Ladang misi pertama kita : Keluarga
Aku mendapat pelajaran berharga dari blog seseorang yang bernama esther . Di blog dia mengutip sebuah kalimat “Ladang misi pertama kita adalah keluarga kita”. Sebelum kita mau misi ke penjuru dunia, kita harus melewati ladang misi kita yg pertama. Kalau hubungan kita dengan keluarga tidak beres, itu akan berdampak pada pelayanan kita, pada pekerjaan kita, pada orang2 yg kita layani. Demikian juga hubungan dengan teman2/sahabat2 kita. Ada masalah pasti ada solusi. GBU
Andaikan umurku tinggal 3 bulan…
Mazmur 90:12.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Apa yg akan kita perbuat jika umur kita tinggal beberapa bulan atau bahkan tinggal beberapa hari? Kita didiagnosis menderita kanker atau bahkan penyakit yg tidak ada obatnya? Sebuah kesaksian seorang mahasiswi di Malang – Jawa Timur. Suatu ketika di kampus, PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) akan mengadakan sebuah KKR. KKR ini diadakan dengan tujuan supaya ada pertobatan di kalangan mahasiswa, ada pembaharuan pikiran. Salah satu aktivisnya adalah seorang mahasiswi yang bernama Stevy (nama samaran). Stevy dan beberapa teman2nya menyiapkan acara ini bener2. Bahkan stevy kelihatan seperti terburu2 dan terus menyemangati dan memotivasi teman2nya. Namun, beberapa hari sebelum menjelang hari H KKR itu, stevy menghilang. Dia pulang ke kampung halamannya. Dan terdengar berita bahwa Stevy mengidap leukimia (Kanker darah) dan didiagnosa meninggal dalam beberapa hari. Dan benar stevy telah meninggal. Hal itu membuat sebuah kebangkitan yg besar bagi teman2 aktivitisnya untuk melangsungkan KKR ini. Dan KKR ini benar2 membawa sebuah perubahan. Dan mereka dilawat Tuhan.
Saya terharu ketika mendengar cerita ini dari seorang teman WL Youth di gereja kami. Kalau seorang stevy bisa memanfaatkan waktunya untuk lebih bekerja untuk Tuhan, krn dia tau hari2nya sudah tidak lama lagi, kenapa kita tidak? kenapa kita yg masih punya banyak waktu tidak kita gunakan untuk menyembah Tuhan semasa kita hidup? Mari memanfaatkan waktu kita untuk bekerja di ladangnya. Tuhan pasti tunjukkan apa yg menjadi panggilan kita. GBU
Iri hati, no way!
Bbrp hari ini aku bingung mikirin nilaiku, apakah harus aku perbaikin atau tidak. Kalau aku perbaikin terpaksa aku harus molor ikut yudisium gelombang ke dua bulan Desember (terlambat 3 bulan dari gelombang 1). Seorang temanku bilang kalau aku jangan mengejar nilai, nilaiku udah cukup bagus. Ya bisa dibilang standar tp sudah sangat memuaskan sih. Dan akhirnya aku bingung ketika melihat yg lainnya dapat nilai bagus. Sepertinya ada dorongan untuk aku mengungguli mereka. Ya, aku tdk puas dg hasil yg aku dapatkan. Apalagi ada 2 mata kuliah yg dpt C. Apakah harus aku perbaiki atau tidak. Dan seorang temenku lagi bilang kalau IPK udah di atas 3,0 ga usah diperbaikin deh. Aku tersenyum, agak bingung dg keputusanku ini. Bbrp hari yg lalu aku diingatkan untuk tidak menoleh ke orang lain. Maksudnya untuk tidak mengejar apa yg dicapai orang lain. Tetep fokus ama apa yg Tuhan beri dalam hidupku, apa yg menjadi bagianku. Dan terus terang aku agak bingung dg hal ini. Akupun ga mau menyakitin temen2ku yg IPKnya di bawah aku dg aku ikut SP (semester pendek) maupun Ujian khusus. Ya memang sih itu salah mereka kalo mereka sampe sakit hati. Tp, kasihan kalo gara2 aku mereka jd sakit hati. Setelah aku pikir2 sih aku memutuskan untuk tdk ikut gelombang 2 dan langsung ikut gelombang 1. Tp semua itu menunggu Skripsiku selesai.
Tadi siang aku liat TV lokal di malang menyiarkan acara yg berjudul “warung anda”. Nah, ada seorang ibu penjaja gorengan di wawancarai ttg usahanya. Ibu itu berkata “Ya, memang sudah rejeki saya untuk berjualan di sini. Setiap hari laris”, kurang lebih spt itu kutipannya. Setiap orang punya jalan hidup masing2. Punya panggilan hidup (destiny) masing2. Dan aku punya Tuhan yg ngatur segala hal di masa depanku. Dia gembalaku. Aku ga perlu kuatir akan apapun juga. Akan pekerjaanku kelak. Aku serahkan kepada Bapa Sang sumber hidup. Jesus is my future.
Ku mau berubah…
Terkadang kita mau berubah dg kekuatan kita sdr. Tp kita akan berubah ketika mengalami perjumpaan dg Tuhan.
Orang yg sombong, kasar adalah orang yg tdk disukain orang. Orang sombong adalah orang yg belum diproses. Christianity Life is Process. Proses menjadi serupa dengan Kristus. Amen
Be FOCUS
1 Timotius 4:8
Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Surat Timotius adalah surat dari Paulus untuk seorang pemuda bernama Timotius, yg mewakili kita2 anak muda. Paulus tidak membandingkan timotius dg anak muda yg lain tp dia menunjukkan siapa Timotius di dalam Tuhan.
Ibadah adalah ekspresi seorang yg mengasihi Tuhan dg cinta dan ketulusan. Seperti seorang pemanah akan terus berlatih memfokuskan anak panahnya agar bisa sampai 1 km, 2 km, 3 km sampai dalam beberapa tembakan semuanya tepat pada sasaran. Semua itu tergantung seberapa sering dan fokusnya seorang pemanah dalam latihan. Demikian juga dalam kita ibadah. Jika kita tidak fokus dalam ibadah, bisa ditebak apa jadinya kehidupan rohani kita.
Apa yg menjadi fokus ibadah kita? apakah kita cm cari si dia? si dia yg pake baju coklat, rambut hitam, panjang, manis hhmmmm…. Be FOCUS!
Waktu ini tidak akan pernah terulang lagi.. kehidupan saat ini untuk kehidupan di kekekalan, memerintah bersama Tuhan di Sorga. AMen
Slama ku hidup, ku hidup bagiMu….
Yesus Kau kebenaran
Yang menyelamatkanku
Kau memberikanku hidup dan pengharapan…
Ku ikut kehendakMu
Ku perlu anugerahMu
Ku nyatakan janjiku kepadaMu…
Reff :
Kalau ku hidup, ku hidup bagiMu
Hatiku tetap, tetap menyembahMu
Dunia tak bisa menjauhkanku dari KasihMu
Slama ku hidup, ku hidup bagiMu
Mataku tetap, tetap memandangMu
Dunia tak bisa menjauhkanku dari KasihMu
Lirik lagu di atas emang bener2 indah.. ga hanya indah liriknya tp message di dalamnya luar biasa banget… Yap, selama kita hidup, yg adalah pemberian Tuhan, maka kita wajib hidup bagiNya, bagi KemuliaanNya.
Rahasia Hidup Berkemenangan
Dalam menempuh hidup, manusia kerap kali menghalalkan segala cara. Dorongan menghalalkan segala cara itu dikarenakan manusia ingin bergegas sampai pada tujuan. Terlebih dalam dunia usaha,berbagai metode atau strategi selalu dilakukan. Tidak jarang cara-cara supernatural digunakan
Banyak orang menggunakan segala cara karena mereka merasa putus asa, tidak memiliki harapan, atau mengalami jalan buntu karena merasa gagal. Akibatnya stres, depresi, dan frustrasi memadati hidup.Hidup itu sendiri merupakan misteri. Karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Hidup juga berarti perjuangan, peperangan, dan penuh tantangan. Pendeknya, hidup itu merupakan perjalanan yang singkat dan penuh tanda tanya. Kitab 2 Tawarikh 20:1-25, menceritakan keberadaan Raja Yosafat ketika berperang menghadapi bani Moab dan bani Amon. Meskipun ia seorang raja yang besar tetap saja timbul perasaan “takut”. Padahal kalau kita baca dalam pasal-pasal sebelumnya, ia selalu berhasil dalam berperang. Kemenangan dan kemasyhuran lekat pada dirinya. Menang dalam perang menunjukkan bahwa ia ahli strategi, sehingga sebenarnya tidak perlu ragu, khawatir apalagi takut.
PROBLEM SOLVER
Tetapi faktanya, dalam perikop ini, Raja Yosafat memiliki rasa ”takut”. Ayat 3 jelas menyebut: Yosafat menjadi takut, … Kejadian 3:10 menulis sejarah timbulnya rasa takut. Adam dan Hawa merasakan takut yang mula-mula akibat berbuat dosa. Jadi jelaslah bahwa, dosa dapat menyebabkan rasa takut yang timbul dalam hati manusia. Dosa identik dengan Iblis yang membuat manusia menjadi takut, tidak memiliki harapan, khawatir, cemas, putus asa, stres, depresi, dan akhirnya menempuh cara-cara yang tidak sehat seperti bunuh diri. Apakah ini cara terbaik? Tentu tidak!
Ada satu jawaban pasti, bahwa di dalam Tuhan Yesus ada jalan keluar. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:13 mengingatkan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa. Artinya, bahwa setiap anak-anak Tuhan harus memiliki paradigma baru dalam menghadapi masalah. Jangan berkata, ”Wah ini persoalan sangat berat, aku nggak kuat.” Tapi kita katakan, ”Puji Tuhan, bahwa cobaan-cobaan adalah hal yang biasa saja, karena Tuhan Yesus akan tolong kita, Dia akan memberikan jalan keluar, karena Dialah Problem Solver bagi kita” (Mzm. 121:1-8).
Ketika mendengar bahwa musuh sudah mendekat, rasa takut itu meng-gelora. Raja Yosafat mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Inilah rahasia pertama. Kalau kita mau hidup berkemenangan, maka haruslah kita mencari Tuhan. Jangan cari yang lain! Tempatkan Tuhan Yesus pada urutan pertama dalam hidup. Kita akan mengalami peperangan, di mana Allah yang berperang ganti kita (Kel. 14:14).
Mencari Tuhan dengan tekun dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan membawa kita dalam kemenangan. Kalau Allah bersama kita, siapakah yang akan melawan kita? (Rm. 8:31). Rahasia kedua adalah …mata kami tertuju kepada-Mu (2 Taw. 20:12). Raja Yosafat memiliki sikap hati yang jelas. Matanya tertuju kepada Tuhan. Mata yang tertuju itu mengandung arti kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Tuhan. Inilah yang harus kita miliki. Rendah hati merupakan karakter Tuhan Yesus (Mat. 11:29). Harus dicamkan bahwa Allah membenci kesombongan dan tinggi hati. Karena kesombongan adalah titik awal kegagalan atau kehancuran (Yak. 4:6).
Rahasia ketiga adalah adanya kebersamaan, keintiman, dan kesehatian (2 Taw. 20:13). Allah akan memberikan segala perjanjian-Nya kepada orang-orang yang karib dan akrab dengan-Nya (Mzm. 25:14). Sebab itu marilah kita intim dan akrab dengan Tuhan. Dan kita akan mengalami hidup berkemenangan. Amin.
(Pdt. Ir. Jacob Rahmat, MBA)
Penulis adalah Gembala Sidang GBI Yesus Kristus Juruselamat
di Vila Melati Mas Tangerang, Gading Serpong Tangerang
dan Kelapa Gading Jakarta Utara.
http://www.bahana-magazine.com/?p=productsMore&iProduct=142&sName=Rahasia-Hidup-Berkemenangan






















