Be an Example! Be a witness in everywhere

Apakah Anda Percaya Pada Konsep “Soulmate”? (1)

Posted in Relationship by Be example on Mei 6, 2008

Saya tidak percaya adanya “soulmate”. Bagi saya, mempunyai “soulmate” berarti hanya ada 1 orang yang Tuhan pilih secara khusus untuk saya nikahi. Alasan mengapa saya tidak percaya adalah karena dalam daftar prioritas Tuhan, keinginan utamaNya adalah agar setiap orang lahir baru. Lagipula, seperti dalam Ulangan 30:19, Dia memberikan pilihan kepada manusia untuk percaya dan mengikuti Dia atau tidak. Seharusnya Dia memilih keselamatan untuk kita semua dan juga memilih pasangan kita jika memang cara kerjaNya seperti itu. Jika memang ada yang namanya “soulmate”, maka tentunya tidak perlu ada arahan yang kita temukan melalui alkitab untuk memilih pasangan yang baik.
(Dikeledi)

Saya pikir Tuhan telah menciptakan seorang pasangan yang khusus untuk setiap orang, seperti Adam dan Hawa. Saat Tuhan menciptakan Adam, Dia hanya menciptakan seorang pasangan untuknya, bukan beberapa calon potensial. Saya pikir Tuhan mau itu menjadi contoh bagi kita. Jika tidak, tentu Tuhan menciptakan seluruh generasi orang dan membiarkan Adam bertemu dengan Hawa, entah melalui intervensi khusus dariNya atau setelah Adam berkencan dengan beberapa calon pasangan sebelum akhirnya memilih Hawa. Ada banyak pria lajang Kristen di luar sana, namun hanya karena mereka Kristen, bukan berarti mereka akan sepadan dengan setiap wanita Kristen. Saya mempunyai beberapa teman pria Kristen yang saya pikir akan menjadi calon suami ideal bagi wanita selain saya. Karena dibutuhkan seorang pria khusus yang sepadan dengan saya yang adalah orang tua tunggal dari 2 remaja putri. Pernikahan adalah suatu pelayanan, dan seperti pelayanan yang membutuhkan beberapa karunia tertentu untuk menopangnya, hal yang sama juga berlaku untuk pernikahan.

Saya pikir sudah seharusnya kita kembali melihat ke pernikahan yang pertama kali untuk menjawab pertanyaan ini. Yang banyak terjadi sekarang ini adalah kita menyimpang dari rancangan Tuhan karena kepanikan atau ketergesaan kita, kita berkencan dengan beberapa calon potensial sebelum akhirnya kita memilih yang tepat. Kita harus mengijinkan Tuhan membawa kita kepada orang yang Tuhan pilih untuk kita. Kadangkala, dalam segala usaha kita untuk bertemu dengan seseorang itu, kita mungkin mengembangkan semacam ikatan jiwa dengan beberapa orang lain dan mungkin membuat mereka bingung. Kita harus ingat bahwa Adam tidak mencari Hawa, Tuhanlah yang membawa Hawa kepada Adam. Tidak ada Yusuf lain untuk Maria, tidak ada Sara lain untuk Abraham, dan tidak ada Hawa lain untuk Adam.
(Pamela)

Saya tidak percaya konsep “soulmate”. Orang tua saya mengira mereka adalah “soulmate” saat mereka menikah 30 tahun yang lalu, tapi saya ragu mereka masih mempercayai itu sekarang. Mereka sangat tidak bisa bertoleransi satu sama lain, dan tetap seperti itu selama 25 tahun terakhir. Sejujurnya, paangan yang paling bahagia yang saya tahu adalah pasangan yang hubungannya didasarkan pada hubungan mereka dengan Tuhan dan keputusan sadar mereka untuk saling mencintai satu sama lain baik saat senang maupun susah. Contohnya, orang tua dari teman saya bertemu saat mereka masih kuliah. Marilyn sedang berpacaran dengan pria lain Ted masih lajang dan menyukai Marilyn. Pacar Marilyn memutuskan Marilyn, jadi Ted meminta Marilyn untuk menikahinya. 53 tahun kemudian, merekamasih merupakan pasangan yang saling mencintai dan paling bahagia yang saya tahu. Mereka berkomitmen pada Tuhan dan pada satu sama lain. Mereka tidak pernah mengakui bahwa mereka adalah “soulmate”.

Saya tidak meragukan adanya cinta yang sejati. Saya hanya berpikir bahwa cinta yang terbaik dan yang bertahan lama adalah jenis cinta yang bertumbuh melalui komitmen dan kesabaran. Teman saya dan suaminya adalah tipe “soulmate”, saya kira. Mereka berpacaran sejak SMA dan telah mengenal satu sama lain dengan baik sejak mereka bergabung dalam persekutuan di gereja. Mereka saling mencintai satu sama lain hingga terasa dalam ruangan dimana Anda ada bersama mereka. Itu memang indah. Tapi mereka berjuang untuk mempertahankan cinta itu. Mereka berusaha keras dan berkomitmen kepada Tuhan dan kepada satu sama lain. Cinta “soulmate” mereka telah bertumbuh menjadi cinta yang lebih dewasa dan berkomitmen.

Mungkin masalah utamanya adalah saat kita berusaha meraih dan mengalami konsep “soulmate” yang terlalu mendalam. Budaya kita mengajarkan kita bagaimana seharusnya cinta itu. Jadi kita berkeliling mencari sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita pertahankan. Saya pikir Tuhan memandang cinta secara lebih logika, yaitu sebuah pilihan. Kita diperintahkan untuk mengasihi dan mencintai. Jika itu bukan pilihan, saya pikir seharusnya tidak perlu adanya perintah. Jika cinta yang alkitabiah adalah keputusan yang dibuat secara sadar, mengapa kita mencari sesuatu yang bisa membuat kita “jatuh”? Karena latar belakang saya, saya tidak tahu apakah saya akan mampu untuk “jatuh” cinta. Tapi saya ingin mencintai seseorang, saya mau memilih untuk berkomitmen pada seseorang yang juga mau untuk berkomitmen pada saya, seperti perintah Tuhan kepada kami untuk saling mencintai satu sama lain.
(Jamie)

Baru 3 orang yang berbagi tentang pandangan mereka mengenai “soulmate”. Nantikan persepsi 5 orang lajang di artikel Single and Lovable berikutnya!

www.jawaban.com
Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: