Be an Example! Be a witness in everywhere

Pertobatan penganut NAM

Posted in Hot News by Be example on April 27, 2008

Kasih Setia Tuhan Sepanjang Zaman

“Are you alive, or just living?” pertanyaan yang kubaca di sebuah buku ini membuatku merenung. “Apakah kau benar-benar hidup, atau hanya bernapas?”

Sebut saja namaku Tina. Sebuah kejadian yang memilukan mendorongku untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus berkelebat di kepala. Menjadi “pengembara”, menempuh perjalanan batin melewati belantara baru penuh mawar dengan ribuan duri tersembunyi di se-tiap kelopaknya. Aku mempertanyakan Tuhan, juga kehidupan.

BERTEMU GURUJI

Suatu sore di tahun 2001, seperti ada yang menuntunku untuk membeli buku karya seorang humanis-spiritua-lis. Seperti kecanduan aku membaca hampir seluruh karyanya. Sekitar 50-an buku kubaca tuntas. Buku-buku itu seolah meneguhkan sesuatu dalam hatiku. Di dalamnya tertulis semua jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum kuucapkan.

Sejak itu, aku mendevosikan diri, waktu, harta, dan tenaga untuk paguyuban yang dipimpin oleh penulis tersebut. Paguyuban yang berpusat di Jakarta ini memiliki ‘cabang’ di berbagai daerah, antara lain Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Aku sempat menjadi sekretaris koordinator paguyuban di Yogyakarta. Seperti menemukan oase yang selama ini kucari, akupun semakin aktif di paguyuban ini hingga aku memiliki akses mudah untuk berhubungan dengan penulis. Aku memanggilnya guruji. Sosoknya yang berwibawa mampu “menyihir” siapa pun yang memandang dan mendengarkan ajarannya. Melegakan, mencerahkan. Setidaknya itulah yang dulu kurasakan hingga rela meninggalkan segala kenyamanan untuk devosi kepada guruji, jiwa dan raga.

Dengan “bungkus” ingin mengapresiasi seluruh keyakinan dan mendamaikan negeri ini, siapa yang tidak tertarik? Apalagi promosinya amat memikat. Memberi pencerahan. Gratis. Untuk mengikuti kegiatan paguyuban ini aku tak perlu keluar dari imanku. Tapi, itu kelas promosinya. Langkah berikutnya bayar ratusan ribu. Aku dibawa mengikuti kelas katarsis untuk dibersihkan dari karat-karat jiwa, kecewa, dendam, dsb.

Hari Jumat selalu kunantikan. Kami pergi ke Puncak untuk mengikuti kelas meditasi lanjutan. Ada banyak patung dan miniatur dari berbagai keyakinan dan tradisi di sana. Kami yang datang dari berbagai keyakinan, duduk, menyanyikan pujian, mengagungkan “Tuhan”, nonton film yang memotivasi, dsb. Pemandangan yang sempurna. “Ah, seandainya seluruh penduduk di Indonesia bisa duduk bersama seperti ini, bukan membakar tempat ibadah atau berperang atas nama agama dan Tuhan,” dalam anganku. Musik dan liriknya selalu mampu membawaku untuk merasakan hadirat-Nya.

MENJADI ZOMBIE

Memasuki tahun kelima aku memperoleh kesempatan bekerja di Jakarta, setiap hari seruangan dengan guruji. Kesempatan langka. Kami di daerah menganggap itu mukjizat. Berkarya bersama teman-teman di Jakarta menjadi pengalaman berharga yang mengajariku banyak hal. Sebagian besar anggota paguyuban ini adalah “orang-orang besar” sehingga setiap kali ada acara khusus, tak ubahnya seperti “redcarpet” dengan suasana “magis”. Banyak teman yang memberikan tenaga, waktu dan kekayaannya untuk acara itu. Kehadiran beberapa tokoh nasional, menteri dan mantan pres-iden Indonesia membuat aku bernapas lega, karena setidaknya kerja kerasku bersama teman-teman menampakkan hasilnya.

Aku yang sebelumnya berpikir untuk mati saja, tiba-tiba berada di lingkungan yang tak pernah sekalipun terbersit di pikiranku. Niatku datang ke Jakarta adalah untuk berkarya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Bisa berhubungan dengan para staf petinggi negara dan artis-artis ibukota bagiku adalah bonus dari-Nya. Aku menikmati bulan-bulan pertama di Jakarta.

Namun, ketika semuanya kurasa sempurna, di dalam hati aku justru mulai merasa ada yang tidak semestinya. Aku merasa seperti zombie (mayat hidup). Aku tidak merasakan apa-apa. Bahagia tidak, sedih pun tidak. Hampa. Lubang kosong yang semakin besar hari demi hari. Kepercayaanku pada paguyuban ini yang surut.

TERJAGA

Aku dan beberapa teman mulai sadar. Dengan cara yang sangat halus kami dipisahkan dari keluarga, diambil hartanya, dimanfaatkan namanya dengan segala macam dalih “kesadaran”, atas nama “devosi” dan “Tuhan”. Hingga suatu hari Tuhan benar-benar membukakan selubung yang menutupi mata batin dan telinga hatiku.

Aku kecewa, karena telah salah menilai. Ternyata banyak teman telah begitu dirugikan. Begitu lembut pengaruhnya hingga butuh bertahun-tahun untuk menyadarinya. Aku sendiri memerlukan 5 tahun untuk “terjaga” dan mengerti bahwa aku harus mengambil jalan yang lebih diberkati Tuhan. Aku berharap tidak banyak orang lagi yang tertipu oleh panampilan.

Aku memang kecewa, tapi tidak menyesal. Banyak pelajaran yang kupetik dari pengalaman itu dan aku kagum betapa penyertaan Tuhan itu sempurna. Tepatlah yang tertulis dalam Matius 28 ayat 20, “… Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bapa menyertaiku bahkan ketika aku belum sepenuhnya percaya kepada-Nya saat itu. (Nn/Gie)

Tagged with: ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ricky said, on Desember 29, 2009 at 8:20 pm

    Nah, itu yg namanya sebenarnya anda sudah mendapatkan pencerahan spiritual, itu bisa terjadi di agama mana saja, tidak ada agama yang salah karena semuanya berujung pada Tuhan, termasuk New age.. Nah yg jadi masalah adalah anda masuk ke sebuah organisasi, juka spiritualitas menjadi organisasi seperti agama2 yg kita ketahui selama ini, maka hilanglah makna Tuhan, jadi kalau ada org yg misalnya dari islam pindah kristen, bukan karena islam jelek tetapi memang dia mendapatkan sesuatu yg pas di sana, saya sudah mendengar puluhan cerita seperti anda terhadap agama yg bebeda beda, ada yg dari kristen ke islam, ada yg dari buddha ke kristen, ada yg kristen ke buddha. Bukan karena yg ditinggalkan org tersebut adalah sebuah air keruh, namun itu adalah cara beribadat baru saja yg membuat orang itu dekat dengan Tuhan..saya secara pribadi tidak setuju dengan kepercayaan yang diorganisasi seperti yg ada sekarang ini, karena itu memecah belah, lalu karena isinya orang bukan TuhanN, maka orang bisa kecewa..Hubungan dengan Tuhan itu intim, agama yang terorganisasi tidak salah, namun tidak perlu, apakah anda perrlu saya untuk berkomunikasi dengan orang tua anda, jelas tidak, anda dapat langsung datang ke Tuhan, kalo di kristen/katolik melalui perantaraan roh kudus dan yesusn bukan gereja yang menjadi tempat yang terorganisir, bukan dari gedung atau manusia ku menyembahNya, tapi dari hati dan kesadaran kasih dari diri masing2r individu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: