Be an Example! Be a witness in everywhere

Teens, Courtship, and Sex

Posted in Hot News by Be example on Mei 17, 2008

When I talk about sex education, I mean in depth information, not just the plumbing of sex, anatomy and physiology.

So I want kids to know when things are getting a little hot and heavy, they gotta know how and when to say STOP.. WHOA.. QUIT.. NO.. NOW.

It is important that they have decided ahead of time whether they are ready for sex or not. Sex is an adult behavior, and unless you are adult enough to be comfortable with your own body, unless you know about sex, Birth Control and all sexually transmitted diseases, unless you are in a long-term committed relationship and can talk about sex, unless you and your partner are mature enough to use a good method of birth control and agree to use condoms for SAFER SEX, you are not ready for sex. That should take you to about age 35.

If you decide you are not ready for sex, how far can you go before you are out of control? Well, it is called the Courtship Procedure, and it always starts out with a little kiss, on to a long passionate kiss, on to French kissing, open mouth kissing, tonguing.

You may not like this, but French Kissing is asking permission, saying “Can I go on?” If you return the French kisses, you are saying “YES” Is that what you want to say? If not, now is the time to say NO. If you don’t say no, then don’t be surprised to find he starts into breast petting on top of clothes, on to petting under clothes, petting below the waist, then petting under clothes, to nude total-body petting. Oral sex may enter the picture at any time along the way. That will lead to intercourse. Sorry to take all the romance out of it, but that’s the way it goes. You are going to need birth control and condom protection, no question.

So now, in the cold hard light of day, think about it and decide how you feel about that. It must be a conscious decision.

Please don’t tease your partner – that is not fair and we gotta be honest, some males get very angry when teased and you are vulnerable to sexual assault.

I love the statement: “KNOW WHAT YOU ARE DOING, THINK AHEAD, PLAN AHEAD, NEVER LET SEX JUST HAPPEN AND ALWAYS PRACTICE SAFER SEX.”

If you do decide (and “decide” is the operative word here,) talk about it ahead of time. You must agree to use condoms all the time, every time. And you must get a good method of birth control. And be prepared for the potential reaction of your parents. Think why you want to have sex, besides the fact that you are horney, And try to anticipate your reactions afterwards. Will you feel guilty, used, ashamed, cheap, scared or regret? Will your partner gossip, will that affect your reputation? Think….All these are important considerations.

Then make it special, not a few moments at a party. Please do not expect an orgasm the first time you have sex, it probably will not happen.

http://www.talksexwithsue.com/teencourtship.html

Ditandai sebagai:

Tolong, Gembala kami Selingkuh!

Posted in Relationship by Be example on Mei 17, 2008

Written by Hane Han

Dalam perjalanan pelayanan “Transformasi Prilaku Seksual” di berbagai komunitas, lembaga, dan gereja di beberapa kota di Indonesia, saya sering mendapat keluhan seperti judul tulisan ini. Pada mulanya saya berpikir, berat juga ya jadi Hamba Tuhan, sudah melayani sungguh-sungguh masih juga di isu-kan “miring” seperti itu. Jadi awalnya, saya menganggap itu hanya isu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sampai kemudian saya bertemu dengan orang-orang yang kredibel yang mengisahkan cerita-cerita yang “seru” ala senitron kita, maka saya percaya, memang ada Gembala, Pendeta, Penginjil, Pemimpin Rohani yang melakukan perselingkuhan. Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Ada banyak aspek yang mempengaruhinya, setidaknya ada tiga hal yang menurut saya paling besar pengaruhya. Pertama, sistem pe-recruit-an Hamba Tuhan yang amat longgar. Saya memahami kebutuhan “Pelayan Tuhan” semakin hari semakin besar jumlahnya karena pekerjaan Tuhan yang terus menerus berkembang. Kondisi semacam ini mengakibatkan para pengambil keputusan di level “Christian Top Leaders” cenderung melonggarkan kriteria dalam pe – recruit – an para “Pekerja Tuhan”. Paling tidak seperti pengalaman saya berikut ini. Saya di undang untuk menyampaikan materi pembelajaran “Biblical Sexology” di suatu sekolah calon hamba Tuhan di suatu kota. Pengalaman pelayanan selama 20 tahun, menolong saya untuk memahami karakteristik siswa. Sejujurnya saya sangat kuatir dengan kematangan rohani mereka, bukan saja soal Pemahaman Firman Tuhan, tetapi juga soal karakter mereka. Diakhir suatu kelas, seorang siswi dengan terus terang “minta bantuan” untuk dikenalkan dengan pria yang siap menikahinya. Saya terkejut dengan permintaan tersebut. Dalam hati saya muncul suatu pemikiran, mungkinkah dalam waktu satu tahun (program pendidikan) pemahaman, sikap hati, dan karakter nya bisa bertumbuh dengan baik sehingga benar-benar siap memasuki ladang pelayanan. Kecemasan saya bertambah, karena rupanya waktu saya menyampaikan materi pembelajaran tersebut, adalah satu bulan terakhir sebelum mereka di wisuda dan di utus ke ladang pelayanan. Saya mencoba mencari tahu bagaimana proses pe – recruit – an dan mengapa program tersebut hanya satu tahun. Begini penuturan dari Direktur program nya: Sekolah ini di dirikan dengan tujuan untuk bisa mewujudkan rencana Gembala Senior untuk membuka 1000 cabang gereja baru dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu paling tidak harus ada minimal 1000 alumni untuk diutus ke ladang pelayanan. Saya tidak punya kewenangan untuk menilai apakah program semacam ini benar atau salah, tapi saya pribadi tidak akan membuat program semacam itu dengan dua alasan: Pertama, mengingat kebenaran Firman Tuhan dalam I Timotius 3 : 1 – 16, terutama ayat 6 “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.” Jadi me – recruit petobat baru dan memberinya jabatan gerejawi tertentu akan membahayakan orang yang bersangkutan. Dan dalam kaitan dengan kedewasan rohaninya, yang bersangkutan juga rawan jatuh dalam berbagai pencobaan termasuk pencobaan seksual. Kedua, orang yang ditempatkan dalam ladang pelayanan sebenarnya sama dengan di tempatkan dalam medan peperangan yang paling frontal. Efesus 6 : 10 – 18, menyatakan kepada kita tentang realita Peperangan Rohani. Saya menyaksikan film D-Day dalam persiapan pembuatan klip pelayanan YADA Institute. D-Day adalah film semi dokumenter yang di produksi oleh BBC. Dalam film ini dikisahkan peperangan yang tidak seimbang antara tentara Jerman yang amat terlatih dilengkapi dengan mesin perang yang paling cangih pada zaman itu melawan tentara Inggris yang di recruit dari para pemuda berusia belasan tahun, yang bukan saja tidak punya pengalaman dan ketrampilan perang, tapi sekaligus tidak memiliki perlengkapan perang yang memadai. Saudara bisa membayangkan dalam pertempuran tersebut terlihat ribuan anak-anak remaja yang mati tragis di bantai tentara Jerman yang amat terlatih. Dalam pendapat saya, mengutus seseorang ke Ladang Pelayanan tanpa memperlengkapinya secara memadai sama dengan mengirim remaja ke medan peperangan yang paling frontal. Kematian tragis sudah menunggu. Jadi dalam poin ini, bila ada aktifis pelayanan jatuh dalam dosa seksual, ada kemungkinan bahwa yang bersangkutan adalah korban dari ambisi Pemimpin Rohani diatas nya yang sembarangan re – recruit tanpa memperlengkapinya dengan baik. Kedua, tidak ada sistem pembinaan berkelanjutan. Banyak orang yang menganggap kalau sudah selesai sekolah Alkitab, atau sudah ditahbiskan menjadi pejabat pelayanan (Penginjil, Vikaris, Pdp, Pdm, Pdt, Pendoa, dll) maka semua pencapaian rohani telah sempurna, sehingga tidak ada lagi ruang untuk pertumbuhan, bahkan tidak ada lagi ruang untuk koreksi. Suatu kali saya di minta pendapat tentang kasus seorang Penginjil wanita (mahasiswi tingkat akhir suatu sekolah Theologia terkenal di Indonesia) yang kedapatan melakukan praktek lesbianism dengan seorang Pengurus wanita, di Gereja dimana yang bersangkutan praktek. Saya sampaikan pendapat saya, bahwa yang seperti ini harus di sampaikan ke Sekolah Theologia yang membinaanya agar ada pembinaan lebih jauh sebelum dinyatakan lulus sekolha, dan pada saat yang bersamaan semua keterlibatan nya dalam pelayanan harus di hentikan. Tetapi pendapat saya tidak diterima, dengan alasan kasihan, sebab yang bersangkutan sudah tingkat akhir dan sebentar lagi akan di Wisuda. Maka Penginjil Lesbian ini di Wisuda beberapa bulan kemudian, dan diutus melayani di suatu Gereja lokal. Selesaikah masalahnya? Tidak, keputusan ini, sama seperti memindahkan bom waktu yang siap meledak di tempat lain. Ketiga, dosa seks seringkali dianggap tidak serius. Dalam seminar-seminar seks yang saya pimpin, orang sering bertanya kenapa seolah-olah Allah tidak serius terhadap dosa seks buktinya, Abraham berselingkuh, Yakub Poligami, Daud berzina dengan istri sahabatnya…toh tetap di pakai Tuhan. Jawaban saya, kasus-kasus diatas menyatakan Kebesaran anugerah Allah terhadap mereka yang sunguh-sunguh bertobat, tapi Allah tetap serius terhadap dosa seks. Dalam Bilangan 25 dinyatakan bahwa dalam satu hari 24.000 orang mati karena dosa perzinahan. Dalam I Korintus 6 : 9b – 10b dikatakan “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, …tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. Beberapa hari lalu saya menjadi pembicara seminar seks. Dalam sesi Tanya jawab, seorang Konselor wanita yang mengaku single bertanya, apa yang harus dilakukan nya, karena ada seorang pria beristri yang konseling kepadanya tentang masalah pernikahan. Jawaban saya adalah, Suruh pria tersebut konseling ke Konselor Pria atau Konselor Suami-Istri. Begini penjelasan saya, bila seseorang konseling atau curhat kepada lain jenis, maka akan ada potensi terjadi “counter transference”. Dalam kasus ini, bila konseling itu dilanjutkan maka akan terjadi begini, konsili (pria bersistri) ini akan merasa sangat dihargai, dihormati, di mengerti karena setiap sesi konseling, konselor (wanita single) ini selalu ada waktu untuk mendengarnya. Sebaliknya si Konselor akan merasa sangat di hargai, di hormati, di butuhkan, karena ada seseorang yang mau mempercayakan masalah-masalah yang di hadapinya. Situasi ini akan segera berubah dalam hubungan yang sangat emosional, dimana affair sangat mudah terjadi. Tapi dalam hati, saya bertanya masa konselor tidak tahu resiko ini? Atau tahu, tapi tidak mau tahu? Atau, malah sudah “menikmati” pengalaman emosinal “counter transference” tersebut. Terlalu banyak orang tidak menganggap serius pencobaan dan dosa seksual. Masih dari seminar yang sama, seorang ibu datang ke meja saya setelah seminar usai, lalu mengeluhkan suami nya yang adalah “pemimpin rohani” di komunitas tersebut. Kata ibu ini, suami nya mendapat “suara tuhan” untuk menjalin relasi dengan seorang gadis dalam komunitas tersebut, karena “tuhan” akan memakai mereka (si suami dan gadis tersebut) untuk pelayanan yang besar. Tentu saja istri nya protes, tapi tidak bisa berbuat banyak karena si suami yang “pemimpin rohani” ini pemberang. Ibu ini bertanya pada saya, apa benar ini “suara tuhan”. Saya jawab, yang seperti ini sih bukan “suara tuhan” tapi suara hantu. Cara favorit Tuhan untuk berbicara kepada manusia pada zaman sekarang adalah lewat Alkitab. Dari Alkitab kita tahu kehendakNya. Kehendak Tuhan jelas, Dia menginginkan semua pernikahan itu utuh. “Pemimpin rohani” ini saya yakin sudah berselingkuh, karena istri nya mengatakan, mereka (suami dan gadis tersebut) sering sms atau telepon diatas jam 12 malam dan sembunyi-sembunyi. Dalam hati saya bertanya, kok bisa ya ada “pemimpin rohani” membohongi istri dengan “suara tuhan” lalu affair dengan seorang gadis dalam komunitas yang dipimpinnya. Saya tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi, yang saya tahu dosa seks itu sangat serius, karena banyak yang menganggapnya tidak serius. Saya kuatir pada hari-hari di depan semakin banyak orang berteriak, “Tolong, Gembala kami Selingkuh”. Lakukan sesuatu sebelum itu terjadi.

http://yadainstitute.org/

Ditandai sebagai:,

Blue Film: Candy for Couples

Posted in Hot News by Be example on Mei 17, 2008
PDF Print E-mail

Last Updated ( Monday, 11 February 2008 )

Written by Dr.Andik Wijaya MRep.Med

Polling YADA Institute: ”Untuk menjaga gairah seksual, suami-istri sekali-kali perlu nonton BF (Blue Film)” direspon oleh 104 respondent dengan hasil 66.3% Tidak Setuju, 26% Setuju, 7.7% Tidak Tahu.

Polling ini saya buat untuk mengetahui bagaimana pandangan orang percaya terhadap Blue Film dalam pernikahan, sebab hampir dalam setiap acara talkshow di radio, konsultasi lewat media maupun dalam seminar-seminar yang saya pimpin pertanyaan tersebut selalu muncul. Sekarang saya mengetahui prosentasi jumlah orang kristen yang menyetujui penggunaan materi blue film untuk menjaga gairah seksual suami-istri……

Semenjak Hugh Hefner menerbitkan majalah playboy pada tahun 1953, industri pornografi dan film erotik berkembang luar biasa, bahkan telah menjadi ‘business’ empire’ dengan keuntungan milyaran dollar amerika setiap tahun. Sebagai contoh, dari internet saya industri pornografi meraup keuntungan sekitar 11 Milyar dollar amerika setiap tahun. Dengan kekuatan finansial seperti ini, industri pornografi bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya, bahkan membesarkannya dari waktu ke waktu.

Orang dewasa, atau suami-istri adalah target market yang lebih strategis dibandingkan dengan anak-anak atau remaja, ditinjau dari sisi daya beli. Karena itu industri pornografi melakukan ”edukasi” secara intensif dan sistematik untuk potensial market mereka ini. Proses edukasi ini rupanya ’berhasil’ menanamkan berbagai alasan ’logic’ untuk menggunakan materi pornografi bagi kalangan dewasa atau suami-istri.

Karena itu tidak heran jika 26 % orang kristen di Indonesia setuju penggunaan blue film untuk menjaga gairah seksual mereka. Mereka yang setuju, sangat besar kemungkinannya untuk menggunakan materi-materi seperti itu. Jika jumlah orang kristen di Indonesia 20 juta (10% dari 200 juta) maka secara kasar 5.200.000 orang kristen adalah konsumen aktif blue film. Andai kata setiap tahun masing-masing belanja 1 keping saja VCD blue film seharga Rp.10.000, maka orang kristen di indonesia menyumbangkan dana sebesar Rp. 52 Milyar untuk Industri pornografi setiap tahunnya.

Masih ada 66,3 % orang kristen yang tidak setuju penggunaan blue film untuk menjaga gairah seksual mereka. Jumlah yang cukup melegakan. Saya percaya mereka ini menyadari hal-hal berikut ini:

Blue film membangkitkan gairah seksual yang semu. Blue film dibuat untuk menggelorakan lust driven. Pemilihan aktor, artis, visual effect, setting cerita semua bermuara untuk membangkitkan gairah seksual penontonya. Gairah seksual yang muncul saat seseorang atau suami-istri sedang menonton blue film akan tertuju pada aktor/ artis yang ada didalam film. Bukankah hal ini masuk dalam kategori perzinahan; Sebab Tuhan Yesus berkata:
Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:28)
Disamping itu, kebiasaan mengkonsumsi blue film ini akan menimbulkan ribbon effect, yaitu tanpa blue film gairah seksual mereka semakin menurun dan dalam tahap tertentu seorang pria bisa mengalami impotency situational , yaitu tidak bisa ereksi dan melakukan persetubuhan dengan istri, tetapi bisa ereksi bila ada rangsangan dari wanita lain. Demikian sebaliknya dengan wanita, semakin tidak bergairah pada suami tetapi pada pria-pria dalam fantasinya. Dari sini kita lihat, satu kali suami-istri nonton blue film mereka akan mudah terikat dalam kebiasaan ini, kualitas hubungan seksual mereka akan semakin menurun, dan merupakan langkah menuju perselingkuhan serta kehancuran pernikahan.

Blue film mendorong orang untuk berpetualang dalam prilaku seks tanpa batas. Semenjak 10 tahun lalu, pertanyaan seputar oral seks sangat marak dalam seminar-seminar yang saya pimpin, hal ini mendoronga saya untuk melakukan penelitian, ”Darimana munculnya gagasan untuk melakukan oral seks ini”. Hasil penelitian saya menyatakan bahwa semua (100%) pelaku oral seks yang saya teliti, ternyata mendapatkan gagasan untuk melakukan oral seks dari VCD blue film yang mereka tonton. Ketika mengetahui hasil penelitian tentang oral seks tersebut, saya menduga bahwa tidak lama setelah itu ’kualitas’ pertanyaan dalam seminar seks akan meningkat. Dugaan saya terbukti, sejak tiga tahun terakhir ’kualitas’ pertanyaan dalam seminar-seminar seks yang saya pimpin terbukti ’meningkat’. Sejak tiga tahun lalu mulai marak pertanyaan tentang anal seks, bahkan dalam acara-acara yang lebih ’private’ yaitu talkshow di radio, pertanyaan dan pengakuan tentang ’burger’, suatu istilah tentang hubungan seksual antara satu pria dan dua atau lebih wanita sekaligus mulai marak juga.

Mengapa hal-hal semacam ini bisa terjadi. Saya akan coba jelaskan fenomena ini. Manusia pada dasarnya adalah ’the great imitator’. Hampir semua yang ada pada diri kita adalah hasil dari proses meniru. Sewaktu kita kecil, kita meniru semua hal yang dilakukan orang tua kita; Ketika kita sekolah kita meniru guru-guru kita, saat kita remaja kita meniru tokoh-tokoh yang kita idolakan, dan sampai kapanpun proses meniru ini akan terus berlangsung. Proses meniru ini didefinisikan dan dijelaskan dalam konsep ’social learning theori’ ; Firman Tuhan sendiri jelas mengatakan: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. (Amsal 27:17). Nah proses meniru ini akan berjalan dengan sangat cepat melalui komunikasi visual. Bukankah dikatakan ‘one picture told thousands words”. Dunia advertising sangat mengetahui fakta ini, itu sebab nya iklan melalui televisi maupun film sangat efektif dalam proses ’edukasi’ konsumen. Dengan dasar pemahaman ini, tidak heran kalau pelaku oral seks melakukan aktifitas oral seks nya setelah nonton Blue film, dan tidak terlalu mengejutkan setelah meniru prilaku oral seks mereka akan sangat mudah meniru prilaku anal seks, dan prilaku-prilaku lain yang ditampilkan dalam blue film. Pada akhirnya, mereka yang punya kebiasaan nonton blue film akan cenderung terlibat dalam petualangan prilaku seks yang tanpa batas.

Blue film memicu terjadinya ’porn addict’. Hal-hal yang memberikan efek ‘recreational’ berpotensi menimbulkan kecanduan. Untuk proses pertahanan hidup, manusia diperlengkapi dengan kapasitas untuk menghindarkan ’pain’. Kemampuan untuk merasakan nyeri adalah ’alert system’ yang secara natural akan menghindarkan kita dari bahaya. Bahkan ’alert system’ kita diperlengkapi dengan ’auto move system’ yang secara otomatis akan membuat kita melakukan gerakan diluar kesadaran untuk menghindar bahaya. Sebagai contoh, kalau tiba-tiba tangan kita menyentuh sesuatu yang panas, tangan kita akan bergerak untuk menjauhi benda panas yang tersentuh, gerakan ini disebut gerak refleks. Sebaliknya ’survival system’ cenderung mendorong kita untuk mencari hal-hal yang nyaman. Contoh, dahulu sebelum manusia memiliki pengetahuan tentang bahan makanan yang baik untuk dikonsumsi, ’taste’ adalah ’natural guidance’ nya. Buah-buahan yang manis cenderung aman dikonsumsi, sementara yang terasa pahit sangat mungkin mengandung racun yang berbahaya. Namun menyerahkan semua proses hidup pada upaya menghindar ‘pain’ dan mencari ‘satisfaction’ seringkali justru berbahaya. Terbukti tumbuhan tertentu yang pahit seperti kina justru merupakan obat yang luar biasa, rasa manis pada candy justru membahayakan kesehatan gigi bahkan berpotensi menimbulkan penyakit yang lebih serius, Diabetes Mellitus.

Secara natural tubuh kita akan mencari hal-hal yang enak, nyaman, menyenangkan. Dan ketika ada suatu kenikmatan yang kita rasakan, otak kita akan memproduksi neurotransmitter sebagai respon atas input kesenangan tersebut. Proses ini sebenarnya membentuk suatu ’template’ di dalam otak yang cenderung mempertahankan kondisi nyaman tersebut. Upaya otak untuk mempertahankan kondisi nyaman inilah yang kemudian menimbulkan ‘craving effect’. Kalau kadar gula dalam otak saudara turun, saudara akan merasa lapar, dan saudara akan terdorong untuk mencari makanan. ’Rasa lapar’ seperti ini bisa terjadi pada mereka yang mengkonsumsi materi-materi pornografi, inilah yang kita sebut ’craving effect’. Saat seseorang menonton blue film, otak mereka mengenali sesuatu yang menyenangkan, dan terbentuklah ‘template’ nya. ’Template’ ini adalah suatu sistem yang bekerja untuk mempertahankan kesenangan tersebut. Ketika sumber kesenangan tersebut tidak ada, otak akan mendorong untuk mencari sumber kesenangan tersebut. Inilah ‘craving effect’, inilah ’porn addict’.

Karena itu, transformasi prilaku seksual akan terjadi ketika Firman Tuhan dihidupi secara penuh seperti yang dinyatakan dalam:
Roma 12 : 2 ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Saudara perhatikan, perubahan radikal seperti yang terjadi pada kupu-kupu yang mengalami metamorfosis bisa saudara alami bila saudara mengalami pembaharuan didalam akal budi. Akal budi yang memiliki tiga elemen (Touch, feeling, and will) bekerja dalam organ tubuh saudara yang disebut otak. Saya yakin ’porn addict’ bisa diatasi dengan ’Bible addict’. Mereka yang ‘Bible addict’ akan membaca dan merenungkan Firman Tuhan, siang dan malam. (draw)

Ditandai sebagai:, ,

Talk Only

Posted in Daily devotional, renungan by Be example on Mei 17, 2008

1 Yohanes 1:6-10

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta …” (1 yoh 1:6)

Awalnya gue kenal Tuhan, ada banyak anak-anak Tuhan yg menguatkan gue lewat firman Tuhan dan mereka juga menunjukkan sikap yg sangat ramah. Terang aja sikap mereka membuat gue yakin bahwa gak salah kalo gue memilih untuk mengenal TUhan lebih dekat. Buktinya mreka bisa memiliki pribadi yg sangat asyik untuk diajak ngobrol dan berteman.

Orang pertama yg ngajak gue ke gereja adalah seorang cew yg sikapnya sangat manis, lembut dan juga ramah. Karena keramahannya itu hanya dalam 5 menit ia berhasil mengajak gue ke gereja. Ia bercerita bagaimana hidupnya begitu diberkati di dalam Tuhan. Hal itu cukup memacu gue untuk mencari TUhan, tetapi setelah dua bulan gue rajin ke gereja di mana ia beribadah, gue baru tahu kalo dia kumpul kebo ama pacarnya. Dia bukannya membohongi gue, tetapi ia membohongi imannya dan membohongi Tuhan.

Youthers, kita mengaku bahwa kita begitu cinta TUhan, kita hidup dalam Tuhan dan rajin beribadah. Kita juga memberi semangat kepada banyak orang, menguatkan iman mereka dan bercerita tentang kebesaran Tuhan kita. Kita menunjukkan sikap bahwa kita orang yang hidup di dalam Tuhan. Tapi ketika diintip dari kehidupan kita sehari, pfff… Tuhan pasti sangat kecewa. :(    Sepulang gereja kita di rumah berantem ama ortu. Setelah mengikuti KKR kita malah ikutan teman nonton vcd porno. Setelah bersaksi tentang kasih Tuhan kita malah melakukan onani atau masturbasi. Buka internet dan cari situs porno atau chatting porno. Setlah menyanyi memuji Tuhan dengan semangat kita malah mencaci maki orang yg menyakiti hati kita.

YOuthers, JANGAN BOHONGI IMAN KAMU, terlebih Tuhan. Jangan cuma NGOMONG SOAL IMAN kamu. LAKUKAN apa yg kamu UCAPKAN maka itu akan membuktikan iman kita di dalam Dia (Vlo)

Think about it : Kalo cuma bisa ngomong mending gak usah ngaku cinta TUhan

Pray : TUhan, ajar aku untuk bertindak dan bersikap di dalam iman, bukan hanya sekedar ngomong aja.
Diambil dari Renungan “YOUTH” edisi 11 maret 2008 terbitan Maranatha Krista Media Surabaya. Bisa didapatkan di toko2 rohani di kota kamu.

Melalui renungan ini saya ditegur. Sya mengaku kalau saya anak-anak Terang, tapi hidup saya masih ada dlm gelap. Please help me! (daniel)

Ditandai sebagai:, , , ,

Seorang dokter berbicara untuk generasi ini

Posted in Hot News by Be example on Mei 17, 2008

Tahun 1985 adalah tahun yang amat berarti dalam kehidupan Andik Wijaya; Menyelesaikan pendidikan SMA dengan nilai terbaik di kotanya dan diterima di perguruan tinggi favorit melalui jalur PMDK (tanpa test) adalah impian hampir semua pelajar SMA. Impian tersebut adalah kenyataan hidup yang dialami Andik Wijaya pada pertengahan tahun 1985 tersebut; Namun dalam hati kecilnya Andik punya niat untuk menjauhkan diri dari lingkungan keluarga, serta teman-teman gereja untuk mencoba ‘hidup baru’ yang bebas sebagai seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Brawijaya, Malang. Namun ‘proses pelarian’ ini justru mengubah seluruh arah hidupnya. Di kota Malang, ternyata Allah telah menunggu dan menyiapkan suatu rencana yang amat Indah bagi hidupnya. Dalam suatu acara KKR mahasiswa baru, Andik justru bertemu secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus, dan menyerahkan diri untuk dipakai sebagai alat ditangan Tuhan. Bukan hanya itu, mujizat kesembuhan yang dialaminya dari sakit Asthma Bronchial Chronic (Sesak nafas menahun), meneguhkannya bahwa Tuhan akan memakainya di ladang Tuhan. Kerinduannya yang menggelora untuk melayani Tuhan membawanya pada pergumulan yang amat berat; terus melanjutkan studi sebagai mahasiswa Kedokteran atau berhenti studi dan masuk sekolah theologia agar bisa melayani Tuhan secara penuh waktu. Dengan menyadari bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk belajar sebagai mahasiswa kedokteran, akhirnya Andik dengan susah payah mengambil keputusan untuk menyelesaikan studinya, dan berharap kelak profesinya sebagai dokter dapat menunjang pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya. Selama masa studi kedokteran yang panjang tersebut Andik terus melibatkan diri dalam pelayanan di lingkungan siswa, mahasiswa, serta gereja lokal. Hampir setiap hari selalu ada pelayanan yang dilakukannya, mulai dari konseling pribadi, memimpin pujian, maupun sebagai pemberita Firman Tuhan. Bersamaan dengan itu pula, Andik Wijaya terus melengkapi diri dalam pemahaman Theologia baik melalui belajar mandiri dari buku-buku maupun dari sekolah theologia untuk kaum awam. Dalam proses pelayanan yang panjang tersebut, Andik terus berdoa agar Tuhan menyatakan VISI yang jelas dan spesifik untuk pelayanan yang harus dilakukannya. VISI YANG MAKIN TAJAM: Selama 20 tahun terakhir, sejak tahun 1986; pasti bukan kebetulan jika pelayanan Andik mayoritas bertema seks dan pernikahan. Pada saat kuliah (mungkin karena Andik seorang mahasiswa Kedokteran), banyak persekutuan siswa, mahasiswa, dan gereja lokal di kota malang memintanya sebagai pembicara dalam persekutuan atau seminar dengan tema LSD (Love, Sex, and Dating); Hal ini berlangsung sampai Andik menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran. Selama masa bakti sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kabupaten Tuban , Andik melibatkan diri dalam pelayanan di gereja lokal, di kota Bojonegoro (Gereka lokal terdekat dengan rumah dinasnya ). Di sini, Tuhan memberikan peluang pelayanan yang luar biasa. Setiap hari senin memimpin Persekutuan Doa Malam, Setiap hari rabu memimpin Ibadah Pembinaan Keluarga, Setiap jumat memimpin Persekutuan Pemuda, dan setiap 2 minggu memimpin Ibadah Raya. Merupakan pengalaman pelayanan rohani yang melimpah. Pengalaman, pendidikan dan pekerjaan di bidang kesehatan seksual mempertajam Visi hidup yang Andik jalani. Menjadi seorang seksolog adalah jawaban sebuah doa (kerinduan). Pada saat mahasiswa, Andik sering membaca di media bahwa setiap ada acara seminar tentang seks, selalu banyak peserta dan diberitakan secara luas. Andik berkata dalam hati, andai Tuhan memberi saya kesempatan seperti itu, saya akan gunakan kesempatan tersebut untuk memberitakan Kebenaran. Kerinduan tersebut menjadi kenyataan. Bukan kebetulan bila Andik mendapat tawaran dari University of Western Sydney untuk mengambil program Master of Reproductive Medicine. Dan setelah melewati semua proses seleksi akademik, Andik diterima sebagai mahasiswa post graduate dan dengan pertolongan Tuhan program tersebut diselesaikannya pada akhir tahun 2004. Sebagai Master of Reproductive Medicine, perlengkapan akademis Andik semakin memadai untuk mewujudkan VISI dan Panggilan Allah dalam hidupnya. Allah bukan hanya memanggilnya, tetapi sangat jelas Allah menyertai, memperlengkapi, mengutus dan mengurapinya dengan urapan yang selalu baru untuk melakukan pelayanan sebagai Penginjil dan Pengajar; Urapan Allah tersebut sangat nyata; dalam setiap KKR yang dipimpinnya banyak orang membuka hati dan mengalami kelahiran kembali; Setiap orang yang mendengar pengajarannya memberikan kesaksian bahwa apa yang selama ini sulit dipahami menjadi begitu sederhana untuk dimengerti sehingga mereka bertumbuh dalam kehidupan rohani, makin hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan Yesus Kristus. Haleluya! MENGAPA YADA INSTITUTE: Andik mengimani bahwa Tuhan memanggil, memperlengkapi, mengutus, dan mengurapinya untuk melayani dibidang yang sangat unik, ke-Intim-an (intimacy). Yang menjadi pergumulannya, dengan institusi apa Andik harus bergabung untuk mengoptimalkan pelayanannya. Dalam 20 tahun pergumulannya , Andik tidak menjumpai suatu institusi pelayanan yang sesuai dengan Visi dan Panggilan hidupnya. Dalam pergumulan tersebut Tuhan justru meletakkan beban dalam hatinya untuk mendirikan suatu lembaga pelayanan yang mewadai Visi dan panggilan hidupnya. Nama YADA muncul dalam benak Andik suatu pagi dibulan November tahun 2003. Nama YADA berasal dari bahasa ibrani yang dipakai sebanyak 1040 kali dalam Perjanjian Lama. Dua ayat penting yang menggunakan kata ini terdapat dalam Kejadian 4 : 1 dan Kejadian 18:19. Dari dua ayat ini jelas terlihat, kata YADA memiliki pengertian proses pengenalan yang mendalam antara suami-istri melalui hubungan seksual (keintiman horizontal) sekaligus proses pengenalan yang mendalam antara Allah dan Manusia (keintiman vertical); Pemahaman ini menjadi lebih jelas melalui surat Paulus kepada jemaat di Efesus 5: 31-32. Dari sinilah muncul nama YADA Institute, The School of Everlasting Intimacy. Melalui institusi ini Andik mengimani, Tuhan memanggil, memperlengkapi, mengutus dan mengurapinya untuk mengajarkan Everlasting Intimacy (keintiman abadi) melalui penyingkapan misteri seksual. Karena itu dua tema utama dalam setiap pelayanan YADA Institute adalah Menyingkap Misteri Seksual, Membangun Keintiman Abadi.

KKR dokter Andik Wijaya bersama dg anak2 muda sekota malang “Celebrete Jesus City” baru aja digelar di awal tahun 2008 ini.

http://www.yadainstitute.org

Ditandai sebagai:, ,

Jangan rangsang cinta sebelum saatnya

Posted in Relationship by Be example on Mei 17, 2008

Judul artikel ini bukan untuk membuat anda ngiler atau apa. INi adalah real kehidupan yg saya alami bahkan mungkin kawan2 alami. Kita harus bangkit mjd terang!

Ini sharing saya. Saya seorang pemuda usia 23 tahun.

Suatu ketika saat saya chat di channel #kristen (mIRC), tiba2 ada seseorang yg dikick dari channel krn sedang masuk di channel lain yg “hot”. Lalu saya ikutin. Eh, saya yg selama ini udah jaga2 jarak terhadap hal itu malah hmm. Saya jadi merasa aneh. Apakah ini serangan ? Mungkin iya. Krn pelayanan saya jg membantu org2 spt itu. Saya heran kenapa mereka begitu menyukai dg hal spt itu. Selidik menyelidik krn jiwa muda saya akhirnya saya jadi ketagihan. Upz. Saya rasionalisasikan saja :Apakah salah kalau saya ingin mengetahui kehidupan di luar sana?! sementara yg saya lihat saat ini berbeda dg kehidupan saya 3 tahun yg lalu sblm saya bertobat. Rasionalisasi yg pertama berhasil dan tdk menghasilkan rasa menyesal dan jera. Sudah dilayani pelepasan ternyata tetep aja bs jatuh. Setan terus menyerang lewat pikiran. Saya tahu itu dan saya menyadarinya. I realize that! Sempat saya masuk ke channel itu lagi dan ketahuan sama seseorang yg pnh saya ajak ngobrol ttg hal rohani bbrp hari sebelumnya. Saya senang berbicara rohani. Wow. Sya katakan pda dia bahwa saya sedang belajar sex education. Ha3… rasionalisasi yg mantap. Really ? Hmm. Dan dia katakan bahwa “melihat channel spt ini bukanlah sex education. Itu kontras sekali dg hidupmu!” Sya katakan bahwa saya pelayan tapi jg saya ingin mengetahui sisi lain kehidupan di luar sana. “Terus kenapa kakak liat di chann ini? wah kakak ketauan nih ma aku :) “. “Aku masuk ke chann ini gara2 kamu!”.”Whats?”. Saya pura2 kalau saya cm hanya ingin sekedar tahu. Padahal jiwa muda saya sedang bergelora.

Saya sering mendengar kotbah dan membaca buku bahwa :

1. “Masturbasi / onani itu normal. Itu untuk memenuhi kebutuhan biologismu!” hmm betulkan demikian ? itu hanya tipu daya iblis untuk membuat kamu jatuh dan semakin jauh dari Tuhan.

2. Kita adalah imam2 Allah. Apakah selayaknya kita melihat hal spt itu ? tanyakan itu pada diri anda sendiri.

3. “Kita tdk bisa menghindari pornografi dlsb. Yang bisa kita lakukan adalah Lari spt Yusuf……….. ” terus kalau lari tp masi kebayang gmn donk ?…. alihkan fokus. Mungkin untuk beberapa org bisa. Tapi bgmn dg yg sensitif ?….

4. “Lihat vcd dan gambar porno itu normal”. Mungkin bisa jg sih. Untuk memuaskan rasa ingin tahu kita. Yap! rasa2nya itu alasan yg tepat. Tp bgmn dg rangsangannya ?

Baru-baru ini saya ngobrol via chatting irc dg seorang cow yg mengaku masih duduk di kelas 1 SMA di jakarta. Dia mengatakan kalau di indonesia menonton film2 luar negeri yg tanpa sensor itu masih tabu krn soal budaya. Krn budaya indonesia masih memegang adat ketimuran. Dia mencontohkan di luar negeri. Kakaknya  yg di luar negeri bilang ke dya  kalau di luar negeri itu ciuman bibir dlsb sdh dianggap biasa. Film2  dg adegan syur itu sdh biasa krn dari kecil sdh diajarin sex education dg benar.  Sampai “kumpul kebo” jg dianggap biasa. Ini berbicara soal respon seseorang dan budaya. Bahkan saya dengar di Belanda anak umur 12 thn sudah berhubungan sex. Wow. Bgmn dg di negeri kita ?

Kalau tmn2 search di google, pasti ada pertanyaan di forum ttg sex, seorang anak muda yg inosence tanya soal sex. Mungkin ini pertanda bahwa kehausan akan sex education di indonesia sudah hrs ditanggapi. Dokter andik sudah memulainya.

Sbg seorang pelayan, mgkn kita bilang : no sex before married! dg tegas malahan. Sampai bilang ke yg lain “jgn ikutan2 arus dunia”. Wah… suatu ketika kita diuji. Apakah kita tetap bertahan pada pendirian kita? itu jd problemnya. Ngomongnya sih gampang  : kita harus hidup kudus. Tanpa kekudusan tak seorangpun dpt melihat TUhan. Kekristenan tanpa kekudusan nonsensen bla bla bla. Saya sering mengatakan spt itu. Dan setelah jatuh jadi malu untuk mengatakannya. Hmm. Ga aneh kalau ada Pendeta jatuh ke dosa amoral lalu meninggalkan pelayanannya. Krn ini problem kekudusan. Bukan saja terjadi di indonesia (kalau bicara soal culture), seorang pendeta terkenal di amerika pun mengundurkan diri gara2 hal ini. Tp ada jg yg meskipun tetap pelayanan di dlm terang tapi tetap jg melakukan hal2 di kegelapan. Yah… Gajah diblangkoni,,, iso kotbah ga iso nglakoni. Itu pepatah jawa. Lalu gimana spy kita bisa menjaga kekudusan ? keputusan ada di tangan kita.

Coba perhatikan kalau mungkin di sekeliling kita ada tmn2 pelayan yg sudah bosen melayani. Mungkin dia sedang mengalami problem kekudusan. Yaps! itu sptnya jg terjadi dg seorang teman saya. Saya mendengar kalau dia sering membawa pacarnya di kostannya. saya sdr jg melihatnya. Dan akhirnya dia jadi males melayani di gereja. Saya melihat hal spt ini sudah sangat biasa tjd di kalangan anak muda. Apalagi yg kost. Saya sdr mengalaminya. Tau kalau itu salah, bahkan tau kalau itu bujukan iblis, tapi tetep aja dilakuin. Kita belum kapok melakukan sesuatu kalo tdk merasakan penderitaan yg diakibatkannya.

Btw, bgmn kalau seumpama kita anggap hal spt itu biasa (spt kulture barat) shg kita tdk tergoda lagi ? dg demikian menaikkan ambang sensitivitas kita thd sex. Tp yg saya tahu dg tdk memenuhi pikiran kita dg sex kita bs jauh dari dosa amoralitas spt ini. Untuk melengkapi share saya, silahkan teman2 berkomentar. (valent)

Anybody want to share ?

Ditandai sebagai:, , , ,