Agaknya orang itu mengenal juga ajaran agama Islam. Hal itu antara lain terbukti bukan saja karena disebutnya nama Nabi Muhammad, tetapi juga karena dikemukakannya pandangan-pandangan yang dianut oleh agama Islam (bandingkan artikel “Injil Barnabas: Waktu Penulisan” dalam situs ini).

Keterangan yang penting pula adalah tentang bahasanya, yakni dialek Tuska-Venezia (jadi dari wilayah Italia bagian Utara), dengan kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pengaruh bahasa Spanyol. Agaknya pengarang hidup di Spanyol dan di Italia dan mempunyai hubungan dengan Gereja dan dengan agama Islam.

Apakah di samping bahan-bahan yang agak samar itu masih ada keterangan lain yang lebih jelas? Dapatkah ditunjuk keadaan, dalam mana kitab semacam itu dikarang oleh seorang yang mengetahui seluk-beluk Gereja dan agama Islam?

Marilah kita lihat keadaan pada zaman itu di Spanyol dan di Italia. Pada masa itu keadaan orang Yahudi dan orang Islam sangat menyedihkan karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi. Banyak orang Yahudi dan penganut agama Islam dipaksa menjadi Kristen. Dan mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius. Penganiayaan itu mencapai puncaknya pada akhir abad ke-16!

Apakah ada kemungkinan pemalsuan injil itu dikarang oleh seorang yang dipaksa masuk agama Katolik Roma serta harus mengikuti pendidikan Katolik Roma, dan dengan demikian ia “membalas dendam” atas segala sesuatu yang dideritanya dari pihak Gereja Katolik Roma? Anggapan tentang bentuk pemalsuan itu tidak begitu jauh dari sasarannya. Sebab pada akhir abad ke-16 beberapa pemalsuan injil beredar di Spanyol. Kitab-kitab itu dikarang dalam bahasa Arab dan dikatakan berasal dari rasul-rasul Yesus. Spanyol digemparkan oleh kitab-kitab tersebut, akan tetapi ternyata pemalsuan belaka!

Naskah-naskah itu dikarang oleh dua orang, yakni Alonso de Castillo dan Miguel de Luna, kedua-duanya juru bahasa dari golongan Morisko [2]. Kelompok Morisko adalah pemeluk agama Islam yang dipaksa berganti agama dan masuk agama Katolik Roma. Namun hal itu dilakukannya lahiriah saja, tidak dalam lubuk hatinya. Di samping kelompok Morisko terdapat pula golongan Marrano, yakni orang-orang Yahudi yang dipaksa masuk agama Katolik Roma, namun secara batin tidak dianutnya.

Perlu dikemukakan juga bahwa banyak orang di Spanyol, yang pada akhir abad ke-16 dipaksa berganti agama, melarikan diri ke Italia. Dapat ditambahkan pula bahwa Fra Felice Peretti de Montalto yang kemudian menjadi Paus Sixtus V, sangat giat menganiaya orang yang belum berganti agama di Venezia (Italia) pada tahun-tahun 1558-1568. Apakah mungkin pengarang Injil Barnabas berasal dari golongan Morisko atau Marrano?

Adapun latar belakang pengarang yang berbau Spanyol jelas terbukti dari Injil Barnabas pasal 54. Dalam pasal itu dikemukakan tentang sekeping uang “denarius” (Abubakar/Basjmeleh: “sekeping emas”, Rahnip: “sepotong emas”) yang terbagi dalam 60 “minuti” (Abubakar/ Basjmeleh: “filis“, Rahnip: “bagian”). Yang dimaksud adalah sekeping mata uang Spanyol kuno!

Selanjutnya harus kita lihat apakah yang diungkapkan di dalam Injil Barnabas pasal 191 dan 192. Dalam pasal-pasal itu diceriterakan bagaimana kitab Musa yang benar diketemukan oleh Nikodemus di perpustakaan Bait Allah. Dalam kitab Musa itu “tersurat bahwa Ismael adalah ayah Mesias, dan Ishak adalah “ayah utusan Mesias”, dan seterusnya. Kemudian Nikodemus mengemukakan”, “Kitab itu tidak sempat saya baca seluruhnya, karena Imam Agung –saya berada di ruang perpustakaannya– melarang saya, sambil berkata bahwa kitab itu dikarang oleh seorang Ismaeli.”
Dari ayat itu jelas pula pengaruh agama Islam atas Injil Barnabas. Menarik sekali kalau bagian Injil Barnabas tersebut dibandingkan dengan bagian kata pendahuluan naskah berbahasa Spanyol.

Dalam kata pendahuluan naskah yang berbahasa Spanyol (yang tidak termasuk Injil Barnabas) dikemukakan bahwa naskah Injil Barnabas bahasa Italia dicuri oleh seorang rahib bernama Fray Marin (atau Fra Marino) dari perpustakaan Paus Sixtus V (1585-1590). Menurut ceritera Fray Marin adalah teman Paus Sixtus V. Ketika mereka berdua sedang bekerja bersama-sama di perpustakaan Vatikan Roma, tertidurlah Paus dan Fray Marin menemukan Injil Barnabas. Kemudian Injil Barnabas disembunyikannya dalam lengan bajunya dan dibawanya ke luar perpustakaan. Sesudah dibacanya dia memeluk agama Islam. Menurut kata pendahuluan tersebut Injil Barnabas diterjemahkan oleh Mustafa de Aranda dari bahasa Italia ke dalam bahasa Spanyol.

Apabila kita pertimbangkan bahwa:
a) Injil Barnabas mempunyai latar belakang Spanyol seperti terbukti oleh nama sekeping mata uang;
b) ejaan bahasa Italia dipengaruhi oleh bahasa Spanyol;
c) orang-orang yang berganti agama dan memeluk agama Islam sering kali menggantikan namanya; dan
d) banyak orang Marrano dan Morisko melarikan diri dari Spanyol ke Italia, sehingga kemungkinan besar Fray Marin dan Mustafa de Aranda adalah orang yang sama. Dan orang itulah pengarang Injil Barnabas, sehingga hal itu patut dipertimbangkan.

Memang kepastiannya tak dapat dikuatkan. Namun dapat dikemukakan bahwa Paus Sixtus V sangat giat menganiaya orang yang belum masuk agama Katolik Roma; dan pada akhir abad ke-16 beredar beberapa pemalsuan Injil. Jadi ada kemungkinan kitab Injil Barnabas dikarang oleh orang tersebut karena kegeramannya atas penganiayaan dan dengan demikian secara diam-diam mendukung agama Islam.

Dalam naskah bahasa Spanyol diungkapkan pula bahwa Mustafa de Aranda melarikan diri ke Istambul (Turki). Peristiwa itu mungkin dapat memberi kejelasan atas fakta bahwa catatan-catatan dalam bahasa Arab yang terdapat pada pinggiran naskah yang berbahasa Italia memperlihatkan pengaruh Turki, sebagairnana ditetapkan oleh para ahli.
Apakah dalam keseluruhannya masih dapat ditempatkan juga unsur-unsur Yahudi yang terdapat dalam Injil Barnabas?

Salah satu unsur Yahudi ialah penyangkalan bahwa Yesus adalah Mesias (Injil Barnabas pasal 42 dan 96). Bahwa Yesus adalah Mesias (Almasih) tidak disangkal dalam Alkitab dan tidak disangkal dalam Quran, melainkan oleh orang Yahudi. Kisahnya mungkin begini: seorang Yahudi berkebangsaan Spanyol dipaksa memeluk agama Katolik Roma dan harus mengikuti pendidikan Katolik Roma, kemudian ia berkenalan dengan agama Islam lalu memeluk agama ini; sebagaimana banyak orang lainnya dia meninggalkan Spanyol dan pergi ke Bologna (Italia), dan di kota itu dikarangnya Injil Barnabas baik dalam bahasa Italia maupun dalam bahasa Spanyol. [3] Walaupun uraian di atas tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara mutlak” namun bermacam-macam unsur dalam Injil Barnabas dapat dijelaskan olehnya.

Catatan kaki:
1 Dalam pasal 80 dinyatakan bahwa Daniel berumur 2 tahun ketika dia ditangkap oleh Nebukadnezar. Akan tetapi menurut Perjanjian Lama, kitab Daniel pasal 2 ayat l, tertulis bahwa Daniel diminta nasihatnya oleh raja Nebukadnezar “Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar…” Setelah itu Daniel berkuasa atas sebuah propinsi. Kalau begitu, hal itu terjadi ketika Daniel berumur 3 atau 4 tahun?! Mustahil!

Perihal pengetahuan pengarang Injil Barnabas tentang Perjanjian Baru periksalah catatan mengenai Barnabas pada akhir bab 4 buku ini.

2 Lihat T.D. Kendrick, St. James in Spain, London, 1960, bab V, dan Peter Dressendorfer, Islam unter der Inquisition. Die Morisco Prozesse in Toledo, 1575-1610, Wiesbaden, l971.

3 Khalil Saadah pun menarik kesimpulan sebagai berikut “bahwa penulis asli dari Indjil ini adalah seorang Jahudi dari Spanjol jang telah memeluk agama Islam”, lihat Indjil Barnabas, terjemahan Abubakar/Basjmeleh” hlm. XXIV.

Keseluruhan artikel dikutip dari Bab III Buku Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp yang diterbitkan oleh Yayasan Kanisius tahun 1983

Redaksi telah mengedit beberapa bagian (redaksional)

http://www.oyr79.com