Be an Example! Be a witness in everywhere

GIVE YOUR BEST

Posted in Teaching by Be example on Maret 3, 2008

Karena iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, maka tentunya ketiadaan hati memberi yang radikal dalam kehidupan gereja Tuhan, dikarenakan kurangnya perenungan tentang kebenaran memberi. Bahkan yang sering terjadi adalah justru maraknya “roh mencari untung” dalam menjalankan kekristenan yang ditandai dengan mental menerima lebih daripada memberi. Motivasi ibadah kepada Tuhan menjadi pengejaran berkat daripada rasa cinta kepadaNya sebagai dorongan utamaà Sang Sumber berkat menjadi tidak lebih penting daripada berkatnya… lebih memandang “tanganNya” daripada “wajahNya”. Bahkan pelayanan tidak lagi memiliki nilai pengorbanan, pengabdian dan perjuangan.

Namun sebaliknya gereja mula-mula di Alkitab bahkan menjadikan memberi sebagai tanda utama dan gaya hidup kekristenan yang normal. Komitmen mereka adalah memberi sebatas nyawa sehingga memberikan harta milik mereka untuk dibagi-bagikan kepada semua orang bukanlah persoalan. Sejak awal mereka telah mengalahkan roh materialistis sehingga pergerakan selanjutnya tidak terkendala oleh semangat rakus harta dan kemaruk kekayaan yang sudah pasti akan mengganjal misi Kerajaan.

Berikut ini adalah beberapa nilai-nilai dan prinsip-prinsip memberi yang perlu direnungkan:

  • Memberi adalah salah satu tanda utama kekristenan
    Injil menulis “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini maka Dia memberikan AnakNya yang tunggal.” Jadi tanda kasih adalah memberi. Bisa saja memberi tanpa mengasihi, misal: memberi tukang ngamen atau peminta-minta di jalan tidak perlu sambil berucap: “I love you.” Kasih-lah yang menggerakkan pemberian, tanpa itu maka hanyalah kegiatan sosial belaka. Memberi tanpa mengasihi sama sekali tidak ada faedahnya (1 Korintus 13:3). Kita diampuni karena Allah memberi… kalau Allah tidak memiliki hati dan gairah memberi maka kita tidak pernah mengenal keselamatan…
  • Memberi adalah kunci kebahagiaan makarios (Kisah 20:35).
    Bahagia makarios adalah bahagia yang benar-benar berasal dari dalam diri kita, bukan bahagia yang sekadar dipicu dan dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari luar diri kita seperti kekayaan, keinginan mata, dan lain-lain. Alkitab juga berkata… “dari dalammu akan mengalir aliran-aliran air hidup”.

    Bahagia buat dunia berarti menerima dan menerima lebih banyak lagi. Mereka selalu bertanya apa dan apa lagi yang dapat saya terima. Kekristenan mestinya tidak terobsesi pertanyaan “apa” tetapi “mengapa”. Mengapa saya punya rumah, mengapa saya punya isteri, mengapa saya punya uangà maka kita bisa mengerti visi dan maksud dari setiap anugerah yang Tuhan berià apa hubungan yang saya miliki dengan perluasan misi Kerajaan, maka kemudian kita akan lebih mudah lagi melepaskan semua yang kita miliki. Itulah salah satu kunci hati memberi. Paradigma yang benar akan hasilkan perilaku yang benar pula. Misal: Saya punya isteri dari Tuhan dengan maksud supaya saya bersinergi dengannya untuk melayani orang-orang dan pekerjaan Tuhan lebih tajam dan kuat lagi… saya punya rumah yang luas supaya saya bisa memberi tumpangan kepada orang-orang yang Tuhan kirim kepada saya… dan sebagainya.

    Setelah Musa “bertapa” 40 hari 40 malam, bangsa Israel mungkin berpikir Musa akan turun gunung dengan membawa berita spektakuler, pewahyuan yang fantastis, dan kotbah sakti yang membuat orang terkapar…ee… kenyataannya dia membawa perintah tentang persembahan! Dengan seluruh pemberian dari bangsa Israel yang dikumpulkan itu nanti akan dibuatlah tabut tempat kediaman Tuhan!

  • Memberi adalah pintu kepada pewahyuan “Jehova Jireh”
    Nama Jehova Jireh baru dikenal sehabis peristiwa pemberian besar dari Abraham kepada Tuhan yaitu Abraham memberikan Ishak anaknya. Tidak ada pewahyuan dan pengalaman Jehova Jireh yang sejati dalam hidup kita tanpa hati memberi yang radikal. Memberilah sampai “terasa”à Dalam 2 Samuel 24:24 diceritakan bahwa Daud tidak mau mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan dengan tidak membayar apa- apa tetapi dengan membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu milik Arauna sehingga Tuhan mengabulkan doanya dan menghentikan tulah atas Israel (2 Samuel 24:25). Pemberian yang “terasa” karena pengorbanan. Berilah maka kamu akan diberi! Raihlah dan hayatilah pengalaman dan pewahyuan Jehova Jireh!

    Dalam Injil diceritakan kisah perumpamaan tentang orang farisi dan perempuan miskin yang sedang sama-sama memberi persembahan. Meski “si orang saleh” memberi lebih banyak tetapi si janda miskin lebih berkenan pemberiannya karena memberi dari kekurangan… itu pemberian yang “terasa”… nominal lebih kecil tapi pengorbanan lebih besar! Mestinya seluruh umat Tuhan memiliki prinsip: Not equal giving but equal sacrifice! (tidak sama dalam pemberian tapi sama dalam pengorbanan)

    http://www.corneliuswing.com   –> berisi percikan artikel2 dari Pdt. Cornelius Wing.

  • Tagged with: ,

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: