Suka Bertengkar
Ringkasan kotbah Ibadah Youth GBI Diaspora Sejahtera (DIYOFA) Malang Jawa Timur 22 November 2008
Yakobus 4:1
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
Semua orang pingin jadi no 1, terkaya, terbaik dst.
Jika kita ingin memuaskan keinginann kita mengalahkan kebenaran > jadi orang congkak
Ini jebakan!!! Ini jebakan hawa nafsu! > daging > binasa
Keinginan daging membawa kita kepada kebinasaan
Bersahabat dengan dunia (harta, gelar) = temenan ama iblis = menjauh dari Tuhan
Hiii,,, kamu ini WNS (Warga Negara Surga) !!!
Ketika kamu membanding2kan dirimu dg orang lain, itu daging kamu = menjauh dari Tuhan > congkak > timbul pertengkaran.
Apa yang kamu cari dalam hidupmu ? gelar ? kekayaan ?
Dunia ini penuh persaingan < sumber pertengkaran.
Marketting itu ilmu untuk menjadi yang terbaik.
Tuhan menentang orang yg congkat tapi mengasihi orang yg rendah hati
Congkak > iri hati > pertengkaran (Yak 4:1)
Pertengkaran itu oleh karena hawa nafsu kita.
Saat engkau mengejar hal2 duniawi, saat itu jg engkau sedang jauh dari Tuhan
Penyakit Kemakmuran
Lukas 12:13-21
12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Masalah orang kaya ini bukan karena ia mempunyai hasil bumi yang melimpah, atau karena ia memutuskan membangun lumbung yang lebih besar. Masalah adalah ia menginvestasikan seluruh hidupnya untuk harta. Ia meraih rasa aman dari harta bendanya tetapi gagal menjadi “Kaya di hadapan Allah.
Menolak pengetahuan dan ajaran Allah sebagai dasar hidup adalah perbuatan bodoh orang kaya itu. Ia hidup pada saat itu dan menganggap masa depannya sudah terjamin dengan banyak harta.
“Hidup yang baik” tidak dapat ditemukan dalam harta yang melimpah. Kita tak dapat menemukan ketentraman hati dengan memborong “lebih banyak harta”. Kita hanya akan memperoleh kepuasan sejati dengan menginvestasikan sumber penghidupan serta hidup kita dalam dan untuk kerajaanNya.
Saya ingin tahu apakah hidup seperti ini benar, sebab kita berusaha menemukan ketentraman jiwa dengan memiliki “lebih banyak barang” — barang yang hanya bersifat sementara dan cepat lenyap.























1 komentar