Be an Example! Be a witness in everywhere

Menguak Simbol Terang dan Gelap Dalam Harry Potter

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada Maret 6, 2008


Kehadiran Harry Potter telah menimbulkan kontroversi panjang di kalangan umat Kristen. Ada yang bilang, Harry Potter menyesatkan. Sementara kubu lain, justru menemukan banyak nilai Injil Kristus di dalam Harry Potter. Dua haluan yang amat berseberangan. Ada apa sebenarnya dengan Harry Potter (HP)? Mengapa umat Kristen repot-repot memperdebatkannya? Apa memang buah khayalan Jeng Rowling itu punya signi?kansi dengan kekristenan?

HARRY POTTER DAN KEKRISTENAN

Sebetulnya, menurut Dr. Murti Bunanta, S.S, M.A tema utama HP adalah tema lama yang berakar pada cerita rakyat, yaitu kejahatan melawan kebaikan. Sebuah tema klasik yang tak habis-habisnya menjadi sumber penciptaan yang baru(Matabaca, Desember 2005). Seperti halnya cerita klasik anak-anak karya H.C. Andersen,Enid Blyton, Ronald Dahl, dll. di tangan Rowling, tema itu mengalami penciptaan yang baru. Mengambil latar belakang dunia sihir, karya Rowling mampu menyihir ratusan juta anak di seluruh dunia.

Penumpasan kejahatan oleh si baik dengan menggunakan latar belakang dunia sihir itulah yang mengundang kegusaran umat Kristen. Rowling boleh bilang bahwa tulisannya hanyalah khayalan belaka. Namun, dunia sihir adalah sebuah kenyataan. Di Eropa dan Amerika, agama Wicca yang banyak melakukan praktik sihir berkembang dengan pesat. Dan, Rowling benar-benar mempelajari dunia okultisme, legenda dan sejarah itu secara mendalam.Maklum, dia memang menyandang gelar S-2 dalam bidang Mitologi. Ia pun mengaku bahwa 1/3 dari bahan tulisan di HP adalah berdasar pada okultisme yang sebenarnya yang kemudian ia otak-atik kembali sesuai dengan imajinasinya (Menyingkap Penyesatan Harry Potter dan Ilmu Sihir, Steve Wholberg, Light Publishing, 2007).

PANDANGAN NEGATIF: HARRY POTTER SESAT!

Maka, tongkat sihir, ketel untuk memasak ramuan, bola kristal seperti yang ada di HP, adalah barang yang digunakan oleh para penyihir betulan di dunia nyata. Di tangan Rowling dunia sihir yang terlarang itu menjadi sebuah duniapetualangan yang amat memikat anak-anak. Terbukti, larisnya HP juga mendongkrak penjualan buku anak-anak bertema sihir. Pada jeda penerbitan HP, buku-buku karya Eva Ibbotson seperti Bukan Sembarang Hantu dan Menghantui Hiram yang juga bertema sihir laris diserbu penggemar. Buku-buku Ronald Dahl seperti Matilda dan Ratu Penyihir yang sejak terbit 1990 penjualan sempat seret hingga didiskon besar-besaran di bazar buku, tahun 2005 sudah masuk cetakan ke-4. (Matabaca, Desember 2005).

Ya, Rowling telah membuat wajah dunia sihir menjadi lebih ramah dan positif. Alkitab menunjukkan sejak zaman sebelum Musa, praktik sihir itu sudah hidup. Dan, Tuhan melarang umat “berkenalan” atau bahkan praktik ilmu sihir (Ul. 18:9-12). Mereka yang mempraktekkan sihir akan mendapat tempat di lautan api yang menyala-nyala. ( Why. 21:8). Inilah alasan kuat yang membuat banyak gereja, pendeta dan orang tua melarang jemaat, terutama anak-anak membaca Harry Potter. Harry Potter menjadi serialpaling dikecam Amerika sepanjang abad 21. Dari penarikan buku-buku dari sekolah dan perpustakaan, HP menjadi buku yang paling dipertanyakan karena mengandung sihir dan dorongan berperilaku buruk.

PANDANGAN POSITIF: HARRY POTTER SARAT INJIL

Di tengah penolakan yang radikal itu, Connie Neal justru melihat Harry Potter mengandung banyak nilai Injil. Seperti Yesus menggunakan perumpamaan orang Samaria yang baik hati untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, maka Neal juga menggunakan Harry Potter yang notabene kontroversial untuk memberitakan Injil. Jika Wholberg dan kaum Kristen fundamentalis mencari praktek okultisme yang begitu mudah ditemui di dalam HP, Neal dalam buku-nya Injil Menurut Harry Potter, BPK, 2007 justru mengambil makna positifnya. Neal menganalogikan kehadiran Voldemort yang telah menebar teror kutukan kematian di dunia sihir dengan pengusiran Lucifer dari surga. Godaan Lucifer membuat Adam dan Hawa terjerat dosa dan seluruh dunia hidup dalam ketakutan akan kutukan kematian. Selamatnya Harry Potter dari maut yang disambut dengan kegembiraan dunia sihir: bintang jatuh dari langit, burung hantu beterbangan di siang hari, seakan mengingatkan pada sukacita dan gegap gempita seluruh penduduk surga menyambut kelahiran bayi mungil di kandang domba.

SIMBOLISASI KEKRISTENAN?

John Granger dalam bukunya Looking for God in Harry Potter juga punya pandangan positif. Ia melihat serial Harry Potter sebagi simbolisasi terbuka kekristenan. Pandangan itu berdasarkan pertimbangan bahwa Rowling jemaat gereja Scottish Episcopalian (gereja injili) yang tekun. Keseluruhan cerita, menurut Granger, mengandung mitos penebusan Kristen.Di antara dua sikap pro dan kontra, ekstrem kanan dan ekstrem kiri itu, John Houghton dalam bukunya The Harry Potter Effect:Simbol Kekristenan Atau Kegelapan?, Penerbit ANDI, 2007 memberi pandangan yang proposional. Rowling, menurut Houghton membawa kita melihat relevansi pesan Injil dalam konteks kebudayaan kontemporer. Karena itu, jangan terlalu paranoid. Tetapi jangan pula mempertaruhkan kredibilitas Injil untuk sebuah nilai yang masih campur-aduk.

DUNIA SIHIR HARRY POTTER SEBUAH MITOS

Houghton melihat dunia sihir-yang menjadi sumber masalah bagi kaum Kristen fundamentalis-di dalam Harry Potter sebagai sebuah mitos yang lazim ada di cerita dongeng. Seperti kisah Cinderela. Kekuatan sihir mampu mengubah si upik abu menjadi seorang gadis cantik dalam sekejap. Atau kisah Putri Salju dan Tujuh Kurcacinya. Sayangnya, di dalam sebuah mitos, nilai baik dan buruk itu selalu campur aduk. Jadi, kita harus punya ketajaman untuk membedakannya. Sihir di dalam cerita mitos, tak masalah, asal itu digunakan sebagai simbol kehidupan dan transformasi. Sihir dalam kisah Cinderela jelas sebagai simbol. Kebaikan hatinya meski ia disakiti, cita-cita yang tinggi, harapan dan impiannya dibalas dengan pengalaman ajaib yang mengubah hidupnya.

Yang menjadi masalah, jika sihir itu digunakan sebagai kekuatan untuk memanipulasi. Alkitab mengutuk ilmu sihir dan semua hal yang berkaitan dengan seni magis. Entah itu penyihir Mesir pada zaman Musa, penyihir Babilonia pada zaman Daniel, penyihir-penyihir di Israel dan lainnya. Allah tidak memberi tempat untuk mereka (Why. 2:15). Inti sihir ini adalah menjalani hidup tanpa Allah. Karena merasa punya kekuatan memanipulasi untuk membawa keuntungan bagi diri sendiri. Ini adalah bentuk pemujaan berhala. Nah, di dalam Harry Potter, sihir tidak digunakan sebagai simbol transformasi personal. Melainkan digunakan sebagai kekuatan untuk menyelesaikan konflik. Meski untuk menumpas kejahatan, tetap tidak bisa diterima. Sama seperti dosa, di dalam sihir kita tidak mengenal “sihir putih” maupun “sihir hitam”. Segala jenis ritual sihir tetap salah. Dalam kaitannya dengan ilmu sihir, di sinilah titik kesalahan Harry Potter!

Yang menjadi masalah, jika sihir itu digunakan sebagai kekuatan untuk memanipulasi. Alkitab mengutuk ilmu sihir dan semua hal yang berkaitan dengan seni magis. Entah itu penyihir Mesir pada zaman Musa, penyihir Babilonia pada zaman Daniel, penyihir-penyihir di Israel dan lainnya. Allah tidak memberi tempat untuk mereka (Why. 2:15). Inti sihir ini adalah menjalani hidup tanpa Allah. Karena merasa punya kekuatan memanipulasi untuk membawa keuntungan bagi diri sendiri. Ini adalah bentuk pemujaan berhala. Nah, di dalam Harry Potter, sihir tidak digunakan sebagai simbol transformasi personal. Melainkan digunakan sebagai kekuatan untuk menyelesaikan konflik. Meski untuk menumpas kejahatan, tetap tidak bisa diterima. Sama seperti dosa, di dalam sihir kita tidak mengenal “sihir putih” maupun “sihir hitam”. Segala jenis ritual sihir tetap salah. Dalam kaitannya dengan ilmu sihir, di sinilah titik kesalahan Harry Potter!

Pengaruh Harry Potter yang “paling berbahaya” adalah membawa pembacanya untuk mengandalkan diri sendiri berdasarkan pilihan, kehendak dan teknologi/pengetahuan yang dimiliki. Dan, tidak mengakui Allah maupun anugerah-Nya. Pandangan ini sejalan dengan neo-paganisme yang sedang menjangkiti dunia Barat. Neo-paganisme adalah sebuah spiritualitas yang berdasar pada kekuatan diri sendiri yang didukung oleh energi alam semesta. Kendati mengaku Kristen, mungkin pengaruh sekularisme justru lebih kuat dalam diri Rowling.
Sumber: bahana-magazine.com/VM

Ditandai sebagai:

Anda Butuh Dukun atau Doraemon 2008?

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada Maret 6, 2008


Anda ingin kaya raya, sakti mandraguna atau dikelilingi banyak wanita di tahun 2008? Tak usah repot-repot berupaya, lebih baik datang ke dukun. Tidak banyak makan waktu dan tenaga yang perlu dikorbankan. Segala macam janji-janji menggiurkan tersedia di sana. Begitulah isi iklan perdukunan di media massa, terutama media yang berbau mistik yang berkembang pesat seiring dengan program televisi mistik yang juga booming akhir-akhir ini.

Ada yang pasang satu halaman penuh full color, ada juga yang seperempat halaman hitam putih. Lengkap dengan harga mahar (mas kawin) yang beraneka ragam, dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Mahar ini adalah kamuflase dari tarif yang tidak bisa ditawar lagi jika pasien ingin kemauannya terkabul.

Sama seperti pedagang lainnya, semua dukun itu mengaku nomor satu. Tak hanya di tingkat nasional, bahkan mancanegara. “Jasa” yang dijual juga beragam. Dari masalah pengasihan, kekayaan sampai kesaktian. Tak ada yang membatasinya, kecuali batas angan-angan sang dukun itu sendiri.

Para dukun ahli pelet menyediakan berbagai jasa layanan, baik untuk pasien heteroseksual sampai homoseksual.  Mulai dari jasa memanggil jodoh dalam tempo singkat, memelihara hubungan suami-isteri, sampai untuk menghancurkan ikatan cinta yang telah terbangun. Baik dalam bentuk ramuan-ramuan gaib sampai pemasangan susuk.

Banyak dukun yang mengaku sebagai paranormal terkenal dari mancanegara’. Ia berjanji dapat mempermudah jodoh. Bahkan mampu mendatangkan jodoh yang melintas dalam benak pasiennya sekalipun. Ada pula yang mengaku mampu membuat orang rindu dan kasmaran, juga mampu merubah rasa benci jadi rasa cinta. “Ini bukan sensasi. Dalam urusan pelet memelet hanya satu dari 20 orang pasien kami yang gagal,” ucap dukun yang menyebut dirinya Si Raja Pelet itu.

Dan terbukti laris manis, banyak orang percaya. Begitu banyak permintaan mengalir. Sampai-sampai, kalau ingin berkonsultasi dengannya harus buat janji tiga hari sebelumnya, via telepon genggam.

Bagi yang bosan miskin dan ingin cepat kaya, Sebuah perguruan ilmu silat di Surabaya punya janji menarik. Katanya, ia mampu memanggil uang secara gaib menuju diri Anda, terbebas dari masalah keuangan dan hutang-hutang lunas. Semuanya melalui jin khusus pemanggil uang. Mas kawinnya murah saja, tidak sampai seratus ribu rupiah, tak usah sekolah tinggi-tinggi atau jungkir balik berdagang.

Bahkan seorang dukun lainnya, menawarkan jasa “Tuyul” supaya cepat kaya.”Ribuan jin dimanfaatkan untuk mempercepat keberhasilan Anda !” bunyi iklannya di majalah yang khusus bicara tentang mistik.

Untuk yang ingin sakti mandraguna, ada jalan pintas. Ada juga iklan seorang dukun yang menawarkan banyak paket ilmu kebal. Mulai yang berkekuatan hanya 9 jin sampai yang berkekuatan 9999 jin,. Tentunya semakin banyak jin semakin ampuh, tapi juga makin mahal harganya (disini jelas sekali motivasinya). “Tak perlu ritual dan tirakat yang aneh-aneh, dan bisa langsung digunakan” bunyi iklannya. Anda akan kebal dibacok, ditebas, disayat, diiris dan kebal dipukul baik oleh tangan maupun senjata tajam.

Ada lagi yang menawarkan all in one, meliputi ilmu pengasihan, penarik jodoh, berwibawa, penglaris, perisai diri, perisai rumah sampai kebahagiaan seks. Cukup dengan membeli ramuan gaib darinya, Anda pasti super hebat di ranjang.

Semua janji-janji iklan perdukunan itu mengingatkan kita pada serial anak-anak “Doraemon”. Yang diputar setiap minggu pagi di salah satu stasiun TV swasta nasional.  Kisah robot kucing dari abad yang akan dating yang dapat mengabulkan apa saja permintaan sahabatnya, Nobita. Jika Nobita berangan ingin terbang, maka diberikan ‘Baling-baling Bambu’. Jika Nobita ingin pindah ke masa lalu atau masa depan, maka mereka tinggal masuk ke laci meja belajar Nobita yang merupakan mesin waktu dari “Pintu Ajaib”. Segala sesuatu yang diinginkan Nobita sudah tersedia lengkap di “Kantong Ajaib” Doraemon. Tak heran jika jingle serial ini, “aku ingin begini…, aku ingin begitu…dapat dikabulkan dengan kantong ajaib”. Karena seluruh angan-angannya senantiasa dikabulkan oleh sahabatnya, Doraemon.

Dengan bunyi yang tak jauh berbeda, para dukunpun beriklan, “Kami siap menerima pesanan semua bentuk jimat dan pegangan sesuai dengan keinginan anda.” Hanya bedanya para dukun itu tidaklah setulus Doraemon terhadap Nobita. Mereka selalu minta syarat, berupa mas kawin dalam bentuk uang serta syarat-syarat lainnya. Mulai dari tiga helai rambut, kembang tujuh rupa, kuku jari jempol tangan kanan atau kiri, nama ibu kandung, ayam hitam dan banyak lagi. Mana yang lebih baik dan tulus, Doraemon atau para dukun tersebut? Tentunya anda sendiri bisa menilainya.

Ditandai sebagai:

Kontoversi Mengenai NLP Dalam Pandangan Kristen

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada Maret 6, 2008


Ada apa dengan pelatihan NLP? Mengapa banyak orang mempertanyakan ‘Apakah NLP Itu?’ berikut artikel mengenai NLP. Bila kita membuka Ensiklopedia Wikipedia, kita dapat segera mengetahui apa itu NLP dari dua paragraf pertama artikel itu.

Dari sumber Wikipedia ini kita bisa mengetahui bahwa NLP adalah:

(1) sebuah tehnik & kepercayaan untuk mengembangkan potensi diri;

(2) NLP dipengaruhi oleh New Age dan kepercayaan pengembangan potensi diri;

(3) NLP beranggapan bahwa pikiran, badan dan bahasa saling berinteraksi untuk mengatur persepsi dan perilaku;

(4) Karena itu persepsi dan perilaku dapat diubah dengan menggunakan teknik-teknik yang melibatkan  pikiran, badan dan bahasa;

(5) Bahasa dan perilaku seseorang sudah sangat terstruktur dan dapat diberi model kearah yang lebih produktif;

(6) per’model’an ini menggunakan bagian kita yang paling sukses untuk memperbaiki bagian yang kurang berhasil; dan

(7) Model orang lain dapat menghasilkan efek kepercayaan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki fungsinya.

Bagaimanakah seharusnya sikap umat Kristen menghadapi NLP?

(1) Menurut sumber NLP yang dikutip Wikipedia kita mengetahui bahwa NLP adalah tehnik yang sekaligus kepercayaan yang ditujukan untuk mengembangkan potensi diri. Lalu, yang menjadi pertanyaan berlandaskan kepercayaan apakah potensi diri itu akan dikembangkan? Ternyata jawabannya ada padahal ini, (2) dimana NLP disebutkan dipengaruhi keyakinan New Age dan pengembangan potensi diri.

New Age atau gerakan zaman baru adalah faham mistik yang menekankan sifat ilahi manusia, bahwa ada keberadaan tunggal alam semesta berupa kekuatan (macro cosmos) dan bahwa manusia adalah bagian dari kekuatan semesta itu (micro cosmos), jadi kalau macro cosmos disebut Tuhan maka manusia adalah tuhan kecil. Pengembangan potensi diri beranggapan bahwa karena manusia bersifat ilahi maka ia mampu mengembangkan potensi dirinya itu dengan kekuatannya sendiri itu. Disini peran Tuhan diabaikan karena ‘manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.’

(3) NLP terlalu optimis bahwa baik pikiran, badan dan bahasa yang kita ucapkan itu mengatur persepsi dan perilaku dan (4) manusia bisa mengubah persepsi dan perilakunya dengan tehnik-tehnik yang menggunakan pikiran, badan dan bahasa. Disini ada optimisme bahwa ‘manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri’ dan jelas mengabaikan peran Tuhan, dan kuasa dosa yang sudah menguasai persepsi dan perilaku manusia sehingga manusia membutuhkan juruselamat untuk memperbaiki dirinya melalui ‘kelahiran baru.’

Keyakinan NLP menyebutkan bahwa (5) bahasa dan perilaku manusia sudah terstruktur dan dapat diberi model kearah yang lebih positif terutama menuju hidup yang sukses (6) dengan cara tehnik yang dikerjakan oleh manusia itu sendiri (7).

Sama dengan gerakan pengambangan potensi diri lainnya (a.l. Anthony Robbins yang juga mempraktekkan NLP dan menyebut potensi diri itu sebagai ‘the giant within.’), dianggap bahwa manusia itu ‘tuhan bagi dirinya sendiri’ dan ‘memiliki hakekat yang baik.’ Berdasarkan konsep keyakinan demikian manusia dianggap mampu menuju sukses dengan kekuatannya sendiri.

Contoh jelas bahwa ukuran baik-buruk dan dosa tidak jelas dalam NLP adalah pertentangan yang terus menerus terjadi di kalangan para pendirinya. NLP didirikan pada tahun 1973 oleh Richard Bandler dan John Grinder, Pada tahun 1980-an segera setelah penerbitan buku ‘Neuro-linguistic Programming Volume 1,’ keduanya berpisah dan berebut mengklaim hak hukum atas kepemilikan NLP. NLP kemudian dikembangkan oleh berbagai pihak dengan nama berbeda-beda, Bandler sendiri kemudian mengembangkannya dengan tehnik hipnosis, Anthony Robbins di tahun 1970-an mempraktekkan NLP dengan nama Neuro Associative Conditioning, dan banyak lain mengembangkan dengan nama sendiri-sendiri, sehingga tidak lagi ada sistem tunggal untuk NLP sekalipun semua memiliki dasar keyakinan yang sama mengenai potensi kebaikan dalam diri manusia dan bahwa manusia sendiri bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Setelah bertengkar cukup lama, Bandler kembali menuntut Grinder dan mengklaim sebagai pemilik tunggal NLP dan hanya ia yang berhak menggunakan istilah itu. Baru pada tahun 2001 setelah pertengkaran berlarut-larut selama dua dasawarsa mengenai kepemilikan sistem NLP, akhirnya Bandler dan Grinder berdamai dan menerima bahwa NLP ditemukan oleh keduanya bersama-sama.

Konsep optimisme manusia jelas bertentangan dengan iman Kristen yan menyebutkan bahwa diri manusia itu sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (bukan allah kecil yang punya kekuatan sempurna seperti yang besar). Menurut NLP manusia melalui pemetaan dirinya sendiri dan mengembangkan potensi melalui pikiran, badan dan bahasa bisa mengubah diri dari yang tidak produktif ke yang produktif dan dari yang tidak sukses menuju sukses.

Konsep manusia menurut Alkitab jelas menyebutkan bahwa manusia berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah dan karena itu ia membutuhkan juruselamat untuk menyelamatkan dan mengubah dirinya menjadi baru (kelahiran baru) melalui pertobatan dan ketaatan dimana Roh Kudus berperan mengubah hati manusia menuju kebaikan sesuai ukuran Tuhan sendiri.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, mereka yang beriman kristen dan takut akan Tuhan rasanya bisa bersikap bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan dari Allah dan karena itu janganlah mereka mengandalkan kekuatan dalam dirinya sendiri (Yer.17:5) melainkan hendaklah mereka mengandalkan Tuhan.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.” (Yeremia 17:7).

Sumber: Yabina.org

Ditandai sebagai:

Kontoversi Mengenai NLP Dalam Pandangan Kristen

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada Maret 6, 2008


Ada apa dengan pelatihan NLP? Mengapa banyak orang mempertanyakan ‘Apakah NLP Itu?’ berikut artikel mengenai NLP. Bila kita membuka Ensiklopedia Wikipedia, kita dapat segera mengetahui apa itu NLP dari dua paragraf pertama artikel itu.

Dari sumber Wikipedia ini kita bisa mengetahui bahwa NLP adalah:

(1) sebuah tehnik & kepercayaan untuk mengembangkan potensi diri;

(2) NLP dipengaruhi oleh New Age dan kepercayaan pengembangan potensi diri;

(3) NLP beranggapan bahwa pikiran, badan dan bahasa saling berinteraksi untuk mengatur persepsi dan perilaku;

(4) Karena itu persepsi dan perilaku dapat diubah dengan menggunakan teknik-teknik yang melibatkan  pikiran, badan dan bahasa;

(5) Bahasa dan perilaku seseorang sudah sangat terstruktur dan dapat diberi model kearah yang lebih produktif;

(6) per’model’an ini menggunakan bagian kita yang paling sukses untuk memperbaiki bagian yang kurang berhasil; dan

(7) Model orang lain dapat menghasilkan efek kepercayaan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki fungsinya.

Bagaimanakah seharusnya sikap umat Kristen menghadapi NLP?

(1) Menurut sumber NLP yang dikutip Wikipedia kita mengetahui bahwa NLP adalah tehnik yang sekaligus kepercayaan yang ditujukan untuk mengembangkan potensi diri. Lalu, yang menjadi pertanyaan berlandaskan kepercayaan apakah potensi diri itu akan dikembangkan? Ternyata jawabannya ada padahal ini, (2) dimana NLP disebutkan dipengaruhi keyakinan New Age dan pengembangan potensi diri.

New Age atau gerakan zaman baru adalah faham mistik yang menekankan sifat ilahi manusia, bahwa ada keberadaan tunggal alam semesta berupa kekuatan (macro cosmos) dan bahwa manusia adalah bagian dari kekuatan semesta itu (micro cosmos), jadi kalau macro cosmos disebut Tuhan maka manusia adalah tuhan kecil. Pengembangan potensi diri beranggapan bahwa karena manusia bersifat ilahi maka ia mampu mengembangkan potensi dirinya itu dengan kekuatannya sendiri itu. Disini peran Tuhan diabaikan karena ‘manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.’

(3) NLP terlalu optimis bahwa baik pikiran, badan dan bahasa yang kita ucapkan itu mengatur persepsi dan perilaku dan (4) manusia bisa mengubah persepsi dan perilakunya dengan tehnik-tehnik yang menggunakan pikiran, badan dan bahasa. Disini ada optimisme bahwa ‘manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri’ dan jelas mengabaikan peran Tuhan, dan kuasa dosa yang sudah menguasai persepsi dan perilaku manusia sehingga manusia membutuhkan juruselamat untuk memperbaiki dirinya melalui ‘kelahiran baru.’

Keyakinan NLP menyebutkan bahwa (5) bahasa dan perilaku manusia sudah terstruktur dan dapat diberi model kearah yang lebih positif terutama menuju hidup yang sukses (6) dengan cara tehnik yang dikerjakan oleh manusia itu sendiri (7).

Sama dengan gerakan pengambangan potensi diri lainnya (a.l. Anthony Robbins yang juga mempraktekkan NLP dan menyebut potensi diri itu sebagai ‘the giant within.’), dianggap bahwa manusia itu ‘tuhan bagi dirinya sendiri’ dan ‘memiliki hakekat yang baik.’ Berdasarkan konsep keyakinan demikian manusia dianggap mampu menuju sukses dengan kekuatannya sendiri.

Contoh jelas bahwa ukuran baik-buruk dan dosa tidak jelas dalam NLP adalah pertentangan yang terus menerus terjadi di kalangan para pendirinya. NLP didirikan pada tahun 1973 oleh Richard Bandler dan John Grinder, Pada tahun 1980-an segera setelah penerbitan buku ‘Neuro-linguistic Programming Volume 1,’ keduanya berpisah dan berebut mengklaim hak hukum atas kepemilikan NLP. NLP kemudian dikembangkan oleh berbagai pihak dengan nama berbeda-beda, Bandler sendiri kemudian mengembangkannya dengan tehnik hipnosis, Anthony Robbins di tahun 1970-an mempraktekkan NLP dengan nama Neuro Associative Conditioning, dan banyak lain mengembangkan dengan nama sendiri-sendiri, sehingga tidak lagi ada sistem tunggal untuk NLP sekalipun semua memiliki dasar keyakinan yang sama mengenai potensi kebaikan dalam diri manusia dan bahwa manusia sendiri bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Setelah bertengkar cukup lama, Bandler kembali menuntut Grinder dan mengklaim sebagai pemilik tunggal NLP dan hanya ia yang berhak menggunakan istilah itu. Baru pada tahun 2001 setelah pertengkaran berlarut-larut selama dua dasawarsa mengenai kepemilikan sistem NLP, akhirnya Bandler dan Grinder berdamai dan menerima bahwa NLP ditemukan oleh keduanya bersama-sama.

Konsep optimisme manusia jelas bertentangan dengan iman Kristen yan menyebutkan bahwa diri manusia itu sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (bukan allah kecil yang punya kekuatan sempurna seperti yang besar). Menurut NLP manusia melalui pemetaan dirinya sendiri dan mengembangkan potensi melalui pikiran, badan dan bahasa bisa mengubah diri dari yang tidak produktif ke yang produktif dan dari yang tidak sukses menuju sukses.

Konsep manusia menurut Alkitab jelas menyebutkan bahwa manusia berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah dan karena itu ia membutuhkan juruselamat untuk menyelamatkan dan mengubah dirinya menjadi baru (kelahiran baru) melalui pertobatan dan ketaatan dimana Roh Kudus berperan mengubah hati manusia menuju kebaikan sesuai ukuran Tuhan sendiri.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, mereka yang beriman kristen dan takut akan Tuhan rasanya bisa bersikap bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan dari Allah dan karena itu janganlah mereka mengandalkan kekuatan dalam dirinya sendiri (Yer.17:5) melainkan hendaklah mereka mengandalkan Tuhan.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.” (Yeremia 17:7).

Ditandai sebagai:

Hipnotis, Dari Embrio Hingga Warna Modernnya

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada Maret 6, 2008


Hipnotis sesungguhnya bukan barang baru dalam kehidupan manusia. Konon kata sahibul hikayat, selama berabad-abad bangsa Sumeria telah akrab dengan hipnotis. Mereka menggunakan hipnotis untuk ”menidurkan” orang sakit, saat proses penyembuhan berlangsung.

Kemudian, Franz Anton Mesmer (1734-1815) memberi warna modern dan ilmiah pada hipnotis. Dokter asal Austria itu yang memperkenalkan mesmerisme atau metode penggunaan energi elektromagnetik manusia yang bisa ditransfer kepada orang lain atau untuk diri sendiri. Dari nama dia, muncul istilah mesmeric sleep atau somnambulism, keadaan seseorang dibuat tertidur tetapi tetap bisa diajak bicara yang menjadi cikal bakal hipnotis.

”Dengan metode itu, dia bisa menyembuhkan banyak orang dengan hasil yang menakjubkan. Salah satu warisan Mesmer adalah hipnotis dengan pendulum atau bandul bergerak, yang sekarang metode itu sudah mulai ditinggalkan orang,” terang dr Arya.

 

Konsep dan langkah Mesmer disempurnakan oleh James Braid, ahli bedah asal Skotlandia, pada 1843. Dia juga yang memopulerkan istilah hipnotis. Dia mengembangkan temuan Mesmer dengan membaginya menjadi dua cabang: magnetisme dan hipnotis. Braid pun menggunakan sugesti verbal untuk terapi penyembuhan.

Hipnotis di masa sekarang

Hipnotis memanfaatkan batin bawah sadar atau biasa disebut batin subluminal dari manusia. Sigmund Freud sering menggunakan istilah “id ” yaitu hasrat bawah sadar yang melandasi tingkah laku manusia. Batin bawah sadar bersifat kekanak-kanakan . Seseorang yang berada dibawah pengaruh hipnotis (biasanya disebut suyet) akan mengikuti perintah secara otomatis menurut arti kata demi kata. Jadi bila seseorang mendapat pertanyaan “Bolehkah saya mengetahui siapa nama Anda ? Pada kondisi normal orang pasti akan langsung menyebutkan namanya, tetapi pada seseorang yang berada dibawah pengaruh hipnotis akan menjawab “ya” (jawaban yang sesuai dengan pertanyaan).

Hipnotis menurut beberapa orang seperti sebuah pisau, tergantung ditangan siapa. Jika ditangan orang baik, bisa bermanfaat, contohnya untuk terapi pengobatan alternatif. Dan jika ditangan orang jahat, bisa digunakan untuk melakukan tindak kejahatan. Namun maraknya ilmu hipnotis ini, kejahatan yang timbal karenanya pun mulai beraneka ragam.

Biasanya hipnotis sangat efektif pada saat situasi yang sangat ekstrem dan mendadak. Penipuan melalui SMS yang mengatakan kita beruntung memperoleh hadiah ratusan juta memanfaatkan situasi ekstrem suasana hati kita yang menjadi sangat gembira bahkan setengah tidak percaya saat menerima SMS.  Penipuan lain seperti mengaku ngakuorang Brunei dan menawarkan jam Rolex memanfaatkan kekagetan kita saat kita ditepuk ataupun rasa tidak nyaman saat kita dikelilingi oleh banyak orang. Ada pula penipuan dengan mengatakan salah satu anggota keluarga kita ada yang dirawat di Rumah Sakit dan memerlukan biaya operasi yang harus ditransfer segera. Demikian pula penipuan lain seperti penawaran burung yang pintar bernyanyi Garuda Pancasila, penggandaan uang dan sebagainya.

Intinya, hipnotis ini baik untuk terapi maupun untuk kejahatan, konsepnya adalah memanipulasi kerja otak orang lain. Untuk pencegahan untuk kejahatan hipnotis ini, Anda harus tahu bahwa Anda tidak bisa dihipnotis tanpa ijin dari diri Anda sendiri. Pikiran adalah pintu gerbang untuk seseorang bisa dihipnotis. Jadi, jangan biarkan pikiran Anda kosong. Pastikan pikiran Anda waspada, salah satu caranya yaitu dengan berdoa.

Sumber: Berbagai sumber/vm

Ditandai sebagai:

NLP, Hipnotis dan Perkembangannya

Ditulis dalam Hot issues oleh Be example pada Maret 6, 2008


Saat ini marak tentang training hipnotis, yang biasanya diembel-embeli istilah NLP (Neuro Linguistic Programming), atau sebaliknya, seolah tak ada jenuhnya diiklankan di berbagai media cetak. Bila Anda simak hampir setiap hari ada saja koran atau majalah yang memuat iklan tentang seminar hipnotis dan NLP ini.

Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia. Kadang disebut sebagai people skill technology atau juga psychology of exellence. Prinsipnya adalah bagaimana mempelajari cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan dan bukan menjadi budaknya.

 

Sedangkan penggagas NLP–Richard Bandler yang pakar matematika dan programming komputer dan John Grinder yang profesor linguistik–merumuskan NLP sebagai the study of subjective experience. Keduanya mengembangkan dasar-dasar ilmu dan teknis penerapannya sejak tahun 1970-an.

 

Neuro merujuk pada otak atau pikiran dan bagaimana orang mengorganisasikan kehidupan mentalnya. Lingusitic tentang bahasa dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan. Sedangkan programming tentang urutan proses mental yang berpengaruh pada perilaku dalam mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya.

 

Awalnya pencipta NLP mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang amat sukses di bidangnya. Misalnya Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (terapis keluarga), Gregory Bateson (antropolog dan sibernetik) dan Milton Erickson (hipnoterapis).

 

Dalam perkembangannya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins sehingga dikenal di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Nama besar yang tercatat menggunakan NLP untuk meraih kesuksesannya adalah Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, Nelson Mandela dan Robert Kiyosaki.

 

Singkat cerita dari dua tokoh pendiri itu selanjutnya berkembang sejumlah “aliran” besar NLP dengan modifikasi dan sebutannya. Sejak aliran Neuro Associative Conditioning (NAC) Anthony Robbins, New Code NLP dari Grinder, hingga pengembangan NLP ke arah DHE (Design Human Engineering) oleh Bandler yang menyebut alirannya sebagai Pure-NLP. Selain itu ada Michael Hall dan Bob Bodenhamer mengembangkan NLP menjadi Neuro Semantics (NS) atau Meta NLP. Yang terakhir ini biasanya digolongkan aliran akademis. Tokohnya akademis NLP lainnya adalah pendiri NLP University (NLPU) Robert Dilts. NLPU yang berkedudukan di California merupakan salah satu komunitas NLP terbesar dari ratusan komunitas yang ada di dunia.

 

Sedangkan dedengkot (pengembang) NLP jumlahnya hingga kini kurang dari 100 orang. Selain nama yang telah disebut ada Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie-Cameron Bandler, Joseph O’Connors, John LaValle.

Sedangkan untuk orang Indonesia, seperti Tosan Lim, Stevanus dan Agus Sunaryo, adalah lulusan NLPU. Yang merupakan lulusan NAC (Robbins) adalah Tung Desem Waringin dan Ronald. Selain itu ada yang mengusung berbagai aliran seperti Wiwoho, Khrisnamurti dan Leksana.

Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda. Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis.

Tubuh manusia menurut kata orang seperti gunung es: 12% alam sadar, 88% alam bawah sadar. Karena tubuh itu dikelolanya pada alam bawah sadar itulah teknik hipnotis bisa dimanfaatkan secara optimal.

Dalam memahami hipnotis, harus disadari yang “sakti” bukanlah si penghipnotis. Yang “sakti” itu imajinasi orang-orang yang dihipnotis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan. Hipnotis ini berbeda dengan hipnotis sihir yang ditowel atau ditepuk jadi hilang kesadaran (ilmu gendham). Yang dibicarakan di NLP adalah hipnotis yang merupakan kemampuan internal seseorang.

NLP ini merupakan salah satu bagian dari New Age Movement, dimana pemahamannya adalah bahwa manusia itu Tuhan bagi dirinya sendiri. Jika pusatnya sudah pada diri sendiri sebagai penguasa kehidupan, harus dipertanyakan kembali apakah hal ini benar menurut iman dan kepercayaan kita. Dalam kepercayaan apapun, penguasa tunggal kehidupan adalah Tuhan. Jadi, jika Anda mulai menyingkirkan Tuhan dari kehidupan Anda. Pada satu titik, kehidupan Anda akan mengalami kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun.

Sumber: pembelajar.com dan berbagai sumber/vm

Ditandai sebagai:

Mengapa Tuhan Harus Menjadi Manusia?

Ditulis dalam renungan oleh Be example pada Maret 6, 2008
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya, dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.

“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja, “tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya.”

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.

“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya. “Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang.”

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya.

Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju, dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

“Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini,” pikir pria itu. “Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?”

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti, dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju. Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.

Kemudian dia terjatuh pada lututnya and berkata, “Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak. “Sekarang saya mengerti mengapa Kau mau menjadi manusia.”

Ditandai sebagai:

Persepuluhan dan Persembahan Dalam Bisnis

Ditulis dalam Investasi oleh Be example pada Maret 6, 2008





Setiap bisnis secara umum merefleksikan nilai dari prinsip-prinsip yang dipegang oleh pemiliknya atau manajernya. Dan refleksi nilai-nilai itulah yang menentukan apakan suatu bisnis itu diberi label Kristen atau non-Kristen. Jika suatu bisnis ditujukan untuk melayani Tuhan, bisnis itu harus mempunyai satu sasaran utama, yaitu memuliakan Tuhan. Salah satu dari fungsi mendasar suatu bisnis Kristen adalah mendanai pekerjaan Tuhan. Dan untuk maksud tersebut, banyak pemilik atau manajer bisnis Kristen yang memilih untuk memberikan persepuluhan dari hasil bisnisnya.Prinsip dari persepuluhan dalam bisnis ini tidak berbeda secara dramatis dibandingkan dengan persepuluhan dari pendapatan pribadi. Sebenarnya, kebanyakan dari ayat Alkitab dalam perjanjian lama berhubungan dengan pemasukan yang didapat dari bisnis, karena mayoritas orang-orang dalam perjanjian lama bekerja di bidang agraris. Prinsip dari memberi perpuluhan dari bisnis sangat jelas dalam alkitab: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.” (Amsal 3:9). Dalam perjanjian lama, orang-orang Ibrani membawa hampir 23% dari panghasilan mereka ke rumah penyimpanan Tuhan. Penjaga dari rumah penyimpanan itu, para orang Lewi, menggunakan apa yang sudah mereka berikan untuk para janda, orang-orang asing yang miskin dalam daerah itu, yatim piatu, dan orang-orang Lewi sendiri.

Dalam perjanjian baru, orang-orang tidak lagi membawa persepuluhan dan persembahan mereka ke rumah penyimpanan secara fisik. Tapi mereka memberikannya kepada gereja. Sebagai timbal baliknya, gereja menggunakan persepuluhan untuk mengabarkan injil. Persembahan dugunakan untuk dukungan administratif dan umum dari gereja, dan pemberian sukarela digunakan untuk orang-orang miskin, para janda, yatim piatu, serta orang-orang lain yang membutuhkan. Alkitab menyatakan secara tidak langsung bahwa tujuan dari memberi persepuluhan dan persembahan adalah untuk membuktikan atau menjadi kesaksian dari kepemilikan Tuhan, dan dengan demikian itu juga berlaku secara individual.

Tidak pernah dikatakan bahwa semua orang atau semua bisnis harus memberikan jumlah yang sama atau dengan cara yang sama, tapi masing-masing harus memberi dengan kerelaan dan sukacita (lihat 2Kor 9:6-7). Kita harus memberi dari hati kita, karena itu seharusnya pemberian tidak dipandang sebagai hukum tapi sebagai indikator dari ketaatan kita kepada hukum Tuhan. Hal ini dikonfirmasi dalam kitab Maleakhi, seorang nabi mengkonfrontasi kaum Yahudi tentang dosa mereka yang berupa ketidaktaatan, menggunakan kelalaian mereka untuk memberi sebagai contoh.

Memberi dari keuntungan kotor atau bersih?

Seorang pengkotbah dari abad 19 yang terkenal, Charles Spurgeon, mengatakan, “Dalam tahun-tahun saya melayani Tuhan, saya menemukan kebenaran yang tidak pernah gagal dan tidak pernah dikompromikan. Kebenaran itu adalah, tidak mungkin bagi seorangpun untuk mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Bahkan walaupun saya memberikan semua yang saya miliki kepadaNya, Dia pasti akan menemukan cara untuk mengembalikannya kepada saya bahkan berkali lipat melebihi dari apa yang sudah saya berikan.” Karena mustahil untuk mengembalikan kepada Tuhan, maka hal tentang apakah bisnis harus memberi dari keuntungan kotor atau keuntungan bersih menjadi pokok pembicaraan kita. “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” (Mark 4:24).

Jika sebuah bisnis benar-benar meyakini dan mau menghormati Tuhan dari peningkatan yang Dia sediakan, maka bisnis itu harus mempertimbangkan untuk memberi dari keuntungan kotor dan percaya bahwa Tuhan akan menyediakan apa yang dibutuhkan setelah bisnis itu membayar semua kreditor dan biaya-biaya lain. Meskipun ada anjuran alkitabiah untuk memberi dari buah sulung, atau dari peningkatan bisnis itu, sebuah bisnis tidak seharusnya memberi dari bagian yang menjadi hak milik para kreditor ataupun karyawan. Pemberian bisnis seharusnya diambil dari keuntungan bisnis setelah biaya-biaya overhead, gaji para karyawan, dan kreditor dibayar. Setiap karyawan lalu memberi dari jumlah yang mereka terima sebagai gaji.

Pemberian Korporasi

Korporasi, tidak seperti bisnis, biasanya dimiliki oleh sekumpulan orang dari berbagai gaya hidup dan kepercayaan spiritual. Karena seseorang tidak memiliki seluruh saham dalam korporasi, orang tersebut harus mempertimbangkan memberi persepuluhan dari kenaikan nilai sahamnya sendiri dalam korporasi itu kepada Tuhan. Sebuah alternatif mungkin saja dengan misalnya menggunakan sepersepuluh dari saham korporasi dan mendirikan yayasan Kristen, lalu menentukan tujuan untuk mengendalikan pertumbuhan masa depan korporasi dan mengumumkan dividen untuk digunakan dalam pekerjaan Tuhan.

Kesimpulan

Baik individu maupun bisnis seharusnya lebih mencari cara untuk memberi, dibanding mencoba menemukan cara untuk menunda pemberian atau menyembunyikan apa yang seharusnya kita berikan. Ingatlah bahwa Tuhan lebih tertarik pada hati kita lebih dari besarnya jumlah pemberian kita. Ada anjuran dalam firmanNya untuk memberi dari buah sulung kita, atau kenaikannya. Ini dapat diaplikasikan baik secara perorangan ataupun bisnis. Bagaimanapun juga, pemilik bisnis harus memperhatikan bahwa pemberian bisnis harus hanya dari keuntungan yang menjadi milik bisnis itu sendiri, bukan dari apa yang seharusnya menjadi hak para kreditor, pemegang saham, karyawan, atau lainnya.

Ditandai sebagai: