Be an Example! Be a witness in everywhere

Mentalitas Pemenang

Posted in renungan by Be example on Mei 2, 2009

Kekristenan itu berbicara tentang KARAKTER

Tuhan itu adil. Jangan meminta keadilan kalau kita sendiri tidak bisa berbuat adil dengan cara membiarkan sesuatu yang menjadi TANGGUNG JAWAB kita.

Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Hidup yang kekal = hidup yang berkualitas.

Hidul yang kekal = ZOE –> hidup yang lahir baru…

Kualitas hidupmu ditentukan sejauh mana kamu mengenal Tuhan, bukan oleh apa yang kamu miliki (baju, mobil, kekayaan dlsb).

Coba deh… sering kita menyanyikan lagu ini :

Lebih dari segalanya.. ku ingin Kau Tuhan..

Emas perak dan permata tiada artinya…..

Coba renungkan saat kita menyanyikan lagu tersebut. Wong kita aja seringkali masih materialistik bukan??? Benerankah emas perak dan permata bukan menjadi tujuan hidup kita ?? Tanyakan pada diri kita masing-masing.

Kekristenan itu berbicara tentant KARAKTER. Sejak saat kita menjadi orang kristen, harusnya ada keubahan dalam hidup kita. Memang tidak mudah.

Christianity is how to be like Christ. Kekristenan itu adalah Bagaimana Menjadi Serupa Dengan Kristus.

Kalau kita mau hidup yang bertanggung jawab, dengan menjaga kesehatan kita, TUHAN pasti memberkati kita dengan kesehatan.

Ringkasan kotbah ini saya tulis (dengan sedikit penambahan) dari KKR Solagracia FM 97,4 pada 30 April 2009 jam 6 sore di GPdI Lembah Dieng Malang Jawa Timur dengan Pembicara Pdt. Erastus Sabdono.

Pelukis Yang Bingung

Posted in Recharge your soul, renungan by Be example on Maret 9, 2009

Suatu hari seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisan terbaiknya dan rencananya akan dipamerkan pada saat pernikahan Putri Diana. Ketika menyelesaikan lukisannya ia sangat senang dan terus memandangi lukisannya yang berukuran 2×8 m. Sambil memandangi, ia berjalan mundur dan ketika berjalan mundur ia tidak melihat ke belakang. Ia terus berjalan mundur dan di belakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia bisa mengakhiri hidupnya.

Seseorang melihat pemandangan tersebut dan bermaksud untuk berteriak memperingatkan pelukis tersebut, tapi tidak jadi karena dia khawatir si pelukis tersebut malah bisa jatuh ketika kaget mendengar teriakannya. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak. Tentu saja pelukis tersebut sangat marah dan berjalan maju hendak memukul orang tersebut. Tetapi beberapa orang yang ada disitu menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari indah yang kita idamkan. Tetapi rencana itu tidak bisa terlaksana karena Tuhan punya maksud lain yang lebih baik. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap TUHAN atau juga terhadap orang lain. Tapi perlu kita ketahui TUHAN selalu menyediakan yang terbaik.

Guys, mungkin saat ini kamu tengah mengalami bagaimana rasanya ditolak oleh seseorang yang menjadi cew or cow idaman kita. Sakit memang. Tapi kita tidak boleh menyerah. Percayalah semua kan indah pada waktunya. Masa depan kita ada di tangan Tuhan Yesus. GBU all.

Haruskah Kita Memberi Uang kepada Pengemis di Jalan?

Posted in renungan by Be example on Januari 31, 2009

Pertanyaan yang umum ditanyakan ini sangat susah dijawab. Sebagian orang percaya bahwa kita harus berhenti memberi uang kepada pengemis di jalan karena kita hanya mengajari mereka untuk menjadi lebih malas lagi. Sebagian lainnya (seperti saya dulu) lebih merasa belas kasihan daripada disiplin mengenai masalah ini. Saya dulu sangat percaya bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain. Dalam pikiran saya terlintas bahwa kalau saja mereka diberikan kesempatan untuk mengubah keadaan hidupnya, pastilah mereka tidak akan mengemis di jalan. Mereka dilahirkan dalam kemiskinan. Mereka dibesarkan dalam kemiskinan. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali mengemis, karena tuntutan untuk tetap hidup.

Sampai saya berjumpa dengan saudara Shu Ling dari Rumah Singgah Generasi Anak Mandiri. Rumah Singgah ini menampung anak-anak jalanan, memberi mereka atap dan pendidikan supaya mereka bisa mempunyai masa depan yang lebih cemerlang. Mereka sudah melakukan ini lebih dari sepuluh tahun. Saya dan suami saya berkesempatan untuk mewawancara saudara Shu Ling dalam program TV kami (Good News, episode: Pelayanan Kasih). Sesi ini sangat menginspirasi sehingga saya merasa saya harus membagikannya kepada Anda sekalian.

Selama sepuluh tahun ini, saudara Shu Ling dan teman-temannya telah menampung sekitar 400 anak di Rumah Singgah mereka. Tentu saja, ada kisah-kisah sukses yang telah mereka lalui. Salah seorang anak yang mereka tampung dalam Rumah Singgah, dulunya adalah seorang pengemis. Kakek neneknya adalah pengemis. Orang tuanya juga pengemis. Yang dia tahu cuma mengemis, karena dia merupakan generasi ke-tiga keturunan pengemis. Namun, ketika ditanya apa cita-citanya, anak laki-laki ini menjawab dia ingin menjadi seorang tentara yang mengabdi bagi negerinya. Rumah Singgah ini memberikan dukungan kepada anak ini, mengirimkannya ke sekolah, membentuk karakternya, dan hari ini dia sudah melayani sebagai seorang tentara Republik Indonesia. Seorang anak laki yang lain dulunya adalah seorang penodong. Dia tidak akan ragu-ragu menusuk korbannya dengan pisau apabila tidak mendapatkan apa yang diincarnya. Setelah ditampung oleh Rumah Singgah, hari ini anak ini telah bertumbuh menjadi seorang pemuda yang belajar di fakultas hukum, semester ke 5.

Memang benar kehidupan anak-anak jalanan bisa diubah apabila mereka mendapat kesempatan, apabila ada orang yang mau mengulurkan tangannya untuk menolong mereka. Namun demikian, saudara Shu Ling menjelaskan kepada kami bahwa angka keberhasilan dari pelayanan seperti ini hanya 10 persen. Artinya, dari 400 anak yang mereka tampung, hanya 40 yang mendapatkan terobosan dalam hidup mereka. Yang lain akan kembali ke jalan lagi. Mengapa? Karena ada kebebasan di jalan. Mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan dengan hidup mereka, tidak ada peraturan yang mengikat mereka. Di Rumah Singgah, mereka harus mengikuti peraturan yang ada, bangun pagi-pagi untuk berdoa dan membaca Alkitab, selain pergi ke sekolah.

Di atas semuanya itu, ada satu kebenaran yang harus diungkapkan. Survei telah membuktikan bahwa ada kurang lebih lima puluh ribu pengemis di Jakarta. Setiap orang mampu mengumpulkan sekitar satu juta Rupiah dalam sebulan, sedikit lebih tinggi dari UMR yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Dalam sebulan, perputaran uang yang ada di jalan di antara kaum pengemis sebesar lima puluh milyar Rupiah. Inilah alasan mereka tidak mau berubah. Mereka beranggapan bahwa mengemis adalah suatu pekerjaan untuk menghasilkan uang. Mereka tidak melihat ada yang salah dengan hal itu, selama masih ada orang yang mau memberi uang kepada mereka. Andai saja sudah tidak ada uang di jalan, barulah mereka mau mencari pekerjaan.

Kami mengambil kesimpulan bahwa alih-alih memberikan uang, sebaiknya kita memberi mereka roti, makanan, air, permen, pakaian, atau apapun juga selain uang. Alih-alih memberi koin kepada mereka yang tidak akan bisa membantu memberikan masa depan yang lebih baik, kita sebaiknya mengumpulkan koin-koin tersebut dan menyumbang kepada rumah singgah-rumah singgah seperti Generasi Anak Mandiri, yang tahu betul cara mengentaskan anak-anak dari jalan dan mentransformasikan pola pikir mereka sehingga mereka dapat berhenti mengemis dan menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Saya secara pribadi banyak belajar dari sesi Good News yang satu ini, dan saya mendorong Anda untuk menyaksikan episode tersebut. Tuhan memberkati.

source : http://www.anugrah.net

Shape ? Alone ?

Posted in renungan by Be example on Januari 17, 2009

Dia membentuk Anda untuk suatu tujuan, dan Dia berharap agar Anda mengerjakan yang terbaik dari apa yang telah diberikan kepada Anda.
Dia tidak mau Anda khawatir atau iri tentang kemampuan yang tidak Anda miliki.
Sebaliknya Dia ingin agar Anda memusatkan perhatian-perhatian pada talenta-talenta yang telah Dia berikan kepada Anda untuk dipakai.
Pemanfaatan terbaik dari kehidupan Anda ialah melayani Allah dari shape Anda.
Untuk melakukannya, Anda harus menemukan shape Anda, belajar menerima dan menikmatinya, dan selanjutnya mengembangkannya secara maksimal.
by: Rick Warren_buku : Purpose Driven Life.
Seorang pembicara, Dr. Wan, menceritakan pengalamannya ketika ia dan seisi keluarganya tinggal di Eropa. Satu kali mereka hendak pergi ke Jerman. Dengan mengendarai mobil tanpa henti siang dan malam, mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di sana. Mereka sekeluarga pun masuk ke dalam mobil — dirinya, istrinya, dan anak perempuannya yang berumur 3 tahun. Anak perempuan kecilnya ini belum pernah bepergian pada malam hari. Malam pertama di dalam mobil, ia ketakutan dengan kegelapan di luar sana.
“Mau kemana kita, papa?”
“Ke rumah paman, di Jerman.”
“Papa pernah ke sana ?”
“Belum.”
“Papa tahu jalan ke sana ?”
“Mungkin, kita dapat lihat peta.”
[Diam sejenak] “Papa tahu cara membaca peta?”
“Ya, kita akan sampai dengan aman..”
[Diam lagi] “Dimana kita makan kalau kita lapar nanti?”
“Kita bisa berhenti di restoran di pinggir jalan.”
“Papa tahu ada restoran di pinggir jalan?”
“Ya, ada.”
“Papa tahu ada dimana?”
“Tidak, tapi kita akan menemukannya. “

Dialog yang sama berlangsung beberapa kali dalam malam pertama, dan juga pada malam kedua. Tapi pada malam ketiga, anak perempuannya ini diam. Dr. Wan berpikir mungkin dia telah tertidur. Tapi ketika ia melihat ke cermin, ia melihat anak perempuannya itu masih bangun dan hanya melihat-lihat ke sekeliling dengan tenang. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa anak perempuan kecil ini tidak menanyakan pertanyaan-pertanya annya lagi.
“Sayang, kamu tahu kemana kita pergi?”
“Jerman, rumah paman.”
“Kamu tahu bagaimana kita akan sampai ke sana ?”
“Tidak”
“Terus kenapa kamu tidak bertanya lagi?”
“Karena papa sedang mengemudi.”

Jawaban dari anak perempuan kecil berumur 3 tahun ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr. Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanannya bersama Tuhan.  Ya, Bapa kita sedang mengemudi.  Kita mungkin tahu tujuan kita (seperti anak kecil yang tahu mau ke ‘ Jerman’ tanpa mengerti di mana atau apa itu sebenarnya). Kita tidak tahu jalan ke sana, kita tidak dapat membaca peta, kita tidak tahu apakah kita akan menemukan rumah makan sepanjang perjalanan. Tapi gadis kecil ini tahu hal terpenting, — Papa sedang mengemudi — dan dia aman.

Dia tahu papanya akan menyediakan semua yang dia butuhkan. Kenalkah engkau Bapa anda, Gembala Agung, sedang mengemudi hari ini?  Apa sikap dan respon anda sebagai seorang penumpang, anak-Nya yang dikasihi-Nya?

Kita mungkin telah menanyakan terlalu banyak pertanyaan sebelumnya, tapi kita dapat menjadi anak kecil itu, belajar menyadari fokus terpenting adalah ‘Papa sedang mengemudi‘.  Tuhan adalah Bapa bagi anda. Ijinkan IA untuk mengemudikan hidup anda. Maka kekuatiran bukan menjadi milik anda lagi.



Mazmur 23:2-3
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Submission (Ketaatan)

Posted in renungan by Be example on Januari 15, 2009

Beberapa waktu lalu dengerin kotbah Pdt. Erastus Sabdono di Radio Solagracia Malang. Beliau berkotbah mengenai Submission (Ketaatan). Nah, hari ini gw liat video GoodNews yang gw download dari www.Anugrah.net yang bercerita jg tentang ketaatan. Firman Tuhan itu Ya dan Amin. Ga perlu berpikir panjang dengan logika kita, kalo dikatakan “ini yang harus kamu lakukan” ya lakukan saja. Itulah Submission / ketaatan.

Menjadi Saksi Kristus = Martir

Posted in renungan by Be example on Januari 15, 2009

Waktu memutuskan untuk mengikuti Tuhan Yesus mungkin keluar dari mulut kita “aku akan sungguh2 hidup bagiMu Tuhan, sampai akhir hidupku….”. Namun mungkin kini banyak kita yang sekian lama sudah lupa akan komitmen tersebut. Barangsiapa mengikut Kristus harus siap bersaksi tentang Dia, bahkan harus siap mati demi Dia. Itulah yang dimaksud bahwa menjadi saksi kristus itu adalah menjadi seorang martir. Sudah siapkan kita bersaksi melalui hidup kita demi kemuliaanNya ?? Bahkan mati untukNya ?? Pertanyaan itu saya tujukan untuk diri saya sendiri juga. Sebagai seorang muda ingin rasanya saya menemukan apa yang diinginkan Tuhan melalui hidup saya lebih efektif dan efisien lagi. Tidak ada lagi waktu dan kesempatan untuk berbuat yang ga bener… yang menyimpang dari firman Tuhan. Masih teringat dengan komentar salah satu sahabat blogger saya, Yudhi Gejali, dia memberikan firman ini :

Mazmur 119:9. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Mari komitmen mulai hari ini untuk selalu mengisi hari-hari kita dengan firman Tuhan, dengan puji-pujian. INgat, TUhan bertahta atas pujian-pujian kita. Kita punya mulut untuk memuji TUhan, untuk memberkati, untuk memberi semangat bagi yang patah semangat.

Bapa, aku mau menjadi saksiMu lebih sungguh lagi melalui hidupku. Beri aku hati yang taat untuk melakukan firmanMu. FIrmanMu YA dan AMin.

Lihat, betapa Kecilnya kita ini…!!!

Posted in renungan by Be example on Januari 4, 2009

Coba sahabat lihat, Betapa Besar Kuasa Tuhan yg Maha Kuasa.

Berikut perbandingan planet yang kita tempati dengan planet yang lainnya.

earth_1.jpg

Di atas adalah Gambar Planet Venus dan Bumi (Earth).

Dan di bawah ini adalah gambar perbandingan antara bumi dengan 9 planet lainnya.

earth_2.jpg

Bagaimana jika bumi dibandingkan dengan matahari (Sun) ?

Bumi kita cuma sebesar debu…

earth_with_sun_3.jpg


Mungkin selama ini kita hanya tahu ada 9 Planet di galaksi bimasakti. Tapi baru-baru ini dengna teknologi teleskop laser terbaru yang dipasang di luar angkasa melalui pesawat NASA para ahli menemukan…

Ada banyak planet di sekeliling matahari, yaitu…


Ada gugusan bintang terbaru yaitu : Sirlus, Pollux dan Arturus.

ekarang bagaimana kalo bintang-bintang tersebut kita bandingkan dengan matahari ?

Bisa lihatkan dalam skala ini bumi kita sudah tidak kelihatan lagi…

sun_among_arcturus_4.jpg

Sekarang mari kita bandingkan Matahari dengan Bintang yang lebih besar, seperti Betelgeuse dan Antares.

sun_5.jpg

Dulu Antares yang diketahui yang terbesar, tapi berkat teknologi X-Ray Laser ditemukan lagi gugusan Bintang yang lebih besar : Bintang Pistol Star, Sagitarli, MyCEPHEI dan VV CEPHEI.



Bagaimana dengan hidup kita, apakah kita masih suka menyombongkan diri ? Selalu lihat ke atas sebelum kita merasa diri kita di atas.

Suka Bertengkar

Posted in renungan by Be example on November 22, 2008

Ringkasan kotbah Ibadah Youth GBI Diaspora Sejahtera (DIYOFA) Malang Jawa Timur 22 November 2008

Yakobus 4:1
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?

Semua orang pingin jadi no 1, terkaya, terbaik dst.

Jika kita ingin memuaskan keinginann kita mengalahkan kebenaran > jadi orang congkak

Ini jebakan!!! Ini jebakan hawa nafsu! > daging > binasa

Keinginan daging membawa kita kepada kebinasaan

Bersahabat dengan dunia (harta, gelar) = temenan ama iblis = menjauh dari Tuhan

Hiii,,, kamu ini WNS (Warga Negara Surga) !!!

Ketika kamu membanding2kan dirimu dg orang lain, itu daging kamu = menjauh dari Tuhan  > congkak > timbul pertengkaran.

Apa yang kamu cari dalam hidupmu ? gelar ? kekayaan ?

Dunia ini penuh persaingan < sumber pertengkaran.

Marketting itu ilmu untuk menjadi yang terbaik.

Tuhan menentang orang yg congkat tapi mengasihi orang yg rendah hati

Congkak > iri hati > pertengkaran (Yak 4:1)

Pertengkaran itu oleh karena hawa nafsu kita.

Saat engkau mengejar hal2 duniawi, saat itu jg engkau sedang jauh dari Tuhan

Penyakit Kemakmuran

Posted in renungan by Be example on November 22, 2008

Lukas 12:13-21

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Masalah orang kaya ini bukan karena ia mempunyai hasil bumi yang melimpah, atau karena ia memutuskan membangun lumbung yang lebih besar. Masalah adalah ia menginvestasikan seluruh hidupnya untuk harta. Ia meraih rasa aman dari harta bendanya tetapi gagal menjadi “Kaya di hadapan Allah.

Menolak pengetahuan dan ajaran Allah sebagai dasar hidup adalah perbuatan bodoh orang kaya itu. Ia hidup pada saat itu dan menganggap masa depannya sudah terjamin dengan banyak harta.

“Hidup yang baik” tidak dapat ditemukan dalam harta yang melimpah. Kita tak dapat menemukan ketentraman hati dengan memborong “lebih banyak harta”. Kita hanya akan memperoleh kepuasan sejati dengan menginvestasikan sumber penghidupan serta hidup kita dalam dan untuk kerajaanNya.

Saya ingin tahu apakah hidup seperti ini benar, sebab kita berusaha menemukan ketentraman jiwa dengan memiliki “lebih banyak barang” — barang yang hanya bersifat sementara dan cepat lenyap.

Tagged with: , , , ,

Mati Sebelum Mati

Posted in renungan by Be example on November 18, 2008

Malem ini aku diingetkan lagi waktu dengerin renungan dari Pdt. Erastus Sabdono di Radio Solagracia FM Malang – Jatim. Aku pnh denger ini sebelumnya waktu ada ibadah doa malem yang kotbah beliau.

Mati sebelum mati. Mati terhadap hawa nafsu dan keinginan duniawi.

Seluruh hidup kita ini adalah persembahan buat Tuhan. Bukan cm sepersepuluhnya. Tapi seluruhnya. 100%.

Kuliahku buat Tuhan. Pekerjaanku buat TUhan. Masa Depanku buat Tuhan. Karena Dialah bagian dalam hidupku untuk selama-lamanya. Amen

Tagged with: , ,