Be an Example! Be a witness in everywhere

Mengungkit Yesus Bangkit

Posted in Hot issues by Be example on Maret 1, 2008
Sorotan Sejak kekristenan awal, berita kebangkitan Yesus senantiasa mengundang beragam reaksi bahkan kontroversi. Benarkah Yesus bangkit? Kalau benar, dengan tubuh apa Ia bangkit? Apa kebangkitan itu secara fisik atau metafora?
Minggu pagi di Yerusalem. Fajar baru merekah, tiba-tiba sebuah kampung heboh dengan breaking news: Yesus Bangkit! Sementara di sekitar kubur, beberapa pengawal yang baru saja tersadar dari “pingsan” mendadak kelabakan. Ada apa?

Ada kejadian dahsyat yang membuat para pengawal gentar dan ketakutan hingga seperti orang mati. Gempa hebat dan malaikat dengan wajah seperti kilat duduk di atas batu penyegel. Kubur pun kosong. Padahal mereka adalah prajurit pilihan dengan tugas khusus mengamankan kubur Yesus. Apalagi sebelumnya tersebar desas-desus bahwa Yesus menyatakan diri-Nya akan bangkit pada hari ketiga (Mat. 27: 62-66).

Menyadari hal itu, mereka bergegas melaporkan kepada imam-imam kepala. Untuk mengatasi realitas itu, imam-imam kepala menyuap para pengawal agar merekayasa cerita palsu (Mat. 28:4, 11-15).Sementara, kendati kontrol media sangat ketat, breaking news tersebut segera menyebar di antara murid-murid Yesus. Awalnya pembicaraan itu berlangsung tertutup karena takut dengan penguasa dan petinggi agama. Namun, rasa takut tak bisa membendung sukacita yang meluap karena Yesus bangkit. Dia hidup!

MENCARI BUKTI

Sejak Sekolah Minggu kita sudah akrab dengan cerita kebangkitan Yesus dan telur Paskah. Kisah kubur kosong dan beberapa kali penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya sudah cukup untuk diimani. Tapi, pertanyaan seputar kebangkitan Yesus tetap menyeruak. Benarkah kebangkitan Yesus sebuah fakta atau hanya metafora?

Setidaknya Alkitab mencatat ada sebelas kali Yesus menampakkan diri dalam kurun 40 hari sejak kebangkitan-Nya. Pertama, Yesus menyapa Maria Magdalena, kemudian kepada murid-murid lainnya (Mrk. 16, Yoh. 20:14). Berikutnya kepada Petrus (Luk. 24:34), dua orang yang berjalan ke Emaus (Luk. 24:13), kepada 10 murid-Nya di Yerusalem dan kesebelas murid termasuk Thomas (Yoh. 20:19, 26,29). Yesus juga menampakkan diri kepada Petrus dan enam murid lainnya di pantai Tiberias (Yoh. 21:1). Pula kepada murid-murid di Galilea (Mat. 28:16) dan lebih dari 500 pengikut-Nya, lantas menjumpai Yakobus (1 Kor. 15:6-7). Terakhir, di Bukit Zaitun, dekat Batania. Yesus memberkati para murid kemudian Ia terangkat ke surga (Luk. 24:51). Bukankah semua itu cukup sebagai bukti?

Namun, bagi sejumlah ahli teologi, hal itu perlu dikritisi dengan teori yang mumpuni dari berbagai dimensi. Iman harus bisa dipahami secara akali. Menggali situs purbakala untuk mencari bukti arkeologi. Kebangkitan Yesus imani harus didukung bukti histori kalau ingin keyakinan ini abadi, begitu kata mereka. Tanpa mengecilkan arti upaya argumentasi para ahli dengan mencari dukungan ilmu dan teknologi, kadang kita dibikin geli. Menyandingkan iman dengan pengetahuan, apakah relevan? Memahami kebesaran Allah dengan keterbatasan akal manusiawi, apakah signifikan?

Sebenarnya sederhana saja. Kalau belum yakin dengan penampakan Yesus, ada fakta pendukung lain. Kalau Yesus tidak bangkit, para pengawal tidak perlu bersusah payah mencari solusi atas kegagalannya mengamankan jasad Yesus. Imam-imam juga tidak perlu repot bikin konspirasi dengan sekian dinar uang penutup mulut. Sedangkan bagi para murid, memberitakan kebangkitan Yesus juga bukan tanpa risiko. Imam-imam dan orang Saduki sangat marah ketika Petrus dan Yohanes mewartakan kebangkitan Yesus dan dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis. 4:1-2).

TUBUH JASMANI ATAU ROHANI?

Munculnya tulisan Dinasti Yesus oleh James Tabor dan film The Lost Tomb of Jesus oleh Discovery Channel tahun 2007, kembali mengundang polemik tentang kebangkitan Yesus dan tubuh kebangkitan-Nya. Kalau Yesus bangkit dengan raganya, bagaimana dengan tulang belulang di makam Talpiot yang konon milik Yesus. Benarkah Yesus bangkit? Bila benar, bagaimana wujud tubuh kebangkitan-Nya? Tubuh jas-mani/fisik atau rohani?

Keraguan itu bukan hanya milik James Tabor, John Dominic Crossan, Ioanes Rakhmat, dan sealirannya, ahli teologi liberal. Beberapa murid Yesus juga ragu.Sesuai petunjuk Yesus, murid-murid berkumpul di sebuah bukit di Galilea. Namun, ketika Yesus hadir, bagaimana reaksi para murid? Ada yang percaya dan menyembah Dia, tapi sebagian ada yang ragu-ragu (Mat. 28:16-17), bahkan ada yang tidak percaya (Mrk. 16:13). Thomas, salah satunya.

Keraguan itu wajar, apalagi Yesus muncul tiba-tiba seperti hantu, padahal semua pintu terkunci rapat. Hal itu pula yang menyergap beberapa murid-Nya dalam keraguan. Yesus atau hantu? Untuk menjawab keraguan ini, dengan tegas Yesus mengatakan, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Lantas, Ia pun makan ikan goreng bersama dengan mereka (Luk. 24:38-43).

Bagi sebagian ahli yang menekankan materi, hal itu jelas sukar dimengerti akal ragawi. Kalau Yesus memiliki tubuh yang berdaging dan bertulang, bagaimana ia bisa menembus tembok? Padahal, dalam dunia metafisika, orang bisa menghilang atau berubah bentuk seperti leak, babi ngepet, dsb. Bahkan, dalam fisika kuantum materi bisa diubah berpindah melebihi kecepatan cahaya. Tidak mustahil bila manusia bisa ditransformasi dan kembali lagi seperti dalam film fiksi. Apalagi bagi Allah yang berinkarnasi dalam diri Yesus.

Dalam kubur Yesus yang tertinggal hanya kain kafan. Tubuh-Nya sudah terangkat. Seperti kupu-kupu menanggalkan kepompongnya. Tapi, bukan lagi tubuh badaniah yang lama karena Ia tidak lagi mengenakan pakaian dari dunia. Pula, jangan heran kalau Yesus makan ikan. Anda tentu ingat ketika Adam dan Hawa di Taman Eden. Mereka mengenakan tubuh kemuliaan. Mereka juga makan buah-buahan di taman itu. Itulah tubuh kebangkitan Yesus. Tubuh yang paradoks: “jasmaniah” sekaligus “rohaniah”.

PERGI DAN KATAKANLAH

Keraguan akan kebangkitan Yesus juga bisa dimengerti manakala mata kita masih terkungkung oleh selubung. Biasanya, akal pikiran kita menjadi penghalang utama untuk memahami karya Tuhan. Tak heran bila dua orang murid Yesus tidak mengenali Sang Guru ketika Yesus bercakap-cakap dengan mereka dalam perjalanan menuju ke Emaus. Bahkan Yesus dikira sebagai orang asing!

Mencari penalaran pengetahuan sah-sah saja. Namun, harus beranjak dari iman dan pikiran yang telah diperbaharui (1 Kor. 1:18-25). Prinsipnya adalah mengimani untuk dapat memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani (faith seeking understanding). Bila tidak, boleh saja orang merasa pandai, tapi apa kata Yesus? “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk. 24:25). “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Apakah Anda masih meragukan kebangkitan Yesus?Ingatlah perkataan malaikat, juga pesan Yesus pada perjumpaan dengan murid-murid di pagi Paskah. Jangan takut, pergi dan katakanlah bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati (Luk. 28:5-10). (sugiyanto)

Tagged with:

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Budi Nataatmadja said, on April 18, 2008 at 12:25 pm

    Benar dan setuju, Gie, bahwa “Mengimani untuk dapat memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani.” Seringkali Tuhan meminta kita melangkah walau jalan di depan mata tampaknya tertutup kabut tebal, tetapi satu yang pasti, bahwa setelah kita memberanikan diri melangkah di jalan yang berkabut tebal tersebut kita akan melewati pemandangan yang indah, yang satu demi satu penampakannya membuktikan bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Seringkali kita juga mengalami pernyataan Epesus 3:20 secara nyata.
    Salam dari Auckland-New Zealand


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: