Be an Example! Be a witness in everywhere

Teologi Kemakmuran atau Teologi Kemiskinan?

Posted in Uncategorized by Be example on April 25, 2008

Mohon dijelaskan. Krn saya sedang berada di dua tempat itu. Jd bingung mana yg bener. Terima kasih

Daniel

Jawab:

Dua-dunya tidak benar. Penjelasan rinci mungkin tidak bisa dijelaskan disini. Teologi Kemakmuran, mengajarkan bahwa orang kristen yang sungguh-sungguh beriman dan mengikut Tuhan, pasti akan kaya atau harus kaya. Alasannya: karena kita adalah anak Allah, sedangkan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya. Mengaku diri sebagai anak Allah, tetapi hidup dalam kemiskinan, adalah suatu kontradiksi.

Alkitab memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya. Tetapi Alkitab juga tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya! Walaupun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita, kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.

Terbalik dengan Teologi Kemakmuran, Teologi Kemiskinan menolak materialisme demi mengagungkan asketisme. Teologi Kemiskinan membuang jauh-jauh segala macam ide duniawi dan segala obsesi terhadap uang. Ajaran ini secara ekstrem menyebutkan bahwa percaya kepada harta benda duniawi dan memilikinya dianggap sebagai kutukan/dosa. Teologi kemiskinan menolak materialisme dalam berbagai cara dan bentuk. Hal ini tentu menimbulkan bias terhadap keberadaan kaum miskin. Anehnya, teologi kemiskinan tidak memberikan jawaban terhadap masalah ini. Orang yang ragu-ragu atau menolak kekayaan sepakat dengan teologi kemiskinan.

Yang benar adalah Teologi Salib. Perhatiannya hanya pada Salib Kristus. Contoh, Paulus membanggakan kelemahannya. Ia menyebut dirinya “Pendosa yang paling berdosa di antara orang berdosa” dan “seorang yang celaka”. Sejauh itu ia memperhatikan, kekudusannya dan kebaikannya dibandingkan dengan kebenaran Kristus. Baginya, dinamika kedua hal penghakiman dan pengudusan adalah “bukan saya, tetapi Kristus.” Setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan.

Di salah satu website saya menemukan nasehat yang baik sekali yang isinya sbb:

“Yesus hendak mengajar manusia agar mereka tidak kuatir dengan apa yang akan mereka makan atau minum. Yang perlu mereka kuatirkan adalah apakah saudara mereka bisa cukup makan atau minum.Some times life is simple. So… what’s up Doc.”

[CKM]

Setelah beberapa tahun belakangan teologi kemakmuran naik daun dan mempengaruhi jutaan pengikut Kristus di seluruh dunia, belakangan ini teologi kemiskinan pun mulai bangkit kembali. Hasilnya adalah perdebatan antara mana yang harus kita “anut” teologi kemakmuran ataukah teologi kemiskinan?

Teologi kemakmuran adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa Tuhan ingin setiap dari kita hidup berkelimpahan (dengan didasarkan pada Yohanes 10:10). Selain itu mereka juga berpendapat bahwa Tuhan akan terus memberkati kita bila kita hidup seturut dengan FirmanNya. (contoh: Ulangan 28:1).

Di sisi lain, teologi kemiskinan adalah sebuah paham di mana kita diminta untuk menyingkirkan harta duniawi dan mengutamakan Tuhan. Pemahaman ini diperkuat salah satunya oleh Matius 6:33. Sebetulnya paham ini bukanlah hal yang baru. Sejak abad-abad silam telah banyak mistikus Kristen yang memutuskan untuk hidup menyendiri dan memutuskan untuk menjalani hidup “pertapa”. Banyak orang akhirnya membawa paham ini ke titik ekstrim sehingga mereka benar-benar hanya “mencari Kerajaan Allah”.

Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi hal ini? Apakah seharusnya kita berpegang pada teologi kemakmuran? Ataukah teologi kemiskinan? Apakah kedua paham ini Alkitabiah?

Teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa setiap orang yang mengasihi Allah akan diberkati sebenarnya membuat sebuah kesalahan fatal dalam asumsi mereka. Tuhan memang berjanji akan memberkati setiap orang yang mengasihiNya, akan tetapi BUKAN BERARTI BERKAT TERSEBUT HARUS BERUPA BERKAT FISIK/MATERI.

Di dalam Alkitab kita temui banyak contoh akan orang-orang yang mengasihi Allah namun hidupnya tidak “makmur”. Kitab Ayub dengan jelas menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar di hadapan Allah (bahkan Allah sendiri memuji Ayub!), akan tetapi kita tahu bahwa tetap Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi pada diri Ayub. Kita juga melihat kisah nabi Yeremia yang sepanjang hidupnya menderita. Apakah ia kurang mengasihi Allah?

Contoh terakhir adalah Kristus sendiri. Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang mengasihi Allah? Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang setia dalam menjalankan FirmanNya? Tetapi kita tahu bahwa Kristus adalah orang yang tergolong miskin pada jamanNya. Selain itu, cara Ia mati pun bukanlah cara mati yang “terbaik”.

Jadi sebenarnya apakah berkat yang dijanjikan oleh Allah apabila kita mengasihiNya? Berkat tersebut adalah berkat rohani. Dan yang terutama dari segala berkat rohani itu adalah karya keselamatan yang diberikan melalui Kristus.

Jadi haruskah kita “menganut” teologi kemiskinan? Haruskah kita betul-betul mencari Kerajaan Allah dan percaya bahwa Tuhan akan menambahkan selebihnya?

Pemahaman inipun kurang tepat. Saat Kristus mengatakan bahwa kita harus mencari Kerajaan Allah, bukan berarti kita tidak perlu melakukan hal-hal lain. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa ia tetap bekerja di tengah-tengah pelayanannya, bahkan ia menyimpulkannya dengan berkata, “jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tes 3:10)

Tuhan memang meminta kita untuk mengutamakan Kerajaan Allah dan Ia berjanji akan menambahkan selebihnya kepada kita, akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa kita tidak memiliki tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan duniawi. Terlebih lagi, panggilan untuk mencari Kerajaan Allah juga berarti bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatunya untuk kemuliaan Tuhan.

Jadi bagaimana sikap kita seharusnya?

Dalam hidup kita tidak bisa mengambil kedua extrim tersebut. Dalam segala hal yang kita lakukan, kita bisa mencari Kerajaan Allah (dengan cara melakukan segalanya untuk kemuliaan Tuhan) dan juga kita harus percaya bahwa kita telah menerima berkat yang terbesar, yaitu keselamatan.

Pengejaran kita akan kekudusan tidaklah boleh dilandaskan akan harapan untuk mendapatkan berkat jasmani. Namun, apabila Tuhan mempercayakan berkat jasmani kepada kita, kita wajib mempergunakan apa yang Tuhan percayakan untuk kemuliaanNya.

Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan, “Some Christian are so worldly, that they are of no heavenly good. Some others are so heavenly, that they are of no worldly good.” Janganlah kita menjadi seperti itu.

http://asksophia.wordpress.com

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. marvin said, on September 11, 2008 at 5:22 am

    Luar biasa! Tulisan ini telah memberi pencerahan iman pada saya dan saya yakin juga pada banyak orang lain. Kedua kutub ekstrem ini memang terjadi. Tapi yang sedang ngetrend di Jakarta terutama teologi kemakmuran. Keinginan daging yang dibungkus haleluya.

    Mari kita sama2 berdoa supaya pendeta-pendeta dan gereja-gereja yang mengajarkan teologi kemakmuran disadarkan oleh Tuhan Yesus dan kembali mengajarkan teologi salib yang benar. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: