Be an Example! Be a witness in everywhere

Menjadi Imitasinya Tuhan

Ditulis dalam Teaching oleh Be example pada April 25, 2008

Ini adalah tahun dimana Tuhan mau agar kita mengalami kedahsyatan perjanjianNya. IA telah demikian lama menghendaki agar kita menyadari bahwa kita segambar dan serupa denganNYA. Sayangnya, dosa telah menjadi penghalang bagi kita sehingga tidak bisa mencapai keserupaan denganNYA.

Efesus 5 : 1 mengatakan bahwa kita adalah Anak-anak Terang yang harus menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak. Di ayat ini dalam alkitab bahasa sehari-hari dikatakan “mengikuti teladan Allah”. Charles Capps menggunakan istilah imitators (orang yang menjiplak atau mengimitasi) untuk ayat ini. Dengan kata lain, kita sebagai anak-anak Allah harus mengimitasi Tuhan sama seperti anak-anak “mengimitasi” ayahnya. Yesus mengimitasi BapaNya dan menghasilkan kuasa yang sama seperti BapaNya.

Bapa selalu bekerja dengan perkataanNya. IA tidak pernah melakukan sesuatu tanpa mengatakan terlebih dahulu. Dalam perjanjian lama dicatat, dunia dan seisinya dijadikan melalui FirmanNya (perkataanNya). Dalam perjanjian baru, Tuhan Yesus BERKATA kepada angin, laut dan setan-setan. Demikian juga IA mengutuk pohon ara dengan berkata-kata. Bahkan IA berkata kepada orang mati untuk bangkit. Semuanya taat kepada perkataanNYA dan ada kuasa yang mengalir dari perkataanNYA.

Sayang, kebanyakan kita sebagai anak-anak Tuhan tidak menggunakan perkataan-perkataan kita sehari-hari seperti perkataan-perkataan Tuhan. Kita tidak mengimitasi perkataan Tuhan. Apa akibatnya? Perkataan-perkataan kita mengandung ketakutan, kekuatiran dan kekalahan. Perkataan-perkataan kita membuat kita terikat dan terjerat dalam berbagai kesulitan dan dosa (Amsal 6 : 2).

Untuk mengimitasi Tuhan, kita mesti berbicara (berkata-kata) seperti DIA berkata-kata dan bertindak seperti DIA bertindak. Mengapa perkataan Tuhan selalu berhasil? Dan segala sesuatu yang ada di Dunia ini selalu taat kepada perkataanNya?

Ingatlah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang beriman (a faith GOD). Tuhan melepaskan imanNya melalui perkataan. Perkataan seumpama cawan yang bisa diisi dengan iman atau ketakutan. Ketika dituang, maka hasilnya akan sama seperti isinya. Jika perkataan kita diisi dengan iman maka iman akan bekerja dalam diri kita. Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Tuhan. Iman akan bekerja lebih cepat ketika kita mendengar dan memperkatakan segala sesuatu yang Tuhan katakan. Sebaliknya jika perkataan kita diisi dengan ketakutan, kekuatiran dan kekalahan maka hal-hal negatif dan dosa yang akan menguasai kita.

Jadi, setiap perkataan Tuhan mengandung IMAN. Ini imanNYA Tuhan, iman sebesar biji sesawi yang memindahkan gunung. Karena itulah, perkataan Tuhan demikian dahsyat. Dengan perkataan Tuhan, kita dapat mengatasi segalanya. Dalam buku “God’s Creative Power”, Charles Capp membuat penyataan:
Faith-filled words will put you over
Fear-filled words will defeat you

Tuhan ingin kita mengimitasi diriNYA terutama perkataanNYA. Maukah kita berkata-kata dengan perkataan imanNya Tuhan?
Selamat menjadi imitasinya Tuhan.

By Arman Harijanto

www.priasejati.or.id

Ditandai sebagai:,

9 Alasan Pria Menikah

Ditulis dalam Relationship oleh Be example pada April 25, 2008

Cinta

Suatu hari Bram berkenalan dengan Rien. Pada detik itu juga, Bram langsung merasa cocok. “Semua yang ada padanya klop denganku. Sebentar saja tak bertemu, rasanya ada sesuatu yang hilang.” Kata Bram. Selanjutnya Bram dan Rien semakin akrab, bahkan mereka dengan cepat mengetahui isi hati dan kepala masing-masing.”Jadi, apalagi yang kami tunggu?”

Menikah karena alasan cinta memang hal yang paling sering terjadi. Dan untuk yang satu ini sulit dicari penjelasannya.. Mungkin lebih tepat disebut misteri. Cinta memang bisa terbit pada pandangan pertama, namun juga bisa muncul perlahan-lahan tanpa disadari. Pria yang menikah karena cinta, umumnya tak bisa menjelaskan, kenapa mereka memutuskan untuk menikah. “Terjadi begitu saja”, kata mereka. Bagi mereka, pernikahan bukanlah suatu akhir dari sebuah proses, tapi awal sebuah perjalanan baru.

Ingin Memiliki Keluarga

Umur Edo sudah 41 tahun, namun ia belum juga beristri. Hingga suatu hari, dia berkesempatan ngobrol dengan seorang rekannya yang lebih muda. Sang teman bercerita dengan penuh kebahagiaan dan kebanggan tentang anak-anaknya. “Disitulah aku mulai panic. Apakah aku nanti harus menggendong bayi saat punggungku sudah bungkuk?” tututr Edo yang kemudian memutuskan harus segera “bertindak”.

Bagi kebanyakan pria, memiliki keluarga yang harmonis dan anak-anak yang lucu adalah cita-cita yang indah. Bagi mereka, memiliki keluarga juga menjadi sumber ketenangan, dukungan, kehangatan, dan pengalaman hidup yang benar-benar baru.

Kebersamaan

Pada mulanya , Angga tak pernah berpikir menyunting Seli, mitranya di sebuah studio pahat. Hubungan mereka awalnya murni teman kerja. Bahkan Seli sempat punya pacar yang ganteng. Toh pada akhirnya Angga memberanikan diri meningkatkan hubungan dengan Seli ke jenjang yang lebih lanjut. Dan akhirnya , Angga melamar Seli. “Kami banyak melewatkan pengalaman bersama, baik dalam senang dan susah. Seli banyak membantu saya di masa-masa sulit, “ kisah Angga.

Tipe pria seperti Angga menganggap perkawinan adalah semacam kerjasama dua orang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi mereka bersama, Mereka berharap, perkawinan akan membantu mereka lebih saling mendukung dan memperhatikan selama masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Karena itu, mereka mencari pasangan hitup yang sudah teruji kualifikasinya untuk persyaratan tersebut.

Komitmen

Pria memang terkadang tampak kurang suka terlibat dalam komitmen. Tapi sesungguhnya keinginan komitmen mereka lebih dari yang diduga. Percaya atau tidak, sebagian besar pria menginginkan menikmati hari tuanya bersama seorang istri. Dan itu menunjukkan mereka tetap ingin setia pada satu pasangan hidup.

Kepercayaan

Kepercayaan juga termasuk alasan pria untuk menikah. Entah itu berupa keinginan untuk memiliki seorang yang bisa mempercayai mereka, ataupun sebaliknya yang bisa mereka percayai. Kepada siapa lagi kita bisa mengungkapkan segala kekesalan, masalah, sakit hati, bahkan rahasia pribadi, jika bukan pada pasangan hidup kita? Kepada siapa mereka bisa hidup bersetia dan bersikap jujur. Pria seperti ini akan mengiba-iba memberikan hatinya kepada perempuan yang telah mencurahkan rahasia padanya, yang membuat lelucon tentang uang belanjanya.

Persamaan Pandangan Hidup

Wanita yang memiliki pandangan hidup sama dengan dirinya, itulah yang dicari Pram. Ia mengaku sudah sering ganti pacar, namun tak satupun yang memiliki kesepakatan soal nilai-nilai hidup. “Mereka selalu memandang segala sesuatu dari sudut yang berbeda dariku”, keluh Pram. Baru ketika bertemu Teti, ia langsung terpikat dan meminangnya. Pasalnya, cara pandang Teti terhadap berbagai hal ternyata tak jauh berbeda dari Pram.”Reaksi-reaksi kami terhadap masalah politik, suasana kerja, sampai keluarga, rasa2nya hampir sama” , kata Pram.

Kecocokan ini bisa juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga kedua pihak yang mirip. “Bila bersama keluarga mertua, aku merasa nyaman. Bahkan hampir tak perlu melakukan penyesuaian diri”, kata pria lain.

Dalam beberapa kasus, perbedaan pandangan ini memang menjadi sumber keretakan sebuah rumah tangga..

Persahabatan Sejati

Sulit dipahami, memang. Kalau ingin bersahabat, kenapa mesti menikah? Namun perkawinan sesungguhnya adalah upaya menemukan seorang sahabat yang terbaik. Rudy, seorang pegawai bank, mengisahkan pengalaman kakak perempuannya. Sang kakak menikah begitu lulus kuliah. “Ketika itu suaminya baru merintis bisnis kecil-kecilan. Jadi keuangan mereka pas-pasan, “ tutur Rudy. Kendati serba kepepet, sang kakak di nilai Rudy mampu mengatasi masalah bersama-sama suaminya. Cekcok bukan hal aneh. “Tapi mereka juga sering bercanda dan tertawa bersama.” Bagi Rudy, pasangan tersebut saling menyayangi dan mampu menjadi sahabat yang baik.

Penerimaan Masyarakat

Alasan yang ini terkesan agak dangkal ya? Tapi pada kenyataannya, kebanyakan orang memang merasa lebih aman dan nyaman jika bekerja sama dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Sebaliknya, mereka merasa kurang safe jika bergaul dengan mereka yang masih melajang.

Di sisi lain, status sebagai suami juga dipandang lebih terhormat daripada pria lajang. Sikap seperti ini antara lain tercermin pada peraturan kerja di perusahaan. Seorang karyawan bank mengisahkan, ia tak boleh datang ke pesta kantor karena masih bujangan. “Hanya lajang yang sudah 10 tahun bekerja yang boleh datang. Tapi pegawai lain yang baru sehari, tapi sudah beristri, otomatis boleh datang.”

Kesepian

Sebuah survey menyimpulkan bahwa pria dua kali lebih banyak mengungkapkan alasan kesepian sebagai alasan untuk menikah dibanding wanita. Masuk akal juga. Seberapa banyak pilihan kegiatan seorang pria yang tak beristri ? Kongkow-kongkow dengan temannya? Jalan-jalan ke mal? Sewa video? Apapun, setelah beberapa saat mereka jadi bosan sendirian. Tak heran jika kesepian menjadi salah satu alasan pria untuk mencari istri.

Seorang pengusaha mengisahkan, betapa ia semula lebih suka hidup membujang. Mungkin seperti lirik lagu, “Kemana-mana asalkan suka, tiada orang yang melarang.” Namun pada akhirnya ia mulai bingung memikirkan apa yang akan dilakukan selama sisa hidupnya. “Aku mulai merasa sepi. Bahkan mulai ketakutan membayangkan kematian. Sungguh, aku tak ingin meninggal, dalam kesendirian,” papar sang pengusaha yang akhirnya memutuskan menikah. “Mungkin saja aku menikah dengan alasan yang salah, tapi kesepian toh alasan juga,” tambahnya.

By Novry Simanjuntak, on 06-03-2008 13:59

www.priasejati.or.id

Ditandai sebagai:,

Pdt. James Wambroe, M. Div. Membangun Papua yang Kuat

Ditulis dalam Hot News oleh Be example pada April 25, 2008

Tahun 2002 saya dan istri kembali ke Papua karena kepedulian yang bertolak dari kerinduan untuk menggembalakan. Tinggal dengan masyarakat saya dan menolong mereka di tempatnya. Fokus utamanya adalah menggembalakan karena itu yang paling lemah di Papua. Banyak gereja, tapi kurang kepedulian, kurang perlengkapan untuk mengurus jiwa-jiwa. Ibadah jadi membosankan. Jemaat mengeluh, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, saya berencana membuat training untuk gembala dan awam. Itu komitmen saya.

Pastoral Care sangat penting untuk Papua. Banyak gereja punya masalah itu, tapi tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Gereja sudah bercokol begitu lama, tapi sangat lemah dalam caring. Malah domba-dombanya ke mana-mana, tidak terurus, bahkan Minggu tidak ibadah. Ketika mereka ibadah, tidak ada firman yang menjawab kebutuhan. Mereka bosan dengan khotbah-khotbah yang kering.

Papua Dalam Ancaman

Saya datang sebagai pendidik dan gembala. Kami membuka sekolah teologi (STT Nazarene) untuk menolong teman-teman yang ingin diperlengkapi. Mereka bisa kuliah dan belajar di situ. Landasannya adalah pelayanan pastoral. Mulai 2008 kami menolong orang Papua, agar bisa menangkap visi karena Papua sedang dalam “ancaman”. Jika tidak berbuat sesuatu, kita akan menyesal.

Ancaman pertama adalah kemajuan. Kemajuan masuk ke Papua, sementara orang Papua belum siap mengikuti kemajuan.

Kedua, ancaman iman. Banyak orang Papua Kristen, tapi tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan orang lain tentang siapa Yesus, dsb. Hal ini menjadi ancaman iman. Perlu dilakukan pengajaran-pengajaran praktis yang dapat memberdayakan semua orang untuk belajar. Jadi, bukan hanya pendeta-pendeta, tapi juga kaum awan yang diperlengkapi.

Ketiga, ancaman ekonomi. Orang Papua belum mampu berkompetensi dalam dunia ekonomi. Mereka lebih banyak jadi pembeli daripada penjual. Firman Tuhan menyebutkan bahwa umat-Nya seharusnya menjadi kepala, bukan ekor. Kita mendorong jemaat agar suatu saat menjadi pemimpin dan menjadi berkat bagi Indonesia dan bangsa-bangsa.

Ancaman lainnya adalah bangkit kembalinya budaya-budaya suku yang notabane sudah dibuang 153 tahun lalu sejak Ottow dan Geissler memulai pelayanannya di Papua. Sekarang, orang kembali mengambilnya sehingga menjadi orang Kristen flat. Maksudnya Kristen sinkretisme, sehingga terang dan gelap berjalan bersama-sama. Padahal itu tidak boleh. Tapi, karena tidak ada yang memberi tahu, orang merasa itu oke.

All To Jesus

Saya lahir dari keluarga Kristen, tapi tidak kenal Kristus. Saya bertobat di Semarang melalui seorang hamba Tuhan. Sebelumnya saya hidup di “kandang babi”, di jalanan. Tidak ada harapan. Namun, karena ada orang lain yang menyelamatkan saya, saya berkomitmen menyelamatkan orang lain. Betapa pun beratnya akan saya hadapi. Dalam pelayanan, motto saya All to Jesus, semua bagi Yesus. Karena Dia selamatkan saya, jadi semua untuk Dia. Apa pun yang terbaik dalam hidup saya, keluarga, talenta, studi saya, semua bagi Dia. Total.

Saya sangat mencintai pelayanan penggembalaan. Itu nomor satu bagi saya. Sementara menyelesaikan kuliah Ph.D. di STII Yogyakarta, saya juga tertarik dengan pendidikan. Bagaimana menyusun kurikulum untuk menolong mahasiswa, bahkan menolong anak SD sampai ke tingkat universitas. Saya sangat senang dengan mahasiswa. Saya pernah jadi mahasiswa, tapi kurang perhatian dari hamba-hamba Tuhan. Setelah mengenal hal ini, saya mau menolong mereka dengan apa pun untuk menghibur dan menguatkan.

Papua Kuat

Saya tidak bisa melayani sendiri. Karena itu saya membangun tempat training untuk melatih orang-orang mengembangkan kepemimpinannya. Saya memiliki visi supaya Papua menjadi KUAT. Visi ini saya tangkap dari Efesus 6:10, “Akhirnya hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, …”

KUAT itu singkatan dari Kudus, Utus, Ajar, Tolong. Jadi, kalau kita mau kuat, kita harus hidup kudus dan kita menjadi utusan Injil. Orang Indonesia harus bisa menjadi misionaris. Lalu mengajar, supaya orang tahu mana yang salah dan mana yang betul. Terakhir adalah tolong-menolong. Kita tidak boleh menjadi gereja yang eksklusif, individualis. Harus menjadi gereja yang open untuk menolong banyak orang. Itu visi saya, visi KUAT. Papua ke depan harus menjadi berkat.

Pdt. James Wambroe, M.Div. adalah Gembala Sidang GKN Nazarene Jayapura dan Rektor Sekolah Tinggi Teologi Nazarene Papua

(View: 95 times)
Sumber : bahana-magazine.com

Ditandai sebagai:,

Teologi Kemakmuran atau Teologi Kemiskinan?

Ditulis dalam Uncategorized oleh Be example pada April 25, 2008

Mohon dijelaskan. Krn saya sedang berada di dua tempat itu. Jd bingung mana yg bener. Terima kasih

Daniel

Jawab:

Dua-dunya tidak benar. Penjelasan rinci mungkin tidak bisa dijelaskan disini. Teologi Kemakmuran, mengajarkan bahwa orang kristen yang sungguh-sungguh beriman dan mengikut Tuhan, pasti akan kaya atau harus kaya. Alasannya: karena kita adalah anak Allah, sedangkan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya. Mengaku diri sebagai anak Allah, tetapi hidup dalam kemiskinan, adalah suatu kontradiksi.

Alkitab memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya. Tetapi Alkitab juga tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya! Walaupun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita, kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.

Terbalik dengan Teologi Kemakmuran, Teologi Kemiskinan menolak materialisme demi mengagungkan asketisme. Teologi Kemiskinan membuang jauh-jauh segala macam ide duniawi dan segala obsesi terhadap uang. Ajaran ini secara ekstrem menyebutkan bahwa percaya kepada harta benda duniawi dan memilikinya dianggap sebagai kutukan/dosa. Teologi kemiskinan menolak materialisme dalam berbagai cara dan bentuk. Hal ini tentu menimbulkan bias terhadap keberadaan kaum miskin. Anehnya, teologi kemiskinan tidak memberikan jawaban terhadap masalah ini. Orang yang ragu-ragu atau menolak kekayaan sepakat dengan teologi kemiskinan.

Yang benar adalah Teologi Salib. Perhatiannya hanya pada Salib Kristus. Contoh, Paulus membanggakan kelemahannya. Ia menyebut dirinya “Pendosa yang paling berdosa di antara orang berdosa” dan “seorang yang celaka”. Sejauh itu ia memperhatikan, kekudusannya dan kebaikannya dibandingkan dengan kebenaran Kristus. Baginya, dinamika kedua hal penghakiman dan pengudusan adalah “bukan saya, tetapi Kristus.” Setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan.

Di salah satu website saya menemukan nasehat yang baik sekali yang isinya sbb:

“Yesus hendak mengajar manusia agar mereka tidak kuatir dengan apa yang akan mereka makan atau minum. Yang perlu mereka kuatirkan adalah apakah saudara mereka bisa cukup makan atau minum.Some times life is simple. So… what’s up Doc.”

[CKM]

Setelah beberapa tahun belakangan teologi kemakmuran naik daun dan mempengaruhi jutaan pengikut Kristus di seluruh dunia, belakangan ini teologi kemiskinan pun mulai bangkit kembali. Hasilnya adalah perdebatan antara mana yang harus kita “anut” teologi kemakmuran ataukah teologi kemiskinan?

Teologi kemakmuran adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa Tuhan ingin setiap dari kita hidup berkelimpahan (dengan didasarkan pada Yohanes 10:10). Selain itu mereka juga berpendapat bahwa Tuhan akan terus memberkati kita bila kita hidup seturut dengan FirmanNya. (contoh: Ulangan 28:1).

Di sisi lain, teologi kemiskinan adalah sebuah paham di mana kita diminta untuk menyingkirkan harta duniawi dan mengutamakan Tuhan. Pemahaman ini diperkuat salah satunya oleh Matius 6:33. Sebetulnya paham ini bukanlah hal yang baru. Sejak abad-abad silam telah banyak mistikus Kristen yang memutuskan untuk hidup menyendiri dan memutuskan untuk menjalani hidup “pertapa”. Banyak orang akhirnya membawa paham ini ke titik ekstrim sehingga mereka benar-benar hanya “mencari Kerajaan Allah”.

Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi hal ini? Apakah seharusnya kita berpegang pada teologi kemakmuran? Ataukah teologi kemiskinan? Apakah kedua paham ini Alkitabiah?

Teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa setiap orang yang mengasihi Allah akan diberkati sebenarnya membuat sebuah kesalahan fatal dalam asumsi mereka. Tuhan memang berjanji akan memberkati setiap orang yang mengasihiNya, akan tetapi BUKAN BERARTI BERKAT TERSEBUT HARUS BERUPA BERKAT FISIK/MATERI.

Di dalam Alkitab kita temui banyak contoh akan orang-orang yang mengasihi Allah namun hidupnya tidak “makmur”. Kitab Ayub dengan jelas menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar di hadapan Allah (bahkan Allah sendiri memuji Ayub!), akan tetapi kita tahu bahwa tetap Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi pada diri Ayub. Kita juga melihat kisah nabi Yeremia yang sepanjang hidupnya menderita. Apakah ia kurang mengasihi Allah?

Contoh terakhir adalah Kristus sendiri. Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang mengasihi Allah? Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang setia dalam menjalankan FirmanNya? Tetapi kita tahu bahwa Kristus adalah orang yang tergolong miskin pada jamanNya. Selain itu, cara Ia mati pun bukanlah cara mati yang “terbaik”.

Jadi sebenarnya apakah berkat yang dijanjikan oleh Allah apabila kita mengasihiNya? Berkat tersebut adalah berkat rohani. Dan yang terutama dari segala berkat rohani itu adalah karya keselamatan yang diberikan melalui Kristus.

Jadi haruskah kita “menganut” teologi kemiskinan? Haruskah kita betul-betul mencari Kerajaan Allah dan percaya bahwa Tuhan akan menambahkan selebihnya?

Pemahaman inipun kurang tepat. Saat Kristus mengatakan bahwa kita harus mencari Kerajaan Allah, bukan berarti kita tidak perlu melakukan hal-hal lain. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa ia tetap bekerja di tengah-tengah pelayanannya, bahkan ia menyimpulkannya dengan berkata, “jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tes 3:10)

Tuhan memang meminta kita untuk mengutamakan Kerajaan Allah dan Ia berjanji akan menambahkan selebihnya kepada kita, akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa kita tidak memiliki tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan duniawi. Terlebih lagi, panggilan untuk mencari Kerajaan Allah juga berarti bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatunya untuk kemuliaan Tuhan.

Jadi bagaimana sikap kita seharusnya?

Dalam hidup kita tidak bisa mengambil kedua extrim tersebut. Dalam segala hal yang kita lakukan, kita bisa mencari Kerajaan Allah (dengan cara melakukan segalanya untuk kemuliaan Tuhan) dan juga kita harus percaya bahwa kita telah menerima berkat yang terbesar, yaitu keselamatan.

Pengejaran kita akan kekudusan tidaklah boleh dilandaskan akan harapan untuk mendapatkan berkat jasmani. Namun, apabila Tuhan mempercayakan berkat jasmani kepada kita, kita wajib mempergunakan apa yang Tuhan percayakan untuk kemuliaanNya.

Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan, “Some Christian are so worldly, that they are of no heavenly good. Some others are so heavenly, that they are of no worldly good.” Janganlah kita menjadi seperti itu.

http://asksophia.wordpress.com

Tips Menjadi Rekan Kerja yang Baik

Ditulis dalam Bussiness, Job, Karir, Tips oleh Be example pada April 25, 2008


Meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan bagaimana pandangan orang terhadap diri kita merupakan latihan penting yang dapat memberikan dampak lebih jauh. Yang paling penting adalah menyadari untuk selalu berperilaku sopan dan pantas. Jika Anda sungguh-sungguh berpikir mengenai bagaimana dampak perilaku Anda terhadap rekan sekerja yang lain, Anda akan mengerti bagaimana berperilaku sopan dan baik dan bagaimana memperbaiki hubungan Anda dengan sesama rekan sekerja. Berikut ini tips untuk membantu Anda untuk menjadi rekan sekerja yang lebih baik:

1. Pelankan
Pelankan suara Anda saat berbicara di telepon, pelankan suara iPod Anda, pelankan cara Anda membuka dan menutup laci, pelankan bunyi ketikan Anda pada keyboard komputer. Rekan sekerja Anda yang lain akan sangat menghargai Anda bila Anda tidak berisik.

2. Jaga ego. Jangan menyombong
Tentu saja hebat bila baru-baru ini Anda berhasil mendapatkan kata sepakat dengan pelanggan yang susah atau berhasil melakukan pukulan golf yang sulit pada pertandingan golf yang lalu. Tidak perlulah rekan kerja Anda mendengar kehebatan Anda dari mulut Anda. Simpan keberhasilan Anda sampai orang lain mengetahuinya sendiri dan memberikan pujiannya secara langsung kepada Anda.

3. Hindari Politik Perusahaan
Jika beredar gosip di kantor, jangan berikan komentar Anda walaupun tentang orang yang tidak Anda sukai. Jangan sampai komentar Anda terhadap gosip yang sedang berkembang menjadi bumerang bagi Anda.

4. Rapi
Selalu rapi terhadap segala sesuatu yang Anda pakai, misalnya mencuci gelas atau piring sehabis Anda gunakan. Jangan tinggalkan di wastafel atau di pantry secara sembarangan dan memberi kesan seolah-olah bukan tugas Anda untuk membersihkannya.

5. Sopan bertelepon
Set telepon genggam Anda pada posisi silent. Belum tentu nada suara telepon genggam Anda disukai oleh orang lain dan justru membuat orang lain tidak dapat berkonsentrasi bekerja pada saat berbunyi.

6. Kurangi pajangan
Pastikan Anda tidak memajang berbagai pajangan dan foto di tempat kerja. Mungkin bagi Anda pajangan serta foto-foto yang Anda pampang membuat Anda merasa betah tetapi Anda harus sadar belum tentu orang lain menyukainya.

7. Kendalikan diri
Usahakan untuk tidak membeberkan ketidakbahagiaan kehidupan pribadi maupun profesional Anda. Rekan sekerja Anda akan ngeri melihat sikap negatif Anda saat menghadapi kejadian tertentu.

8. Menghormati milik orang lain
Waktu yang Anda habiskan dengan rekan sekerja biasanya lebih banyak bila dibandingkan dengan waktu yang Anda habiskan dengan keluarga. Oleh karena itu rekan sekerja Anda akan menghargai bila Anda tidak menggunakan milik pribadi mereka semaunya, misalnya tidak menggunakan bolpen atau penghapus teman seenaknya.

9. Jangan bergosip
Tentu saja Anda perlu berkomunikasi dengan sesama rekan sekerja tetapi jika ada rekan sekerja yang menceritakan gosip kepada Anda, simpan gosip tersebut untuk diri Anda sendiri. Anda harus menyadari bahwa semua yang ada di situ tujuannya untuk bekerja. Berbicaralah seperlunya saja dan jangan habiskan waktu Anda untuk mengobrol berjam-jam.

Lingkungan terbaik untuk bekerja adalah tempat di mana antar sesama rekan sekerja dapat saling akur dan membangun persahabatan. Meskipun demikian jika ada masalah yang terjadi di antara sesama rekan sekerja sangatlah penting untuk segera mengenalinya dan memperbaikinya. Menjaga kerja sama yang baik dan lingkungan yang ramah dan sehat merupakan kepentingan terbaik, bagi Anda maupun bagi perusahaan.

Ditandai sebagai:, ,

Menjaring pemimpin rohani dengan cara daging

Ditulis dalam Uncategorized oleh Be example pada April 25, 2008

Beberapa waktu lalu disalah satu gereja di Denpasar Bali mengadakan pergantian pemimpin atau gembala sidang yang sudah mengakhiri jabatan sebagai Gembala sidang. setelah mempersiapkan panitia atau badan permatur untuk memilih seorang gembala sidang. Gembala sidang yang akan mengahiri jabatannya telah menyatakan diri di depan jemaat untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai gembala sidang. Entah berawal darimana ketika diumumkan oleh badan formatur para calon gembala di gereja itu, tiba-tiba muncul nama gembala siding yang lama sebagai calon atau kandidat ini didasarkan bahwa setelah diadakan poling ternyata gembala yang lama masih banyak “pendukungnya” itu dinyatakan secara tertulis lengkap dengan nana dan tanda tangan para pendukung, ketika ditelusuri ternyata sebagian tanda tangan ada yang dipalsukan. Melihat gejala ini para elit gereja/para majelis berselisih pendapat, pro dan kontra tentang calon-calon, para elit gereja/majelis yang terpecah menganggap diri lebih benar, dan mempengaruhi anggota jemaat untuk mendukung pendapat mereka. Para elit gereja saling tuding, tidak lagi mengambarkan anggota tubuh kristus, bahkan tidak ada beda dengan cara dunia sehingga harus mendatangkan keamanan sungguh memalukan bagi tubuh kristus yang lain bahkan mempermalukan Kristus, gereja tidak dapat lagi memberikan kesejukan bagi pengunjungnya tetapi justru membuat tambah setres.
Sebagai seorang gembala sidang, penulis dan rekan-rekan hamba Tuhan yang lain merasa prihatin mendengar situasi gereja Tuhan yang mengunakan cara-cara dunia untuk menjaring para pemimpinnya, dan adanya cara-cara yang sebenarnya tidak patut. Para elit gereja tidak ada bedanya dengan elit dunia yang mengunakan cara dunia demi mencapai keinginan kelompok, kepuasan kelompok dan golongan. Apa yang elit gereja kejar? Popeleritas? Maaf gereja bukan tempatnya mencari hal itu, apalagi kalau itu dengan cara yang tidak layak. Kedudukan? Maaf gereja bukan tempatnya. Gereja adalah tempat orang-orang yang memiliki hati seorang hamba, pemimpin yang berhati hamba.
Kasus pemilihan gembala di Denpasar bali ini hanyalah merupakan salah satu fenomena gunung es yang mungkin terjadi didaearh lainnya hanya caranya yang berbeda.
Melihat keadaan seperti ini bagaimana mungkin seorang pemimpin rohani yang dipilih dan terpilih dengan cara yang tidak patut, hasil dari adu kekuatan dapat memimpin sesuai dengan kehendak Tuhan, memimpin jemaat ntuk rendah hati, bertumbuh dalam iman dan semakin serupa dengan Kristus. Bagi penulis siapaun yang akan naik dari hasil pemilihan dengan cara ini adalah pemimpin yang melayani keinginan elit gereja, menyenangkan telinga mereka.
Bagi penulis kenapa hal ini terjadi, secara khusus dialami oleh gereja-gereja tua kebanyakan, ini disebabkan oleh beberapa factor:

1. Kurangnya pengertian jemaat dan pemimpin jemaat tentang gereja, pemimpin gereja.
2. Kurang Berdoa dengan sungguh-sunggu khususnya jemaat dan para pemimpin, kalaupun di doakan mungkin permintaan itu salah dan punya tujuan yang salah dan akhirnya menimbulkan kekacauan ( Yakobus 4:1-3)
3. Tidak ada kerendahan hati diantara anggota Tubuh Kristus, menganggap diri dan kelompoknya lebih baik dari yang lain.( kelompok apolos dan Paulus )
4. Tidak adanya kedewasaan rohani baik jemaat maupun pemimpin.
5. Boleh penulis katakan bahwa sekurang-kurangnya empat hal di atas memberikan indikasi bahwa: gereja ini tidak sehat, artinya sedang sakit. Kalau sakit itu artinya tidak bertumbuh. Bagi penulis Gereja yang sehat dan bertumbuh adalah seperti yang dikatakan Paulus dalam kiasannya tentang gereja.
a. 1 Korintus 12:27 Gereja adalah Tubuh Ktristus yg terdiri dari banyak anggota dan setiap anggotanya harus berfungsi setiap anggota sudah menjalankan fungsinya masing-masing. gereja bukan sekedar organisasi tetapi merupakan organisme yg hidup. Gereja boleh saja memiliki:
· Gedung yg mewah dengan fasilitas yg lengkap.
· Gerea boleh saja memiliki dana dan umat yg besar, tetapi apalah artinya bila disana tidak ada kehidupan.
b. ( Fil 2:1-8) Apakah Jemaat kita menjalankan Fungsinya sebagai keluarga dalam gereja atau tidak? Artinya: “apakah Fungsi jemaat dalam gereja sebagai keluarga dimana:
· Setiap anggota memperhatikan orang lain
· Dimana setiap anggotanya mempedulikan orang lain dan bukan saling menjatuhkan dan mempersalahkan dsb.
gereja yg sehat apabila anggota-anggotanya saling memperhatikan dan mempedulikan dengan kata lain menjalankan fungsinya sebagai keluarga.
c. ( Efesus 2:21 ) Dalam ayat ini digambarkan bahwa setiap orang percaya adalah bait Allah yg kudus, tempat kediaman Allah dimana orang dapat melihat Injil di sana.
apakah setiap jemaat menjalankan funsinya sebagai Bait Allah yg kudus, tempat kediaman Allah dimana orang lain dapat melihat injil melalui kesaksian mereka.
Dalam ayat ini digambarkan bahwa setiap orang percaya adalah bait Allah yg kudus, tempat kediaman Allah dimana orang dapat melihat Injil di sana.
Kalalu kita bertanya apakah gereja kita sehat atau tidak, pertanyaan yg harus kita jwab adalah “ apakah setiap jemaat menjalankan funsinya sebagai Bait Allah yg kudus, tempat kediaman Allah dimana orang lain dapat melihat injil melalui kesaksian mereka.