Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sesudah keempat Injil yang dimuat dalam Perjanjian Baru, beredarlah bermacam-macam kitab di dalam Gereja Purba yang dalam beberapa hal menyerupai Injil-Injil, akan tetapi tidak diakui oleh Gereja sebagai kitab berwibawa (kitab kanonik). Kitab-kitab itu disebut injil apokrif. misalnya injil Thomas, injil Petrus, dan sebagainya. Kitab-kitab tersebut tidak dikarang oleh Thomas” Petrus” dan lain-lain. Kitab-kitab itu ditulis jauh kemudian daripada keempat Injil dan tidak diakui oleh Gereja. Begitulah dalam Gereja Purba pernah disebut adanya sebuah “injil Barnabas”. “Injil” itu untuk pertama kalinya dicantumkan dalam apa yang disebut Decretum Pseudo-Gelasianum (Decretum = surat keputusan Paus; pseudo = yang tidak asli). Dalam surat keputusan Paus itu dicantumkan daftar buku-buku yang oleh Gereja tidak diakui sebagai kanonik (= berwibawa); dalam daftar itu disebut juga “‘injil” Barnabas. Daftar itu berasal dari abad keenam sesudah Masehi. Berita yang lebih tua tentang “injil” itu tidak ada! [1]

Lagipula dari zaman Gereja Purba tidak pernah diketemukan satu ayat pun atau sebagian dari “injil” Barnabas. Dalam suatu tulisan [2] hanya terdapat ungkapan: “Rasul Barnabas bersabda: dalam pertikaian yang buruk, pihak yang menanglah yang paling menderita, sebab ia meninggalkan pertempuran dengan dibebani dosa yang lebih besar.” Namun tidak dinyatakan bahwa ungkapan itu berasal dari sebuah “‘injil” Barnabas.

Ungkapan tersebut dapat pula merupakan tradisi lisan yang turun-temurun. Apalagi ungkapan itu sama sekali tidak terdapat dalam Injil Barnabas! Bahkan beberapa ahli meragukan tentang adanya sebuah “injil apokrif Barnabas”. Tidak ada tanda bahwa sebuah “injil” Barnabas dipakai di Gereja sampai masa Dekrit Gelasius. Apalagi perlu kita ingat bahwa bahasa Italia pada waktu itu belum ada. Memang ada sebuah “surat apokrif Barnabas” yang menurut para ahli tidak berasal dari Barnabas. Ada pula kitab apokrif “Kisah Rasul Barnabas”, suatu pemalsuan dari abad kelima, yang ditulis dengan maksud untuk memuliakan pulau Siprus, di mana menurut keyakinan para penduduknya terdapat makam rasul Barnabas.

Sebagaimana tadi dikemukakan ada ahli yang meragukan apakah dalam Gereja Purba memang pernah ada sebuah injil apokrif Barnabas. Mungkin pada masa silam timbul gagasan tentang sebuah injil apokrif Barnabas, karena di dalam kitab “Kisah Rasul Barnabas” terdapat ungkapan yang diartikan salah. Dalam “Kisah Rasul Barnabas” kita baca: “Sesudah Barnabas mengabar injil yang diterimanya dari kawan sepelayanannya Matius, ia mulai mengajar orang-orang Yahudi.”

Menurut legenda yang muncul kemudian uskup-uskup Siprus menemukan kembali jenazah Barnabas dengan Injil Matius yang disalin oleh Barnabas di atas dadanya. Kalau ceritera itu dituturkan tanpa menyebut nama Matius, timbullah kesan seolah-olah Barnabas sendiri mengarang sebuah Injil. [3]

Jadi tidak terdapat bukti apa pun bahwa injil apokrif Barnabas, yang tercantum dalam dekrit Pseudo-Gelasianum itu, sama dengan Injil Barnabas!

Jadi melalui jalan ini tidak dapat diteliti kapan Injil Barnabas ditulis. Kita harus menyelidiki isi Injil Barnabas untuk menelusuri apakah ada tanda-tanda yang dapat menerangkan tanggal terjadinya Injil Barnabas. Apakah yang menarik perhatian kita kalau isinya diselidiki?

1. Pengarang Injil Barnabas pasti bukan orang semasa Yesus, yang mengikuti Yesus sebagai murid. Hal itu terbukti antara lain sebagai berikut:

a) Dalam judul Injil Barnabas, dan juga di tempat-tempat lain Yesus disebut “Kristus”, akan tetapi dalam pasal 96 Yesus menolak bahwa Dia adalah Mesias. Jadi pengarang tidak mengetahui bahwa “Kristus” adalah terjemahan bahasa Yunani dari kata Ibrani/Aram “Messias” yang sama artinya! [4]

b) Menurut pasal 3 Yesus dilahirkan pada waktu Pilatus memerintah atas Yudea, namun sebenarnya Pilatus menjadi gubernur pada tahun 26 atau 27 sesudah Masehi” ketika Yesus berusia ± 30 tahun

c) Dalam pasal 20 diceriterakan bahwa Yesus “berlayar” ke Nazaret; itu mustahil, sebab Nazaret tidak dapat dicapai dengan kapal.

d) Dalam pasal 91 dikemukakan bahwa di wilayah Yudea ada 600.000 tentara; hal itu pun mustahil, sebab di seluruh daerah jajahan Romawi jumlah tentaranya tidak melebihi 300.000 orang.

e) Selama 40 hari Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke bukit Sinai untuk melakukan syariat puasa 40 hari; dikemukakan seolah-olah masa puasa semacam itu sudah menjadi adat-istiadat (pasal 91 dan 92). Padahal pada waktu Yesus hidup puasa 40 hari itu belum merupakan kebiasaan.

2. Jelaslah pengarang bukan orang sezaman dengan Yesus. Bahkan dapat kita buktikan bahwa pengarang hidup sesudah Nabi Muhammad. Muhammad yang hidup beberapa abad sesudah Yesus, oleh Yesus disebut dan ditunjuk sebagai Mesias. Hal itu nampak dalam dua pasal. Dalam pasal 44 kita baca ungkapan Yesus:

Ya Muhammad, semoga Allah besertamu dan menjadikan aku layak untuk membuka tali kasutmu, karena apabila aku memperoleh itu, aku akan menjadi seorang nabi yang besar serta seorang kudus Allah.

Dalam pasal 97 kita baca percakapan antara seorang imam dengan Yesus sebagai berikut:

Maka imam itu bertanya, “Bagaimanakah Mesias itu akan dinamakan, dan tanda apakah yang akan menunjukkan kedatangannya?”

Yesus menjawab, “Sesungguhnya nama Mesias itu terpuji; karena nama itu diberikan oleh Allah sendiri, tatkala rohnya diciptakan Allah dan diletakkan-Nya dalam kemegahan surgawi. Allah berfirman: Sabarlah Muhammad; karena untukmu Aku akan menciptakan firdaus, dunia dan sejumlah besar makhluk, yang Kuhadiahkan kepadamu, sehingga barangsiapa yang memberkati engkau akan diberkati; dan barangsiapa yang mengutuk engkau akan dikutuk. Apabila Aku mengutus engkau ke dunia engkau akan menjadi rasul keselamatan-Ku dan firmanmu itu benar, bahwasanya langit dan bumi akan gagal, tetapi imanmu tidak pernah akan gagal.” Muhammad adalah namanya yang diberkati.

Ayat-ayat semacam itu (juga pasal 54) membuat Yesus semacam Yohanes Pembaptis, yang memaklumkan Sang Mesias. Karena itu Yohanes Pembaptis tidak pernah disebut-sebut dalam Injil Barnabas!

Sebagaimana kita tahu nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memberikan ramalan yang terperinci sambil menyebut nama-nama oknum yang kelak akan datang; nama-nama orang tidak pernah diramalkan. Jadi Injil Barnabas dikarang sesudah datangnya Muhammad!

Juga dalam pasal-pasal lain terlihat pengaruh Agama Islam. Menurut pasal 39 kalimat syahadat (”Tiada Tuhan melainkan Allah” dan “‘Muhammad Rasul Allah”) ditulis pada kedua kuku ibu jari tangan Adam, setelah kalimat syahadat itu dilihatnya tertulis di angkasa.

Dalam hal-hal lain pun ada hubungan yang menyolok antara Injil Barnabas dengan pandangan Islam. Menurut Injil Barnabas Yesus bukan Anak Allah (pasal 48, 98 dan 222). Yesus diutus hanya kepada Israel saja, sedangkan amanat Muhammad adalah untuk segala bangsa (pasal 82). Injil Barnabas menegaskan pandangan Islam bahwa kelak akan dikarang kitab suci yang akan membersihkan kitab suci yang lebih dulu ditulis dari segala kerusakan (pasal 124, bandingkan pasal 44, 191 dan 192). Anak Abraham yang harus dipersembahkannya sebagai korban penyembelihan adalah Ismael dan bukan Ishak (pasal 44). Pada bagian akhir Injil Barnabas kita baca bahwa Yudaslah yang disalibkan, bukannya Yesus. Soal ini perlu ditekankan oleh Injil Barnabas (pasal 221).

Dengan demikian jelaslah bahwa pengarang Injil Barnabas hidup sesudah Muhammad yang wafat tahun 632 itu.

3. Bahkan kita dapat melangkah lebih jauh lagi dan dapat kita tegaskan bahwa Injil Barnabas pasti dikarang sesudah tahun 1300. Apakah buktinya?

Dalam pasal 82 Yesus berbicara dengan wanita Samaria tentang tahun Yobel, yang dirayakan sekali dalam 100 tahun. Soal ini disinggung juga dalam pasal 83. Menurut Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55 dan 27:16-25) tahun Yobel dirayakan sekali dalam 50 tahun. Ketentuan itu tidak diubah oleh Yesus.

Baru pada tahun 1300 sesudah Masehi oleh Paus Bonifacius VIII diperintahkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan sekali dalam 100 tahun! Akan tetapi oleh Paus Clemens VI pada tahun 1343 ditetapkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan tiap 50 tahun. Jadi pengarang Injil Barnabas tahu tentang ketentuan masa 100 tahun untuk merayakan tahun Yobel, dan dengan tidak disadarinya dinyatakannya seolah-olah oleh Yesus sendiri ditetapkan bahwa tahun Yobel harus dirayakan sekali dalam 100 tahun. Jadi dapat kita pastikan bahwa Injil Barnabas dikarang sesudah tahun 1300! [5]

Kesimpulan itu sesuai dengan ciri-ciri lain dalam Injil Barnabas, yang mengingatkan kita akan jaman sekitar tahun 1000-1500, antara lain:

Dalam sembahyang di malam hari (pasal 61) Yesus memakai ungkapan dari 1 Petrus 5:8 “… si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”, sebagaimana sudah lazim dipakai dalam sembahyang malam pada Abad Pertengahan.

Dalam pasal 3 kita baca bahwa Yesus dilahirkan oleh Maria “tanpa merasa sakit”; ini tidak tertulis dalam Perjanjian Baru, namun mendapat perhatian besar pada Abad Pertengahan.

Dalam pasal 194 Lazarus dan kedua adiknya perempuan digambarkan memiliki dua desa. Hal itu pun merupakan gambaran keadaan masa Abad Pertengahan, akan tetapi pada jaman Yesus mustahil seorang memiliki desa.

Tambahan pula masih dapat ditunjuk panjang dan sifat Injil Barnabas. Kitab Injil Barnabas dapat disebut semacam Diatessaron, artinya sebuah kitab yang menyatukan bahan-bahan dari keempat Injil Perjanjian Baru, sehingga isinya lebih tebal dibandingkan dengan Injil-Injil yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Adapun usaha untuk menyatukan dan menggabungkan keempat Injil mulai timbul pada abad kedua sesudah Masehi. Kita kenal beberapa Diatessaron dalam bahasa Italia dari Abad Pertengahan. Satu di antaranya berasal dari abad ke-14 yang mengandung ciri-ciri dialek TuskaVenezia (jadi dialek vang sama seperti Injil Barnabas), dan di dalamnya terdapat bermacam-macam ceritera dalam urutan yang sama seperti dalam Injil Barnabas; dan urutan yang sama itu tidak terdapat dalam keempat Injil Perjanjian Baru.

Jadi, dapat kita pastikan bahwa Injil Barnabas dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16 yakni waktu naskah berbahasa Italia ditulis. Dengan demikian jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan Injil-Injil Perjanjian Baru.

Apakah waktu penulisan Injil Barnabas dapat kita tentukan lebih tepat lagi? Besar kemungkinan Injil Barnabas dikarang semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Coba perhatikan hal-hal sebagai berikut: sudah kita lihat bahwa pada tahun 1300 ditentukan agar tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun; kemudian pada tahun 1349 diambil keputusan untuk merayakannya sekali dalam 50 tahun; dan pada tahun 1470 diputuskan untuk merayakannya sekali dalam 25 tahun.

Pada tahun 1585 Paus Sixtus V merayakan tahun Yobel, bukannya karena sudah tiba waktunya, melainkan karena pada tahun itu ia dipilih sebagai Paus dan ingin memberikan perhatian khusus kepada tahun tersebut. Apakah kejadian itu menjadi alasan bagi pengarang Injil Barnabas –yang masih ingat bahwa sesudah 1300 tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun– untuk menyatakan bahwa pada masa Mesias tiap tahun merupakan tahun Yobel?

Selanjutnya, dalam kata pendahuluan naskah berbahasa Spanyol dikemukakan bahwa kitab Injil Barnabas ditemukan dalam perpustakaan Paus Sixtus V meskipun kebenaran ceritera itu masih dipersoalkan. Memang Injil Barnabas cocok dengan suasana penindasan yang merajalela di Spanyol dan Italia Utara pada akhir abad ke-16, ketika orang Yahudi dan penganut agama Islam dianiaya oleh Inkuisisi. Apakah mungkin kitab itu ditulis semasa Paus Sixtus V oleh seorang yang dalam hatinya bersikap pro-Islam, akan tetapi tidak dapat mempraktekkannya?

Soal tersebut akan dibahas dalam bab berikut. Namun sekarang sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa Injil Barnabas dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16, dan kemungkinan besar pada masa Paus Sixtus V.

Catatan kaki:
1 Tentang Decretum Gelasianum lihat E. Hennecke-W. Schneemelcher, New Testament Apocrypha, London, 1973, hlm. 46-49 juga E. Schwartz, Zeitschrift fur Neuestestamentliche Wissensehaft, 29 (1930), hlm. 161-168. Dekrit itu untuk sebagian berasal dari jaman Paus Gelasius (492-496), akan tetapi berbagai-bagai bagian, a.l. justru daftar dengan buku-buku yang ditolak, berasal dari permulaan abad ke-6.

2 Codex Baroc. 39 dalam Bibliotheca Bodleiana yang termasyhur di Oxford (Inggris).

3 Lihat Indjil Barnabas, terjemahan Abubakar/Basjmeleh, dalam “Sepatah Kata Penjalin” diberi kesan seakan-akan Injil Barnabas ditemukan di atas dada jenazah, Periksa pula L. and L. Ragg, The Gospel of Barnabas, hlm. XIV.

4 Memang mengherankan, sebagaimana sudah dikemukakan pada catatan nomor 2), dalam terjemahan Abubakar/Basjmeleh pasal 14 dan 19 Yesus disebut Al-Masih, padahal dalam naskah bahasa Italia dan dalam terjemahan Ragg bersaudara kita temukan nama Yesus. Lihat juga bagian terakhir catatan nomor 3).

5 Dalam terjemahan Abubakar/Basjmeleh pada halaman 257 oleh kedua penerjemah diberi catatan sebagai berikut perihal ungkapan seratus tahun: “Mungkin kekeliruan di atas terdjadi karena kealpaan penulis yang mencampuraduk antara L (jang berarti 50) dengan C (jang berarti 100). Kemungkinan itu bisa terjadi karena tidak jelasnya suatu tulisan tangan”. Perlu kiranya dikemukakan bahwa dalam naskah bahasa Italia tidak tertulis huruf c, melainkan kata cento (yang artinya: seratus)!

Keseluruhan artikel dikutip dari Bab II Buku Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp yang diterbitkan oleh Yayasan Kanisius tahun 1983

Redaksi telah mengedit beberapa bagian (redaksional)