Be an Example! Be a witness in everywhere

Kamu Pria Yang Baik, Tapi…

Posted in Relationship by Be example on Juni 19, 2008

Randy telah memperhatikan Sarah selama beberapa bulan. Senyumnya dan kebaikannya kepada semua orang sangat menarik. Dalam kelompok para lajang, mereka tertawa pada saat yang hampir bersamaan dan kadang berpandangan. Randy juga menemukan bahwa ternyata mereka sama-sama menyukai kegiatan outdoor dan seni. Randy melihat Sarah adalah gadis yang tepat untuknya. Bahkan teman-temannya melihat mereka cocok dan mendukungnya untuk mendekati Sarah. Dan sore itu, Randy mengundang Sarah untuk makan bersamanya di satu kafe. Dia datang lebih dulu untuk memastikan meja di sudut yang agak sepi agar mereka bisa bercakap-cakap tanpa terganggu. Sarah muncul dengan senyumnya seperti biasa.Setelah beberapa percakapan wajar, Randy menelan ludah dan mulai mengucapkannya, kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, tidak terlalu romantis juga tidak terlalu biasa. “Aku suka sikapmu yang ramah. Aku melihat kita mempunyai banyak kesamaan dan bersenang-senang bersama. Aku ingin mengenalmu lebih dalam…” Sarah terdiam beberapa saat. Bukan tanda yang baik, namun Randy berharap Sarah hanya sedang berpikir untuk memberikan respon yang tepat. Sarah tersenyum, Randy menebak-nebak. “Randy,” katanya, sambil menatap tepat di mata, “Terima kasih, aku tersanjung. Kamu mempunyai banyak kualitas yang mengagumkan…” Jeda yang hening setelah itu mengatakan pada Randy hampir semua yang dia perlu tahu. Dia bisa menebak kata-kata selanjutnya, kata-kata seperti, “Kamu pria yang baik, tapi…” T-a-p-i.

“Aku merasa nyaman di dekatmu,” lanjut Sarah. “Dan kamu salah satu orang favoritku. Aku hanya tidak merasa kita harus berkencan.” Banyak pria pernah mendengar perkataan seperti ucapan Sarah, dan banyak wanita telah mengatakan hal yang serupa seperti yang dikatakan Sarah. Terkadang memang sudah jelas bahwa hubungan yang diinginkan tidak akan pernah terjadi. Mungkin si wanita menutup pintu secara langsung dengan menampilkan ketertarikan kepada orang lain atau menolak ajakan untuk saling mengenal lebih dalam. Tapi seringkali, perkataan seperti itu membuat pria kebingungan. Kata-kata dari si wanita terlihat menunjukkan ketertarikan tapi di waktu yang sama menyatakan hal yang sebaliknya, sehingga pria seringkali menjadi tidak tahu apakah dia harus menyerah atau mencoba lagi.

Membaca Sinyal

Dalam cerita Randy dan Sarah, Sarah menggunakan beberapa pernyataan yang “menyesatkan”: “Aku merasa nyaman di dekatmu” dan “kamu salah satu orang favoritku”, Randy mungkin berpikir, Jika aku adalah salah satu orang favoritmu, lalu bagaimana mungkin kamu tidak tertarik?

Kesalahpahaman ini muncul dari perbedaan mendasar antara perspektif pria dan wanita dalam hubungan romantis. Teman-teman pria saya mengatakan bahwa daya tarik fisik mempunyai peranan besar dalam keputusan mereka untuk mengejar seorang wanita. Seorang wanita mungkin mempunyai banyak karakter bagus yang menambah kecantikan luarnya, tapi pria-pria yang saya tahu tidak akan membuat usaha untuk mendekati dia kecuali mereka tertarik secara keseluruhan. Wanita, di lain sisi, bisa mengalami ketertarikan sebagian. Dia mungkin tidak tertarik secara romantis kepada seorang pria, tapi masih tetap menemukan dirinya tertarik kepada pria ini dalam beberapa hal. Dia bisa tertarik kepada beberapa aspek dari karakter atau kepribadiannya, tapi semua itu tidak menambah ketertarikannya secara romantis kepada pria ini. Ini membuat dia berkata seperti, “Aku suka hal-hal ini tentangmu, tapi aku tidak menyukaimu secara khusus…” Seorang wanita juga membuat pernyataan yang bermaksud menyemangati seorang pria yang dia hormati. “Kami sangat menghargai saat pria mengambil inisiatif, tapi kecenderungan feminin kami membuat kami terdorong untuk menyemangati dan mendukung…”

Kemungkinan ketiga (dan ini yang diharapkan para pria) adalah bahwa si wanita hanya takut menjalin hubungan atau merasa tidak siap. Dalam kasus ini, siapa pria yang mendekati si wanita bukanlah inti persoalannya. Kondisi emosional si wanita akan membuat dia menolak atau menghindari pria manapun.

Jadi bagaimana seorang pria dapat melalui area ketidakpastian ini, dan bagaimana seorang wanita benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya dia maksudkan? Mari memulai dengan wanita.

Katakan tidak dengan tidak. Para wanita, mengertilah bahwa penolakan yang pura-pura itu bukanlah penolakan dengan kasih. Dan kenyataannya, keinginan Anda untuk menjadi cheerleader mungkin dimotivasi oleh harga diri, bukan kasih. Tahun lalu seorang teman pria saya mengkonfrontasi saya tentang hal ini. Dia mendengar saya bercerita kepada teman wanita saya tentang kata-kata yang saya ucapkan untuk menolak seorang pria. “Aku hanya ingin menghargai dia karena dia telah berani mengambil resiko,” kata saya. Teman pria saya bertanya, “Memangnya dia seekor anjing yang butuh dikatai “anjing yang baik” dan sebuah tepukan di kepala?” Dengan segera saya menyadari motif egois saya, saya sedang berusaha membuat diri saya terlihat seperti pahlawan.

Para wanita, ingat ini: memang pria itu telah mengambil resiko, dan tidak salah untuk berterimakasih padanya karena itu. Tapi Anda tidak sedang menghargai dia dengan menggunakan kata-kata yang menyampaikan pesan berbeda dari apa yang sebenarnya Anda maksudkan. Biarkan teman-temannya, pembimbing rohaninya, atau pasangannya di masa depan yang meyakinkan dia akan karakter positifnya dan hal-hal yang disukai orang darinya. Itu bukan tanggung jawab Anda, dan kata-kata sanjungan Anda hanya akan membuatnya bingung. Juga, hindari pernyataan persetujuan seperti, “Kamu begitu sempurna”. Dari sudut pandangnya, jika dia sempurna, tentu Anda akan mau menjalin hubungan dengannya. Dan jika Tuhan mengkonfirmasi bahwa dia bukan pria yang tepat (“sempurna”) untuk Anda, maka pernyataan seperti itu tidak tulus.

Buatlah keputusan yang tegas. Ketertarikan sebagian hanya akan membuat Anda tidak serius dalam hal menanggapi kasih sayang dari seseorang yang Anda kira bukan yang terbaik dari Tuhan untuk Anda. Jika Anda merasa hati Anda tertarik pada seseorang yang pernah mendekati Anda di masa lalu -seseorang yang pernah Anda tolak- tentukan waktu serius agar Anda dapat berdoa untuk hubungan itu. Mungkin Tuhan sedang mengubah hati Anda. Tapi jika Anda menemukan bahwa perasaan Anda belum berubah, jangan memanfaatkan ketertarikan pria itu kepada Anda. Filipi 2:3 mengingatkan kita, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Untuk Para Pria
Mungkin seperti Randy, Anda telah mendengar, “Kamu pria yang baik, tapi…” Lalu apa? Setelah pembicaraan saya dengan beberapa teman pria, saya menemukan mereka lebih mendengarkan pernyataan yang mengatakan, “Kamu hebat”, “Aku menghargai kamu” atau “Aku merasa nyaman bersamamu”, daripada jawaban yang sebenarnya (“tidak”).

Terima penolakannya dengan lapang hati. Dalam kebanyakan kasus, wanita mengatakan “tidak” karena dia tidak tertarik secara romantis kepada Anda. Mengertilah bahwa dia berada dalam posisi yang sulit dengan seolah-olah menjadi pihak antagonis, jadi dia berusaha untuk membuat penolakannya sehalus mungkin.

Beberapa tahun lalu, saya mengenal seorang pria Kristen yang saya hormati. Seiring dengan persahabatan kami yang makin dekat, saya menyadari bahwa saya tidak tertarik secara romantis kepadanya. Saat saya mengatakan ini kepadanya, dia kecewa tapi merespon dengan berkata bahwa dia mempercayai keputusan saya karena dia tahu saya mencari kehendak Tuhan. Dia berhenti mendekati saya, tapi saya menerima email bersahabat atau telpon sesekali darinya. Kurang dari setahun kemudian, dia bertemu dengan istrinya, Kara. Saya selalu mengagumi cara dia melepaskan kedekatan kami sebelumnya. Tindakannya itu meletakkan dia pada posisi ideal untuk menerima seorang istri yang telah Tuhan siapkan untuk dia.

Jangan coba untuk memperbaikinya. Jika Anda menerima jawaban “tidak”, jangan berasumsi bahwa itu karena kekurangan-kekurangan Anda. (Tapi jika Anda menduga memang itu penyebabnya, saya rasa tidak akan terasa menyakitkan jika Anda menanyakan kepada teman-teman Anda sendiri). Ada terlalu banyak kemungkinan penyebab dalam keputusan seorang wanita untuk berkata “tidak” yang sukar ditebak.

Dia mungkin saja penggemar favorit Anda dan masih tidak merasa tertarik secara romantis pada Anda. Dia mungkin tidak merasa damai sejahtera dengan hubungannya dengan Anda. Kondisi dia saat ini mungkin membuat dia merasa tidak siap untuk dekat dengan seseorang. Pikirkan bahwa aspek-aspek unik dari diri Anda yang tidak membuat dia tertarik mungkin saja adalah hal-hal yang disukai oleh pasangan masa depan Anda. Daripada menghabiskan energi untuk berpikir secara berlebihan tentang apa yang salah pada diri Anda, kembangkan diri Anda dalam hal yang mendasar ini: Tunduklah pada Tuhan (Yakobus 4:7), lalu percayalah bahwa Dia melakukan bagianNya.

Jadilah seorang teman.
Memang tidak bijaksana untuk mempertahankan ikatan emosional dengan seorang wanita, tapi melanjutkan pertemanan yang sehat dengannya adalah hal yang menguntungkan. Teman saya Hannah telah menjelaskan pada John bahwa dia tidak tertarik secara romantis kepadanya setelah John menyatakan niatnya untuk mengenal Hannah lebih dalam. John tetap menjadi temannya, berolahraga bersama dalam kelompok dan juga membantu merencanakan pesta ulang tahun untuk Hannah. Hannah tidak berpikir tentang apapun, tapi seiring dengan John yang terus berdoa untuk ketertarikannya pada Hannah, John merasa Tuhan menyuruhnya untuk menunggu. Beberapa tahun setelah usahanya mendekati Hannah, John mendekati Hannah untuk yang kedua kalinya. Dia mengetahui bahwa hati Hannah telah berubah, dan sekarang mereka telah menikah. Walaupun pengalaman seperti John bukan pengalaman yang banyak terjadi, tapi tidak seorangpun yang bisa mengesampingkan pimpinan Roh Kudus dalam area ini.

Carolyn McCulley pernah menulis: Sementara kita para wanita melatih iman kita pada Tuhan dengan menunggu inisiatif dari pria, para pria melatih iman mereka dengan resiko untuk ditolak. Karena itu, saya selalu mendorong saudara-saudara laki-laki saya untuk menjadi maskulin dan tidak pasif, untuk lebih memperhatikan tindakan dan motivasi mereka dibanding respon dari usaha pendekatan mereka. Betapapun romantisnya suasana kafe atau betapapun sempurna kata-kata yang Anda ucapkan, terkadang jawabannya “tidak” (dan bahkan beberapa di antaranya bersifat permanen). Tapi itu tidak menentukan akhirnya. Itu mungkin saja merupakan persiapan untuk wanita selanjutnya yang akan Anda dekati, dan wanita itu mungkin saja berkata “ya”.

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: