Be an Example! Be a witness in everywhere

Haruskah Kita Memberi Uang kepada Pengemis di Jalan?

Posted in renungan by Be example on Januari 31, 2009

Pertanyaan yang umum ditanyakan ini sangat susah dijawab. Sebagian orang percaya bahwa kita harus berhenti memberi uang kepada pengemis di jalan karena kita hanya mengajari mereka untuk menjadi lebih malas lagi. Sebagian lainnya (seperti saya dulu) lebih merasa belas kasihan daripada disiplin mengenai masalah ini. Saya dulu sangat percaya bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain. Dalam pikiran saya terlintas bahwa kalau saja mereka diberikan kesempatan untuk mengubah keadaan hidupnya, pastilah mereka tidak akan mengemis di jalan. Mereka dilahirkan dalam kemiskinan. Mereka dibesarkan dalam kemiskinan. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali mengemis, karena tuntutan untuk tetap hidup.

Sampai saya berjumpa dengan saudara Shu Ling dari Rumah Singgah Generasi Anak Mandiri. Rumah Singgah ini menampung anak-anak jalanan, memberi mereka atap dan pendidikan supaya mereka bisa mempunyai masa depan yang lebih cemerlang. Mereka sudah melakukan ini lebih dari sepuluh tahun. Saya dan suami saya berkesempatan untuk mewawancara saudara Shu Ling dalam program TV kami (Good News, episode: Pelayanan Kasih). Sesi ini sangat menginspirasi sehingga saya merasa saya harus membagikannya kepada Anda sekalian.

Selama sepuluh tahun ini, saudara Shu Ling dan teman-temannya telah menampung sekitar 400 anak di Rumah Singgah mereka. Tentu saja, ada kisah-kisah sukses yang telah mereka lalui. Salah seorang anak yang mereka tampung dalam Rumah Singgah, dulunya adalah seorang pengemis. Kakek neneknya adalah pengemis. Orang tuanya juga pengemis. Yang dia tahu cuma mengemis, karena dia merupakan generasi ke-tiga keturunan pengemis. Namun, ketika ditanya apa cita-citanya, anak laki-laki ini menjawab dia ingin menjadi seorang tentara yang mengabdi bagi negerinya. Rumah Singgah ini memberikan dukungan kepada anak ini, mengirimkannya ke sekolah, membentuk karakternya, dan hari ini dia sudah melayani sebagai seorang tentara Republik Indonesia. Seorang anak laki yang lain dulunya adalah seorang penodong. Dia tidak akan ragu-ragu menusuk korbannya dengan pisau apabila tidak mendapatkan apa yang diincarnya. Setelah ditampung oleh Rumah Singgah, hari ini anak ini telah bertumbuh menjadi seorang pemuda yang belajar di fakultas hukum, semester ke 5.

Memang benar kehidupan anak-anak jalanan bisa diubah apabila mereka mendapat kesempatan, apabila ada orang yang mau mengulurkan tangannya untuk menolong mereka. Namun demikian, saudara Shu Ling menjelaskan kepada kami bahwa angka keberhasilan dari pelayanan seperti ini hanya 10 persen. Artinya, dari 400 anak yang mereka tampung, hanya 40 yang mendapatkan terobosan dalam hidup mereka. Yang lain akan kembali ke jalan lagi. Mengapa? Karena ada kebebasan di jalan. Mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan dengan hidup mereka, tidak ada peraturan yang mengikat mereka. Di Rumah Singgah, mereka harus mengikuti peraturan yang ada, bangun pagi-pagi untuk berdoa dan membaca Alkitab, selain pergi ke sekolah.

Di atas semuanya itu, ada satu kebenaran yang harus diungkapkan. Survei telah membuktikan bahwa ada kurang lebih lima puluh ribu pengemis di Jakarta. Setiap orang mampu mengumpulkan sekitar satu juta Rupiah dalam sebulan, sedikit lebih tinggi dari UMR yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Dalam sebulan, perputaran uang yang ada di jalan di antara kaum pengemis sebesar lima puluh milyar Rupiah. Inilah alasan mereka tidak mau berubah. Mereka beranggapan bahwa mengemis adalah suatu pekerjaan untuk menghasilkan uang. Mereka tidak melihat ada yang salah dengan hal itu, selama masih ada orang yang mau memberi uang kepada mereka. Andai saja sudah tidak ada uang di jalan, barulah mereka mau mencari pekerjaan.

Kami mengambil kesimpulan bahwa alih-alih memberikan uang, sebaiknya kita memberi mereka roti, makanan, air, permen, pakaian, atau apapun juga selain uang. Alih-alih memberi koin kepada mereka yang tidak akan bisa membantu memberikan masa depan yang lebih baik, kita sebaiknya mengumpulkan koin-koin tersebut dan menyumbang kepada rumah singgah-rumah singgah seperti Generasi Anak Mandiri, yang tahu betul cara mengentaskan anak-anak dari jalan dan mentransformasikan pola pikir mereka sehingga mereka dapat berhenti mengemis dan menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Saya secara pribadi banyak belajar dari sesi Good News yang satu ini, dan saya mendorong Anda untuk menyaksikan episode tersebut. Tuhan memberkati.

source : http://www.anugrah.net

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. andi sakab said, on Februari 2, 2009 at 10:48 am

    salam kenal🙂

  2. Lashanda said, on Maret 3, 2009 at 9:56 pm

    First blog I read after wakeup from sleep today!

    —————————-
    Are you tension? panic?

  3. Hadi Kristanto said, on Maret 21, 2009 at 10:19 pm

    Yesus tidak pernah bertanya Kenapa ?kepada setiap orang yang Dia bantu,apa motifnya dll.Hendaknya kita juga tidak perlu memikirkan dan menanyakan kenapa orang mengemis.Roh Kudus yang ada pada diri kita akan memberi pengertian kepada kita.Itulah cara Tuhan membantu orang miskin ( pengemis dll) yaitu dengan mengetuk hati orang yang lewat dan berkendara motor dan naik bus untuk memberi.Tetapi bukan orang kaya,karena orang kaya levelnya jauh dengan orang miskin dan setiap pemberianya kepada orang miskin tidak pernah sesuai dengan pendapatanya.

  4. purbakuncara said, on Maret 21, 2009 at 10:37 pm

    @ Hadi Kristanto
    Mungkin benar apa yang saudara katakan. Tapi bagaimana dengan fakta yg menunjukkan bahwa pengemis2 di jalan raya itu mendapatkan banyak penghasilan dari mengemis saja? saya pernah melihat di perempatan jalan raya di kota malang ini; ketika mereka waktunya pulang malam, mereka dijemput oleh tukang ojek. Sepertinya hal ini sudah rapi tersusun. Silahkan pendapat anda menanggapi hal ini. Thx GBU

  5. milchior said, on Juni 14, 2009 at 7:35 pm

    pertama kali melakukan pelayanan di jalanan 10 tahun yg lalu saya jg berpendapat spt sdr hadi tetapi akhirnya saya sadar setiap kita akan Tuhan tuntut u setiap berkat yg di terima sehingga saya sadar memberi uang/bantuan tanpa pendampingan dan memberikan kebenaran firman Tuhan adalah sia2 spt membuang garam ke laut mulai sejak itulah perkatan Paulus dlm 1kor 9:18-23 menjadi landasan pelayanan saya,maka saya mulai melayani mereka dengan menjadi serupa dgn mereka spt tinggal di kolong jembatan,memulung bersama mereka dll,ingat tugas kita bukan mempertobatkan orang itu tugas Roh Kudus,tugas kita memberitakan injil melalui hidup kita dan memuridkan orang(Mat 28:19),kasih tanpa disiplin/bimbingan itu membawa orang pada kehancuran serta ke malasan jadi kasih harus dengan disiplin seperti Yesus Maka kita mengenal Alkitab yg terdiri dari perjanjian yg di dalamnya ada hak & kewajiban Tuhan dan kita GBU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: