Be an Example! Be a witness in everywhere

Kok Yesus Harus Mati?

Posted in Teaching by Be example on Maret 22, 2008


Simbol adalah alat komunikasi yang sangat kuat. Perusahaan-perusahaan menghabiskan dana yang sangat besar hanya untuk mencari sebuah logo yang pas untuk mewakili semua tentang perusahaannya kepada publik. Inti dari simbol ialah “Lihat logo ini, dan ingatlah kami”.

Jika memang simbol tersebut sangat penting, mengapa pengikut Yesus memilih salib untuk mewakili diri mereka? Mengapa memilih sebuah lambang yang berarti penyiksaan? Mengapa memilih sebuah lambang yang berhubungan dengan kematian pemimpin mereka?

Di luar sana masih banyak lambang lain yang artinya lebih bagus dari “kematian”. Lalu kenapa harus salib? Apa sih yang penting dari kematian Yesus?

Apa Kejahatan Yang Dibuat Yesus?

Pada saat Yesus hidup, Ia sangat populer. Kumpulan besar orang-orang selalu mengikuti Dia untuk melihat dan mendengar Dia. Tapi waktu itu, para pemimpin agama melihatnya sebagai ancaman. Yesus membuat ‘peraturan baru’ yang lain dari yang mereka percayai, seperti aturan dilarang bekerja di hari sabat yang dilanggar Yesus. Yesus sendiri menyebut mereka orang-orang munafik. Dan sudah pasti mereka membenci-Nya karena itu.

Banyak ide dan pernyataan Yesus yang sangat revolusioner. Tapi satu hal yang paling utama ialah ketika Yesus berkata bahwa Ia adalah Tuhan. Ini langsung membuat para pemimpin waktu itu ingin membunuh-Nya. Dari sudut pandang mereka, Yesus telah melakukan sebuah dosa terbesar, yaitu penghujatan.

Roma sangat berkuasa di Israel saat itu sehingga Yesus sendiri dibawa ke pengadilan Roma. Pontius Pilatus yang menjatuhkan hukuman mati atas diri-Nya saat itu, melakukannya hanya agar rakyat diam dan tenang. Padahal ia sendiri tahu bahwa tidak ada kesalahan yang ia temukan pada Yesus. “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini“, ujarnya.

Apa Kata Yesus Tentang Kematian-Nya?

Keadaan waktu itu seolah menunjukkan bahwa Dia hanyalah manusia biasa yang melanggar hukum dan harus menerima konsekuensinya. Padahal kematian-Nya itu telah Ia katakan sendiri di hadapan murid-murid-Nya, lama sebelum itu benar-benar terjadi. Kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit“.

Yesus menyatakan bahwa kematian-Nya dimaksudkan untuk suatu tujuan spesifik. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang“, kitab Matius mencacat.

Apa Yang Yesus Lakukan Tentang Kematian-Nya?

Jika Yesus adalah korban situasi, Dia pasti akan melakukan sesuatu terhadap kematian-NYa. Tapi tidak ada satupun yang Yesus lakukan untuk menghentikan proses kematian-Nya. Dia tidak naik banding, atau lari dari tuduhan. Dia justru berkata “Tidak seorangpun mengambilnya (hidup) dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri“.

Dia bisa saja memerintah malaikat untuk datang menyelamatkan Dia. Tapi tidak. Dia tetap diam walau disesah dan didera. Tapi mengapa harus dengan mati Ia mencapai tujuan-Nya? Tidak bisakah Ia tetap hidup? Bukankah dengan tetap hidup Dia bisa melakukan lebih banyak lagi mujizat?

Identitas Yesus Adalah Kuncinya

Kematian Yesus menjawab pertanyaan tentang siapakah Dia dan untuk apa Ia datang.

Yesus tidak datang secara tak sengaja. Kitab suci telah mencatat diri-Nya sebagai karakter sentral. Ratusan tahun sebelum Yesus lahir, seorang penebus telah dijanjikan dalam kitab suci. Nubuatan tersebut sangat spesifik baik tentang kelahiran, kematian, dan kehidupan-Nya. Kitab Yesaya juga menubuatkan bahwa Yesus akan dikhianati oleh teman-Nya sendiri seharga 30 keping perak, dan tangan serta kakinya akan dipaku.

Yesus mati seperti itu untuk menggenapi nubuatan atas diri-Nya. Dia menjadi sang Penebus. Sekarang yang harus kita tahu, Ia menebus kita dari apa?

Jadi, Apa Inti Kematian Yesus?

Dia harus mati adalah alasan Dia datang ke dunia.

Pada awal pengajaran-Nya, Yohanes sudah melihat Dia dan berkata “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia“.

Orang Yahudi pada saat itu tahu betul apa arti “domba yang menghapus dosa”. Seumur hidup mereka, mereka harus mempersembahkan hewan kepada Tuhan agar dosa mereka diampuni. Hewan (biasanya domba) yang tak bercacat harus dibawa ke hadapan imam. Kemudian tangan mereka diletakkan di atas kepala si hewan sebagai tanda mentransfer dosa mereka di atas hewan tersebut. Kemudian hewan tersebut dikorbankan.

Hukuman dari dosa ialah kematian. Kematian hewan korban tersebut harus terjadi agar dosa terhapus. Ini adalah hukum nyawa ganti nyawa. Yang tidak bersalah dan tidak bercacat harus dibunuh supaya yang bersalah dapat bebas. Dan inilah arti pernyataan Yohanes terhadap Yesus. Yesus adalah domba Allah yang dikorbankan untuk menebus dosa manusia.

Yesus Adalah Korban Sekali Untuk Selama-lamanya Dari Allah

Pengorbanan dengan hewan, seorang imam dan seorang yang berdosa adalah ritual untuk membayar dosa. Tapi kematian Yesus hanyalah untuk sekali dan untuk selama-lamanya. Ketika Yesus berteriak di kayu salib “Sudah selesai“, artinya memang sudah selesai. Yesus yang adalah Tuhan sendiri harus berkorban. Sebuah korban yang tak tergantikan. Secara penuh dan utuh Dia membayar harga dosa manusia, di atas kayu salib.

Ketika Yesus di atas kayu salib, kitab suci mencatat bahwa pada pukul 12 siang sampai 3 sore dimana matahari mestinya bersinar, tiba-tiba langit menjadi gelap seperti tengah malam.

800 tahun sebelum hal ini terjadi, nabi Amos sudah menubuatkan kejadian ini. “Pada hari itu akan terjadi,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah“.

Lukas mencatat “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga“. Kegelapan itu menunjukkan pengadilan Tuhan atas dosa manusia atas diri Yesus. Seperti ada tertulis “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh“. Seperti yang terjadi pada hewan korban, semua dosa manusia ditanggung oleh-Nya di atas kayu salib, sehingga langit terangpun berubah menjadi gelap.

Dan Dia melakukan itu untuk kita. Agar pengampunan terhadap dosa itu menjadi hal yang mungkin. Dan ketika harga dosa itu sudah lunas dibayar, Ia bangkit dari antara orang mati.

Bagaimana Mengerti Hal Ini

Apa yang Yesus lakukan untuk kita dapat digambarkan pada cerita tentang dua orang adik kakak. Si adik adalah anggota gangster yang suka berkelahi. Pada satu malam, ia membunuh seorang lawannya dan lari pulang. Ia ganti baju dengan baju yang bersih, serta pergi lagi. Baju lamanya yang penuh darah ia tinggalkan di rumah. Tak lama kakaknya pulang, menemukan baju berdarah itu. Ketika ia melihat baju itu dan memegangnya, polisi datang dan menangkap si kakak. Dengan rela hati karena tahu itu adalah perbuatan adiknya, si kakak akhirnya dipenjara dan dihukum mati dengan tuduhan pembunuhan. Secara diam-diam, si adik menyaksikan pengorbanan kakaknya, ganti segala kesalahannya.

Lama-lama ia tidak tahan. Ia berlari ke kantor polisi dan mengakui semua perbuatannya. Tapi polisi menyuruhnya pulang karena kematian kakaknya sudah memuaskan hukum yang berlaku.

Inilah yang Tuhan lakukan untuk kita. Untuk menghapus dosa kita, ia mengambil alih hukuman yang mestinya kita derita. Inilah alasan Ia harus datang ke dunia. Inilah perbedaan kematian Yesus dari yang lain.

Tiga Cara Untuk Merespon

Ada tiga pilihan respon kita terhadap kematian Yesus.

Pertama adalah orang yang melihatnya dengan segenap hati. Mereka mengakui kesalahan dan dosanya serta mengambil keputusan untuk memulai awal yang bersih bersama Yesus. Mereka percaya pada janji Tuhan bahwa semua dosa dan salah mereka telah ditanggung dan harganya telah lunas dibayar oleh Yesus, dan mereka bebas!

Kedua adalah orang yang mengagumi tindakan itu tapi tetap hidup dalam dosa, dan terus menunda untuk mengambil keputusan.

Ketiga adalah orang yang tidak perduli. Mereka tidak ambil pusing dengan hubungan yang pulih antara Tuhan dan manusia. Mereka memilih untuk mencari cara sendiri untuk menghapus dosa mereka.

Sayangnya, apapun keputusan Anda, aturan pengampunan dosa tetap sama, yaitu lewat pengorbanan. Jika Anda mau menerima pengobanan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa Anda, Anda akan menerima pengampunan itu dan mengalami pemulihan dengan Tuhan. Jika tidak, upah dosa tetap hanya satu, yaitu maut selamanya.

Manakah yang Anda pilih?

http://www.jawaban.com

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: