Be an Example! Be a witness in everywhere

Segalanya Menjadi Mungkin Dalam Doa

Posted in kesaksian, true story by Be example on Maret 22, 2008

 

Bila Anda percaya akan kuasa doa, lebih baik Anda mulai berdoa. Dion dan Caren menuturkan tentang kejadian yang menimpa anaknya Lindsey. Saat itu tekanan darahnya turun secara drastis dari 24 ke 0 dan mereka tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka akan kehilangan anak mereka. Ketika ditanya apa reaksi pertama Dion? Dion menjawab dengan pasti “Berdoa”.

Dokter yang menangani anak mereka mengatakan bahwa mungkin mereka akan kehilangan anak mereka. Operasi berjalan dengan baik namun tanpa diduga tubuh Lindsey mendadak tidak berfungsi.

Caren mengisahkan kejadian awalnya, “Perasaan yang gembira dengan cepat berubah menjadi ketakutan dan kecemasan. Situasinya begitu menakutkan karena kami menyadari bahwa kemungkinannya kami akan kehilangan anak kami.”

Teman-teman dari gereja datang ke rumah sakit anak Columbia untuk berdoa bagi Lindsey. Kondisinya menjadi stabil. Namun pada hari ke tiga kondisinya memburuk. Kondisinya disebut dengan DIC atau pelemahan fungsi pada arteri. Dalam waktu singkat, ia mengalami perdarahan berat dari dalam. Dion dan Caren berada pada posisi yang belum pernah alami.

Dion juga menambahkan, “Kami duduk di sana dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dan kami seperti berjalan di jalan yang belum pernah kami jalani dalam iman dan doa kami.”

Berita tersebar. Dan di gereja Dion, gereja Nazaarene mengambil sikap untuk mendukung mereka dalam doa. Pendeta Bob Hovic dan jemaat berkumpul untuk berdoa dimana saja, baik di gereja dan di rumah. Mereka berdoa kepada Tuhan supaya Lindsey keluar dari keadaan kritis itu. Sementera itu Nancy terus bedoa di samping tempat tidur Lindsey supaya panas tubuhya yang mencapai 204 derajat turun. Dan kemudian dokter menemukan inti masalahnya. Semua hal ini dimulai saat liburan keluarga di sebuah pantai di Carolina Utara.

Suatu hari Lindsey bangun dengan luka gigitan serangga yang menurutnya adalah laba-laba. Namun akibat gigitan itu ia terinfeksi bakteri yang bernama Eusynia intercilitica, yang merupakan satu rumpun dengan racun dan bisa ular. Bila dibiarkan bakteri itu tidak berbahaya namun dalam keadaan yang tepat, ia bisa menjadi mematikan.

Setelah pulang, Lindsey mendapatkan darah untuk operasi dan saat itu bakteri itu masih ada dalam sistem peredaran darahnya.

Saat itu dokter Roslan menangani kelanjutan pengobatan Lindsey. Dia menerangkan bahwa bakteri itu dapat tumbuh dengan mudah pada suhu darah yang tetap seperti itu. Jadi dalam waktu lebih dari enam bulan didahului dengan peleburan sumsum tulang belakang, organisme tersebut berkembang biak berlipat kali ganda. Maka saat darahnya dikembalikan lagi di ruang operasi, darahnya sudah mengandung bakteri yang lebih banyak lagi. Bakteri itu mampu membunuh dua ekor kuda sehat. Dari sebelas kasus seperti ini, tidak ada satupun yang selamat.

Dokter memberikan obat perangsang pada Lindsey namun ia tidak memberikan respon. Dari hasil scan, dokter menemukan 7 titik stroke dan hasil EEG menunjukkan beberapa aktivitas di bagian otak. Merekapun mengajak tim doa untuk berdoa lagi. Kemudian dokter menyiapkan Dion dan Caren untuk hal yang lebih buruk.

Dion mulai pasrah dengan keadaan. Mereka bilang, “Kemungkinan anak Anda akan bergantung kepada kursi roda elektronik”. Dan itu merupakan skenario terbaik dari hasil pemeriksaan yang dilakukan.

Caren sangat terpukul dengan kenyataan ini. “Saya begitu terpukul, hati saya begitu hancur dan saya berdoa, Tuhan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.”

Kemudian Caren bertanya kepada perawat apakah ia bisa menemui Lindsey. Perawat itu mengatakan bahwa dia baru saja dari sana pada saat Lindsey membuka matanya. Saya memastikan lagi apakah benar, ia baru saja ke dalam dan anak saya membuka matanya, maka iapun membenarkannya. Kami pun kembali dan saya bertanya apakah dia tahu saya berada di sana dan apakah dia bisa membuka matanya, ternyata dia bisa. Kegembiraan saat itu seolah-olah seperti baru mencetak gol pada permainan sepak bola. Setiap hari mebawa harapan baru.

Dion melihat perkembangan Lindsey yang menggembirakan. Dia mengedipkan matanya. Kemudian dia menggerakkan jari-jari tangannya dan setiap gerakan tubuhnya sungguh membuat saya bersukacita.

Namun ada satu lagi hambatan yang harus dihadapi Dion dan Caren, selama 3 minggu diruang ICU sirkulasi di kaki Lindsey berhenti. Dan kaki itu harus diamputasi.

Caren menceritakan perasaan putrinya, “Waktu dia mengetahui itu, dia mengatakan dengan mulutnya, aku tidak mau melihat hari esok.”

Setelah amputasi, Lindsey harus menjalani rehabilitasi baik secara fisik maupun mental. Dion tetap bersabar, “Kami hampir putus asa dan mulai mengajari arti kata-kata. Mengajari berhitung dengan menempelkan gambar-gambar di dinding. Mengajari bagaimana menelpon. Matematika 1+1=2.”

Dalam perjuangannya, Lindsey mengalami perkembangan yang pesat. Dokter hanya dapat menemukan satu kata untuk menggambarkannya. Dokter Roslan pun mengatakan, “Saya jarang menggunakan kata ini, yaitu ‘mukjizat’.”

Lindsey keluar dari masa kanak-kanak yang menurut dokter tidak memiliki harapan menjadi remaja dewasa yang kembali sekolah.

Lindsey menggambarkan mukjizat yang dialaminya, “Awalnya saya berpikir bahwa saya tidak lagi mampu terlibat dalam cheerleader, berlari terutama bermain bola volly dan renang. Empat hal yang menjadi kesukaan saya. Dan saya percaya Tuhan sanggup melakukannya.”

Lindsey tidak hanya kembali bersekolah namun juga mengikuti tim cheerleader. Dulu ia berpikir bahwa yang terbaik adalah menghabiskan hidupnya di kursi roda dan tak akkan menjalani hidupnya dengan normal. Lindsey mempunyai beberapa pendapat tentang hal itu. Tuhan selalu membuat mukjizat dan ia masih melakukannya sampai sekarang, ada satu hari ini. Satu lagi kemarin dan Ia melakukannya setiap hari. Dan Ia sungguh mengasihi kita semua dan Dia tidak akan pernah mengecewakan kita. Tidak pernah !

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”.(Yakobus 5:16)

Sumber Kesaksian : Lindsey

   
 
   
 
Tagged with: , ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Artina N. Ginto said, on April 7, 2012 at 8:26 pm

    Tuhan Yesus tak pernah berubah dulu, sekarang dan sampai Maranatha Amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: