Be an Example! Be a witness in everywhere

Kebungkaman Teks Bertaut Temuan Arkeologis

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008

Sorotan james D. Tabor ingin membuat pembedaan antara Yesus yang pernah hidup dalam sejarah dan Kristus yang diimani orang Kristen. Ia menautkan kebungkaman teks Alkitab dengan temuan-temuan arkeologis untuk sampai pada “kesimpulan”: Yesus tidak bangkit!PEMIMPIN MESIANIK YANG TIDAK BANGKIT

James D.Tabor seorang teolog. Ia ahli dalam perkamen-perkamen Kristen abad pertama, juga menulis buku The Jesus Dynasty. Dengan menggabungkan berbagai temuan arkeologis, tafsir tekstual terhadap Alkitab dan sumber sejarah kuno lainnya, Tabor sampai pada kesimpulan bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik seperti diimani orang Kristen selama ini, karena kuburannya sudah ditemukan di Talpiot, Yerusalem. Tentu saja kesimpulan ini sangat tendensius dan terlalu dini.

Dengan teknik “membayangkan dan menautkan” (imagine and connect) Tabor melakukan rekonstruksi terhadap Yesus, menautkan antara berbagai penemuan artefak di satu sisi, dengan ayat-ayat dalam Alkitab di sisi yang lain. Memakai “jurus” harmonisasi sembari mencomot sana-sini data dan fakta yang hanya mendukung pandangannya, sekilas tampak memang Tabor akan merontokkan kekristenan. Intinya, Tabor menyampaikan pesan bahwa Yesus yang diimani sebagai Kristus oleh umat Kristen hanya seorang manusia biasa saja yang menikah, punya anak, dan juga mati. Dia, kata Tabor, tidak bangkit seperti yang didoktrinkan gereja selama berabad-abad. Yesus bukan Tuhan!

Dalam buku The Jesus Dynasty, Tabor merekonstruksi Yesus sebagai seorang pemimpin mesianik-revolusioner yang ingin membebaskan bangsa Yahudi dari cengkeraman Romawi. Karena itu Yesus menyusun kekuatan dengan membangun dinasti yang akan memerintah Kerajaan Allah di bumi secara turun-temurun. Yesus membentuk Dewan 12 yang mewakili dua belas suku bangsa di Israel. Tetapi orang ini, menurut Tabor, buru-buru ketangkap lalu disalib dan dikuburkan dalam sebuah pemakaman keluarga. Tabor mengklaim tulang-belulang yang ditemukan di Talpiot adalah milik Yesus dan keluarganya. “Jadi Yesus manusia biasa saja!” tegas Tabor.

Gambaran Tabor ini tentu bertolak belakang dengan keyakinan orang Kristen tentang Yesus yang adalah Allah, banyak melakukan mukjizat selama hidupnya, mati disalib namun bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga dengan jiwa dan badan. Iman Kristiani meyakini Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.

DEMIRAKULISASI

Tetapi kita segera tahu bahwa Tabor, seperti juga pengikut Yesus Sejarah lainnya, dalam melakukan rekonstruksi sejak awal telah menyingkirkan kemungkinan adanya mukjizat (demirakulisasi) yang dilakukan Yesus. Manalah bisa seorang manusia normal dapat melakukan mukjizat? Itu bukan hakekat dia.

Kelompok Yesus Sejarah berpandangan bahwa segala hal dapat terjadi karena adanya hukum alam. Demikian pula mukjizat dan hal-hal ajaib yang terdapat dalam Alkitab, menurut Tabor, bisa ditemukan penyebab terjadinya. Kalau dapat dicarikan penyebab terjadinya, maka campur tangan Tuhan tidak ada di sana.

Sorotan Deshi Ramadhani SJ, dosen Tafsir Kitab Suci dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, saat menanggapi tulisan Ioanes Rakhmat di harian Kompas tentang Makam Keluarga Yesus (5 Mei 2007) mengatakan usaha untuk menjelaskan secara ilmiah hal-hal ajaib yang dikisahkan dalam Alkitab bukan-lah hal baru. Ramadhani menyimpulkan, usaha tersebut memperlihatkan sikap tertentu terhadap kisah ajaib dalam Alkitab yang terkait dimensi historis kejadian-kejadian itu. “Akibat logis dari asumsi semacam ini adalah terjadinya demirakulisasi. Mengingkari apa yang sebenarnya begitu jelas terlihat meskipun tidak bisa dijelaskan dengan akal budi,” bilang Ramadhani.

Yesus yang benar-benar ada secara historis dijelaskan dan direkonstruksi dengan menyingkirkan segala hal ajaib atau mukjizat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Alhasil, kata Ramadhani, pembuktian Yesus Sejarah dalam proses demirakulisasi mengharuskan sang peneliti memilih data yang masuk akal saja. “Dalam praktiknya, ini bisa membuat sang peneliti mengambil data yang diperlukan, melepasnya dari konteksnya begitu saja. Tabor adalah salah satu peneliti yang mengikuti cara kerja seperti ini,” tulis Ramadhani yang menjadi penyunting terjemahan Indonesia dari buku The Jesus Dynasty.

Ramadhani menyampaikan dua contoh kecil. Pertama, Tabor mencoba menjawab pertanyaan tentang profesi Yesus sebelum Ia tampil secara publik di Galilea. Perkataan Yunani dalam Injil adalah tektôn. Kamus besar yang disusun oleh Bauer, Arndt, Gingrich (1957) menjelaskan tektôn sebagai carpenter, wood-worker, builder. Tabor, menurut dia, begitu saja memilih arti tektôn sebagai builder (tukang bangunan; tukang batu). Untuk mendukung argumennya ia merujuk pada tulisan yang sekarang dikenal sebagai Protoevangelium Yakobus 9:3 yang mengatakan bahwa pekerjaan Yusuf adalah sebagai tukang bangunan. Tabor hanya memilih satu rujukan kecil ini untuk mendukung hipotesisnya bahwa Yesus pun bekerja sebagai tukang bangunan.

Tulisan Protoevangelium Yakobus menurut Ramadhani sudah beredar sekitar tahun 150 M. Argumen-argumen penting dalam tulisan ini justru bertujuan membuktikan kelahiran ajaib Yesus melalui Maria yang masih perawan dan tetap perawan sesudah kelahiran Yesus. Tabor siap menggunakan bahan di luar Alkitab untuk mendukung argumennya meskipun untuk itu ia harus mengambil rujukan kecil dari sebuah bahan yang justru berlawanan arah dengan cara kerja demirakulisasi yang dipilihnya. “Dengan kata lain, untuk mendukung argumennya, Tabor siap mengambil sebuah teks dan melepaskannya dari konteks begitu saja. Pemisahan teks dari konteks adalah sebuah kesalahan metodologis yang sungguh fatal,” ujar penulis buku Menguak Injil-injil Rahasia itu.

Kedua, Tabor coba membuat rekonstruksi kronologis tahap perjalanan Yesus dan para murid-Nya menuju Yerusalem dan hari-hari terakhir-Nya di sana. Dengan menggabungkan berbagai data dan loncatan-loncatan kreatif berdasarkan informasi dari Injil, sebuah kronologi diusulkan. Namun menurut Ramadhani ada satu bahan yang dalam konteks Injil memiliki arti penting tetapi justru dihindari oleh Tabor.

Dalam Injil Yohanes bab 11 dikisahkan bahwa di sebuah kampung yang bernama Betania, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kisah Yesus yang menyembuhkan dan kisah Yesus yang membangkitkan orang mati tentu saja berada di luar ranah pembuktian mukjizat berdasarkan gejala-gejala alam. Bila Tabor menggunakan kisah tentang kebangkitan Lazarus ini, menurut Ramadhani, ia tentu akan harus juga menerima kemungkinan adanya kebangkitan Yesus sendiri dari mati. Padahal, argumen penting yang justru sedang diperjuangkan adalah untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit. Tabor ingin membuktikan bahwa tubuh Yesus telah dipindahkan oleh para pengikut-Nya dari tempat semula Ia dimakamkan setelah penyaliban, ke tempat yang baru. Untuk maksud itu Tabor berani membuat pernyataan bahwa Ia telah menemukan makam Yesus dan keluarga-Nya.

HARMONISASI TEKS

Menanggapi Tabor, Adji A.Sutama secara khusus menulis buku Yesus Tidak Bangkit? (2007). Dalam buku setebal 294 halaman itu Adji Sutama mengemukakan berbagai ketidakjujuran argumentasi, inkonsistensi, dan harmonisasi teks yang dilakukan Tabor untuk mendukung argumentasinya. Harmonisasi Tabor menurut Adji Sutama biasanya memanfaatkan kebungkaman teks Injil. Misalnya pendapat Tabor soal Yesus adalah anak haram. Tabor menggunakan kebungkaman teks mengenai ayah Yesus (Mrk.6:3, Mat. 13:55). Dikatakan Yesus adalah “anak Maria”. Mengapa Yesus tidak disebut anak Yusuf? Menurut Tabor karena Yesus memang bukan anak Yusuf. Yesus adalah anak haram dari hubungan Maria dengan laki-laki lain, mungkin perwira Romawi asal Yahudi yang bernama Tiberius Julius Abdes Pantera. Skandal ini menurut Tabor sengaja disembunyikan oleh penulis Injil.

SorotanNamun untuk mendukung pendapatnya bahwa Maria punya anak dari Klopas, padahal Klopas hanya disebut satu kali di seluruh Perjanjian Baru (Yoh.19:25). Tabor dengan mudah mengatakan bahwa Klopas mungkin sudah meninggal ketika Yesus dewasa. Argumen “sudah meninggal sehingga tidak disebutkan” menurut Adji Sutama sah-sah saja. Persoalan Tabor adalah, argumen itu diabaikan dalam kasus kebungkaman teks Injil mengenai Yusuf ayah Yesus, karena ia ingin memaksakan pendapatnya bahwa Yesus anak haram. “Padahal kebungkaman teks Injil mengenai Yusuf ayah Yesus seharusnya juga dapat dipahami bukan karena ingin menutupi skandal, tetapi mungkin Yusuf sudah meninggal ketika Yesus dewasa,” ujarnya.

Contoh lain dari harmonisasi Tabor adalah Klopas yang menurutnya adalah suami ibu Yesus karena perkawinan levirat setelah Yusuf meninggal. Di seluruh Perjanjian Baru Klopas hanya ada di Yohanes 19:25. Di sana Klopas bukan suami ibu Yesus, tetapi suami Maria yang bukan ibu Yesus. Bagaimana mungkin Klopas bisa menjadi suami ibu Yesus? Ternyata menurut Adji Sutama, Tabor memanfaatkan dan merekayasa informasi dari buku Sejarah Gereja karya Eusebius. Tetapi dalam buku III.11 yang dirujuk Tabor itu Klopas hanya disebut “saudara Yusuf”. Dalam hal ini pun Tabor memilih buku III.11 yang berisi penafsiran Eusebius terhadap informasi Hegesippus bahwa Klopas adalah “paman Yesus”. Padahal menurut Adji makna “paman Yesus” dalam informasi Hegesippus terbuka untuk ditafsir. Bisa saja Klopas saudara kandung Yusuf, bisa juga saudara kandung Maria, dstnya. Tetapi satu hal yang pasti, buku Sejarah Gereja yang dirujuk Tabor menuliskan Klopas bukan suami Maria ibu Yesus. Klopas adalah paman Yesus atau saudara Yusuf. Entah dipungut dari mana kesimpulan Klopas suami Maria ibu Yesus?

KISAH OSUARIUM YAKOBUS

Osuarium Yakobus menjadi salah satu contoh inkonsistensi Tabor. Berdasarkan bukti tidak langsung yang andal (reliable) menurut Tabor, Osuari Yakobus berasal dari Makam Kain Kafan di Hinom, Hakal-Dama Yerusalem Selatan. Makam itu dijarah dan osuari Yakobus dijual di pasar gelap (hal. 25 buku Tabor). Tetapi dalam buku yang sama di halaman 39-40 Tabor menyebutkan bahwa osuari Yakobus berasal dari Makam Talpiot. Osuari Yakobus adalah osuari ke-10 yang pernah ditemukan di Makam Talpiot dan disimpan oleh Otoritas Kepurbakalaan Israel dengan nomor katalog 80.509. Osuari ke-10 itu hilang. Itulah osuari Yakobus.

Pendapat osuari hilang itu tampak hanya rekayasa Tabor. Menurut informasi Amos Kloner dan Joe Zias, osuari ke-10 tidak hilang. Bahkan menurut mereka ukuran osuari ke-10 tidak sama dengan ukuran osuari Yakobus. Osuari ke-10 juga “polos” tanpa tulisan maupun hiasan, sementara osuari Yakobus jelas-jelas memiliki inskripsi. Bahkan ukuran kedua osuari itu berbeda 10 cm.Yang lebih aneh menurut Adji Sutama adalah konklusi Tabor pada bab akhir bukunya yang mengatakan bahwa “saat ini kita tidak punya bukti bahwa Osuari Yakobus, bahkan kalau otentik, berasal dari dua makam ini, meskipun lebih banyak bukti dapat diperoleh jika tes DNA dilakukan.” Setelah meyakinkan pembaca mengenai osuari Yakobus yang mungkin dari Makam Kain Kafan di lembah Hinom sekaligus mungkin dari Makam Talpiot, kedua kemungkinan itu sekaligus ditolak.

Menurut Adji Sutama, sejauh dapat mendukung pendapatnya, teks diperlakukan Tabor sebagai “laporan historis”. Sebagai “laporan historis”, teks dibaca secara harafiah dan kebungkaman teks dikembangkan menjadi berbagai kemungkinan, serta diharmonisasi supaya mendukung prasangkanya. Tetapi jika tidak mendukung, teks itu diabaikan atau dikomentari sebagai bersifat teologis, bias teologis, klaim teologis, tradisi teologis, dan sebagainya yang berarti: tidak historis.

Akhirnya, kita sampai pada kenyataan bahwa berbagai upaya menelikung ketuhanan Yesus akan sia-sia. Bukankah hingga hari ini mukjizat dan kejadian-kejadian yang di luar jangkauan akal budi manusia masih tetap saja terjadi? Maka benar yang dikatakan Craig E. Evans dalam buku Merekayasa Yesus (ANDI, 2007) bahwa satu kesalahan serius dari banyak kesalahan lain adalah “kegagalan untuk memperhitungkan perbuatan ajaib Yesus”. Tabor mengulangi kesalahan yang sama, seperti para koleganya berabad silam.

(Alex japalatu, dari berbagai sumber)

Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. prettt said, on April 18, 2010 at 5:55 am

    ia mengatakan bahwa bila manusia biasa tak dapat melakukan mujizat… namun dengan iman sebesar biji sesawi pun kita manusia dapat memindahkan gunung… bagaimana iman petrus ketika mengikuti Tuhan berjalan diatas air??? namun ia tak percaya hingga ia jatuh dan Yesus menolongnya…😦 sungguh mengasihankan.. hei’ orang yang kurang percaya.. dengan kepintaran apapun anda… Kuasa Yesus & pekerjaan2-Nya tidak dapat dibuktikan dengan akalmu.. terima kasih, GBU

  2. giand said, on Mei 20, 2010 at 3:12 am

    Amin…sepinter2nya manusia jika melawan kehrndakNya maka akan jatuh juga.Karya Allah didlm Yesus tdk bisa dibendung dgn pemikiran manusia yg picik dan tamak! Tidak ada yg tdk diketahui ol Allah,pa lg utk membalikan fakta karya Allah didunia.Semuanya akan SIA2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: