Be an Example! Be a witness in everywhere

Tolong, Gembala kami Selingkuh!

Posted in Relationship by Be example on Mei 17, 2008

Written by Hane Han

Dalam perjalanan pelayanan “Transformasi Prilaku Seksual” di berbagai komunitas, lembaga, dan gereja di beberapa kota di Indonesia, saya sering mendapat keluhan seperti judul tulisan ini. Pada mulanya saya berpikir, berat juga ya jadi Hamba Tuhan, sudah melayani sungguh-sungguh masih juga di isu-kan “miring” seperti itu. Jadi awalnya, saya menganggap itu hanya isu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sampai kemudian saya bertemu dengan orang-orang yang kredibel yang mengisahkan cerita-cerita yang “seru” ala senitron kita, maka saya percaya, memang ada Gembala, Pendeta, Penginjil, Pemimpin Rohani yang melakukan perselingkuhan. Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Ada banyak aspek yang mempengaruhinya, setidaknya ada tiga hal yang menurut saya paling besar pengaruhya. Pertama, sistem pe-recruit-an Hamba Tuhan yang amat longgar. Saya memahami kebutuhan “Pelayan Tuhan” semakin hari semakin besar jumlahnya karena pekerjaan Tuhan yang terus menerus berkembang. Kondisi semacam ini mengakibatkan para pengambil keputusan di level “Christian Top Leaders” cenderung melonggarkan kriteria dalam pe – recruit – an para “Pekerja Tuhan”. Paling tidak seperti pengalaman saya berikut ini. Saya di undang untuk menyampaikan materi pembelajaran “Biblical Sexology” di suatu sekolah calon hamba Tuhan di suatu kota. Pengalaman pelayanan selama 20 tahun, menolong saya untuk memahami karakteristik siswa. Sejujurnya saya sangat kuatir dengan kematangan rohani mereka, bukan saja soal Pemahaman Firman Tuhan, tetapi juga soal karakter mereka. Diakhir suatu kelas, seorang siswi dengan terus terang “minta bantuan” untuk dikenalkan dengan pria yang siap menikahinya. Saya terkejut dengan permintaan tersebut. Dalam hati saya muncul suatu pemikiran, mungkinkah dalam waktu satu tahun (program pendidikan) pemahaman, sikap hati, dan karakter nya bisa bertumbuh dengan baik sehingga benar-benar siap memasuki ladang pelayanan. Kecemasan saya bertambah, karena rupanya waktu saya menyampaikan materi pembelajaran tersebut, adalah satu bulan terakhir sebelum mereka di wisuda dan di utus ke ladang pelayanan. Saya mencoba mencari tahu bagaimana proses pe – recruit – an dan mengapa program tersebut hanya satu tahun. Begini penuturan dari Direktur program nya: Sekolah ini di dirikan dengan tujuan untuk bisa mewujudkan rencana Gembala Senior untuk membuka 1000 cabang gereja baru dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu paling tidak harus ada minimal 1000 alumni untuk diutus ke ladang pelayanan. Saya tidak punya kewenangan untuk menilai apakah program semacam ini benar atau salah, tapi saya pribadi tidak akan membuat program semacam itu dengan dua alasan: Pertama, mengingat kebenaran Firman Tuhan dalam I Timotius 3 : 1 – 16, terutama ayat 6 “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.” Jadi me – recruit petobat baru dan memberinya jabatan gerejawi tertentu akan membahayakan orang yang bersangkutan. Dan dalam kaitan dengan kedewasan rohaninya, yang bersangkutan juga rawan jatuh dalam berbagai pencobaan termasuk pencobaan seksual. Kedua, orang yang ditempatkan dalam ladang pelayanan sebenarnya sama dengan di tempatkan dalam medan peperangan yang paling frontal. Efesus 6 : 10 – 18, menyatakan kepada kita tentang realita Peperangan Rohani. Saya menyaksikan film D-Day dalam persiapan pembuatan klip pelayanan YADA Institute. D-Day adalah film semi dokumenter yang di produksi oleh BBC. Dalam film ini dikisahkan peperangan yang tidak seimbang antara tentara Jerman yang amat terlatih dilengkapi dengan mesin perang yang paling cangih pada zaman itu melawan tentara Inggris yang di recruit dari para pemuda berusia belasan tahun, yang bukan saja tidak punya pengalaman dan ketrampilan perang, tapi sekaligus tidak memiliki perlengkapan perang yang memadai. Saudara bisa membayangkan dalam pertempuran tersebut terlihat ribuan anak-anak remaja yang mati tragis di bantai tentara Jerman yang amat terlatih. Dalam pendapat saya, mengutus seseorang ke Ladang Pelayanan tanpa memperlengkapinya secara memadai sama dengan mengirim remaja ke medan peperangan yang paling frontal. Kematian tragis sudah menunggu. Jadi dalam poin ini, bila ada aktifis pelayanan jatuh dalam dosa seksual, ada kemungkinan bahwa yang bersangkutan adalah korban dari ambisi Pemimpin Rohani diatas nya yang sembarangan re – recruit tanpa memperlengkapinya dengan baik. Kedua, tidak ada sistem pembinaan berkelanjutan. Banyak orang yang menganggap kalau sudah selesai sekolah Alkitab, atau sudah ditahbiskan menjadi pejabat pelayanan (Penginjil, Vikaris, Pdp, Pdm, Pdt, Pendoa, dll) maka semua pencapaian rohani telah sempurna, sehingga tidak ada lagi ruang untuk pertumbuhan, bahkan tidak ada lagi ruang untuk koreksi. Suatu kali saya di minta pendapat tentang kasus seorang Penginjil wanita (mahasiswi tingkat akhir suatu sekolah Theologia terkenal di Indonesia) yang kedapatan melakukan praktek lesbianism dengan seorang Pengurus wanita, di Gereja dimana yang bersangkutan praktek. Saya sampaikan pendapat saya, bahwa yang seperti ini harus di sampaikan ke Sekolah Theologia yang membinaanya agar ada pembinaan lebih jauh sebelum dinyatakan lulus sekolha, dan pada saat yang bersamaan semua keterlibatan nya dalam pelayanan harus di hentikan. Tetapi pendapat saya tidak diterima, dengan alasan kasihan, sebab yang bersangkutan sudah tingkat akhir dan sebentar lagi akan di Wisuda. Maka Penginjil Lesbian ini di Wisuda beberapa bulan kemudian, dan diutus melayani di suatu Gereja lokal. Selesaikah masalahnya? Tidak, keputusan ini, sama seperti memindahkan bom waktu yang siap meledak di tempat lain. Ketiga, dosa seks seringkali dianggap tidak serius. Dalam seminar-seminar seks yang saya pimpin, orang sering bertanya kenapa seolah-olah Allah tidak serius terhadap dosa seks buktinya, Abraham berselingkuh, Yakub Poligami, Daud berzina dengan istri sahabatnya…toh tetap di pakai Tuhan. Jawaban saya, kasus-kasus diatas menyatakan Kebesaran anugerah Allah terhadap mereka yang sunguh-sunguh bertobat, tapi Allah tetap serius terhadap dosa seks. Dalam Bilangan 25 dinyatakan bahwa dalam satu hari 24.000 orang mati karena dosa perzinahan. Dalam I Korintus 6 : 9b – 10b dikatakan “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, …tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. Beberapa hari lalu saya menjadi pembicara seminar seks. Dalam sesi Tanya jawab, seorang Konselor wanita yang mengaku single bertanya, apa yang harus dilakukan nya, karena ada seorang pria beristri yang konseling kepadanya tentang masalah pernikahan. Jawaban saya adalah, Suruh pria tersebut konseling ke Konselor Pria atau Konselor Suami-Istri. Begini penjelasan saya, bila seseorang konseling atau curhat kepada lain jenis, maka akan ada potensi terjadi “counter transference”. Dalam kasus ini, bila konseling itu dilanjutkan maka akan terjadi begini, konsili (pria bersistri) ini akan merasa sangat dihargai, dihormati, di mengerti karena setiap sesi konseling, konselor (wanita single) ini selalu ada waktu untuk mendengarnya. Sebaliknya si Konselor akan merasa sangat di hargai, di hormati, di butuhkan, karena ada seseorang yang mau mempercayakan masalah-masalah yang di hadapinya. Situasi ini akan segera berubah dalam hubungan yang sangat emosional, dimana affair sangat mudah terjadi. Tapi dalam hati, saya bertanya masa konselor tidak tahu resiko ini? Atau tahu, tapi tidak mau tahu? Atau, malah sudah “menikmati” pengalaman emosinal “counter transference” tersebut. Terlalu banyak orang tidak menganggap serius pencobaan dan dosa seksual. Masih dari seminar yang sama, seorang ibu datang ke meja saya setelah seminar usai, lalu mengeluhkan suami nya yang adalah “pemimpin rohani” di komunitas tersebut. Kata ibu ini, suami nya mendapat “suara tuhan” untuk menjalin relasi dengan seorang gadis dalam komunitas tersebut, karena “tuhan” akan memakai mereka (si suami dan gadis tersebut) untuk pelayanan yang besar. Tentu saja istri nya protes, tapi tidak bisa berbuat banyak karena si suami yang “pemimpin rohani” ini pemberang. Ibu ini bertanya pada saya, apa benar ini “suara tuhan”. Saya jawab, yang seperti ini sih bukan “suara tuhan” tapi suara hantu. Cara favorit Tuhan untuk berbicara kepada manusia pada zaman sekarang adalah lewat Alkitab. Dari Alkitab kita tahu kehendakNya. Kehendak Tuhan jelas, Dia menginginkan semua pernikahan itu utuh. “Pemimpin rohani” ini saya yakin sudah berselingkuh, karena istri nya mengatakan, mereka (suami dan gadis tersebut) sering sms atau telepon diatas jam 12 malam dan sembunyi-sembunyi. Dalam hati saya bertanya, kok bisa ya ada “pemimpin rohani” membohongi istri dengan “suara tuhan” lalu affair dengan seorang gadis dalam komunitas yang dipimpinnya. Saya tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi, yang saya tahu dosa seks itu sangat serius, karena banyak yang menganggapnya tidak serius. Saya kuatir pada hari-hari di depan semakin banyak orang berteriak, “Tolong, Gembala kami Selingkuh”. Lakukan sesuatu sebelum itu terjadi.

http://yadainstitute.org/

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: