Be an Example! Be a witness in everywhere

New Age Movement – Spiritual insight

Posted in Hot News by Be example on April 27, 2008

Pelega Kembara Dahaga Jiwa Sang Air Hidup

Setelah jemaat mula-mula di Yerusalem mengalami penganiayaan hebat, mereka pun tersebar ke seluruh wilayah Yudea dan Samaria. Meski demikian, semangat mereka dalam menginjil tetap membara. Filipus, salah satu murid Yesus menyusul ke suatu kota di Samaria untuk memberitakan Mesias.

Samaria sempat gempar ketika seorang wanita di Sikhar yang menjadi buah bibir memberitakan tentang Kristus. Perjumpaannya dengan Yesus, sang Air Hidup membuat dahaga jiwa wanita itu terpuaskan. Penduduk kota itupun datang kepada Yesus (Yoh. 4:10, 28-30).

SENSASI SPIRITUAL

Filipus tampil memberitakan tentang Mesias dengan disertai tanda-tanda mukjizat. Warga kota yang haus akan jamahan kasih Allah ini menerima pemberitaan Filipus. Kehadiran Filipus juga menyingkap tabir kuasa gelap yang cukup lama mencengkeram warga setempat. Kedatangan Filipus dengan kuasa Roh Kudus yang demonstratif seolah mengkonfrontir kuasa lain dari Simon. Simon mempraktikkan sihir yang menakjubkan rakyat. Kebolehannya ini membuat ia memperoleh banyak uang dan berlagak seolah-olah ia orang penting (ayat 9). Simon melakukan semua itu dengan Kuasa Besar yang dianggap umum sebagai kuasa Allah. Padahal ia mencampurkan unsur-unsur ilmu gaib Helenisme (kepercayaan Yunani) dan unsur Yahudi yang sesat.

Demonstrasi mukjizat oleh kuasa Roh Kudus membuat Simon harus mengakui bahwa kuasa Allah jauh lebih besar. Simon kemudian menjadi percaya dan minta dibaptis. Namun, hatinya tidak tulus. Kenyataan selanjutnya menunjukkan bahwa pegangan dasar hatinya tetap ilmu gaib. Ia begitu terkesan dengan karya Roh Kudus melalui tangan para rasul. Ia menghadap rasul-rasul agar dapat membeli kuasa Allah. Ia menganggap bahwa “kuasa” itu sebagai harta milik yang bisa diperjual-belikan. Tujuannya apalagi kalau bukan bisnis kuasa seperti dilakoninya selama ini. Komersialisasi agama atau spiritualitas untuk mendapat kuasa demi kepentingan pribadi.

Petrus menghardik keinginan itu dengan tegas. Bagaimana nasib Simon selanjutnya? Alkitab tidak mencatat nasib tukang sihir ini. Namun dalam sastra Kristen kuno menunjukkan bahwa Ireneus dan bapak gereja lainnya menyebut-kan Simon sebagai bidat dengan ajaran Gnostisisme. Dasar pemikiran Gnostik adalah pengetahuan tersembunyi, yaitu memiliki jiwa rahasia yang akhirnya dapat menjamin kesatuan jiwa dengan Tuhan. Inti Gnostik adalah sinkretisme dan penyesuaian diri antara unsur-unsur Yudaisme, filsafat Yunani dan Timur.

HADAPI BERBAGAI AJARAN

Para rasul gereja mula-mula menghadapi sinkretisme, Gnostisisme, dan sebagainya yang menjadi akar New Age di banyak tempat. Barnabas dan Paulus di Siprus menghadapi Baryesus, tukang sihir dan nabi palsu (Kis. 13:4-12). Paulus juga menghadapi perempuan tenung di Filipi (Kis. 16:16-18), dan tukang jampi Yahudi di Efesus (Kis. 19:13-20) yang mencatut nama Yesus.

Bidat di Kolose menggabungkan spekulasi filosofis, kuasa perbintangan, ketakutan kepada malaikat-malaikat perantara, dan praktik-praktik Yudaisme (Kol. 2:8-23). Di Efesus Paulus menghadapi pengajaran yang dicampur dengan mitologi dan silsilah.Sewaktu berada di Athena, Paulus diperhadapkan dengan 2 kelompok aliran filsafat: golongan Epikuros dan Stoa (Kis. 7:17). Merujuk Ir. Herlianto, M.Th dalam kedua kelompok filsafat ini bisa dibilang sebagai akar New Age. Bagi golongan Epikuros, tujuan hidup manusia adalah memberikan kenikmatan jasmani maupun mental. Pandangan Epikuros berulang kali muncul dalam pemikiran materialisme, sekularisme, rasionalisme, humanisme, dan pada masa kini dalam bentuknya yang modern, yaitu Humanisme sekular. Dalam kaitan dengan New Age, humanisme sekuler berkembang menjadi Humanisme Kosmis atau Humanisme Baru yang tidak lagi menekankan pada rasionalitas dan materialisme, tetapi pada pengalaman kemanusiaan yang bersifat mistis dan kosmis.

Sementara, menurut Stoa, segala benda, termasuk manusia dibentuk oleh kekuatan (force) yang ada di alam semesta. Kekuatan ini ada dalam segala sesuatu dan berbentuk sejenis “api” yang menjadi jiwa atau roh semesta. Sifat roh semesta ini hidup, karena itu alam semesta, termasuk manusia menjadi hidup. Bagi Stoa, kebaikan adalah melakukan kehidupan yang harmonis dengan alam. Manifestasi modern golongan Stoa yang berpaham pantheisme tampak pada New Age Movement. Setiap orang harus berpartisipasi dalam kenegaraan semesta, manusia adalah warga dunia.

Bedanya, pandangan Episkuros bersifat individualistis, sementara golongan Stoa berpandangan idealisme masyarakat. Manusia hidup bersama dalam persaudaraan semesta.Kedua kelompok kembar itu menempatkan manusia sebagai tuhan, pusat semesta (antroposentris) dan menolak hakikat Tuhan sebagai pribadi dan pencipta.

Sesuatu yang baru selalu menarik perhatian. Warga Athena termasuk kelompok yang berminat terhadap hal-hal baru. Hal ini dimanfaatkan Paulus untuk menyampaikan kebenaran Injil. Meski dicemooh, Paulus berhasil me-menangkan Dionisius dan Damaris.

MENEMBUS JANTUNG UMAT

Pengaruh spiritisme mudah merasuk dalam kehidupan umat Tuhan ketika terjadi kekosongan pemimpin rohani dan kehidupan lama yang belum ditinggalkan. Bahkan Salomo yang disebut sebagai orang paling bijaksana pun jatuh dalam lubang ini. Oleh karena ingin menyenangkan hati para istri dan gundiknya, ia rela membangun kuil allah asing. Dibawah pimpinan Musa, Israel telah dbebaskan dari perbudakan Mesir. Sayangnya, kebiasaan Mesir belum mereka tanggalkan. Ketika menjalani pengembaraan yang berat, mereka bersungut-sungut. Angan mereka kembali ke Mesir. Begitu pula dalam hal spiritual.

Beberapa hari setelah Musa naik ke gunung Sinai, umat mulai gelisah. Tanpa Musa, bangsa Israel seolah anak-anak ayam yang kehilangan induk. Kendati ada Harun, ia tidak sanggup menjawab dahaga jiwa umat-Nya. Setelah sebulan Musa tak kunjung pulang, dalam kegersangan spiritual inilah mereka menantang Harun untuk membuat allah yang dapat dilihat. Harun, sekalipun sudah cukup lama menjadi juru bicara Musa, malah tergerus arus. Ia membentuk menjadi patung anak lembu emas dan menyebutnya sebagai Allah. Mereka larut dalam penyembahan yang menjijikkan. Akibatnya fatal, nyaris bangsa pilihan itu dimusnahkan oleh Allah.

Sepeninggal nabi Samuel, Raja Saul seolah kehilangan pegangan spiritual, terlebih setelah ditolak dan gagal berhubungan dengan Allah (1Sam. 28). Betapa mudahnya pemimpin Israel, umat Tuhan terperosok ke dalam spiritisme dan peyembahan berhala. Padahal Yesaya mengingatkan bahwa perdukunan merupakan dosa terbesar yang mendatangkan murka Allah (Yes. 19:3-4).

PELEGA DAHAGA JIwA

Kini, kita berada di era post-modern yang ditandai dengan pergolakan sosial yang kian pesat. Manusia diperhadap-kan dengan berbagai krisis kemanu-siaan: krisis diri, keterasingan, depresi, stres, keretakan institusi keluarga, dsb. Secara psikologis ada ketakutan eksisten-sial yang mengancam umat manusia di tengah situasi krisis, sarat teror, konflik, kekerasan hingga pembunuhan yang menjadi menu sehari-hari. Setumpuk masalah tersebut membuat manusia mengalami kekosongan batin. Sementara di gereja juga terjadi kekosongan spiritual karena hanya mengisi aspek ritual agama.

New Ager berusaha mengisi kekosongan batin manusia posmo dengan spiritualitas lintas agama. Usaha itu dilakukan dengan kekuatan manusia, dengan cara mengaktualisasikan diri. NAM juga berusaha menggali sifat keilahian dari dalam diri manusia untuk dirinya sendiri. Ajaran New Age berusaha mengalihkan kita dari Kristus dan membawa kepada “kristus” yang lain. Ada kesamaan napas dalam semua aliran NAM, baik dalam bentuk pengembangan pribadi, perdukunan, maupun kebatinan, yaitu tidak mengakui Allah sebagai pribadi. Mereka menurunkan Allah dari takhtanya sebagai pencipta. Sebaliknya manusia dinaikkan di atas takhta karena manusia menganggap dirinya ilahi.

Menghadapi realitas ini, umat Kristen ditantang untuk membawakan Injil Kabar Baik yang dapat memenuhi kekosongan batin tersebut. Yesus telah menawarkan perhentian batin bagi mereka yang mau datang kepada-Nya, “Marilah kepada-KU, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).Dalam Injil, perhentian batin itu bukanlah pengalaman batin yang mistis atau ekstasis, tetapi suatu kehadiran air hidup dalam diri kita yang mengalir sampai kepada hidup yang kekal (Yoh. 4:13-14, 7:37-39). Kuasa pembebasan Roh Kudus ini merupakan anugerah Tuhan kepada manusia. (Sugiyanto/dbs)

www.bahana-magazine.com

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: