Be an Example! Be a witness in everywhere

Salib Kristus

Posted in Teaching by Be example on Maret 20, 2008

(Tinjauan Singkat Tentang Sejarah dan Simbolitas Salib)

Oleh: Ev. Otniol H. Seba

Kisah tentang Salib Kristus merupakan topik penting di dalam seluruh Alkitab, khususnya Perjanjian Baru. Seluruh tema-tema penting di dalam Alkitab bermuara kepada peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Tidak hanya itu saja, peristiwa penyaliban Yesus Kristus membawa makna yang dalam sekali bagi orang percaya, yaitu penderitaan-Nya telah menyelamatkan orang-orang berdosa dari hukuman Allah. Bahkan tidak berlebihan, jika mengatakan bahwa di dalam kekristenan, salib Kristus mendapat tempat yang istimewa. Hal ini telah terbukti di dalam sepanjang sejarah kekristenan. Salib bukan saja dipakai sebagai simbol keyakinan dari mereka yang percaya kepada Kristus, melainkan lebih dari itu [di negara-negara tertentu] ada orang-orang yang berkorban demi Salib Kristus. Mereka lebih memilih untuk mati dari pada menyangkal atau menolak salib Kristus. Akan tetapi umumnya mereka yang mengaku percaya kepada Kristus, tidak mengetahui dengan pasti sejarah tentang salib itu.
Bagi mereka yang menolak kekristenan, menganggap bahwa salib itu sendiri adalah bagian dari budaya dan tradisi kafir yang diadopsi oleh kekristenan. Salib itu sendiri bukanlah produk dari kekristenan. Hal ini sama dengan perayaan keagamaan utama dari kekristenan yang meng-adopsi budaya dan tradisi kafir.(01) Ini berarti bahwa signifikansi salib sebagai simbol keselamatan dari Allah kepada manusia berdosa, menjadi sesuatu yang tidak bermakna. Sejak tahun 1930-an Saksi Yehovah (Jehovah’s Witnesses)(02) telah mengajarkan bahwa Yesus Kristus tidak mati tergantung di atas kayu salib. Mereka percaya bahwa Yesus Kristus mati oleh karena penyiksaan di atas sebuah tiang. Mereka percaya bahwa salib adalah simbol dari kekafiran.(03)
Tuduhan semacam ini seharusnya mendorong setiap orang percaya, bukan saja hanya mengimani(04) akan peristiwa penyaliban Yesus Kristus, tetapi juga mengetahui dengan pasti sejarah tentang salib itu. Sehingga mereka dapat memberi pertanggungjawaban, sebagaimana hal itu diminta kepada mereka, baik bagi yang menolak kekristenan, maupun bagi yang ingin mengenal kekristenan lebih dalam. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang sejarah dan simbolitas salib. Tulisan ini terdiri dari beberapa bagian: Pertama, latar belakang penggunaan salib; Kedua, Penggunaan salib di dalam Alkitab; Ketiga, Penggunaan salib di dalam era kekristenan; Keempat, kesimpulan memberi penegasan terhadap makna dan simbol tentang salib itu.

LATAR BELAKANG PENGGUNAAN SALIB
Salib adalah salah satu lambang keagamaan yang kuno, namun cukup dikenal luas oleh masyarakat pada waktu itu. Agama-agama kuno yang dianut oleh masyarakat Asia tengah kuno sudah mengenal salib. Salib bukan saja digunakan sebagai cara menghukum para penjahat, namun lebih dari itu, salib telah digunakan sebagai objek penyembahan dari agama-agama kafir pada waktu itu.(05) Di kemudian hari kekristenan menggunakan salib ini sebagai simbol penderitaan dan kematian Yesus Kristus. Simbol ini telah menjadi ciri khas di dalam tradisi kekristenan selama ribuan tahun. Tidak heran jika di kemudian hari ada yang berpendapat bahwa kekristenan mengadopsi budaya dan tradisi kafir di dalam kepercayaannya.

1. Persia
Salib mula-mula digunakan oleh bangsa Persia sebagai cara untuk menyatakan penghukuman. Tidak jelas bagaimana bentuk salib yang dikenal oleh bangsa ini, apakah mirip atau bahkan sama sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Mesir, Fenisia dan Kartago? Ataukah tidak. Namun terdapat catatan mengenai hal ini, khususnya di dalam tulisan Herodutus dan Thucydides.(06) Martin Hengel menuliskan: banyak buku menuliskan tentang penyaliban yang dimulai di antara bangsa Persia. Hal ini benar bahwa kami telah menemukan referensi yang cukup mengenai penyaliban sebagai bentuk penghukuman di antara orang Persia di dalam tulisan Herodutus, dan hal ini telah ditambahkan kemudian sebagai bukti dari Ctesias.(07)
Tidak banyak bukti yang mengungkapkan tentang penggunaan salib pada zaman itu. Apakah berkaitan dengan penyembahan kepada dewa-dewa tertentu ataukah hanya terbatas pada penghukuman para penjahat. Namun demikian apa yang dikemukakan oleh Herodutus dan Thucydides, para sejarahwan Yunani dapat menjadi pertimbangan penting bagi orang-orang zaman ini untuk meyakini historisitas salib yang digunakan oleh bangsa Persia.

2. Mesir Kuno, Fenisia dan Kartago
Sejarah Mesir Kuno mencatat bahwa salib telah dikenal juga pada waktu itu. Mula-mula masyarakat Mesir kuno mengenal salib di dalam bentuk Tau (Gambar 1) dan kemudian digabungkan dengan lingkaran di atasnya yang melambangkan adanya suatu kehidupan (Gambar 2).
Salib di Mesir dikenal dengan nama ”Crux Ansata” atau biasa disebut ”Key of the Nile.” Menurut penelitian, pada masa itu ada bermacam-macam salib yang tersebar dan diterima oleh masyarakat Mesir kuno. Di dalam penelitian itu, ada dugaan bahwa salib Mesir Kuno menunjuk kepada simbol seksual. Hal ini berkaitan dengan ritual penyembahan terhadap Dewa Matahari.(08) Salib yang merupakan simbol seksual ini kemudian oleh masyarakat Mesir kuno dihubungkan dengan simbol “Kehidupan” dan “Pemberi Hidup” yang menunjuk kepada Dewa Matahari.
Sir J. Gardner Wilkinson dalam salah satu karyanya ”Manners and Customs of the Ancient Egyptians” menuliskan bahwa pada pemerintahan ini dikenal dengan Amenophis IV dan istrinya, keduanya telah menerima salib (Crux Ansata) dari Dewa Matahari, kemudian mereka menggabungkan matahari dengan salib (Crux Ansata) menjadi suatu simbol aneh yang disembah pada waktu itu. Jadi pada masa sebelum kekristenan eksis, salib bagi masyarakat Mesir kuno dihubungkan dengan simbol “Kehidupan” dan “Pemberi hidup” yang menunjuk kepada penyembahan Dewa Matahari.
Hal yang sama juga berlaku bagi suku bangsa Fenisia dan Kartago. Jauh sebelum kekristenan eksis, masyarakat yang ada di kedua wilayah ini juga telah mengenal salib. Salib di dalam kedua wilayah ini memiliki kesamaan dengan salib yang dikenal oleh masyarakat Mesir kuno. Namun di dalam memahami arti simbol kedua masyarakat ini memiliki perbedaan. Jika di Mesir, masyarakat pada waktu itu mengenal salib dengan simbol lingkaran di atasnya artinya ”simbol kehidupan” atau ”Pemberi hidup”, sedangkan bagi masyarakat Fenisia dan Kartago, salib dengan simbol lingkaran di bawahnya menunjuk kepada ”kebaikan” di dalam arti ”kebaikan mula-mula.” Di kemudian hari, salib dengan lingkaran di bawahnya menunjuk kepada sebuah hati.(09)

3. Yunani
Penghukuman para penjahat dengan cara disalibkan juga telah dikenal oleh masyarakat Yunani. Salib bukanlah produk murni dari masyarakat Yunani. Ada dugaan bahwa penggunaan salib oleh masyarakat Yunani telah mengadopsi cara penghukuman dari suku bangsa Persia, Mesir, Fenisia atau Kartago yang lebih dahulu menggunakan cara ini untuk menghukum para penjahat. DG. Burke menuliskan: Kemudian penghukuman salib diadopsi oleh bangsa Yunani, khususnya Alexander Agung. Bagi masyarakat Yunani, penghukuman ini hanya dilakukan untuk para budak, dan bukan kepada masyarakat Yunani (freeborn) yang merupakan penduduk kota. Hal yang sama berlaku bagi masyarakat Romawi.
Masyarakat Yunani mengenal salib ini dengan nama Equal-arms (Gambar 3). Bentuk salib berbeda dari salib yang digunakan oleh masyarakat Persia, atau Mesir. Salib yang dikenal oleh masyarakat Yunani ini memiliki empat sisi yang sama (equal arms). Keempat sisi yang sama dianggap sebagai 4 elemen dasar, yaitu bumi, udara, air dan api. Melalui simbol ini masyarakat Yunani meyakini bahwa segala sesuatu telah diciptakan. Keempat elemen itu disusun permanen, dan mereka percaya bahwa semua hal dapat berubah, tetapi semuanya itu tidak dapat dihilangkan.(10)

4. Romawi
Bukti-bukti tentang adanya penyaliban (penggunaan salib sebagai hukuman bagi masyarakat Roma) ditemukan di dalam tulisan-tulisan Cicero dan Quantilian. Cicero menyatakan di dalam tulisannya (Pro Rabiro 5): ”Biarlah setiap nama yang ada di atas salib dijauhkan tidak hanya dari tubuh penduduk Romawi, tetapi bahkan dari pikirannya.” Quantilian juga di dalam karyanya (Declamationes minores 274): menemukan penyaliban sebagai alat untuk menghindar yang efektif bagi penjahat dan pendurhaka dan juga merupakan sumber kepuasan untuk korban dari suatu perbuatan jahat yang dilakukan seseorang.”
Mirip dengan kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya, penyaliban di dalam masyarakat Romawi berkaitan dengan proses penyembahan kepada dewa-dewa. Hengel mengutip Dionysius of Helicarnassus dalam karyanya Antiquitates Romane 2.10.3, menuliskan bahwa, ”Aslinya, ini merupakan cara untuk mempersembahkan para kriminal kepada dewa-dewa yang dari neraka. Sesuai dengan hukum Roma yang lama (old Roman law): ”Romulus” penghianat itu mati sebagai ”persembahan untuk Zeus dari neraka.” (11)
Masyarakat Roma mengenal salib tidak hanya dalam proses penyembahan kepada para dewa, tetapi juga sebagai salah satu cara penghukuman yang paling keji. Pada masa pemerintahan Roma, penghukuman salib hanya ditujukan kepada para penjahat dan golongan budak yang merupakan masyarakat golongan bawah (lowest-class).(12) Hal ini tidak diberlakukan kepada masyarakat golongan atas, yaitu penduduk kota Roma yang memiliki status sebagai orang bebas (freeborn).(13) Di wilayah kekuasaan Romawi, hukuman salib menjadi sangat populer. Sejarah kekristenan mencatat, bahwa Yesus Kristus mati di atas kayu salib di dalam pemerintahan Pontius Pilatus, perwakilan kekaisaran Romawi yang ada di daerah Yudea.

5. Salib yang digunakan di wilayah lainnya
Salib tidak hanya dikenal pada daerah-daerah sebagaimana yang di-sebutkan di atas, tetapi juga ada di beberapa wilayah yang lain, seperti China dan India. Meskipun tidak ada data secara lengkap tentang salib yang digunakan dan bagaimanakah bentuknya yang sebenarnya, namun ada sejumlah data yang menunjuk kepada salib yang digunakan pada sejumlah wilayah tersebut.
Di China, terdapat simbol kuno tentang salib yang diekspresikan di dalam ideogram dari kata-kata dunia yang menunjuk kepada salib dalam persegi empat. D’ Alviella menutip Samuel Beal menuliskan: There is found in China even the dictum God fashioned the earth in the form of a cross.(14) Di India, juga terdapat simbol salib. Diyakini oleh masyarakat India, bahwa Khrisna pernah menceritakan tentang dewa-manusia yang disalibkan. Kisah ini dikenal secara umum melalui lukisan di dalam ikonografi keagamaan di India.(15)

PENGGUNAAN SALIB DALAM ALKITAB
Kekristenan mengakui bahwa salib yang dipakai untuk menghukum Yesus Kristus adalah salib yang sama yang digunakan untuk menghukum para penjahat yang dilakukan oleh kekaisaran Romawi. Akan tetapi di dalam perkembangan sejarah dan pengetahuan, muncul spekulasi-spekulasi terhadap salib yang digunakan untuk menghukum Yesus Kristus. Ada yang berpendapat bahwa salib yang digunakan untuk menghukum Kristus berbentuk huruf X, ada juga yang berpendapat lain, yaitu hanya sebatang kayu yang menjulang tinggi (maksudnya: tiang, tanpa palang) yang digunakan untuk menghukum Yesus Kristus. Manakah yang benar? Ini dapat membingungkan orang-orang pada zaman ini.
Alkitab, secara khusus PB memberikan gambaran yang jelas tentang salib yang dapat diteliti. Hal ini penting bagi orang-orang Kristen masa kini. Mengapa? Karena dengan mengetahui gambaran tersebut, orang-orang Kristen tidak hanya memiliki pemahaman yang jelas tentang keyakinannya terhadap salib yang dimaksud, tetapi juga memiliki pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasio, yang di dasarkan kepada fakta historis.

1. Definisi Istilah Salib
Kata ”salib” di dalam bahasa Yunani menggunakan kata ”stauros”.(16) (1) Kata ini secara harafiah berarti sebuah palang kayu, sebagaimana sebuah pagar atau palang yang runcing; (2) Salib merupakan alat penghukuman mati.
a. Penggunaan Literal
Salib secara literal berarti penghukuman. Hal ini digunakan dalam beberapa peristiwa, mis. kasus Yesus Kristus (bnd. Matius 27:40, 42; Markus 15:30, 32; Yohanes 19:25, 31; Filipi 2:8; Simon orang Kirene dipaksa memikul salib Yesus (bnd. Matius 27:32; Markus 15:21; Lukas 23:26); tulisan di atas kayu salib yang mengindikasikan alasan untuk menghukum (bnd. Yohanes 19:19)
b. Secara Simbolis
Salib secara simbolis menunjuk kepada penderitaan dan kematian orang percaya yang harus dipikulnya dalam mengikut Tuhannya. Konsep ini nyata di dalam beberapa pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid dan orang-orang yang menyertai-Nya (bnd. Matius 10:38;16:24; Markus 8:34; 10:21; Lukas 9:23, 14:27).(17)

2. Dalam Tulisan Injil
Bagi para penulis Injil, kata ini memiliki arti yang cukup penting berkaitan dengan misi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus, khusus-nya tulisan injil Markus. Di dalam Injil Markus, kata ”salib” digunakan 12 kali. 4 kali menggunakan kata benda dan 8 kali menggunakan kata kerja. Sejak permulaan injilnya, bayang-bayang salib telah menyertai narasi yang hendak dituliskannya. Ada dugaan bahwa Markus yang menuliskan injilnya memiliki pemahaman teologis tentang Yesus Kristus dari sudut pandang pemberitaan salib. Hal ini juga yang menuntun para sarjana berpendapat bahwa Salib merupakan inti di dalam Injil Markus.(18)
Sebagian besar dari kisah kehidupan Yesus Kristus yang dituliskan oleh Markus berpusat pada penderitaan Yesus Kristus di dalam menebus manusia berdosa. Puncak dari seluruh penderitaan itu, ketika Yesus Kristus disalibkan di atas kayu salib. Di dalam peristiwa itu, Yesus Kristus berseru dengan suara nyaring ”Eloi, Eloi, lama sabakhtani” (bnd. Markus 15:34). Bagi Markus, bagian ini merupakan typologi dari PL, secara khusus Mazmur 22:1. Para sarjana biblika setuju bahwa inti dari Injil Markus adalah kisah tentang salib. Markus memberi banyak tempat untuk kisah penyaliban dan seluruh Injilnya mencapai puncak pada kisah ini.
Hal ini sangat berbeda dengan kedua Injil yang lain, yaitu Matius dan Lukas. Meskipun kisah tentang salib diceritakan di dalam kedua Injil ini oleh masing-masing penulis, namun penekanan yang diberikan di dalam narasinya sangat berbeda. Injil Matius memaparkan penggenapan nubuatan PL di dalam diri Mesias yang dijanjikan, yaitu Yesus Kristus. Itu sebabnya di dalam memaparkan kisahnya tentang Yesus Kristus, Matius selalu membandingkan dengan hukum Taurat, baik itu bersifat legal-tertulis, ataupun bersifat tradisi-lisan dengan keunggulan Firman Yesus Kristus. Kisah tentang salibpun tidak lepas dari penggenapan nubuatan di dalam PL. Salah satu yang mirip dengan Markus adalah perkataan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib dalam Matius 27:46 “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?. Perkataan ini sangat dipengaruhi oleh bahasa Ibrani dan tertulis di dalam beberapa naskah kuno yang lebih awal.(19) Ada dugaan bahwa teks yang tertulis di dalam injil Matius ini telah mengalami perbaikan dan pengubahan sebagaimana telah yang dilakukan oleh Matius si penulis Injil.(20)
Lukas memaparkan kisah kesengsaraan yang mirip dengan yang dipaparkan oleh Injil sinoptik lainnya, namun penekanannya lebih kepada ’kemanusiaan Yesus.’ Gambaran penderitaan dan kematian Yesus Kristus lebih rinci dari injil-injil yang lain. Sejak kelahiran sampai dengan kematiaan-Nya, Lukas menggambarkan tentang kemanusiaan Yesus yang sejati. Mulai dari Yesus yang berasal dari garis keturunan Adam, yang merupakan nenek moyang seluruh umat manusia (3:23-28), masa pertumbuhan-Nya sebagai seorang anak (2:21-52), masa dewasa ketika Yesus memasuki pelayanan sampai ketika Yesus ditangkap, dicemooh, dipukuli sebagai seorang manusia (22:63) dan bahkan kematian-Nya menunjuk kepada kematian seorang manusia (23:46). Semua ini jelas memperlihatkan bahwa Lukas sangat menekankan aspek-aspek kemanusiaan Yesus. Merril C. Tenney mengatakan demikian: Lukas menekankan penderitaan dan simpati Yesus yang manusiawi dengan menunjukkan bagaimana Anak Manusia memikul salib-Nya dengan ketaatan kepada Bapa-Nya .(21)

3. Dalam Tulisan-Tulisan Paulus
Paulus mengajarkan tentang salib, sangat berkaitan erat dengan tugas dan panggilannya untuk memberitakan Injil. Di dalam 1 Korintus, Paulus memulai suatu argumentasi salib dengan panggilan untuk memberitakan Injil. ”Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.” (1Kor. 1:17). Keterkaitan antara panggilannya memberitakan Injil dengan salib Kristus bukanlah terletak kepada kekuatan dirinya semata-mata, melainkan karena kehendak Allah (bnd. 1 Korintus 1:1; Galatia 1:1-4; Efesus 1:1; Kolose 1:1). Itu sebabnya bagi Paulus pemberitaan Injil menjadi suatu tanggung jawab yang tidak bisa dihindari untuk dilakukan, ia berkata ”Celakalah aku Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1Kor. 9:16).
Bagi Paulus, salib memiliki pengertian yang signifikan, baik di dalam pengajarannya (termasuk di dalam pemberitaan Injilnya), maupun di dalam praktik hidupnya (konsistensi antara ajaran dan praktik hidupnya). Di dalam pengajaran (termasuk pemberitaannya), Paulus menekankan bahwa melalui jalan salib, kutuk hukum Taurat atas manusia berdosa telah dilepaskan. Kutuk yang semula menjadi tanggungan manusia berdosa, telah digantikan oleh Yesus Kristus, dengan jalan dirinya telah menjadi ‘kutuk’ pada waktu Ia disalibkan, ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13).
Di dalam kehidupannya, Paulus telah menyalibkan dirinya bersama dengan Kristus. Dia hidup di dalam salib Kristus dan memikul salib itu. Perasaan ”bangga” (=bermegah) bukan karena Paulus telah melakukan berbagai macam pelayanan yang sulit, kemudian ia berhasil melewatinya, melainkan bahwa ia hidup di dalam salib Kristus. ”Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Galatia 6:14). Itu sebabnya seluruh kehidupan pelayanan Paulus dapat dikatakan sebagai perjuangan memikul salib. Mengapa demikian? Karena baik pengajaran (termasuk pemberitaan Injil yang dilakukannya) dan pola kehidupannya adalah usaha untuk memberitakan salib Kristus dengan segala konsekuensinya (bnd. Kis. 9:16; 2Kor. 4:5-12).

4. Dalam Tulisan Perjanjian Baru Lainnya
Di dalam tulisan Perjanjian Baru lainnya, kata salib hanya menunjuk kepada 2 bagian ayat: Pertama, di dalam Ibrani 12:2. Kedua, 1 Petrus 2:24.
Ibrani 12:2 menjelaskan: Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Penulis Ibrani dalam konteks ini menyatakan salib Kristus bukan saja hanya berhubungan dengan kematian-Nya, namun lebih dari itu kematian-Nya telah memberikan iman sekaligus pengharapan dari orang percaya kepada Kristus yang telah duduk di sebelah kanan Allah. Bagi penulis Ibrani pesan ini akan memberikan kekuatan kepada orang-orang percaya, tatkala menghadapi penganiayaan dari pemerintah Romawi. Ada yang mencoba melihat bagian ini dengan suatu pemahaman bahwa penyaliban Kristus telah membawa-Nya kepada kemuliaan dengan duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Petrus di dalam suratnya menjelaskan: Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh (1 Petrus 2:24). Rasul Petrus melihat salib yang berhubungan dengan Yesus Kristus di dalam konteks penggenapan nubuat nabi Yesaya (1 Petrus 2:22-25). Yesus Kristus adalah gambaran hamba yang menderita, sebagaimana yang dilukiskan oleh nabi Yesaya. Bukan saja semata-mata menjadi teladan bagaimanakah Dia menghadapi pende-ritaan, tetapi di atas semua itu dia telah menyucikan manusia dari dosa dengan cara mati untuk dosa dan hidup untuk kebenaran.(22)
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kedua teks ini menjelaskan hubungan salib dengan iman dari orang percaya yang diuji oleh penganiayaan. Orang percaya yang hidup pada masa itu mengalami penganiayaan yang hebat dari pemerintah Romawi yang menyebabkan mereka makin tersebar ke berbagai daerah (= Diaspora). Penulis kitab Ibrani dan Rasul Petrus sama-sama memberikan dorongan, penghiburan sekaligus penguatan di dalam cara yang berbeda. Bagi penulis Kitab Ibrani iman dan pengharapan dair orang percaya di dasari pada salib Kristus, sedangkan Rasul Petrus menekankan penderitaan Kristus di atas kayu salib dapat menjadi teladan bagi orang percaya di dalam menghadapi penganiayaan dan penderitaan.

PENGGUNAAN SALIB DI DALAM ERA KEKRISTENAN
1. Permulaan Kekristenan
Sampai pada awal kekristenan berkembang, salib tetap menjadi simbol dari suatu penghukuman dan penghakiman bagi para penjahat. Namun ketika kekristenan menjadi agama negara (yang ditandai dengan pertobatan kaisar Konstantinopel, sekitar 312 M), maka salib berubah menjadi ‘tanda ajaib’ yang memberikan kemenangan.
Hal itu dimulai ketika prajurit Roma yang berada di bawah perintah jendral Konstantinus berhadapan dengan Maxentius dan pasukannya yang juga mengincar tahkta kerajaan romawi. Pada saat Konstantinus menatap ke langit dan melihat cahaya berbentuk salib. Pada penglihat itu, ia melihat suatu tulisan ”Bersama ini taklukkanlah.” Para prajurit di bawah perintah Konstantinus percaya bahwa inilah tanda yang diberikan oleh dewa yang dipuja (maksudnya dewa matahari pujaan ayahnya) pada malam pertempuran.
Pada suatu hari Yesus Kristus menampakkan diri kepada Konstan-tinus di dalam mimpinya dengan tanda salib yang sama, sebagaimana yang pernah dilihatnya bercahaya di langit. Maka Konstantinus percaya bahwa ini adalah tanda yang memang diberikan kepadanya oleh sang dewa. Oleh sebab itu, ia memerintahkan kepada prajuritnya untuk membubuhi tanda ini pada perisai dan baju perangnya. Sebagaimana tanda ini diyakini olehnya sebagai tanda kemenangan, maka dengan keyakinan itu ia berperang dan menang.
Sejak pertobatannya pada tahun 312-313 M, Konstantinus yang telah menguasai Romawi memberikan kemudahan-kemudahan bagi gereja, di mana sebelumnya gereja di tindas dan banyak orang-orang Kristen di bunuh serta diberhentikan dari segala jabatan di dalam pemerintahan. Hal ini dilakukan sebagai tanda terima kasih, karena melalui tanda salib yang merupakan simbol dari gereja, ia telah memenangkan pertempuran dengan Maximus. Peristiwa ini ditandai dengan dikeluarkannya ‘Edict of Milan’ yang menjamin kebebasan beragama, khususnya agama Kristen di wilayah kekaisaran Romawi. Sejak saat itu, tanda salib menjadi tanda yang penting, bukan saja di dalam gereja, tetapi juga pada pemerintahan Romawi, khususnya masa kaisar Konstantinopel.

2. Pada Abad Pertengahan
Di dalam abad-abad pertengahan, ketika kekuasaan Romawi semakin luas, maka bersamaan itu pula kekristenan menjadi agama negara yang sangat diagungkan. Di satu sisi, salib menjadi tanda dari kepercayaan gereja, sekaligus menjadi lambang kekuasaan yang dipakai oleh kekaisaran Romawi. Lebih dari pada itu para Paus yang akhirnya menjadi pemimpin atas kerajaan/negara di kemudian hari, telah menggunakan tanda salib sebagai tanda ‘paksa’ untuk mewujudkan segala keinginannya. Salib telah diperalat untuk memenuhi segala cita-cita para Paus untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari serangan musuh dan menguasai wilayah-wilayah lainnya. Melalui khotbah-khotbahnya tentang salib para Paus telah membakar semangat prajurit Romawi untuk maju berperang dengan Islam-Turki. Hal ini dikenal dengan skisma besar antara Kristen-Islam pada abad 11-12 M yang tercatat di dalam sejarah gereja sebagai peristiwa perang salib yang berlangsung hampir selama 200 tahun (1096-1291 M).(23)
Kenneth Scott Latourette meringkaskan 3 hal yang menjadi penyebab timbulnya perang salib: (1) Menolong orang-orang Kristen yang berziarah ke kota suci Yerusalem dari gangguan Islam Turki yang memusuhi mereka; (2) motif keagamaan dari Paus untuk melindungi kekaisaran Konstantinopel dari serangan Islam-Turki; (3) karena keinginan Paus untuk memulihkan hubungan dan menyatukan gereja Timur dan Barat di bawah Gereja Roma Katolik. Sebagaimana dijelaskan bahwa Islam-Turki berusaha untuk menghancurkan benteng pertahanan kekristenan di kekaisaran Konstantinopel.(24) Perang Salib I terjadi pada tahun 1096-1099 M. Perang Salib II pada tahun 1147-1149 M. Perang Salib III pada tahun 1189-1192 M. Perang Salib IV terjadi pada 1202-1204 M. Perang Salib Anak-Anak terjadi di tahun 1212 M. Perang Salib V pada tahun 1218-1221 M. Selanjutnya perang Salib VI terjadi pada tahun 1228-1229 M. Perang Salib VII pada tahun 1248-1254 M dan terakhir perang Salib VIII terjadi di tahun 1270 M. Sejarah mencatat bahwa perang salib telah membuktikan 2 hal: pertama, kegagalan para pemimpin gereja pada waktu itu; kedua, tanda salib menjadi ”tanda kekuasaan dan keangkuhan” bagi para pemimpin gereja dan negara pada waktu itu.
Akibat dari perang salib adalah: (1) Kekalahan yang besar dialami oleh orang-orang Kristen disertai dengan kerugian material yang cukup besar, sedangkan Islam-Turki di anggap sebagai pemenang dari sejumlah perang salib. (2) Pengembangan sikap mental dalam menyelesaikan masalah dan perbedaan keyakinan dengan kekerasan senjata. (3) Berkembangnya fanatisme di antara penganut Islam dan Kristen. (4) Secara tidak langsung berakhirnya perang salib menjadi awal dari jatuhnya kekaisaran Romawi di wilayah Timur.
Di sisi lain, salib telah menjadi alat penyembahan di dalam gereja. Pada tahun 788 M, ditetapkan sebuah aturan ‘penyembahan terhadap salib’. Peristiwa ini dimulai oleh Dowager Irene dari Konstantinopel, yang kemudian prosesi ini menjadi keputusan di dalam konsili gereja yang ditetapkan oleh Paus Hadrian I dari Roma. Sejak saat itu, ritual penyembahan terhadap salib mulai dilakukan. Pada masa itu, Gereja Katolik Roma memandang salib sebagai objek penyembahan dan oleh karena itu peristiwa ini dirayakan oleh gereja. Prosesi penyembahan terhadap salib dilakukan oleh jemaat Gereja Katolik Roma sampai masa sesudah Reformasi.(25) Hal ini tentunya tidak dilakukan secara umum di semua tempat, namun hanya terdapat di beberapa tempat tertentu.

3. Sekitar Masa Reformasi
Salah satu agenda dari reformasi adalah meniadakan dan menghapus segala bentuk ritual di dalam gereja, termasuk ritual penyembahan terhadap salib, yang sudah menjadi bagian di dalam ibadah gereja. Para reformator menilai bahwa gereja harus dikembalikan kepada pengajaran Alkitab yang benar. Oleh karena itu penekanan para reformator bukanlah pada bentuk lahiriah dari ritual keagamaan, melainkan pengajaran yang didasarkan kepada kebenaran firman Tuhan.
Pada masa reformasi istilah salib menjadi sangat penting, karena salib sangat berhubungan dengan ”pemberitaan firman Tuhan” (=khotbah). Para reformator yang berusaha mengembalikan otoritas firman Allah di dalam gereja, melalui pemberitaan firman Tuhan. Para reformator sangat menekankan pengajaran yang benar yang didasarkan kepada Alkitab. Otoritas Alkitab yang sebelumnya pudar oleh popularitas pemimpin gereja (=baca para Paus), kini otoritas itu dikembalikan kepada tempatnya. Pemberitaan Alkitab yang berpusat kepada anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib telah menjadi sentral di dalam ibadah Kristen.
Pengajaran para tokoh reformasi tentang Yesus Kristus dan salibnya yang mendatangkan keselamatan, menjadi poin penting di dalam khotbah para reformator. Luther adalah salah satu tokoh reformasi yang setia memberitakan tentang Yesus Kristus dan salibnya. Khotbah-khotbah Luther sangat menekankan doktrinal, khususnya berpusat kepada Kristologi dan metode khotbahnya bersifat pengajaran (catechetical). John T. Pless, dalam tulisannya tentang Luther, menuliskan: Setelah tahun 1519, mayoritas khotbah Luther adalah tekstual atau bersifat pengajaran yang menyatakan pengetahuan yang dalam dengan hasrat membawa penghiburan bagi orang berdosa, melalui pemberitaan Kristus yang disalibkan.(26)
Berbeda dengan John Calvin, walaupun ia tidak sehebat Luther di dalam menyampaikan khotbatnya tentang Kristus dan salibnya, namun ia adalah seorang ‘penafsir’ Alkitab yang handal. Pengajaran doktrinal yang dalam tentang Allah, Kristus dan rencana keselamatan atas manusia berdosa. Di bawah pengaruhnya, khotbah menjadi sentral di dalam ibadah gereja Reformed di Geneva. Pengajarannya tidak hanya berpusat pada pengetahuan dan pemahaman intelektual, namun lebih dari itu ia adalah teolog yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Para pengkhotbah lain, seperti John Knox, Richard Baxter, Joseph Hall, Thomas Manton, John Owen, Alexander MacLaren, Charles H. Spurgeon, Jonathan Edwards, George Whitefield, dan lainnya sangat dipengaruhi oleh spirit Martin Luther dan teologia John Calvin. Kendati pun di dalam khotbah dan pengajarannya, mereka tidak menyinggung salib secara eksplisit, namun berita ini tersirat di dalam khotbah dan pengajaran mereka tentang karya Allah yang menyelamatkan manusia berdosa, di dalam prinsip-prinsip teologia Reformed.

4. Masa Sesudah Reformasi Sampai Sekarang
Masa reformasi menjadi momentum bagi gereja-gereja Protestan yang tergabung di dalam arus utama reformasi (maksudnya: Lutheran dan Calvinis), untuk tetap memberitakan tentang salib Kristus. Lebih dari itu, pemberitaan salib Kristus menjadi pusat di dalam seluruh penyembahan dan ibadah di dalam gereja. Gereja Katolik Roma sebelum masa reformasi menggunakan media untuk menyembah kepada Allah, di antaranya adalah ritual penyaliban dan salib Kristus.(27)
Namun setelah reformasi bergulir, para reformator mengembalikan mengajarkan konsep yang benar mengenai penyembahan kepada Allah. Penyusunan Pengakuan Iman Westminster adalah satu satu cara dari pendukung reformasi gereja dalam mengantisipasi bentuk penyimpangan penyembahan kepada Allah yang sebelumnya telah dipraktikkan oleh Gereja Katolik Roma. Di dalam Pengakuan Iman Westminster (artikel 21.1), dijelaskan: ” …tetapi cara yang dapat diterima dari penyembahan kepada Allah yang benar dilembagakan oleh diri-Nya sendiri dan dibatasi oleh kehendak yang dinyatakan, bahwa Ia tidak disembah menurut imajinasi dan alat/sarana dari manusia, atau sugesti setan, di bawah suatu representasi yang kelihatan, atau suatu cara yang tidak dituliskan di dalam kitab Suci.” Dengan dasar ini, gereja-gereja yang tergabung dalam gerakan reformasi arus utama, secara khusus Calvinisme telah menentukan sikap. Salib Kristus bukanlah alat/sarana untuk me-nyembah kepada Allah.
Gereja-gereja Reformasi sangat menekankan pemberitaan tentang salib. Gereja tanpa pemberitaan tentang salib, bukanlah gereja dalam arti yang benar. Sampai sekarang khotbah dan pengajaran tentang salib menjadi isu penting yang tidak pernah pudar. Pengkhotbah-pengkhotbah modern, seperti: John Stott, D. Martin Lloyd Jones, Leon Morris, Billy Graham, John Montgomery Boice, John MacArthur, dan lainnya sangat menekankan pemberitaan tentang ‘salib Kristus’ yang telah memulihkan hubungan manusia berdosa dengan Allah, sekaligus memberikan keselamatan kepada mereka.

KESIMPULAN
Memang harus diakui bahwa salib adalah lambang dari agama kafir yang digunakan sebagai cara penghukuman terhadap para penjahat. Salib telah dipakai oleh kekaisaran Romawi untuk menghukum Yesus Kristus, sebagaimana tercatat di dalam Alkitab. Namun hal ini tidak berarti bahwa kekristenan mengadopsi cara-cara kafir di dalam menyatakan imannya di dalam Kristus yang mati tersalib. Sebaliknya melalui salib, yang dianggap sebagai cara kafir, Allah telah menggunakan itu untuk menyatakan rencana keselamatan-Nya atas manusia berdosa. Dulu, salib hanya dipakai sebagai cara penghukuman, maka sekarang salib memiliki makna baru, yaitu menyatakan kasih dan pengampunan. Allah telah menyatakan kasih dan pengampunan-Nya kepada manusia berdosa, sehingga manusia berdosa beroleh kasih dan pengampunan-Nya.
Di dalam sejarah kekristenan gereja, secara khusus gereja reformasi melihat salib bukan hanya simbol keagamaan yang terpatri di dalam gereja ataupun simbol yang menyatakan identitas diri orang Kristen, melainkan sebagai penyataan ‘iman’ bahwa salib berhubungan dengan keselamatan orang berdosa dari murka Allah. Di dalam kerangka pikir dan pemahaman inilah seorang Kristen harus menempatkan salib di dalam kehidupan dan pelayanan mereka. Di dalam salib Kristus, kehidupan yang sejati dari manusia yang telah diselamatkan, dimulai. Di atas dasar salib Kristuslah, seluruh kehidupan dan pelayanan orang percaya dipertaruhkan. Iman, kesetiaan dan pengharapan di dalam salib Kristus menjadi kekuatan yang memampukan setiap orang percaya untuk melayani dan bersaksi bagi Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja dan Raja di atas segala raja. •

Footnotes
01/ Misalnya, Tanggal 25 Desember Natal diadopsi dari hari penyembahan kepada dewa matahari menurut tradisi Romawi.
02/ Salah satu bidat Kristen yang menentang ajaran Alkitab, khususnya Kristologi. Mereka percaya bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan yang lebih rendah dari Allah Bapa. Bidat ini menolak doktrin keilahian Yesus Kristus.
03/ Lihat dalam artikel: Christian Cross. Website: http://www.wikinfo.org.
04/ “Iman” di dalam teologi Kristen, memiliki 3 unsur penting yang tidak dapat dipisahkan: Pertama, Pengetahuan (= noticia); Kedua, kehendak untuk percaya (= assensus); Ketiga, tindakan untuk percaya (= fiducia). Band. Robert L. Raymond, A New Systematic Theology of The Christian Faith, (Nashville: Thomas Nelson Publishers), 1998. p. 727-728.
05/ Dikutip dari artikel: The Sign of The Cross. Website: http://atschool.eduweb.co.uk.
06/ Dikutip dari D.G. Burke, Cross, in The International Standard Bible Encyclopedia, Volume One: A-D. Fully Revised, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company), 1979, p. 828. by Geoffrey W. Bromiley (General Editor).
07/ Martin Hengel, Crucifixion, (Philadelphia: Fortress Press), 1977, p. 22.
08/ Dalam bukunya: The Non-Christian Cross: An Enquiry Into The Origin and History of the Symbol Eventually Adopted as that of our Religion, 1896, [Website: http://members.cox. net] John Denham Parsons, writes: As a matter of fact no one acquainted with Egyptian antiquities who enquires into the matter in thorough going fashion, can in the end fail to be convinced that the Egyptian cross was a phallic symbol having reference to the sexual powers of generation and to the Sun, and being therefore a symbol both of Life and of the Giver of Life.
09/ Dikutip dari artikel “Cross” in Encyclopedia Americana, Volume 8: Corot Desmona, Dan Bury, (at. All, edit.), Connecticut: Grolier: International Headquarters, 2001, p. 246.
10/ Artikel “Cross” in Encyclopedia Americana, p. 246, writes: A cross having four equal arms meant for all ancient peoples the four elements (earth, air, water, and fire) out of which all things were believed to be created. Since the elements wre conceived of as permanent, it came to be believed that while all things could change, nothing could be annihilated.
11/ Martin Hengel, Ibid, p. 39, writes: Originally this was probably a way of sacrificing the criminal to the gods of the underworld. According to an old Roman law “of Romulus’ the traitor died ‘as asacrifice for the Zeus of the underworld’ (hos tuma tou katachthouniou Dios, Dionysius of Halicarnassus, Antiquitates Romane 2.10.3).
12/ Kekaisaran Romawi memberlakukan penghukuman salib bagi para penjahat yang ber-asal dari golongan budak, maupun para penjahat dari bangsa-bangsa jajahannya. Dalam hal ini Israel juga tidak luput dari pemberlakuan hukuman ini. Lihat, Hangel, Crucifixion, p. 35, 47, 84-85. Yesus Kristus juga dianggap sebagai salah satu penjahat yang harus disalibkan. Ironisnya, bukan diputuskan oleh pengadilan Romawi, melainkan atas permintaan dan desakan dari bangsa Yahudi kepada Pilatus (Matius 27:15-26; Markus 15:6-15; Lukas 23:18-25).
13/ In Roman practice, the victims of crucifixion were nearly always dangerous criminals and members of the lowest classes. Dikutip dari Mary C. Boys, The Cross: Should A Symbol Betrayed Be Reclaimed. Website: http://www.crosscurrent.org). Hengel, bukunya Cru-cifixion, menuliskan: Here we can see the further development of capital punishment during the later empire. Of course because of its harshness, crucifixion was almost always inflicted only on the lower class (humiliores); the upper class (honestiores) could reckon with more ‘humane’ punishment. Here we have a real case of ‘class justice.’ Ibid, p. 34.
14/ Dikutip dari artikel: The Cross: Its Origin and Significance (no. 39). Website: http://www. logon.org. Copyright © 1994, 1997, 1999, Wade Cox.
15/ Lihat dalam artikel: The Cross and Idolatry. Website: http://reslight.net
16/ Di dalam UBS Edisi ke-4, Kata Stauros/Stauroo digunakan sebagai kata benda se-banyak 27 Kali dan digunakan sebagai kata kerja sebanyak 47 kali. Dikutip dari: Kohlenberger, John R. Goodrick, Edward W. Swanson, James A, The Exhaustive Concordance to the Greek New Testament, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1995), p. 900-901.
17/ Bauer, Walter, Gingrich, F. Wilbur, and Danker, Frederick W., A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, (Chicago: University of Chicago Press) 1979. Khusus artikel: Stauros.
18/ Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 1996), h. 150.
19/ Penjelasan bagian ini lihat dalam, Bruce Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, (United Bible Society: 1971), p. 70.
20/ Robert H. Gundry, Matthew – A Commentary on His Handbook for a Mixed Church Under Persecution, 2nd Edition. (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1994), p. 573, writes: “…Matthew’s revision has the purpose of conforming to the Hebrew text of Ps. 22:2 (1) …”
21/ Merril C.Tenney, Survey Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 1995), p. 225.
22/ Howard Marshall, New Testament Theology, (Illinois: InterVarsity Press, 2004), p. 649.
23/ Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perang salib, baik dari segi ekonomi, geografi dan militer (=keamanan) serta pengaruh kebangkitan Islam pada awal abad pertengahan yang ternyata mengusik ketenangan kekaisaran Romawi. Latar belakang munculnya perang salib tidak akan dibahas panjang lebar di dalam bagian ini, namun latar belakang sejarah perang salib secara lengkap dapat dibaca dalam buku sejarah gereja seperti: Kenneth Scott Latourette, A History of Christianity: Vol.I, Beginnings to 1500, (Peabody MA: Prince Press, 1975); Philip Schaff, History of The Christian Church, Vol. 5, in AGES Software. Albany, OR USA. Version 1.0 © 1997.
24/ Kenneth Scott Latourette, A History of Christianity: Vol. I, Beginnings to 1500, (Peabody MA: Prince Press, 1975), p. 409.
25/ Mengenai hal ini dapat dilihat di website: http://en.wikipedia.org, article: Feast of the Cross.
26/ John T. Pless, Martin Luther: Preacher of The Cross, p. 88, in Concordia Theological Quarterly, Vol. 51. Numbers 2-3. April-July 1987. Fort Wayne, Indiana. 46825.
27/ “…Roman Catholicism uses a great number of ceremonies, symbols and activities which are not allowed by the New Testament. Their worship is “vain” (Matt. 15:9). They have a false worship (Colossians 2:23). To worship by the use of a cross is vain… the Roman Church used mysterious formulas, consecrated host, holy water, altars, crucifixes, crosses, candles, bells and other church utensils of special sanctity by making the sign of the cross over them.” Dikutip dari Rev. Howard Hart, The Cross – A Symbol of Paganism, in Reformed Herald. November 1992. A Publication of Reformed Church in the United Sates.

http://gkagloria.or.id/artikel/ap05.php

About these ads
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. peter lau said, on Desember 2, 2009 at 10:25 am

    tq utk artikelnya, sangat menolong, kiranya semua kemuliaan utk Tuhan Kristus Yesus,Tetap maju.syalom

  2. Sepri Waang said, on Agustus 19, 2011 at 11:57 am

    Trims Buat Artikelnya. Tuhan Yesus Memberkati, Amin


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: