Hidup Dalam Pemerintahan Allah setiap hari

Hal apakah yang terbayang dalam pikiran ketika kita berdoa sesuai dengan Bapa kami? Kerajaan Allah. Tetapi bagaimana mempraktekkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari? Yesus mengajarkan demikian, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,”(Matius 6:9-10). Doa ini sangat berkuasa, tetapi bagaimanakah cara mempraktekkannya? Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan sebagai gaya hidup, antara lain:
1. Selalu memandang janji Bapa.
Ketika Yesus menyuruh kita untuk berdoa sesuai dengan Doa Bapa Kami, maka Ia bermaksud untuk mengajarkan kepada kita bagaimana kita memandang kepada janji Bapa. “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.],”(Matius 6:11-13).
2. Bergantung pada Roh Kudus yang menyadarkan kita akan hadirat Bapa.
Kita tidak dibiarkan oleh Bapa untuk hidup sendirian seperti anak yatim piatu, tetapi Ia berjanji untuk menyertai kita. Kata Yesus, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu,”(Yohanes 14:16-18).
3. Hidup dalam iman setiap hari.
Jika kita tidak hidup di dalam iman, maka kita tidak akan berkenan kepada Allah. Sebab tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Paulus berkata, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman,’”(Roma 1:16-17).
4. Menyadari kehadiran Allah yang adalah AKU ADA SEKARANG
Ketika Allah memperkenalkan diriNya pada nabi Musa, Ia berfirman: “’AKU ADALAH AKU.’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu,’”(Keluaran 3:14). Mari kita semua dapat mempraktekkan gaya hidup di dalam Kerajaan Allah setiap hari.
http://www.abbalove.org/index.php?option=com_content&task=view&id=243&Itemid=27
MENJADI SERUPA KRISTUS MELALUI PERKATAAN
Corrie Ten Boom adalah penginjil wanita asal Belanda yang selamat dari maut akibat penyiksaan tentara Nazi Jerman. Setelah dibebaskan dari penjara, ia berkata, ”Iblis tersenyum ketika kita membuat rencana. Ia tertawa ketika kita menjadi terlalu sibuk. Namun, ia gemetar ketika kita berdoa.” Doa memberi kuasa, ketenangan, damai sejahtera, dan tujuan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Doa adalah sumber energi utama bagi orang Kristen untuk diubah menjadi serupa Kristus. Ketika ia berdoa, perkataannya akan menjadi perkataan Kristus yang penuh kuasa. John Mason menambahkan, ”Jika Allah adalah Bapamu, teleponlah ke rumah.”
Untuk menjadi serupa Kristus lewat perkataan, Paulus berkata, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu,”(Kolose 3:16). Ketika kita menjadi serupa Kristus melalui perkataan kita, maka dengan DENGAN SEGALA HIKMAT:
- Kita akan mengajar orang lain.
Sebenarnya banyak orang Kristen bisa menjadi serupa dengan Kristus dalam perkataan maupun perbuatan, jika mereka diajar tentang sumber kasih karunia Allah. Tabib Lukas menulis tentang Paulus dan Barnabas demikian, “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah,”(Kisah 13:43). Kita bisa. - Kita akan menegur orang lain.
Karena ingin menjadi serupa Kristus melalui perkataan, maka dengan segala hikmat kita akan menegur orang lain dengan bijak. Kata Paulus, “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan,”(Galatia 6:1). Kita pasti bisa melakukannya, karena kita sedang bergerak ke arah sana. - Kita akan menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani.
Hal ini tidak ada hubungannya dengan suara baik atau buruk, tetapi ungkapan isi hati di hadapan Allah. Allah berkenan dengan pujian yang meluap dari hati yang jujur. - Kita akan bersyukur kepada Allah.
Ada banyak alasan bagi orang Kristen untuk bersyukur. Tetapi alasan utama adalah karena Allah membenarkan mereka secara cuma-cuma karena iman dalam Yesus. Paulus berkata,”Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus,(Roma 3:24). Karena kita telah dibenarkan Allah, maka hukumnya adalah perkataan kita harus serupa dengan perkataan Kristus.
RESCUED/TERTOLONG

(JOHN BEVERE)
LIGHT PUBLISHING
Rp43.500,-
Keterangan:
Kisah Sebuah keluarga, di mana sang ayah adalah seorang gembala sidang yang menceraikan istrinya dan meninggalkan anak-anak-nya demi menikahi seorang wanita lain yang memperhatikan dirinya Bagaimana kelanjutan kisahnya?…Melalui novel ini Anda akan belajar mengoreksi hidup. Apakah kita telah bersiap sedia dalam kebenaran, ketulusan, dan tidak bercacat cela dihadapan Tuhan, sehingga kita bisa berdiri tegak pada penghakiman-Nya.
Unity ?
MENGAPA TIDAK BERSATU … SUSAH BERSATU …
DAN TIDAK MAU BERSATU ?
A. Kita tidak menganggap kebersatuan itu penting.
Doa Yesus tentang kesatuan di Yohanes 17 merupakan apa yg melintas di benak-Nya saat kritis persiapan diri menghadapi salib, sekaligus jadi saat-saat akhir hidup-Nya, jadi apa yg melintas dibenakNya, ada di doa-Nya dan penting bagi Dia pasti juga sangatlah penting untuk kita. Maka, sama seperti Dia, pusatkan pikiran pada doa tersebut juga. Perpecahan disebabkan lebih memusatkan diri pada doktrin dan konsep daripada hidup. Bila pendapat pribadi menghalangi kita untuk berhubungan dengan seorang teman Kristen, maka kita dipaksa untuk menyimpulkan bahwa pendapat-pendapat kita lebih penting bagi kita daripada persekutuan dengan saudara atau saudari dalam Kristus. Akarnya perpecahan adalah dasar kita untuk menerima satu sama lain. Kalau dasar Tuhan menerima kita adalah karena darah Yesus, siapakah kita sehingga berani memandang atau menerima orang dengan dasar yang lain, menurut perilaku dunia ini?
Arti dari kesatuan adalah bahwa kita mempunyai sikap seperti Kristus terhadap orang-orang lain ketika mereka berbuat dosa atau ketika mereka salah, karena kita sudah menaruh iman kita dalam Kristus bagi pengampunan dosa-dosa kita sendiri. Hanya ada satu gereja. Tetapi dari tingkah laku kita, kita akan mengira bahwa kita percaya kalau sampai di surga nanti Tuhan akan membagi-bagi kita dalam seksi-seksi yang berbeda sehingga kita bisa berkumpul bersama di dalam kelompok kecil atau denominasi kita sendiri. Lebih parah lagi, beberapa orang bersikap seakan-akan kelompok mereka satu-satunya yang akan ada di sana. Tetapi kalau kita sampai di surga kita semua akan menjadi satu. Jadi mengapa tidak mengawalinya dan mulai sekarang mengenal orang-orang Kristen dari kelompok-kelompok lain? Ketidakbersatuan gereja adalah akibat dari menambahkan sesuatu pada iman kepada Yesus!
B. Kita tidak tahu bahwa tidak bersatu adalah ekspresi kedagingan. Masalah sebenarnya adalah daging kita (Galatia 5:19-20). Aliran, tata greja, dan sebagainya yang telah membuat perpecahan hanyalah merupakan salah satu dari berbagai jalan bagi daging untuk menyatakan sifatnya yang suka memecah belah (perselisihan dan perpecahan adalah satu dari 19 keinginan daging dalam Galatia 5:19-20). Itu merupakan dalih lain bagi daging untuk menjerat kita..dalih untuk kesombongan, iri dan cemburu. Daging kita akan terus berusaha menemukan saluran-saluran baru untuk mewujudkan dirinya sendiri. Pada gilirannya – karena keinginan daging berlawanan dengann keinginan Roh (Galatia 5:16-17) – kita tidak mungkin hidup dalam Roh karena mengikuti daging! (Galatia 5:16,21).
Upaya membuat kasih dan kesatuan Kristen akhirnya malah membinasakannya. Kesatuan yang benar datang sebagai akibat dari karya Kristus di kayu salib dan di dalam hati kita. Ketika kita menerima kasih dan pengampunan-Nya melalui salib, kita menjadi saudara atau saudari dari semua orang yang sudah melakukan hal yang sama. Tetapi tidak semua orang bersedia menerima kesatuan semacam ini. Sebaliknya, mereka berusaha untuk menciptakan kesatuan dengan cara-cara manusia, dengan usaha-usaha mereka sendiri.
Ada 2 (dua) cara di mana orang Kristen berusaha “menciptakan kesatuan” :
1. LEGALISME.
Kesatuan jangan dikacaukan dengan keseragaman. Keseragaman terjadi bila ajaran-ajaran dalam Firman Allah yang berkenaan dengan kebudayaan tertentu atau keadaan-keadaan tertentu diterapkan kepada semua orang di semua jaman. Ini juga terjadi bila kebenaran diterapkan dengan cara yang kasar dan tanpa kasih. Hasil akhirnya bukan kebenaran melainkan legalisme.
Legalisme adalah menaruh kepercayaan pada huruf kebenaran dalam prinsip-prinsip yang mendasari kebenaran itu. Ada banyak bentuk legalisme, dari peraturan-peraturan mengenai doktrin yang benar, administrasi gereja dan tingkah laku moral sampai ke peraturan-peraturan mengenai selera musik, pola hidup dan bahkan makanan. Biarpun benar untuk kita mempunyai keyakinan-keyakinan pribadi, tetapi merupakan kesalahan bila berkeras bahwa persetujuan dalam bidang-bidang ini adalah dasar bagi persekutuan dan penerimaan dalam kasih. Legalisme membuat kita tidak mengasihi dan suka menghakimi. Terutama bila kita menerapkan hukum-hukum moral Allah kepada daerah-daerah lemah dalam kehidupan manusia dalam cara yang keras dan tanpa kasih.
Meskipun tidak salah kalau kita mempunyai peraturan-peraturan yang mengatur berbagai macam bidang kehidupan kita, apa yang sering terjadi adalah bahwa semakin banyak peraturan yang kita miliki maka semakin banyak pula kebebasan yang rasanya kita punyai untuk menyerang dan memutuskan persekutuan dengan orang-orang yang tidak memelihara ataupun menyetujui peraturan tersebut. Banyak sekte-sekte dan kelompok-kelompok Kristen eksklusif yang berusaha menemukan kesatuan dengan menetapkan sederet peraturan-peraturan dan doktrin-doktrin dan menuntut supaya hal-hal tersebut dipelihara dengan kesetiaan yang membuta. Ini bukanlah kesatuan Alkitabiah, ini keseragaman! Kesatuan yang sejati tidak didasarkan atas persetujuan atau doktrin, atau berpakaian dan bertingkah laku dengan cara tertentu. Kenyataannya, Yesus meninggalkan beberapa peraturan yang harus diikuti oleh para murid-Nya. Yang Ia inginkan ialah ketaatan hati. Jelas, Ia meneguhkan aspek moral dari Taurat, tetapi enerapan legalistik dari Taurat itulah yang nampaknya membuat Ia lebih marah daripada dosa lain yang Ia hadapi.
Kesatuan yang sejati tergantung dari pekerjaan Roh dalam hati kita. Ini adalah akibat dari pembangunan hidup kita atas hal-hal yang pokok dari iman tersebut di atas da mempunyai sikap-sikap yang benar terhadap orang-orang lain. Kesatuan rohani sepert yang dilukiskan dalam Yohanes 17 hanya akan terwujud bilamana ada kebebasan bagi keanekaragaman. Bila mungkin kita kurang dewasa untuk tidak menyetujui sebuah pendapat namun tetap mengasihi satu sama lain tanpa kecurigaan dan ketidakpercayaan, maka kita mempunyai doktrin yang sehat. Doktrin yang sehat senantiasa mencakup kasih dari hati terhadap saudara dan saudari kita dalam Tuhan.
Konsep bahwa doktrin yang sehat berhubungan dengan karakter kita mungkin merupakan hal baru bagi beberapa orang, tetapi penyelidikan yang seksama dari surat-surat Paulus kepada Timotius akan membantu menjelaskan hal ini. Perhatikan terutama 1 Timotius 1:8-11 ; 4:11-16 ; 6:3-10, dan 2 Timotius 3:12-14.
2. LIBERALISME.
Cara kedua yang kita pakai untuk menciptakan kesatuan adalah dengan menyangkal yang absolut dari Firman Allah. Kalau legalisme membuat ajaran-ajaran yang relatif dari Firman Tuhan menjadi absolut, maka liberalisme membuat kebenaran-kebenaran yang absolut dari Firman Allah menjadi relatif. Liberalisme ini muncul krn ketakutan bahwa setiap doktin atau ajaran yang cenderung menjadi eksklusif bisa menyinggung atau menghalangi orang-orang yang kita inginkan terlibat sebagai “saudara”. Dalam kerinduannya untuk mencapai kesatuan, ada yang menyangkal keabsolutan dari berbagai ajaran Alkitab. Sebagai contoh mereka mungkin mengajarkan, bahwa semua orang adalah anak-anak Allah. Nah, itu secara langsung atau tidak langsung menyangkal bahwa satu-satunya jalan menuju Bapa adalah melalui Yesus Kristus. Tetapi Alkitab sudah membuatnya jelas sekali bahwa keselamatan dan kehidupan kekal datangnya hanya melalui iman dalam Tuhan kita Yesus, dan pengakuan dosa-dosa kita (Yohanes 14:6 ; 17:1-3 ; Kisah 4:12).
Kebenaran-kebenaran dalam Firman Allah yang secara umum dan absolut benar bagi semua orang di semua masa misalnya ketuhanan Kristus, keselamatan melalui iman dalam kematian-Nya di atas kayu salib, dan kepercayaan dalam kebangkitan jasmaniah dari Kristus. Kalau kita mengkompromikan standar Allah, kita akhirnya menjadi tidak mengasihi. Cara untuk sungguh-sungguh mengasihi seseorang adalah dengan menolong mereka untuk melihat dan menerobos dosa yang mengikat kepribadian mereka dan merusak hubungan-hubungan mereka. Adalah mungkin untuk mempertahankan suatu ukuran Alkitabiah dan mengasihi pada saat yang bersamaan. Biarpun kita bisa mengalami suatu tingkatan yang tinggi dari kasih dan penerimaan dari sesama kita namun tidaklah mungkin berbagi kesatuan Kristen kecuali sesudah mereka mengakui dosa mereka dan kebutuhan mereka akan pengampunan dari Tuhan Yesus.
Baik legalisme maupun liberalisme merusakkan kesatuan yang benar dan menyulitkan akan adanya kasih yang benar untuk orang-orang percaya yang lain. Yang satu menambahkan pada apa yang Kristus sudah lakukan, sementara yang lainnya menguranginya.
Kalau kita mau mengalami kesatuan rohani yang benar, maka itu harus berasal dari Roh Kudus dan bukan dari daging! Manusia daging tidak mungkin bisa bersatu tetapi mengupayakan kesatuan dengan cara daging juga usaha menjaring angin!
C. Kita tidak memandang bahwa tidak bersatu adalah dosa, sama dengan dosa-dosa yang lainnya.
Bagaimana reaksi kita saat mendengar seseorang terlibat dalam dosa perzinahan? Dan bagaimana pula reaksi kita saat dengar perpecahan dan ketidakbersatuan? Perpecahan bertentangan dengan kehendak Allah, dan kalau perpecahan bertentangan dengan kehendak Allah maka kita berdosa jika hidup di dalamnya (I Korintus 1:10; 3:3-4, 12:25).
Menurut pandangan Tuhan perpecahan diantara kita sangat berdosa. Mengapa kita tidak perlakukan dosa perpecahan sama dengan dosa-dosa lainnya? Paulus dan para penulis Perjanjian Baru lebih banyak mencela orang-orang yang menyebabkan perpecahan daripada mereka yang melakukan bentuk-bentuk dosa lain.
Allah bukanlah Allah dari metode atau rumus, terbatas pada cara-cara kerja tertentu. Apa yang berguna di satu tempat mungkin tidak berguna di tempat lain. Roh Kudus adalah seperti angin yang tidak bisa dimuat dalam kotak apapun, dan Gereja itu sedemikian dinamisnya sehingga ia tidak bisa dikendalikan oleh teologia dari kelompok manapun. Kita harus meninggalkan semua sikap-sikap dari kemandirian palsu, iri hati, dan terutama ketinggian hati. Kesombongan – yang merupakan akar segala dosa – itulah yang mengusulkan bahwa kelompok kita atau gereja kita tidak membutuhkan bagian lainnya dari Tubuh Kristus. Kesombonganlah yang mengatakan bahwa kita adalah pelopor-pelopor dari Kerajaan Allah, di dalam dan dari kita sendiri, dan bahwa kita saja yang sedang berada di pusat dari apa yang Dia sedang kerjakan. Allah sedang bekerja melalui berbagai macam kelompok, gereja-gereja, dan struktur-struktur. Setiap sikap yang tidak memajukan kesatuan – tidak peduli betapapun salahnya orang lain menurut kita – adalah dosa! Mari kita mengesampingkan penggolongan-penggolongan, ketakutan, dan kesombongan kita. Kita saling memiliki dan perlu untuk mulai bertindak seperti itu. Kita harus mengulurkan tangan dalam Roh Kasih dan kepercayaan, rindu untuk melayani dan saling bekerja sama.
Tentunya kita semua setuju dengan ungkapan: “Dalam hal-hal yang pokok biarlah ada kesatuan, dalam hal-hal yang tidak pokok biarlah ada kebebasan, dan dalam segala perkara biarlah ada kasih”.
N.B :
Dalam 1 Korintus 15:1-5, Paulus mendaftar masalah-masalah doktrin yang ia anggap paling penting, atau pokok, bagi iman Kristen:
- Kristus mati bagi dosa-dosa kita.
- Dia adalah Kristus dari ayat-ayat Perjanjian Lama, yang berarti bahwa Dia adalah Anak Allah.
- Dia dibangkitkan pada hari yang ketiga dan menampakkan diri kepada para murid.
Driven by Eternity (Dikendalikan oleh Kekekalan)
Best Seller
(John Bevere)
Light Publishing
Rp49.500,-
Keterangan:
Ini adalah buku yang wajib dibaca oleh setiap orang percaya. Buku ini akan membuat kita tersadar akan keadaan kita saat ini. Ketika Allah menaruhkan kekekalan dalam hati setiap orang percaya, itu berarti apa yang kita lakukan selama berada di dunia ini sangat berdampak pada kekekalan.
Banyak orang percaya yang tidak memahami hal ini sehingga mereka menjalani hidup untuk diri mereka sendiri dan tidak membawa dampak bagi investasi kekekalan.
Pengajaran dari buku ini sangat bagus sekali, membaca buku ini membuat Anda menyadari bahwa hidup Anda setelah hari penghakiman ditentukan oleh hidup Anda sekarang!
GIVE YOUR BEST
Karena iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, maka tentunya ketiadaan hati memberi yang radikal dalam kehidupan gereja Tuhan, dikarenakan kurangnya perenungan tentang kebenaran memberi. Bahkan yang sering terjadi adalah justru maraknya “roh mencari untung” dalam menjalankan kekristenan yang ditandai dengan mental menerima lebih daripada memberi. Motivasi ibadah kepada Tuhan menjadi pengejaran berkat daripada rasa cinta kepadaNya sebagai dorongan utamaà Sang Sumber berkat menjadi tidak lebih penting daripada berkatnya… lebih memandang “tanganNya” daripada “wajahNya”. Bahkan pelayanan tidak lagi memiliki nilai pengorbanan, pengabdian dan perjuangan.
Namun sebaliknya gereja mula-mula di Alkitab bahkan menjadikan memberi sebagai tanda utama dan gaya hidup kekristenan yang normal. Komitmen mereka adalah memberi sebatas nyawa sehingga memberikan harta milik mereka untuk dibagi-bagikan kepada semua orang bukanlah persoalan. Sejak awal mereka telah mengalahkan roh materialistis sehingga pergerakan selanjutnya tidak terkendala oleh semangat rakus harta dan kemaruk kekayaan yang sudah pasti akan mengganjal misi Kerajaan.
Berikut ini adalah beberapa nilai-nilai dan prinsip-prinsip memberi yang perlu direnungkan:
Injil menulis “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini maka Dia memberikan AnakNya yang tunggal.” Jadi tanda kasih adalah memberi. Bisa saja memberi tanpa mengasihi, misal: memberi tukang ngamen atau peminta-minta di jalan tidak perlu sambil berucap: “I love you.” Kasih-lah yang menggerakkan pemberian, tanpa itu maka hanyalah kegiatan sosial belaka. Memberi tanpa mengasihi sama sekali tidak ada faedahnya (1 Korintus 13:3). Kita diampuni karena Allah memberi… kalau Allah tidak memiliki hati dan gairah memberi maka kita tidak pernah mengenal keselamatan…
Bahagia makarios adalah bahagia yang benar-benar berasal dari dalam diri kita, bukan bahagia yang sekadar dipicu dan dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari luar diri kita seperti kekayaan, keinginan mata, dan lain-lain. Alkitab juga berkata… “dari dalammu akan mengalir aliran-aliran air hidup”.
Bahagia buat dunia berarti menerima dan menerima lebih banyak lagi. Mereka selalu bertanya apa dan apa lagi yang dapat saya terima. Kekristenan mestinya tidak terobsesi pertanyaan “apa” tetapi “mengapa”. Mengapa saya punya rumah, mengapa saya punya isteri, mengapa saya punya uangà maka kita bisa mengerti visi dan maksud dari setiap anugerah yang Tuhan berià apa hubungan yang saya miliki dengan perluasan misi Kerajaan, maka kemudian kita akan lebih mudah lagi melepaskan semua yang kita miliki. Itulah salah satu kunci hati memberi. Paradigma yang benar akan hasilkan perilaku yang benar pula. Misal: Saya punya isteri dari Tuhan dengan maksud supaya saya bersinergi dengannya untuk melayani orang-orang dan pekerjaan Tuhan lebih tajam dan kuat lagi… saya punya rumah yang luas supaya saya bisa memberi tumpangan kepada orang-orang yang Tuhan kirim kepada saya… dan sebagainya.
Setelah Musa “bertapa” 40 hari 40 malam, bangsa Israel mungkin berpikir Musa akan turun gunung dengan membawa berita spektakuler, pewahyuan yang fantastis, dan kotbah sakti yang membuat orang terkapar…ee… kenyataannya dia membawa perintah tentang persembahan! Dengan seluruh pemberian dari bangsa Israel yang dikumpulkan itu nanti akan dibuatlah tabut tempat kediaman Tuhan!
Nama Jehova Jireh baru dikenal sehabis peristiwa pemberian besar dari Abraham kepada Tuhan yaitu Abraham memberikan Ishak anaknya. Tidak ada pewahyuan dan pengalaman Jehova Jireh yang sejati dalam hidup kita tanpa hati memberi yang radikal. Memberilah sampai “terasa”à Dalam 2 Samuel 24:24 diceritakan bahwa Daud tidak mau mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan dengan tidak membayar apa- apa tetapi dengan membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu milik Arauna sehingga Tuhan mengabulkan doanya dan menghentikan tulah atas Israel (2 Samuel 24:25). Pemberian yang “terasa” karena pengorbanan. Berilah maka kamu akan diberi! Raihlah dan hayatilah pengalaman dan pewahyuan Jehova Jireh!
Dalam Injil diceritakan kisah perumpamaan tentang orang farisi dan perempuan miskin yang sedang sama-sama memberi persembahan. Meski “si orang saleh” memberi lebih banyak tetapi si janda miskin lebih berkenan pemberiannya karena memberi dari kekurangan… itu pemberian yang “terasa”… nominal lebih kecil tapi pengorbanan lebih besar! Mestinya seluruh umat Tuhan memiliki prinsip: Not equal giving but equal sacrifice! (tidak sama dalam pemberian tapi sama dalam pengorbanan)
www.corneliuswing.com –> berisi percikan artikel2 dari Pdt. Cornelius Wing.
CHURCH IN THE MARKET PLACE (2)
Melepaskan pelayanan 5 Jawatan
Untuk pergerakan mendatang perlu diidentifisir rasul-rasul, nabi-nabi, guru-guru, gembala- gembala dan penginjil-penginjil di market place. Melepaskan 5 jawatan di market place adalah kebutuhan utama pergerakan apostolik di dunia luas. Perlunya kesadaran bahwa keberadaan rasul-rasul dan nabi-nabi tidak hanya berkutat di dalam pelayanan kegerejaan saja. Ada rasul- rasul di dalam komunitas gereja tetapi juga ada rasul-rasul di market place. Ini bagian dari pemahaman ôKingdom orientedö bukan lagi sekedar konsep ôchurch oriented.ö
Allah tidak ingin kerajaan-Nya dilimitasi oleh keberadaan institusi gereja tetapi menjadikan kehendak-Nya jadi di bumi seperti di surga.
Transformasi masyarakat memang harus menjadi goal kita tetapi nampaknya hal tersebut tidak dapat dikerjakan dengan menahan beberapa hal yang gereja miliki (dalam hal ini pelayanan 5 jawatan) dan melepaskan beberapa hal yang lain yang mestinya dipersembahkan sebagai kasih karunia bagi dunia. Dunia bertanya-tanya kapan ôYohanes Pembaptis-Yohanes Pembaptisö keluar dari “pertapaan”nya dan muncul dengan ôsuara yang berseru-seru di padang gurunö? Dimana rasul-rasul kita dengan bisnis apostoliknya di market place?
Kita memiliki pertemuan Kristen 2-3x seminggu tetapi selebihnya waktu kita ada di market place untuk menjadi garam dan terang di sekeliling kita. Kebanyakan dari kita mengalami rasa frustasi yang menjadi gejala umum dalam kekristenan yg dikarenakan kita tidak melihat perubahan- perubahan iklim rohani seperti yang kita harapkan di lingkungan kita, sekalipun kita sudah melakukan seluruh ritual dan aktifitas rohani kita. Umat Tuhan berada di market place dengan seluruh kekuatannya tetapi masyarakat yang mengharapkan perubahan tetap tidak dijangkau. Penyebabnya adalah spiritual government/pemerintahan rohani belum ada disana. Usaha-usaha terbaik dari orang-orang Kristen tidak untuk membuat dampak di sekeliling mereka tetapi hanya difokuskan pada usaha-usaha untuk membangun kepentingan-kepentingan organisasi gereja dan bukan kerajaan Allah. Orang-orang percaya yang jumlahnya mencapai 98% di market place belum diberdayakan sebagai ujung tombak pekerjaan apostolik. Pelayan 5 jawatan yang berfungsi melengkapi orang percaya hanya membatasi pekerjaan dan pelayanannya pada bidang-bidang yang melatih orang percaya mahir beraktifitas di dalam gedung gereja.
Rasul-rasul market place tidak akan efektif dalam pelayanan mereka sebab PERTAMA, mereka tidak tahu untuk apa mereka ada bahwa mereka dipanggil dalam tugas kerasulan di market place. KEDUA, rasul-rasul market place belum diberitahu, ditegaskan posisinya sebagai seseorang yang bergerak dalam pelayanan kerasulan di market place oleh orang-orang percaya lainnya (sekalipun rasul-rasul tersebut sudah siap ada disana dari hari ke hari). Mestinya kita percaya bahwa ada rasul-rasul keuangan, teknologi, industri, edukasi,pertanian, militer, hukum, pemerintahan, bisnis, transportasi, pengetahuan nuklir, dan ratusan segmen masyarakat yang lain dan kemudian mengöordainö mereka. KETIGA, ketiadaan proses pemberdayaan terhadap mereka setelah pengenalan tersebut.
Fungsi gereja pun seharusnya menjadi semacam pusdiklat bagi pelayan-pelayan 5 jawatan yang sudah dikenali dan kemudian me-release-nya di market place untuk kemudian melakukan fungsi melengkapi juga di market place bukannya hanya mengajarkan orang percaya tentang bagaimana cara berkotbah yang baik saja. Ketika rasul-rasul market place bergerak di dalam urapan Allah yang penuh kuasa maka revival akan ada di setiap penjuru kota.
Kira-kira 50% nabi-nabi dan rasul-rasul yang dipulihkan dan dilepaskan akan datang dari dunia bisnis dan selebihnya lagi dari mereka dipanggil dalam pelayanan melengkapi komunitas orang percaya. Beberapa yang lain menjadi pemimpin-pemimpin organisasi non profit. Tetapi mayoritas akan memenuhkan karunia mereka dan berfungsi dalam profesi mereka sendiri. Ada nabi-nabi dan rasul-rasul yang Allah tetapkan dalam bisnis, keuangan, dan pemerintahan. Hal tersebut akan membawa penyesuaian kepada cara berpikir kita mengenai siapa, dimana dan bagaimana gereja akan diperlakukan. Dengan konsep tersebut maka gereja akan menjadi ôinclusive churchö yang ada dimana saja dan kapan saja. Tanpa harus terlihat tetapi sungguh terasa à konsep garam! (bukannya sangat terlihat tapi tak terasa).
Mungkin tanpa nama, tanpa wajah dan tanpa bentuk tetapi berkekuatan dan berdampak. Gereja adalah dimana saja orang percaya ada à dimana saja orang percaya dan pelayan-pelayan lima jawatan bertemu. Dari pandangan tersebut kita akan menetapkan sebuah komunitas gereja di sebuah wilayah bisnis sekalipun.
-Cornelius Wing-
Church in The MARKET PLACE 1
Ada anggapan umum bahwa kita tidak dapat benar-benar melayani Tuhan melalui pekerjaan-Nya jika tidak terjun ke dalam pelayanan sepenuh waktu pada aktifitas-aktifitas gerejawi (kesal karena harus melayani bos duniawi, alasan menyia-nyiakan waktu dan sebenarnya lebih baik punya pekerjaan dengan kesempatan untuk memberi lebih banyak waktu di bidang rohani). Benarkah asumsi-asumsi tersebut?
Anggapan tersebut berangkat dari pemahaman tentang dikotomi antara pekerjaan sekuler dan pekerjaan rohani. Pada kenyataannya fakta menunjukkan pada kita bahwa kita pada umumnya memang memberikan sepertiga waktu kita pada “pekerjaan sekuler”.
Bahkan sebagian besar dari pola hidup kita maupun keluarga, didikte oleh pekerjaan tsb. Ini membuat dikotomi tadi menimbulkan rasa bersalah atau ketidak-tenangan yang tiada akhir. Jam-jam kerja tersebut juga bukanlah jam-jam sisa tapi jam-jam yg terbaik; saat energi dan kapasitas seseorang dalam posisi puncak untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih produktif.
Kenyataannya yang lain, jumlah orang Kristen dengan pekerjaan “biasa/sekuler” jauh melebihi jumlahnya daripada yang bekerja dalam bidang “rohani/gerejawi” (jumlahnya berkisar 98%). Jadi rasa bersalah, bingung dan ketidak-puasan menghinggapi banyak sekali orang Kristen. Sebagian besar dari kelompok 98% , yg mengurus “perkara duniawi” merasa waktunya terbuang sia-sia. Orang-orang Kristen dengan pekerjaan “biasa/sekuler” merasakan dirinya sedang melayani dua tuan. Yesus berkata bahwa tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan (Matius 6:24). Memisahkan yang rohani dan yang sekuler akan menimbulkan konflik batin.
Orang yang menyukai kegiatan Kristen gerejawi yang terorganisir akan memandang pekerjaan sehari-hari sebagai hambatan misi yang “sesungguhnya” tetapi disisi lain orang Kristen dengan pekerjaan sekuler/biasa sehari-hari memandang kegiatan rohani sebagai tugas yang membebani dirinya. Melayani dua tuan akan membuat mendua hati atau bercabang pikiran. Orang Kristen yang merasa pekerjaan sekuler sehari-harinya tidak punya nilai kekal cenderung memaksakan diri melakukan kegiatan dan program gereja setelah jam kantor supaya merasa melakukan sesuatu yang berguna bagi Tuhan. Maka hilanglah semangat untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.
Ada perasaan cemas dan khawatir tidak dapat melakukan cukup banyak hal bagi Tuhan karena waktunya yang terbaik tampak non produktif secara rohani. Pandangannya tentang pekerjaan membuatnya tercabik-cabik antara yang berarti dan yang tak berarti, antara yang rohani dan yang sekuler. Ada pikiran bahwa yang “terpanggil” adalah orang yang lebih berharga untuk melayani Tuhan daripada yang tidak terpanggil.
Ada pemikiran juga bahwa pekerjaan biasa itu berbahaya karena kontak dengan dunia. Maka hasil dari paradigma-paradigma tersebut adalah “Orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya” (Yakobus 1:8).
Jadi bagaimana supaya tidak mendua dan memusatkan seluruh perhatian pada bidang pekerjaan kita? Dimanakah ketenangan? Kalau kita ingin menghasilkan sesuatu yang berarti dalam hidup ini maka kita harus menginvestasikan hidup pada aktifitas yang kepadanya kita mengabdikan sebagian besar dari jam-jam kita yang terbaik dan produktif.
Pandangan kita terhadap pekerjaan sama seperti pandangan ajaran agama buatan manusia. Pandangan kita tentang pekerjaan bersifat duniawi, manusiawi dan berpusat pada manusia. Kita harus belajar melihat pekerjaan kita sebagaimana Tuhan melihatnya.
Setelah dosa mencemari dunia, tidak ada sesuatupun yang kudus. Lalu Tuhan memisahkan kaum Israel dari kenajisan yang mengelilingi mereka di Mesir.
Tuhan mulai menunjukkan mereka arti kekudusan. Hukum Tuhan diberikan melalui Musa.
Salah satunya menunjukkan perbedaan antara yang rohani dan sekuler yang kudus dan tidak kudus. Para imam Perjanjian Lama harus dapat membedakan kudus dan tidak kudus serta najis dan tidak najis (Imamat 10:10, Yehezkiel 44:23).
Mencakup hal apa saja? contoh:
- ada Hari Sabat (Keluaran 20:8) dan enam hari lainnya diperuntukkan bagi tujuan umum/duniawi, dianggap hari-hari sekuler.
- Perbedaan diantara makanan. Ada yang halal dan ada yang haram (Imamat 11)
- Tempat. Ada yang kudus, ada pula yang sekuler (Kemah Pertemuan atau rumah Tuhan dalam Imamat 16:17, 2 Tawarikh 9:5,7 merupakan tempat kudus)
- Dalam hal pekerjaan, juga dipisahkan antara pekerjaan yang kudus dan yang biasa (Imamat 16). Korah dan rekannya yang memberontak dimusnahkan karena mereka berdosa menentang pembedaan yang dilakukan Tuhan di bidang pekerjaan.
Tapi pembedaan dalam hukum Yahudi tersebut hanya bersifat sementara karena Yesus menebus mereka yang takluk pada hukum Taurat (Galatia 4:3-5). Anak Tuhan sudah menang atas segala sesuatu yang tidak kudus. Hasilnya kalau Roh Kristus tinggal dalam diri seseorang, kehidupan orang itu seluruhnya dipandang kudus.
Pembedaan di Perjanjian Lama sirna oleh terang Perjanjian Baru:
- Tentang hari. Yesus adalah Tuhan atas hari sabat, dan Dia bahkan melanggar larangan serta tradisi yang berkaitan dengan hari sabat (Matius 12:1-12, Kolose 2:16, Galatia 4:9-10).
- Tentang makanan. Yesus menyatakan semua makanan halal (Markus 7:19). Yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dinyatakan haram oleh Petrus (Kisah 10:15).
- Tentang tempat. Yesus bicara kepada perempuan Samaria bahwa penyembahan kepada Bapa bukan hanya di gunung itu dan bukan juga di Yerusalem tapi dalam Roh dan Kebenaran (Yohanes 4;21-23). Tubuh orang Kristen sudah menjadi Bait Allah (1 Korintus 3:16; 6:19; Efesus 2:21-22).
- Tentang pekerjaan. Orang-orang Kristen adalah suatu imamat kudus (1 Petrus 2:3) dan Yesus telah membuat kita semua jadi imam-imam (Wahyu 1:6a), umat Tuhan tidak terbagi jadi kelas imam-awam lagi. Kita semua adalah imam yang sudah dikuduskan di manapun kita ada, di market place sekalipun. Sama posisinya di hadapan Tuhan dengan “imam yang di dalam bait suci”, sama berharga dan mulianya dengan mereka yang melayani pada pekerjaan-pekerjaan rohani-gerejawi.
Ini juga menyangkut visi. Dalam hukum Yahudi orang yang berpenyakit kusta tidak tahir dan harus diasingkan. Para imam memeriksa hanya dengan lihat muka mereka tapi Yesus menjamahnya. Yesus tidak tertular kusta karena menjamah orang kusta. Sebaliknya orang kusta itulah yang jadi tahir dan sembuh. Apapun yang disentuhnya menjadi tahir. Tuhan menghendaki agar seluruh hidup kita, segala yang kita miliki, dan segala yang kita lakukan dikhususkan dan dikuduskan untuk tujuanNya. Jadi dalam kehidupan Kristen tidak ada tempat bagi yang tidak kudus dan dapat diberi tanda: sekuler. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang utuh yang dapat dipakai untuk melayani Dia tanpa mendua hati sekalipun dalam pekerjaan kita sehari-hari. Melayani Tuhan merupakan keseluruhan hidup yang utuh, kudus seluruhnya, senantiasa dipersembahkan kepada-Nya. Semua yang diciptakan Allah itu baik dan tidak ada yang haram,jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh Firman Allah dan doa (1 Timotius 4:4-5). Orang-orang Kristen diberi kemampuan untuk hidup supaya Allah dimuliakan didalam segala sesuatu karena Yesus Kristus (1 Petrus 4:11). Pekerjaan sehari-hari termasuk dalam lingkup “segala sesuatu” yang kita klaim bagi kerajaan Tuhan melalui Kristus. Karena pekerjaan yang biasa pun adalah kepunyaan Tuhan maka kita hanya melayani satu tuan. “Allahlah yang memiliki perusahaan yang mempekerjakan saya”. Adalah benar bahwa sebagian orang Kristen “dikhususkan” untuk memberitakan Injil (Roma 1:1, Kisah 13:2) tetapi bukan berarti orang itu tidak lagi melakukan pekerjaan biasa, seperti Paulus contohnya. Pengkhususan itu tidak menunjukan adanya perbedaan yang rohani dan yang sekuler. Semua umat Tuhan mengambil bagian dalam kekudusan Kristus. Kata Yunani untuk “dikhususkan” bukanlah kata yang dipakai untuk kekudusan. Jadi sekalipun ada perbedaan fungsi antara pekerjaan penginjilan dan pekerjaan biasa, itu tidak menyangkut dapat diterima atau tidaknya kedua macam pekerjaan itu di hadapan Tuhan. Di dalam kitab Daniel, Firman Allah menggambarkan seorang yang mempunyai pekerjaan biasa tetapi kehidupannya banyak mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Daniel digambarkan oleh orang-orang kafir sebagai “seorang yang penuh dengan roh dewa yang kudus” (Daniel 5:11). Ia hanya melayani satu tuan sekalipun bekerja di bawah pengasuhan orang duniawi. Ia tidak melayani manusia pada jam-jam yang terbaik dan melayani Tuhan pada jam-jam sisa. Hal itu diakui oleh bosnya raja Darius, bahwa yang disembah oleh Daniel adalah Tuhan (Daniel 6:21).
Sudah saatnya gereja keluar dari kungkungan paradigma salah yang mendikotomikan sekuler-rohani yang benar-benar telah menghambat meluasnya pengaruh Kerajaan Allah di market place. Inilah akar permasalahannya kenapa gereja kehilangan kecepatan dalam pergerakan dan pengaruhnya di dunia luas. Efek sebarnya tersunat oleh kekerdilan pemahamannya sendiri. Terlalu lama menjadi institusi agamawi yang mati dan kehilangan daya sengatnya terhadap kerajaan dunia. Sudah waktunya kita semua berpindah dari pandangan “church oriented” kepada “kingdom oriented”. Beralih dari konsep “exclusive church” kepada “inclusive church”. Gereja tidak lagi termarjinalisasi (terpinggir) dari masyarakatnya sebagai “alien” atau makhluk asing yang jauh dari kesan “user friendly” di hadapan dunia. Dampak Kerajaan Allah tidak dapat lagi disembunyikan di dalam himpitan empat dinding gereja. Kerajaan Allah harus dimanifestasikan ke dunia kerja. Gereja harus ditanam di market place. “Gembalakanlah domba-dombaKu” bukan perintah Tuhan yang melulu dimonopoli kaum pendeta. Direktur mulai memuridkan karyawannya, dan guru-guru mulai membapai siswanya. Dihadapan Tuhan sama mulia dan efektifnya antara pekerja full timer pada pekerjaan gerejawi, pekerjaan guru, ataupun direktur sebuah perusahaan yang meninggikan nama-Nya dan menuntaskan misi-Nya!
- Cornelius Wing -
APAKAH YANG ANDA CARI DI DALAM HIDUP INI?

Pada suatu hari yang cerah, tampak pemandangan yang mencengangkan. Sebarisan panjang manusia yang antri membentang sepanjang sejarah dan kelihatan samar-samar sesuai urutan lahir. Beberapa nama yang dikenal sebagai pahlawan iman: Adam, Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub dan Daud. Ada suara yang bertanya kepada Daud, ”Apa yang kamu cari dalam hidup ini? Mengapa kamu bertahan dalam penderitaan? Adakah yang belum memuaskan hatimu?” Lama tidak terdengar suara. Lalu Daud menjawab, “Aku mencari Tuhan.”
Kemudian Daud menjelaskan maksudnya demikian: Aku telah menulis hal itu dalam kitab Mazmur. Dalam Mazmur, aku menulis seperti ini, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.” (Mazmur 27:8). Mengapa harus mencari wajah Tuhan? Karena hidup ini penuh dengan rintangan, kesukaran dan berbagai halangan lain. Hanya orang yang mencari wajah Tuhanlah yang akan luput dari segalanya. Ketika masalah datang menerpa hidup ini, Tuhan menjadi jawaban satu-satunya yang dapat dipercayai. Itulah sebabnya, aku menulis ayat berikut ini untuk melukiskan rasa syukurku kepada Tuhan, “Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!”(Mazmur 27:9).
Ketika seorang manusia yang lemah mencari Tuhan, maka semua kebutuhan lain pun akan ditambahkan padanya. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu,” (Mat 6:33). Apa yang Anda cari dalam hidup ini? Jikalau Anda mencari Kerajaan Allah dan kebenaran yang dirindukan oleh Tuhan, maka semua hal yang lain akan ditambahkan kepada Anda. Apakah kita rindu untuk memiliki hati seperti Daud? Ia mencari Tuhan sepanjang hidupnya. Ketika ia mencari Tuhan dengan segenap hati, maka Tuhan menolong dia dalam melewati masa-masa yang paling gelap di dalam hidupnya. Dan Daud telah menjadi contoh dan teladan yang baik bagi kita bahwa ketika kita mencari Tuhan di dalam hidup ini, maka Allah akan memuaskan hidup kita.
source : www.abbalove.org/index.php?option=com_content&task=view&id=327
Peluang Radio Ministry
Semakin dibutuhkannya informasi dan dibukanya peluang perizinan mengakibatkan banyak bermunculan stasiun-stasiun radio dan televisi baru, baik yang berskala lokal maupun nasional. Radio membutuhkan perangkat yang memadai untuk dapat beroperasi secara maksimal, baik untuk radio komunitas, radio swasta maupun radio public. Dengan adanya UU no. 32 th 2002 tentang penyiaran yang sudah memuat tentang radio komunitas, yang alokasinya frekuensinya juga sudah masuk dalam keputusan menteri no.15 (KM 15) radio komunitas semakin berkembang pesat. Untuk memfasilitasi hal tersebut, Kami RBC Media memproduksi dan mendistribusikan perangkat pemancar yang dapat dipergunakan dan diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan. Selain itu kami juga melayani instalasi perangkat audio standar broadcast yang diperlukan dalam studio siaran.
Spesifikasi Perangkat :
Perangkat yang ditawarkan antara lain :
ò Pemancar radio komunitas 20 – 100 watt
ò Antena untuk radio komunitas daya rendah sampai 300W
ò Pemancar radio FM 250- 6000Watt
ò Antena pemancar FM daya tinggi sampai 6000W
Pemancar FM
Pemancar merupakan perangkat yang paling utama dalam media elektronik radio penyiaran komersial maupun komunitas. Perangkat ini berfungsi untuk mentransmisikan atau menyalurkan gelombang suara dari perangkat audio di studio ke radio penerima pendengar yang berada di rumah ataupun kendaraan. Daya jangkau suatu pemancar FM sangat bergantung pada daya yang dikeluarkan (dalam satuan watt), ketinggian lokasi antenna transmisi, juga jenis dan jumlah bay antenna yang dipergunakan. Faktor lingkungan juga sangat menentukan daya jangkau dan pemerataan siaran. Berkat perangkat pemancar inilah suara penyiar dan alunan musik dapat didengar oleh pendengar di rumah.
Pada pemancar FM ada beberapa bagian yang saling mendukung sistem operasi yaitu:
ò Exciter FM, bagian yang terdiri dari oscillator PLL dan Stereo generator ini berfungsi untuk membangkitkan frekuensi FM yang akan dipancarkan serta menyampurkan dengan frekuensi audio stereo. Daya keluaran pada bagian ini 20 watt.
ò IPA (Intermediate Power Amplifier), bagian ini berfungsi untuk menguatkan daya keluaran dari exciter yang masih sangat kecil. Bagian ini memiliki daya keluaran maksimum 100 watt. Untuk radio komunitas cukup menggunakan exciter saja atau exciter dan IPA.
ò Booster (Penguat Akhir), bagian ini merupakan penguat daya tinggi paling akhir dalam sistem transmisi. Penguat daya inilah yang menentukan daya jangkau dari pemancar FM. Keluaran dari booster ini akan diteruskan melalui kabel koaksial (Heliax) penghubung (feeder) ke antenna.
ò Antena, bagian ini berfungsi untuk memancarkan sinyal dan daya dari pemancar (Exciter-IPA-Booster) ke seluruh wilayah di sekitar lokasi pemancar radio FM. Semakin banyak elemen (bay), maka semakin jauh pula daya jangkau dari pemancar FM, namun yang umum dipergunakan adalah 4 hingga 12 bay karena berkaitan dengan biaya serta tinggi tower yang dibutuhkan. Semakin banyak elemen yang dipergunakan, maka semakin tinggi tower yang dibutuhkan.
ò Feeder (Kabel Penghubung), merupakan kabel transmisi khusus frekuensi tinggi yang menghubungkan antara pemancar dan antenna. Kualitas dan redaman kabel sangat berpengaruh terhadap kinerja dan efisiensi dari pemancar. Semakin baik kualitas kabel, maka semakin efisien kinerja pemancar.
Pemancar radio FM stereo yang kami tawarkan memiliki daya mulai dari 20 – 100 watt untuk skala radio komunitas, sedangkan untuk radio komersial kami menyediakan pemancar dengan daya 250 watt, 1500 watt dan 6000 watt.
Harga Perangkat
Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Harga belum termasuk biaya pengiriman dan pemasangan di lokasi serta pajak.
Sistem Pembayaran
Perangkat yang kami tawarkan berupa Pemancar FM dan Antena dibuat berdasarkan pesanan konsumen, sehingga sistem pembayaran diatur sebagai berikut :
ò Uang muka dari total pembelian sebesar 50% dibayar pada saat transaksi yang diikat dengan perjanjian bermeterai yang disepakati oleh kedua belah pihak.
ò Sisa pembayaran sebesar 50% dibayarkan setelah perangkat jadi..
ò Lama pengerjaan maksimal adalah 60 hari.
Jaminan layanan Konsumen
Perangkat pemancar yang kami tawarkan bergaransi 3000 jam On Air untuk pemancar FM dan antena.
Untuk tahu lebih detail produk di atas anda bisa login di : www.rbc-media.com
Kami bukan bagian dari rbc-media yogyakarta. Kami disini hanya memberi informasi.
Berikut uraian harga 1 paket pemancar radio FM.
| ò Exciter FM ò Power Amp Output 100 watt ò Antena cycloid 4 bays (paket) ò 4:1 Power Devider / Splitter ò 30 meter coaxial & 4 Jumper Cable |
|
|
Price RP. 8.000.000,- |
|
Tower segitiga 30 meter + instalasi : +/- 7 juta
Komputer + mixer + mic + audio processor + equalizer : 10 jt
Ini merupakan paket pemancar yg paling minimal untuk paket radio komunitas. Total sekitar 25 juta. Untuk perijinan anda bisa login di www.kpi.go.id
Kami (ECM-Ministry) berencana membangun pemancar radio di Blitar Jawa Timur dg sistem STL (repeater). Menggunakan ijin radio komersial. Studio berada di kota, sedang pemancar ada di lereng Gunung Kawi sehingga bisa menjangkau jarak yang lebih luas
Geographic target : Blitar & Malang.
Daya : sekitar :700 watt.
Kurang lebih membutuhkan dana :
Pemancar : 25 juta
Tower : 20 juta
Komputer + mixer + equalizer + audio processor + studio + mic : 20 jt
Sehingga total sekitar 65 juta.
Kami (ECM-Ministry) sedang merencanakan program ini sambil menunggu terkumpulnya dana. Realisasi sekitar 2010.
Bagi anda yang ingin berdiskusi mengenai Pelayanan Radio bisa memberikan komentar di bawah ini.



























2 komentar