Be an Example! Be a witness in everywhere

Unity ?

Posted in Teaching by Be example on Maret 3, 2008

MENGAPA TIDAK BERSATU … SUSAH BERSATU …
DAN TIDAK MAU BERSATU ?

A. Kita tidak menganggap kebersatuan itu penting.
Doa Yesus tentang kesatuan di Yohanes 17 merupakan apa yg melintas di benak-Nya saat kritis persiapan diri menghadapi salib, sekaligus jadi saat-saat akhir hidup-Nya, jadi apa yg melintas dibenakNya, ada di doa-Nya dan penting bagi Dia pasti juga sangatlah penting untuk kita. Maka, sama seperti Dia, pusatkan pikiran pada doa tersebut juga. Perpecahan disebabkan lebih memusatkan diri pada doktrin dan konsep daripada hidup. Bila pendapat pribadi menghalangi kita untuk berhubungan dengan seorang teman Kristen, maka kita dipaksa untuk menyimpulkan bahwa pendapat-pendapat kita lebih penting bagi kita daripada persekutuan dengan saudara atau saudari dalam Kristus. Akarnya perpecahan adalah dasar kita untuk menerima satu sama lain. Kalau dasar Tuhan menerima kita adalah karena darah Yesus, siapakah kita sehingga berani memandang atau menerima orang dengan dasar yang lain, menurut perilaku dunia ini?

Arti dari kesatuan adalah bahwa kita mempunyai sikap seperti Kristus terhadap orang-orang lain ketika mereka berbuat dosa atau ketika mereka salah, karena kita sudah menaruh iman kita dalam Kristus bagi pengampunan dosa-dosa kita sendiri. Hanya ada satu gereja. Tetapi dari tingkah laku kita, kita akan mengira bahwa kita percaya kalau sampai di surga nanti Tuhan akan membagi-bagi kita dalam seksi-seksi yang berbeda sehingga kita bisa berkumpul bersama di dalam kelompok kecil atau denominasi kita sendiri. Lebih parah lagi, beberapa orang bersikap seakan-akan kelompok mereka satu-satunya yang akan ada di sana. Tetapi kalau kita sampai di surga kita semua akan menjadi satu. Jadi mengapa tidak mengawalinya dan mulai sekarang mengenal orang-orang Kristen dari kelompok-kelompok lain? Ketidakbersatuan gereja adalah akibat dari menambahkan sesuatu pada iman kepada Yesus!


B. Kita tidak tahu bahwa tidak bersatu adalah ekspresi kedagingan.
Masalah sebenarnya adalah daging kita (Galatia 5:19-20). Aliran, tata greja, dan sebagainya yang telah membuat perpecahan hanyalah merupakan salah satu dari berbagai jalan bagi daging untuk menyatakan sifatnya yang suka memecah belah (perselisihan dan perpecahan adalah satu dari 19 keinginan daging dalam Galatia 5:19-20). Itu merupakan dalih lain bagi daging untuk menjerat kita..dalih untuk kesombongan, iri dan cemburu. Daging kita akan terus berusaha menemukan saluran-saluran baru untuk mewujudkan dirinya sendiri. Pada gilirannya – karena keinginan daging berlawanan dengann keinginan Roh (Galatia 5:16-17) – kita tidak mungkin hidup dalam Roh karena mengikuti daging! (Galatia 5:16,21).

Upaya membuat kasih dan kesatuan Kristen akhirnya malah membinasakannya. Kesatuan yang benar datang sebagai akibat dari karya Kristus di kayu salib dan di dalam hati kita. Ketika kita menerima kasih dan pengampunan-Nya melalui salib, kita menjadi saudara atau saudari dari semua orang yang sudah melakukan hal yang sama. Tetapi tidak semua orang bersedia menerima kesatuan semacam ini. Sebaliknya, mereka berusaha untuk menciptakan kesatuan dengan cara-cara manusia, dengan usaha-usaha mereka sendiri.


Ada 2 (dua) cara di mana orang Kristen berusaha “menciptakan kesatuan” :

1. LEGALISME.
Kesatuan jangan dikacaukan dengan keseragaman. Keseragaman terjadi bila ajaran-ajaran dalam Firman Allah yang berkenaan dengan kebudayaan tertentu atau keadaan-keadaan tertentu diterapkan kepada semua orang di semua jaman. Ini juga terjadi bila kebenaran diterapkan dengan cara yang kasar dan tanpa kasih. Hasil akhirnya bukan kebenaran melainkan legalisme.

Legalisme adalah menaruh kepercayaan pada huruf kebenaran dalam prinsip-prinsip yang mendasari kebenaran itu. Ada banyak bentuk legalisme, dari peraturan-peraturan mengenai doktrin yang benar, administrasi gereja dan tingkah laku moral sampai ke peraturan-peraturan mengenai selera musik, pola hidup dan bahkan makanan. Biarpun benar untuk kita mempunyai keyakinan-keyakinan pribadi, tetapi merupakan kesalahan bila berkeras bahwa persetujuan dalam bidang-bidang ini adalah dasar bagi persekutuan dan penerimaan dalam kasih. Legalisme membuat kita tidak mengasihi dan suka menghakimi. Terutama bila kita menerapkan hukum-hukum moral Allah kepada daerah-daerah lemah dalam kehidupan manusia dalam cara yang keras dan tanpa kasih.

Meskipun tidak salah kalau kita mempunyai peraturan-peraturan yang mengatur berbagai macam bidang kehidupan kita, apa yang sering terjadi adalah bahwa semakin banyak peraturan yang kita miliki maka semakin banyak pula kebebasan yang rasanya kita punyai untuk menyerang dan memutuskan persekutuan dengan orang-orang yang tidak memelihara ataupun menyetujui peraturan tersebut. Banyak sekte-sekte dan kelompok-kelompok Kristen eksklusif yang berusaha menemukan kesatuan dengan menetapkan sederet peraturan-peraturan dan doktrin-doktrin dan menuntut supaya hal-hal tersebut dipelihara dengan kesetiaan yang membuta. Ini bukanlah kesatuan Alkitabiah, ini keseragaman! Kesatuan yang sejati tidak didasarkan atas persetujuan atau doktrin, atau berpakaian dan bertingkah laku dengan cara tertentu. Kenyataannya, Yesus meninggalkan beberapa peraturan yang harus diikuti oleh para murid-Nya. Yang Ia inginkan ialah ketaatan hati. Jelas, Ia meneguhkan aspek moral dari Taurat, tetapi enerapan legalistik dari Taurat itulah yang nampaknya membuat Ia lebih marah daripada dosa lain yang Ia hadapi.

Kesatuan yang sejati tergantung dari pekerjaan Roh dalam hati kita. Ini adalah akibat dari pembangunan hidup kita atas hal-hal yang pokok dari iman tersebut di atas da mempunyai sikap-sikap yang benar terhadap orang-orang lain. Kesatuan rohani sepert yang dilukiskan dalam Yohanes 17 hanya akan terwujud bilamana ada kebebasan bagi keanekaragaman. Bila mungkin kita kurang dewasa untuk tidak menyetujui sebuah pendapat namun tetap mengasihi satu sama lain tanpa kecurigaan dan ketidakpercayaan, maka kita mempunyai doktrin yang sehat. Doktrin yang sehat senantiasa mencakup kasih dari hati terhadap saudara dan saudari kita dalam Tuhan.

Konsep bahwa doktrin yang sehat berhubungan dengan karakter kita mungkin merupakan hal baru bagi beberapa orang, tetapi penyelidikan yang seksama dari surat-surat Paulus kepada Timotius akan membantu menjelaskan hal ini. Perhatikan terutama 1 Timotius 1:8-11 ; 4:11-16 ; 6:3-10, dan 2 Timotius 3:12-14.


2. LIBERALISME.
Cara kedua yang kita pakai untuk menciptakan kesatuan adalah dengan menyangkal yang absolut dari Firman Allah. Kalau legalisme membuat ajaran-ajaran yang relatif dari Firman Tuhan menjadi absolut, maka liberalisme membuat kebenaran-kebenaran yang absolut dari Firman Allah menjadi relatif. Liberalisme ini muncul krn ketakutan bahwa setiap doktin atau ajaran yang cenderung menjadi eksklusif bisa menyinggung atau menghalangi orang-orang yang kita inginkan terlibat sebagai “saudara”. Dalam kerinduannya untuk mencapai kesatuan, ada yang menyangkal keabsolutan dari berbagai ajaran Alkitab. Sebagai contoh mereka mungkin mengajarkan, bahwa semua orang adalah anak-anak Allah. Nah, itu secara langsung atau tidak langsung menyangkal bahwa satu-satunya jalan menuju Bapa adalah melalui Yesus Kristus. Tetapi Alkitab sudah membuatnya jelas sekali bahwa keselamatan dan kehidupan kekal datangnya hanya melalui iman dalam Tuhan kita Yesus, dan pengakuan dosa-dosa kita (Yohanes 14:6 ; 17:1-3 ; Kisah 4:12).

Kebenaran-kebenaran dalam Firman Allah yang secara umum dan absolut benar bagi semua orang di semua masa misalnya ketuhanan Kristus, keselamatan melalui iman dalam kematian-Nya di atas kayu salib, dan kepercayaan dalam kebangkitan jasmaniah dari Kristus. Kalau kita mengkompromikan standar Allah, kita akhirnya menjadi tidak mengasihi. Cara untuk sungguh-sungguh mengasihi seseorang adalah dengan menolong mereka untuk melihat dan menerobos dosa yang mengikat kepribadian mereka dan merusak hubungan-hubungan mereka. Adalah mungkin untuk mempertahankan suatu ukuran Alkitabiah dan mengasihi pada saat yang bersamaan. Biarpun kita bisa mengalami suatu tingkatan yang tinggi dari kasih dan penerimaan dari sesama kita namun tidaklah mungkin berbagi kesatuan Kristen kecuali sesudah mereka mengakui dosa mereka dan kebutuhan mereka akan pengampunan dari Tuhan Yesus.


Baik legalisme maupun liberalisme merusakkan kesatuan yang benar dan menyulitkan akan adanya kasih yang benar untuk orang-orang percaya yang lain. Yang satu menambahkan pada apa yang Kristus sudah lakukan, sementara yang lainnya menguranginya.


Kalau kita mau mengalami kesatuan rohani yang benar, maka itu harus berasal dari Roh Kudus dan bukan dari daging! Manusia daging tidak mungkin bisa bersatu tetapi mengupayakan kesatuan dengan cara daging juga usaha menjaring angin!

C. Kita tidak memandang bahwa tidak bersatu adalah dosa, sama dengan dosa-dosa yang lainnya.

Bagaimana reaksi kita saat mendengar seseorang terlibat dalam dosa perzinahan? Dan bagaimana pula reaksi kita saat dengar perpecahan dan ketidakbersatuan? Perpecahan bertentangan dengan kehendak Allah, dan kalau perpecahan bertentangan dengan kehendak Allah maka kita berdosa jika hidup di dalamnya (I Korintus 1:10; 3:3-4, 12:25).

Menurut pandangan Tuhan perpecahan diantara kita sangat berdosa. Mengapa kita tidak perlakukan dosa perpecahan sama dengan dosa-dosa lainnya? Paulus dan para penulis Perjanjian Baru lebih banyak mencela orang-orang yang menyebabkan perpecahan daripada mereka yang melakukan bentuk-bentuk dosa lain.

Allah bukanlah Allah dari metode atau rumus, terbatas pada cara-cara kerja tertentu. Apa yang berguna di satu tempat mungkin tidak berguna di tempat lain. Roh Kudus adalah seperti angin yang tidak bisa dimuat dalam kotak apapun, dan Gereja itu sedemikian dinamisnya sehingga ia tidak bisa dikendalikan oleh teologia dari kelompok manapun. Kita harus meninggalkan semua sikap-sikap dari kemandirian palsu, iri hati, dan terutama ketinggian hati. Kesombongan – yang merupakan akar segala dosa – itulah yang mengusulkan bahwa kelompok kita atau gereja kita tidak membutuhkan bagian lainnya dari Tubuh Kristus. Kesombonganlah yang mengatakan bahwa kita adalah pelopor-pelopor dari Kerajaan Allah, di dalam dan dari kita sendiri, dan bahwa kita saja yang sedang berada di pusat dari apa yang Dia sedang kerjakan. Allah sedang bekerja melalui berbagai macam kelompok, gereja-gereja, dan struktur-struktur. Setiap sikap yang tidak memajukan kesatuan – tidak peduli betapapun salahnya orang lain menurut kita – adalah dosa! Mari kita mengesampingkan penggolongan-penggolongan, ketakutan, dan kesombongan kita. Kita saling memiliki dan perlu untuk mulai bertindak seperti itu. Kita harus mengulurkan tangan dalam Roh Kasih dan kepercayaan, rindu untuk melayani dan saling bekerja sama.

Tentunya kita semua setuju dengan ungkapan: “Dalam hal-hal yang pokok biarlah ada kesatuan, dalam hal-hal yang tidak pokok biarlah ada kebebasan, dan dalam segala perkara biarlah ada kasih”.


N.B :
Dalam 1 Korintus 15:1-5, Paulus mendaftar masalah-masalah doktrin yang ia anggap paling penting, atau pokok, bagi iman Kristen:

  1. Kristus mati bagi dosa-dosa kita.
  2. Dia adalah Kristus dari ayat-ayat Perjanjian Lama, yang berarti bahwa Dia adalah Anak Allah.
  3. Dia dibangkitkan pada hari yang ketiga dan menampakkan diri kepada para murid.

www.corneliuswing.com

Tagged with: ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. otniel tumonglo said, on Mei 18, 2009 at 9:12 am

    Artikel yg luar biasa.memberkati dan mengajk kembali kpd F.T.
    Doa saya setiap umat Tuhan memndang perpecahan sbgai dosa yg besar.
    Ko Wing keren!!rasul Tuhan yg tajam dlm penyampaian kebenaran Allah.
    Hidup UNITY


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: