Be an Example! Be a witness in everywhere

Menguak Simbol Terang dan Gelap Dalam Harry Potter

Posted in Hot News by Be example on Maret 6, 2008


Kehadiran Harry Potter telah menimbulkan kontroversi panjang di kalangan umat Kristen. Ada yang bilang, Harry Potter menyesatkan. Sementara kubu lain, justru menemukan banyak nilai Injil Kristus di dalam Harry Potter. Dua haluan yang amat berseberangan. Ada apa sebenarnya dengan Harry Potter (HP)? Mengapa umat Kristen repot-repot memperdebatkannya? Apa memang buah khayalan Jeng Rowling itu punya signi?kansi dengan kekristenan?

HARRY POTTER DAN KEKRISTENAN

Sebetulnya, menurut Dr. Murti Bunanta, S.S, M.A tema utama HP adalah tema lama yang berakar pada cerita rakyat, yaitu kejahatan melawan kebaikan. Sebuah tema klasik yang tak habis-habisnya menjadi sumber penciptaan yang baru(Matabaca, Desember 2005). Seperti halnya cerita klasik anak-anak karya H.C. Andersen,Enid Blyton, Ronald Dahl, dll. di tangan Rowling, tema itu mengalami penciptaan yang baru. Mengambil latar belakang dunia sihir, karya Rowling mampu menyihir ratusan juta anak di seluruh dunia.

Penumpasan kejahatan oleh si baik dengan menggunakan latar belakang dunia sihir itulah yang mengundang kegusaran umat Kristen. Rowling boleh bilang bahwa tulisannya hanyalah khayalan belaka. Namun, dunia sihir adalah sebuah kenyataan. Di Eropa dan Amerika, agama Wicca yang banyak melakukan praktik sihir berkembang dengan pesat. Dan, Rowling benar-benar mempelajari dunia okultisme, legenda dan sejarah itu secara mendalam.Maklum, dia memang menyandang gelar S-2 dalam bidang Mitologi. Ia pun mengaku bahwa 1/3 dari bahan tulisan di HP adalah berdasar pada okultisme yang sebenarnya yang kemudian ia otak-atik kembali sesuai dengan imajinasinya (Menyingkap Penyesatan Harry Potter dan Ilmu Sihir, Steve Wholberg, Light Publishing, 2007).

PANDANGAN NEGATIF: HARRY POTTER SESAT!

Maka, tongkat sihir, ketel untuk memasak ramuan, bola kristal seperti yang ada di HP, adalah barang yang digunakan oleh para penyihir betulan di dunia nyata. Di tangan Rowling dunia sihir yang terlarang itu menjadi sebuah duniapetualangan yang amat memikat anak-anak. Terbukti, larisnya HP juga mendongkrak penjualan buku anak-anak bertema sihir. Pada jeda penerbitan HP, buku-buku karya Eva Ibbotson seperti Bukan Sembarang Hantu dan Menghantui Hiram yang juga bertema sihir laris diserbu penggemar. Buku-buku Ronald Dahl seperti Matilda dan Ratu Penyihir yang sejak terbit 1990 penjualan sempat seret hingga didiskon besar-besaran di bazar buku, tahun 2005 sudah masuk cetakan ke-4. (Matabaca, Desember 2005).

Ya, Rowling telah membuat wajah dunia sihir menjadi lebih ramah dan positif. Alkitab menunjukkan sejak zaman sebelum Musa, praktik sihir itu sudah hidup. Dan, Tuhan melarang umat “berkenalan” atau bahkan praktik ilmu sihir (Ul. 18:9-12). Mereka yang mempraktekkan sihir akan mendapat tempat di lautan api yang menyala-nyala. ( Why. 21:8). Inilah alasan kuat yang membuat banyak gereja, pendeta dan orang tua melarang jemaat, terutama anak-anak membaca Harry Potter. Harry Potter menjadi serialpaling dikecam Amerika sepanjang abad 21. Dari penarikan buku-buku dari sekolah dan perpustakaan, HP menjadi buku yang paling dipertanyakan karena mengandung sihir dan dorongan berperilaku buruk.

PANDANGAN POSITIF: HARRY POTTER SARAT INJIL

Di tengah penolakan yang radikal itu, Connie Neal justru melihat Harry Potter mengandung banyak nilai Injil. Seperti Yesus menggunakan perumpamaan orang Samaria yang baik hati untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, maka Neal juga menggunakan Harry Potter yang notabene kontroversial untuk memberitakan Injil. Jika Wholberg dan kaum Kristen fundamentalis mencari praktek okultisme yang begitu mudah ditemui di dalam HP, Neal dalam buku-nya Injil Menurut Harry Potter, BPK, 2007 justru mengambil makna positifnya. Neal menganalogikan kehadiran Voldemort yang telah menebar teror kutukan kematian di dunia sihir dengan pengusiran Lucifer dari surga. Godaan Lucifer membuat Adam dan Hawa terjerat dosa dan seluruh dunia hidup dalam ketakutan akan kutukan kematian. Selamatnya Harry Potter dari maut yang disambut dengan kegembiraan dunia sihir: bintang jatuh dari langit, burung hantu beterbangan di siang hari, seakan mengingatkan pada sukacita dan gegap gempita seluruh penduduk surga menyambut kelahiran bayi mungil di kandang domba.

SIMBOLISASI KEKRISTENAN?

John Granger dalam bukunya Looking for God in Harry Potter juga punya pandangan positif. Ia melihat serial Harry Potter sebagi simbolisasi terbuka kekristenan. Pandangan itu berdasarkan pertimbangan bahwa Rowling jemaat gereja Scottish Episcopalian (gereja injili) yang tekun. Keseluruhan cerita, menurut Granger, mengandung mitos penebusan Kristen.Di antara dua sikap pro dan kontra, ekstrem kanan dan ekstrem kiri itu, John Houghton dalam bukunya The Harry Potter Effect:Simbol Kekristenan Atau Kegelapan?, Penerbit ANDI, 2007 memberi pandangan yang proposional. Rowling, menurut Houghton membawa kita melihat relevansi pesan Injil dalam konteks kebudayaan kontemporer. Karena itu, jangan terlalu paranoid. Tetapi jangan pula mempertaruhkan kredibilitas Injil untuk sebuah nilai yang masih campur-aduk.

DUNIA SIHIR HARRY POTTER SEBUAH MITOS

Houghton melihat dunia sihir-yang menjadi sumber masalah bagi kaum Kristen fundamentalis-di dalam Harry Potter sebagai sebuah mitos yang lazim ada di cerita dongeng. Seperti kisah Cinderela. Kekuatan sihir mampu mengubah si upik abu menjadi seorang gadis cantik dalam sekejap. Atau kisah Putri Salju dan Tujuh Kurcacinya. Sayangnya, di dalam sebuah mitos, nilai baik dan buruk itu selalu campur aduk. Jadi, kita harus punya ketajaman untuk membedakannya. Sihir di dalam cerita mitos, tak masalah, asal itu digunakan sebagai simbol kehidupan dan transformasi. Sihir dalam kisah Cinderela jelas sebagai simbol. Kebaikan hatinya meski ia disakiti, cita-cita yang tinggi, harapan dan impiannya dibalas dengan pengalaman ajaib yang mengubah hidupnya.

Yang menjadi masalah, jika sihir itu digunakan sebagai kekuatan untuk memanipulasi. Alkitab mengutuk ilmu sihir dan semua hal yang berkaitan dengan seni magis. Entah itu penyihir Mesir pada zaman Musa, penyihir Babilonia pada zaman Daniel, penyihir-penyihir di Israel dan lainnya. Allah tidak memberi tempat untuk mereka (Why. 2:15). Inti sihir ini adalah menjalani hidup tanpa Allah. Karena merasa punya kekuatan memanipulasi untuk membawa keuntungan bagi diri sendiri. Ini adalah bentuk pemujaan berhala. Nah, di dalam Harry Potter, sihir tidak digunakan sebagai simbol transformasi personal. Melainkan digunakan sebagai kekuatan untuk menyelesaikan konflik. Meski untuk menumpas kejahatan, tetap tidak bisa diterima. Sama seperti dosa, di dalam sihir kita tidak mengenal “sihir putih” maupun “sihir hitam”. Segala jenis ritual sihir tetap salah. Dalam kaitannya dengan ilmu sihir, di sinilah titik kesalahan Harry Potter!

Yang menjadi masalah, jika sihir itu digunakan sebagai kekuatan untuk memanipulasi. Alkitab mengutuk ilmu sihir dan semua hal yang berkaitan dengan seni magis. Entah itu penyihir Mesir pada zaman Musa, penyihir Babilonia pada zaman Daniel, penyihir-penyihir di Israel dan lainnya. Allah tidak memberi tempat untuk mereka (Why. 2:15). Inti sihir ini adalah menjalani hidup tanpa Allah. Karena merasa punya kekuatan memanipulasi untuk membawa keuntungan bagi diri sendiri. Ini adalah bentuk pemujaan berhala. Nah, di dalam Harry Potter, sihir tidak digunakan sebagai simbol transformasi personal. Melainkan digunakan sebagai kekuatan untuk menyelesaikan konflik. Meski untuk menumpas kejahatan, tetap tidak bisa diterima. Sama seperti dosa, di dalam sihir kita tidak mengenal “sihir putih” maupun “sihir hitam”. Segala jenis ritual sihir tetap salah. Dalam kaitannya dengan ilmu sihir, di sinilah titik kesalahan Harry Potter!

Pengaruh Harry Potter yang “paling berbahaya” adalah membawa pembacanya untuk mengandalkan diri sendiri berdasarkan pilihan, kehendak dan teknologi/pengetahuan yang dimiliki. Dan, tidak mengakui Allah maupun anugerah-Nya. Pandangan ini sejalan dengan neo-paganisme yang sedang menjangkiti dunia Barat. Neo-paganisme adalah sebuah spiritualitas yang berdasar pada kekuatan diri sendiri yang didukung oleh energi alam semesta. Kendati mengaku Kristen, mungkin pengaruh sekularisme justru lebih kuat dalam diri Rowling.
Sumber: bahana-magazine.com/VM

Tagged with:

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dani said, on Maret 15, 2008 at 1:22 pm

    aku tiba2 dapat pesan ini?apa maksudnya??bales ke email aku yA?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: