapnya untuk maju juga. Sikapnya menolong dia menyimpulkan bahwa tidak masalah apa yang menimpa dirinya atau pada orang lain selama misinya terus berlanjut.

Sikap Positif : Paulus Memiliki Pemikiran Untuk Membuatnya

Sumber : Filipi 4:11-13

Paulus memelihara sikap positif meski pada hari-hari buruk. Dia mengajarkan pada kita bahwa :

  1. Sikap punya sedikit untuk dilakukan bersama dengan keadaan (ayat 11).
  2. Sikap dapat berubah, seperti juga keadaan (ayat 12).
  3. Sikap dapat dikembangkan, jika kita belajar rahasianya (ayat 12).
  4. Sikap punya satu sumber untuk kekuatannya (ayat 13).

Sumber: Maxwell Leadership Bible